Monday, November 10, 2008

Interpretasi Bencana oleh Ken Hewitt (I)

INTERPRETASI BENCANA DARI PERSPEKTIF EKOLOGI MANUSIA (I)
(Interpretation of Calamities from the Viewpoints of Human Ecology)

Ken Hewitt, 1983

Pengantar oleh Ian Burton

Sejarah pertamakali hazard dipelajari atau menjadi subyek ilmiah:

- Di negara barat, masyarakat yang pada awalnya sangat percaya dengan institusi bernama industri, mulai khawatir dengan bencana, sehingga manajemen dan kebijakan industri merasa harus memperhatikan faktor bencana. Karena itulah, mulai di adakan penelitian tentang bencana, yang dipelajari sebagai suatu rangkaian dari fenomena yang saling berkaitan.

- Konsep ini mengganggu konsep awal tentang bencana, yang melihat bencana sebagai dua bagian, yaitu bencana alam dan bencana akibat ulah manusia. Tetapi kemudian (mengapa konsep awal tidak lagi diterima), manusia menjadi tidak terima jika hazard di anggap sebagai hal yang tidak bisa dihindari. Mereka mencari penjelasan atas setiap kejadian yang terjadi, dan bahkan selalu ada kecenderungan untuk mencari hal-hal atau orang-orang tertentu untuk disalahkan. Pertanyaan-pertanyaan bermunculan, dan untuk itu dibutuhkan penyelidikan-penyelidikan inteletual, sehingga dimulailah riset-riset tentang bencana dan juga bersamaan dengan itu, muncul pula tuntutan untuk membuat kebijakan-kebijakan baru yang lebih efektif.

-

Pada awalnya, sebelum tahun 1960-an, bencana alam di teliti sebab-akibatnya oleh bidang ilmu tertentu yang terisolasi dari ilmu lainnya. Dapat dikatakan sangat individualis alias kacamata kuda, tidak melihat ilmu lainnya, dan juga bidang ilmu yang mempelajari hazard ini kerap kali tidak bisa di akses publik. Jadi orang ilmiah hanya sibuk dengan dunianya sendiri, tanpa ada akses publik ke ilmu yang mereka pelajari.

- Mulai tahun 1960-an, pendekatan terhadap bencana mulai antar-bidang (interdisciplinary), hal ini dipengaruhi oleh ahli geografi, yang melakukan riset bahaya-bahaya alamiah (natural hazard research dan juga dipengaruhi oleh ahli sosial yang meneliti bencana (disaster research) Penelitian-penelitian mereka mengungkapkan bahwa bencana tidak bisa lagi dianggap turun dari langit “act of god” tetapi terungkap bahwa kebanyakan bencana terjadi karena kesalahan pemakaian teknologi. Kemudian disadari bahwa tidak hanya faktor kesalahan manusia saja yang mempengaruhi tetapi juga kondisi alamnya. Karena itu untuk memahami secara utuh permasalahan bahaya lingkungan (environmental hazard) kita harus tahu bagaimana hubungan antara manusia dengan alam, dan bagaimana sebenarnya sifat (nature) dari manusia itu sendiri (melihat manusia dalam individu dan kelompok, populasi manusia dan dinamikanya, kemudian hubungannya dengan alam),

- permasalahan sosial dan ilmiah yang berasosiasi dengan ancaman lingkungan saat ini harus ditangani secara antar-bidang dari berbagai level manajemen.

- Masih sangat diperlukan arahan kepada riset-riset baru juga kebijakan baru yang baik terkait bencana. Buku ini diharapkan akan membawa ke arah sana.

- Interaksi antara teori bencana, penelitian bencana dan prakteknya di lapangan sekarang menjadi bidang studi atau subjek pembelajaran di tingkat perguruan tinggi baik di ilmu alam maupun ilmu sosial, dan dipelajari secara interdisciplin.

Pendahuluan

- Buku ini memandang: resiko dari bencana alam yang spontan seperti banjir, badai, kekeringan, dan dingin yang berkepanjangan. Yang terjadi pada berbagai setting lingkungan dan sosial budaya, dengan skala geografi yang beragam, dari yang lokal sampai global. Dari isu-isu yang ada didapatkan kemudian kritikal untuk mengembangkan pemahaman tentang bencana alam dan pengaplikasian dari riset-riset tentangnya. Karena itulah material yang dipilih untuk menyusun buku ini tergantung dari bagaimana penelitian di kembangkan dan diupayakan yang lebih tepat dengan peristiwa bencananya. (Jadi pendekatan riset yang baik adalah spesifik terhadap jenis bahayanya)

- Terbukti bahwa bencana akan menjadi masalah yang akan terus ada bagi manusia. Laporan-laporan tentang kerusakan akibat kejadian geofisik ekstrim terus-menerus ada dan semakin bertambah. Bentuk kerusakan dan implikasinya bagi manusia bervariasi sangat besar. Tetapi ada yang melihat satu pola umum dari variasi ini.

- Banyak penulis menyadari bahwa intensitas kerusakan dan kejadian bencana meningkat secara substansial dalam beberapa dekade terakhir ini. Kenaikan terjadi meskipun komitmen untuk memahami kondisi alam dan memanipulasinya meningkat. Menurut penulis-penulis itu, upaya pemahaman itu terbatas hanya untuk memahami bencana alam saja, dan mereka tidak puas dengan itu. Mereka juga percaya bahwa efektifitas dari aplikasi yang diterapkan tidak lagi sejalan dengan cepatnya transformasi lingkungan dan manusia di semua tempat. Hasil penelitian mereka sangat bervariasi namun akhirnya, hasil penyelidikan mereka sama-sama menyimpulkan bahwa tanpa perubahan perspektif dan penerapannya (practice) yang mendasar, dampak bencana akan semakin buruk meskipun dana dan banyak keahlian sudah dikerahkan.

- Konteks dari penelitian-penelitian di buku ini adalah di komunitas pedesaan dan pertanian. Secara kerangka permasalahan, difokuskan pada pentingnya lintas-budaya dan perbandingan dari contoh-contoh yang didiskusikan dan posisinya di dalam sistem internasional. Untuk menjawab hal itu, kita mencari terlebih dahulu peranan kondisi sosial-budaya dalam membentuk jenis ancaman akibat proses alam dan tingkat kerusakannya.

- Untuk itu diperlukan pendekatan secara geografi dan antropologi. Secara geografi sangat didukung oleh penelitian geograper tentang bencana alam seperti White 1974, Burton and Hewitt 1974, Burton et all 1978. riset antropologi dan geografi selama ini lazim di daerah pedesaan karena secara stereotype menganggap “society on land.” Alasan penting lainnya kenapa studi jenis ini di pedesaan adalah karena di masyarakat pedesaan ditemukan masalah-masalah yang lebih sulit dalam menginterpretasi bencana. Karena itulah kemudian riset tentang bencana berkembang dengan melibatkan pertanyaan-pertanyaan mendasar psikososial, seperti persepsi lingkungan, pilihan untuk menyesuaikan diri dan isu kebijakan publik. Kebanyakan rata-rata setuju dengan upaya memasukkan sosial-budaya atau ekologi manusia ke dalam riset bencana.

- Buku ini terbagi ke dalam tiga bagian. Bagian pertama, interpretasi dari bencana-bencana yang utama dan besar. Bagian kedua, studi-studi kasus dari bentuk-bentuk resiko tertentu, seperti bencana iklim pada komunitas petani, pembangunan di bidang pertanian dan ketahanan pangan.

- Kesimpulan dari semua bab adalah bahwa fokus yang sempit terhadap bencana sebagai kejadian tidak menentu dari kondisi alamiah yang ekstrim, pendekatan yang sempit terhadap kerugian, krisis, pemulihan, dan rehabilitasi akibat bencana, akan membuat kita salah menempatkan manusia di dalam konteksnya terhadap alam. Kita begitu mudah untuk mengabaikan kisaran dari bukti-bukti nyata bahwa kita saling terkait sebagai habitat. Seringkali kita melihatnya sebagai kondisi yang diharapkan bisa kembali normal. Kita tidak melihatnya sebagai sumber dari kerentanan (vulnerability). Kita juga cenderung mengabaikan kendala-kendala penting dari response sosial yang efektif untuk mengambil resiko dari alam, yang sangat tergantung pada tatanan sosio-ekonomi yang normal. Salah satu cara yang paling jelas untuk menghindari hal ini adalah dengan menjadikan masyarakat dan semua hal yang sedang berjalan di dalam keseharian mereka sebagai fokus, dan bertanya di mana peristiwa alam yang merusak cocok terhadapnya.

Ini adalah terjemahan bebas yang dilakukan oleh Ida Ansharyani (Ph.D Student Universite Paris 1 Pantheon-Sorbonne, France) sebagai bahan belajar untuk disertasi CBDRR Gunung Kelud. Untuk mengurangi kesalahan pemahaman, silakan mengontak idaansharyani@gmail.com untuk mendapatkan versi asli dari buku ini. Diterjemahkan (dibaca) di Paris 27-30 Oktober 2008.

Posted by ET in 20:01:27 | Permalink | Comments (2)

Interpretasi Bencana oleh Ken Hewitt (II)

INTERPRETASI BENCANA DARI PERSPEKTIF EKOLOGI MANUSIA (II)
(Interpretation of Calamities from the Viewpoints of Human Ecology)

Ken Hewitt, 1983

Ide tentang bencana di era teknokrat (The Idea of calamity in the technocrate age)

- Hewit menganggap bahwa meskipun bencana sudah menjadi bagian dari hidup umat manusia, tetapi pemikiran ke arah situ masih baru. Sehingga perlu untuk sejenak melepaskan diri dari konsep yang lama yang terpisah-pisah, untuk menemukan pendekatan yang baru. Komunitas ilmiah harus mulai secara konsisten bergerak di bidang ini dan secara serius berpikir logis, daripada menjadikan masalah ini hanya sebagi mode.(Note ida: Hanya sekedar euforia karena semua orang tiba-tiba bicara bencana). Peneliti harus mencari data-data empiris sebanyak mungkin, selengkap mungkin untuk kemudian dipadukan dengan konsep-konsep yang umum.

- Hewit juga merasa ada kecenderungan bahwa data-data yang dihasilkan oleh penelitian-penelitian di bidang bencana masih diambil berdasarkan kerangka kebutuhan agar bisa pas dengan konsep yang sudah ada. Ini menghambat pemahaman yang lebih baik tentang bencana dan bagaimana kita akan mengatasinya. Hewit merasa, bahwa untuk penelitian hazard, kita harus terbuka pada semua data yang ada dan berpikir bahwa mungkin saja kita bisa menemukan konsep yang lebih baik tentang hazard. Bahkan penelitian tentang bencana selalu mungkin untuk mematahkan konsep yang lebih dulu ada.

- Dalam penelitian tentang hazard, kita harus punya pikiran awal, sejauh mana pandangan yang mendominasi (dominant view) mempengaruhi pikiran dan penelitian kita. Dominant view, bisa dari orang-orang yang terkait dengan penelitian kita (pembimbing atau tuntutan project juga kali yee…), literatur yang kita baca, istilah-istilah yang sudah sering digunakan, cara pandang perusahaan terhadap hazard, dll. Bahkan untuk membuat inovasi baru pun, banyak penelitian-penelitian ternama dari ahli geografi dan ahli sosial yang masih sangat tergantung pada dominant view.

- Dominant view ini kadang dipakai karena orang-orang sudah sering memakainya berkali-kali dan karena view ini di dukung oleh ahli-ahli ternama, melebihi dari kerangka logis dari view itu sendiri. Istilahnya : konstruksi sosial ilmu pengetahuan (social contruction of knowledge), paradigma, dan konsensus akademik (academic concensus).(catatan ida: Jadi semacam priyayi di dalam lingkungan ilmiah yang diikuti kata-katanya. Orang-orang hanya ikut-ikut aja tanpa lagi berpikir kritis, karena percaya-percaya saja, soalnya yang ngomong ahlinya, dan sudah terkenal. Pak Hewitt maunya kita agak memberontak sedikit, alias harus selalu berpikir anti kemapanan terhadap konsep riset bencana yang sudah ada).

- Hewitt sendiri merasa kesulitan untuk mencapai sesuatu yang baru karena pengaruh dominant view yang semakin resisten. Tetapi dia kemudian selalu berpikir dari detil empiris dan metodologi, dan selalu mempertanyakan pada dirinya sendiri, apa yang membuatnya berpikir demikian secara psikososial, mempertanyakan juga asumsi dan aplikasinya.

- Hewitt akan me-review penelitian bencana sebelumnya dari segi cara berargumentasi, penggunaan informasi dan asumsi manajerial yang selama ini tidak hanya memisahkan penelitian bencana dari penelitian-penelitian lainnya, tetapi juga menutup pintu untuk berbagai kemungkinan viewpoints dan perhatian tentang bencana.

Ini adalah terjemahan bebas yang dilakukan oleh Ida Ansharyani (Ph.D Student Universite Paris 1 Pantheon-Sorbonne, France) sebagai bahan belajar untuk disertasi CBDRR Gunung Kelud. Untuk mengurangi kesalahan pemahaman, silakan mengontak idaansharyani@gmail.com untuk mendapatkan versi asli dari buku ini. Diterjemahkan (dibaca) di Paris 27-30 Oktober 2008.

Posted by ET in 19:58:31 | Permalink | Comments (3)

Interpretasi Bencana oleh Ken Hewitt (III)

INTERPRETASI BENCANA DARI PERSPEKTIF EKOLOGI MANUSIA (III)
(Interpretation of Calamities from the Viewpoints of Human Ecology)

Ken Hewitt, 1983

Garis Besar Dominan View (The dominant view in outlines)

- Natural hazard di anggap sebagai akibat ekstrim dari proses geofisik. Jadi, tingkat kerusakan dan kejadian bencana berpusat pada sifat alami (nature) dari bencana, misalnya badai, dll. (note ida: Dapat dikatakan memberi porsi yang sangat besar pada proses alamiah dari bencana). Dan tingkat kerusakannya serta aksi manusia yang menyertainya hanya di anggap sebagai respon terhadap komponen-komponen bencana seperti magnitude, kecepatan, frekuensi, dan aspek lain dari bencana alam. (note ida: Jadi cara pandang mereka adalah: jika ada gempa skala X, kerusakan apa yang akan terjadi. Manusia dianggap sebagai salah satu komponen diam terhadap aspek bencana, hanya untuk mengetahui apa yang terjadi pada bencana dengan karakteristik tertentu).

- Risk assessment berpikir sebagai causality dari kegiatan alam dan bagaimana dampaknya pada sosial. Jadi masih berfokus pada geofisik, sehingga penelitian terkait itu dan juga saran-saran ilmiah sangat banyak di lakukan untuk monitoring geofisik, perhitungan teknis langsung (direct engineering) atau rencana tata ruang dalam hubungannya dengan naturals agents.

- Peneliti-peneliti masih tidak mau mengakui bahwa faktor sosial-ekonomi atau kondisi habitat berpengaruh lebih besar terhadap resiko daripada kondisi alam yang ektrim. Sebenarnya konsep ini sudah mulai terlihat ketika ahli geofisik berdiskusi tentang gempa 1976, dan menemukan bahwa meskipun kekuatan gempanya tidak terlalu besar, korbannya lebih besar daripada gempa yang lebih besar, karena gempa terjadi “by chance” di daerah yang padat penduduknya. Jadi sudah terlihat bahwa bencana adalah terkait dengan peluang suatu fenomena alam dalam kaitannya dengan kondisi manusia.

- Geografi of risk lebih pada distribusi dan intensitas dari bencana secara geografis, tanpa memasukkan unsur manusianya, tidak peduli apakah distribusi bencana itu ada pada daerah padat penduduk atau tidak.

- Jadi dalam dominant view, bencana dilihat dari kacamata yang difokuskan pada alam. Ada kepercayaan yang kuat bahwa masyarakat dapat melakukan sesuatu terhadap bencana, tetapi lagi-lagi, kepercayaan ini kemudian menyimpulkan bahwa sesuatu yang dapat dilakukan masyarakat itu adalah persoalan kebijakan publik yang lagi-lagi harus didukung dengan penemuan geofisik, geotek, dan kapasitas manajerial yang paling baru. Jadi dominant view memandang masyarakat biasa hanya bisa berbuat sedikit terkait bencana. Permasalahan bencana dianggap semata-mata sebagai rasio seberapa besar tekanan alam dan bagaimana respon atau counterforce institusi dan teknologi yang paling mutakhir. (note ida: Memposisikan penemuan ilmiah teknis terkait bencana sebagai superhero, dan kita bergantung pada superman yang bernama dominant view untuk menyelamatkan bumi dari bencana).

- Dapat disimpulkan tiga area yang dikuasai oleh dominant view:

- Komitment untuk mendukung monitoring ilmiah, dan pemahaman proses geofisik, sebagai dasar untuk menghadapi dampaknya terhadap manusia. Tujuan utama terkait dengan bencana adalah prediksi.

- Kemudian dilakukan perencanaan-perencanaan dan kegiatan manajerial untuk menjalankan komitmen di atas. Seperti untuk membuat alat pengontrol longsor, banjir, membuat kode-kode, dan peta resiko, dll. Juga dibuat perencanaan-perencanaan fisik. (note ida: dan sebisa mungkin masyarakat harus menyesuaikan diri dengan hasil penelitian itu. Misalnya jika dari hasil penelitian suatu tempat berbahaya, satu-satunya cara, masyarakat harus pindah).

- Tindakan darurat (emergency measure) termasuk di dalamnya perencanaan bencana (disasters plans), organisasi untuk mengurangi penderitaan (relief) dan rehabilitasi. Semua ini di tentukan (set up) oleh penelitian-penelitian dan perencanaan geofisik. Pada tingkat aksi, penelitian menjadi di bawah aksi, karena yang melakukan aksi lapangan adalah militer, atau organisasi berbau militer lainnya. Dan karena kebanyakan tempat di muka bumi ini tidak memiliki akses terhadap penemuan terbaru geofisik dan manajemen teknologi, maka masyarakat akan berhadapan dengan dominant view melalui tahap emergency ini.

- Di bidang riset, sangat dominan penelitian di bidang ilmu alam dan keteknikan (engineering). Meskipun demikian, menurut Hewitt, ilmu sosial memegang peranan penting terutama dalam mempelajari perilaku saat krisis “crisis behaviour” dan tindakan emergency; atau dalam mempelajari secara terfokus satu kelompok tertentu berdasarkan pengalaman, harapan, dan jenis bencana alam yang ada di wilayah mereka.

- Sebenarnya sudah dari dulu ada beberapa analis sosial yang tidak setuju dengan dominant view. Untuk ke depannya, ilmuwan sosial harus mulai meningkatkan konsentrasinya pada hubungan langsung sosial-ekonomi dan tingkah laku (behaviour) pada ketiga wilayah dominant view tadi. Mereka menanyakan bagaimana masyarakat memandang resiko pada wilayah-wilayah yang diklasifikasikan ke dalam zona-zona bencana tertentu. Apakah mapping sosial (perception towards risk) bisa dilakukan seperti mapping geofisik, dan bagaimana hasilnya, apakah mapping persepsi sama dengan mapping fisik? Jika tidak apa faktor yang mempengaruhinya? Hasilnya dapat dibandingkan dengan pengetahuan geofisik tentang bencana tertentu (pekerjaan geofisik). Mereka bertanya tentang bagaimana masyarakat bereaksi perkiraan bencana, permintaan untuk mengkonservasi air dan peraturan zonasi bahaya. Mereka meneliti bagaimana masyarakat dan institusi mengatasi/pulih (cope) ketika gunung api meletus atau ketika gagal panen.

- Terkadang ide-ide ini sangat beralasan, tetapi terlihat tidak penting jika disandingkan dengan pengetahuan terbaru geofisik, dll. Tetapi jika tidak dilakukan, maka ilmu tentang bencana akan sangat sempit terfokus pada peristiwa alam, tetapi melupakan pengaruh sosial pada bencana. Hewitt yakin, upaya penelitian sosial tentang bencana akan mengurangi dominasi dari dominant view juga pada geofisik.

- Penelitian butuh dana (funding), karena itu penting juga ide penelitian sosial tentang hazard mulai didengung-dengungkan ke lembaga-lembaga funding juga ke universitas.

- Selama ini funding sangat mendukung penelitian tentang ilmu alam atau riset yang mendukung dominant view. (note ida: Semacam subjectivitas dari lembaga funding dalam mendukung jenis research).

- Dominant view menggunakan pendekatan technokratis, yang pemahaman dan kegiatannya menggunakan prosedur teknis. Hal ini hanya mendukung prestige birokrasi, karena akan terkenal namanya karena menjadi sangat ahli di suatu bidang. Misalnya akan terkenal karena menemukan ini atau itu yang sangat jelas penemuannya. Sedangkan ilmu sosial, pendekatan yang murni teknologi akan membuat kita tidak bisa menangkap fenomena secara utuh. Faktor sosial-ekonomi, politik, dapat juga didekati secara teknokratik, dan menurut argumentasi Pak Hewitt, “ilmu alam yang pendekatannya “technological-fix” terhadap bencana, secara esensial merupakan konstruksi sosial budaya yang merefleksikan pandangan yang berbeda “distinct“, mewakili institusi “institution centered”, dan etnosentris, tentang manusia dan alam. (note ida: So, yang dianggap teknologi fix juga tidak bebas nilai, ketika di anggap teknologi atau tidak itu kan dari nilai yang di anut juga”).

- Ken hewitt tidak ingin ilmu sosial hanya terbatas pada persepsi individu terkait dengan pengalamannya dan kepribadiannya. Tetapi bahwa “cara berpikir (thought) mempengaruhi reality”. Dan realitas tidak bisa dipandang sebagai data-data empiris universal juga asimilasinya dengan psikologi dalam membentuk persepsi dan kognisi manusia. Ide Hewitt adalah, semua data empiris tidak bisa dipandang universal. Tetapi Hewitt mau lebih memperhatikan kondisi yang membentuk proses ini, kondisi yang mempengaruhi data apa yang ingin kita cari dan terlihat penting, dan cara-cara yang dapat diterima untuk menginterpretasi fakta-fakta tersebut. Dan hal-hal tersebut sangat terkait dengan tatanan sosial.

- Hewitt memandang pola konstruksi sosial dari dominant view bersifat weberian. Dia melihat cara kerja institusi dalam menyalurkan dana dan sumberdaya manusianya, ke dalam beberapa pola kerja dan aplikasi, yaitu cenderung sentralistis, ofisial, dan birokratis. Dominant view dalam penelitian-penelitian bencana lebih mewakili “etos birokratis,” yang menyalurkan peneliti-peneliti untuk melakukan pendekatan yang berbeda terhadap fakta-fakta, dan memandang secara lain nature dari teori dan aplikasinya. Mereka memandang terpisah teori dan fakta serta aplikasinya. Penelitian-penelitian dilakukan lebih agar mewakili pihak atau organisasi yang mensponsori penelitian atau image yang dimiliki oleh peneliti tentang apa yang seharusnya dan dapat dilakukan oleh organisasi. (note ida: Research hazard dipandang hewitt tidak bebas nilai atau sudah cenderung sangat subjectif). Riset dan ilmu-nya sendiri meskipun sangat praktis dalam aplikasinya, biasanya tidak mendapat tempat, karena pertimbangan untuk meloloskan suatu riset sudah tidak lagi memperhatikan unsur itu. Riset lebih ditentukan oleh pengambil kebijakan yang tidak lagi memperhatikan nilai riset. Jadi dominant view sudah sangat terstruktur, dan sangat mapan dalam kerangka institusi.

- Untuk memperbaiki hal itu, Hewitt menyarankan untuk memikirkan, pertama, bahwa bencana alam merupakan permasalahan spesial bagi teknokrasi (anak emas para teknokrat). Kedua, bahwa kebanyakan peneliti berpaham teknokrat tersebut terlihat tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya tidak memperbaiki apa pun kecuali hanya ingin mencapai tujuan ilmiah, dan strategi riset. Yang ketiga, kita semua mengalami jalan buntu dengan bentuk-bentuk stategi teknoratik yang kaku, terutama dari sudut pandang sosial budaya dan geografi. Keempat, hewitt menyarankan agar di tingkat sistem internasional, dimana strategi itu di operasikan, dan debat-debat intelektual dan sosial berkembang sangat pesat, agar berani menantang kepada diri mereka sendiri seberapa efektif dan seberapa benar dominant view.

- Karena itu dapat di simpulkan bahwa kita membutuhkan pendekatan-pendekatan lain terhadap kebencanaan.

Ini adalah terjemahan bebas yang dilakukan oleh Ida Ansharyani (Ph.D Student Universite Paris 1 Pantheon-Sorbonne, France) sebagai bahan belajar untuk disertasi CBDRR Gunung Kelud. Untuk mengurangi kesalahan pemahaman, silakan mengontak idaansharyani@gmail.com untuk mendapatkan versi asli dari buku ini. Diterjemahkan (dibaca) di Paris 27-30 Oktober 2008.

Posted by ET in 19:56:56 | Permalink | Comments (1) »

Interpretasi Bencana oleh Ken Hewitt (IV)

INTERPRETASI BENCANA DARI PERSPEKTIF EKOLOGI MANUSIA (IV)(Interpretation of Calamities from the Viewpoints of Human Ecology)

Ken Hewitt, 1983

An enclosure system

- Analogi kebencanaan mirip dengan analogi kegilaan focault yang kemudian di beri tempat untuk di perhatikan dan di temukan oleh “age of reason“. Kegilaan (madness) dan kebencanaan (calamity) sangat mengganggu. Keduanya membuat kita bertanya tentang apa sih sebenarnya keteraturan atau order. Madness bisa dilihat sebagai hukuman dari disorder, dan bencana dapat dipandang sebagai ketidakbergunaan ilmu pengetahuan. Keduanya terjadi seperti tidak bisa dikontrol oleh masyarakat. Ada juga yang berpandangan bahwa kedua hal itu merupakan penilaian terhadap tingkah laku atau aktifitas manusia, seperti yang didengung-dengungkan pergerakan ekologis dalam menghadapi problem lingkungan.

- Pada kedua kasus, counteract di anggap perlu dengan melakukan langkah-langkah positif, dan memikirkan potensi untuk menghadapinya. Pada titik inilah pembagian hazard dengan pendekatan teknokratik ada untungnya. Sangat baik memperlakukan kebencanaan sebagai problem spesial riset di wilayah tertentu. Permasalahan dapat dimanajemen dengan membuat interpretasi yang terarah dan sempit, serta data-data yang meyakinkan. Hewitt merasa bahwa kebencanaan harus di tangani secara utuh, tidak parsial. Harus melingkupi filosofi, prosedur praktis, dan juga harus memikirkan permasalahan secara pragmatis, hati-hati dalam mengupasnya.

- Istilah yang dipakai dalam penelitian-penelitian bencana sebenarnya sudah menunjukkan asumsi dasar tentangnya. Istilah-nya selalu memakai kata “tidak” (un-ness), yang menunjukkan ketidakteraturan dan ketidakterhubungannya dengan manusia. Kejadian alam dipandang terpisah dari manusia. Istilah yang dipake unmanaged, unexpected, uncertain, unprecedented, unawareness, unreadiness, unscheduled events.

- Yang berkembang adalah bencana tidak dianggap sebagai bagian integral dari kehidupan manusia dan alam, atau dianggap tergantung satu sama lain. Pernah ditemukan pendahuluan dan kesimpulan yang menempatkan bencana sebagai latar belakang dari ekologi manusia dan kumpulan permasalahannya yang berbeda-beda. Tetapi bencana dan ekologi manusia dijelaskan sebagai permasalahan yang berbeda.

- Hazard atau tidaknya ditentukan oleh orang-orang geofisik dengan melihat suatu ukuran tertentu dari proses alam. Misalnya debit sungai, skala seismik, kecepatan angin, dll. Kerentanan manusia sangat terikat erat dengan kenyataan geofisik ini. (Note ida: Pertanyaan tentang konsep hazard, bagaimana sebenarnya menentukannya?)

- konsep tentang stabil tidak stabil juga dipertanyakan. Menurut Scheidegger, Jika status quo tetap dapat dipertahankan, maka itu bukan bencana. Karena itulah konsep bencana terkait erat dengan istilah “kondisi yang stabil.” meskipun scheidegger mengacu kepada kestabilan geofisik, nilai rasa (sense) bahwa rusaknya rangkaian kestabilan pada habitat ditemukan juga pada interpretasi sosial terhadap resiko ini. Bencana dianggap sebagai fenomena alam yang menyebabkan ketidakstabilan atau merusak kehidupan normal dan hubungan habitat. Riset sosial tentang bencana mengambil analogi yang sama dengan sistem mekanis. Riset sosial tentang bencana memandang bencana sebagai kegagalan pada sistem sosial, sedangkan sistem mekanis memandang bencana sebagai tekanan yang melebihi kekuatan material atau struktur tertentu.

- Jadi untuk tahu bencana, kita harus tahu dulu sistem sosialnya. Apa yang dimaksud dengan stabil, dan aktifitas yang berada dalam keteraturan, juga apa itu tidak teratur, tidak terduga, dan tidak direncanakan. (note ida: penting untuk mengetahui persepsi masyarakat tentang hal ini, karena yang real berhadapan dengan bencana adalah mereka, meskipun scientist memiliki defenisinya sendiri).

- Lebih jauh, kerusakan, impairement, dan apa yang harus dipulihkan oleh bantuan luar cenderung membentuk keseluruhan perhatian setiap individu terhadap bencana. Dan gambaran ini umumnya hanya terjadi pada aspek-aspek bencana yang sangat merusak dampaknya. Pola survival dan bukti-bukti kestabilan struktur – yang dapat dilihat di hampir semua tempat bencana yang melingkupi fraksi besar manusia dan properti yang terkena dampak bencana – mendapat perhatian yang sangat kecil.

Ini adalah terjemahan bebas yang dilakukan oleh Ida Ansharyani (Ph.D Student Universite Paris 1 Pantheon-Sorbonne, France) sebagai bahan belajar untuk disertasi CBDRR Gunung Kelud. Untuk mengurangi kesalahan pemahaman, silakan mengontak idaansharyani@gmail.com untuk mendapatkan versi asli dari buku ini. Diterjemahkan (dibaca) di Paris 27-30 Oktober 2008.

Posted by ET in 19:55:13 | Permalink | Comments (2)

Interpretasi Bencana oleh Ken Hewitt (V)

INTERPRETASI BENCANA DARI PERSPEKTIF EKOLOGI MANUSIA (V)
(Interpretation of Calamities from the Viewpoints of Human Ecology)

Ken Hewitt, 1983

Kepulauan Bencana (The disaster archipelago)

- Secara penerapan, bencana diperlakukan terpisah dari hubungan manusia dan lingkungannya. Upaya dilakukan hanya untuk memanajemen resiko, tanpa memperhatikan upaya untuk menyesuaikan diri dengan itu (alternative adjustement). Upaya hanya dilakukan pada saat ada bencana atau setelah bencana. Respon yang dominan terhadap bencana adalah mengirimkan militer pejabat pemerintah untuk menutup daerah itu dan menetapkannya menjadi zona terlarang untuk melanjutkan hidup masyarakat yang semula sudah hidup di situ bertahun-tahun. Banyak contoh upaya-upaya keras pemerintah untuk memindahkan masyarakat dari zona bahaya atau untuk memasuki zona bahaya. Tercatat juga betapa banyak kejadian tentang susahnya untuk merelokasi manusia dari tempat tinggalnya jika itu berlawanan dengan kehendak mereka. Dan perkembangan di era industri, strategi pertahanan sipil untuk evakuasi yang sangat besar, adalah dengan menetapkan bahwa daerah bencana adalah daerah yang tidak boleh ada penghuninya, atau no-man’s land. Hal-hal tersebut di atas mungkin baik untuk kasus-kasus tertentu dan tergantung pada tipe masyarakatnya, tetapi hal ini tidak bisa di sama ratakan karena bencana dan komunitas itu sangat beragam. (note ida: Intinya Hewitt ingin mengatakan ide bahwa bencana harus dipandang sebagai bagian dari masyarakat dan tidak bisa top down penerapannya, tetapi harus hati-hati dengan memperhatikan dinamika sosial masyarakatnya. Juga bahwa konsep tentang bencana jangan dijadikan bagian yang terpisah dari masyarakat, dan jangan dibuat memiliki image yang buruk).

- Dengan mengisolasi bencana secara pemikiran, akan membuat penerapannya pun terisolasi. Kita kemudian akan berpikir bahwa bencana adalah sebuah gugusan kepulauan yang tidak beruntung yang ada dipeta tanpa kemudian hanya sebatas itu saja. Kita menganggapnya hanya sebatas kenyataan adanya suatu kondisi ekstrim yang random dan memetakannya. Lalu dengan sendirinya akan terisolasi pada pikiran kita.

- Hewitt merasa bahwa isolasi ini berimplikasi juga pada cara berpikir para teknokrat dalam memandang bencana. Artinya mereka berada di luar dari konteks bencana dan melihatnya seperti sesuatu yang terpisah.

- Banyak bidang ilmu yang kemudian ingin meneliti bencana, dan ingin mengambil bagian di dalam penelitian bencana dan membagi bencana ke dalam beberapa bagian yang di klaim sesuai dengan ilmu mereka. Tetapi upaya-upaya ini jarang sekali dilakukan dengan pikiran yang terbuka, filosofis, dan penuh rasa ingin tahu. Mereka hanya ingin memperjelas teritori mereka dalam penelitian bencana dan memperjelas aturan-aturan untuk membuat zona-zona bidang mereka di penelitian bencana. Mereka juga lebih fokus untuk memperjelas posisi bidang keilmuan mereka masing-masing. Penelitian mereka kadang tidak merefleksikan kondisi sebenarnya di lapangan tetapi hanya memperjelas posisi bidang mereka di antara bidang lainnya. (note ida: Hewitt beranggapan riset bencana dilakukan hanya mengikuti trend, dan secara akar riset dilupakan intinya untuk apa).

- Para ahli di bidang-bidang ilmu membuat diagram yang diharapkan mewakili broad spektrum bencana dan realitas bencana, tetapi akhirnya diagram itu menjadi diagram alir “organisasi” dari birokrasi yang besar. Diagram itu tidak berhubungan dengan kondisi sebenarnya, tidak juga melibatkan interaksi dan pengalaman manusia. Hewitt merasa semua itu dibuat hanya untuk mengejar reputasi. Peneliti-peneliti itu mencari-cari permasalahan riset dan mendemonstrasikannya dengan mencari tempatnya yang cocok dengan dominant view. Dan hal ini dianggap kegiatan yang bersifat intelektual (founding problems). Penelitian bencana tidak pernah dilihat secara utuh, dan umumnya dipandang sebagai “aplikasi” untuk melihat kebijakan publik atau performa agensi tertentu. Karena itu ahli-ahlinya beragam, dari ahli seismik, psikologi kognitif, atau teknik seperti remote sensing atau statistik. Riset benar-benar merupakan studi empiris yang pertanyaannya ditentukan oleh penanggung jawab agensi atau kritik yang akan berguna bagi manajemen di dalam kerangka institusi. (note ida: Jadi pertanyaan riset adalah pertanyaan yang tidak obyektif untuk perkembangan riset bencana itu sendiri.

- Begitu hazard box sudah ditetapkan, maka orang-orang menganggap sudah bicara utuh soal hazard. Padahal itu hanya sebuah monolog, artinya banyak hal yang terlupa sehingga penelitian bencana menjadi kering.

- Seperti analogi monolog foucault, bahwa psikiater hanya terobsesi pada orang gila tanpa berpikir tentang kegilaannya sendiri dengan obsesinya itu. Dalam penelitian hazard juga begitu, para ahli hanya berpikir untuk membuat permasalahan penelitian yang sesuai dengan yang dia inginkan. Penelitian-penelitian itu tidak merefleksikan sampai kepada apa yang dilakukan oleh institusi di lapangan, tidak merefleksikan juga masyarakat seperti apa yang membuat otoritas teknokratik menjadi mungkin dilakukan. Hal ini bisa jadi suatu masalah. Penelitian-penelitian hanya ingin terlihat menarik (sophisticated) secara ilmiah, dan mengikuti trend. Mereka memang mengumpulkan data tentang masyarakat yang beresiko terkena bencana, tetapi mereka tidak melakukan dialog dengan masyarakat. Kebanyakan laporan bencana dari negara ketiga ditulis atau dibuat oleh orang-orang yang bahkan tidak bisa berbicara bahasa lokal di mana bencana terjadi atau tidak memahami komposisi sosial-budaya masyarakat.(!!!)

- Hewitt merasa dominant view memenuhi cara pandang materialistik, bahwa orang-orang lebih percaya pada sesuatu yang terlihat real hasilnya, seperti laporan, alat, penemuan, dll, yang bisa dipakai untuk menjadi bukti dan keperluan meyakinkan orang lain. Kedalamannya hanya sekedar lip service, tanpa memecahkan persoalan real bencana. Hewitt merasa bahwa kita harus menemukan cara untuk menghindari cara berpikir teknokratik dalam penelitian tentang bencana dan mulai untuk kembali menemukan fakta-fakta yang sebenarnya tentang bencana. Karena ilmu pengetahuan merely based upon FACTS!hanya berdasarkan pada fakta.

Ini adalah terjemahan bebas yang dilakukan oleh Ida Ansharyani (Ph.D Student Universite Paris 1 Pantheon-Sorbonne, France) sebagai bahan belajar untuk disertasi CBDRR Gunung Kelud. Untuk mengurangi kesalahan pemahaman, silakan mengontak idaansharyani@gmail.com untuk mendapatkan versi asli dari buku ini. Diterjemahkan (dibaca) di Paris 27-30 Oktober 2008.

Posted by ET in 19:53:35 | Permalink | Comments (2)

Interpretasi Bencana oleh Ken Hewitt (VI)

INTERPRETASI BENCANA DARI PERSPEKTIF EKOLOGI MANUSIA (VI)
(Interpretation of Calamities from the Viewpoints of Human Ecology)

Ken Hewitt, 1983

The convenience of accidents

- secara konseptual dan analitis, yang dilakukan oleh dominant view terkait kegiatan hazard adalah mendefenisikan permasalahan sebagai kecelakaan (“accident“).

- Defenisi hazard oleh Toblinn 1977, adalah kejadian peristiwa yang tidak biasa, yang tidak sempat diprediksi dengan baik pada waktu dan tempat tertentu, agar dapat dilakukan tindakan perlindungan bagi masyarakat yang terancam olehnya. Ahli geografi dari soviet, mengganggap hazard terbentuk dari proses dinamik yang kisarannya sangat besar, yang intinya adalah manifestasi hazards yang tidak terbatas (indefinite dan equivocale). White, 1977 sebenarnya sudah mempertanyakan apakah ada prediksi yang benar-benar sempurna dan akurat, tentang apa yang akan terjadi dengan begitu kompleksnya sistem biosfer, atmosfer, dan hidrosfer. Bagaimana seseorang akan mengatakan bahwa tidak akan ada bencana? (note ida: Bencana adalah element yang sangat dinamis, dan tidak bisa diprediksi, sehingga pendekatan dominant view tentang hazard akan menyempitkan range penelitian tentang hazard itu sendiri, karena hanya akan meneliti apa-apa yang mereka anggap bisa di prediksi).

- Dalam pandangan tersebut, aspek manusia merupakan aspek yang tergantung, atau ikutan. Meskipun lebih jauh ditemukan ada beberapa kondisi manusia yang mempengaruhi bencana, dominant view memasukkan ke dalam kategori yang mirip nilai “accident” yaitu “human error.” artinya menjadi sangat sepele atau tidak terlalu penting. Buku-buku literature banyak menggunakan istilah-istilah yang sama seperti accidents, misalnya: uninformed, unsound, unplanned, impaired, irrational, atau arational.

- Lagi-lagi, bencana alam hanya di anggap accident oleh dominant view jika dihadapkan pada implikasi sosialbudaya. Hal yang sebaliknya terjadi jika menyangkut pembahasan bencana oleh geofisik, atau teknologi. Ada kontras yang sangat besar pada sesuatu yang di anggap accident ini dengan kemungkinan ilmiah yang dilakukan terhadapnya. (note ida: Jadi hewitt merasa bahwa secara konsep di anggap tidak penting, tetapi anehnya banyak sekali investasi dana dan penelitian di bidang bencana? Kalo konsepnya tidak penting, berarti investasi besar itu tidak tepat sasaran dong. Begitu sebuah riset di luncurkan, maka semua orang ribut dengan model dan mekanisme penelitian itu. Penelitian bisa jadi dilakukan sangat detil dari segi statistik dan teknik geofisik, tapi kemudian mentoknya adalah pada rasionalisasi dari penelitian seperti itu. Hewitt merasa penelitian seperti itu tidak berguna karena kehilangan persentuhan dengan realitas yaitu aspek manusianya). Upaya-upaya untuk memasukkan aspek manusia dianggap sebagai subyektif dan tidak bagus bagi penelitian-penelitian tentang bencana. Upaya-upaya survival manusia di anggap sebagai membingungkan dan penuh teka-teki. Hal ini didokumentasikan dengan baik melalui pernyataan: meskipun manusia, tidak seperti makhluk hidup lainnya, dapat memproyeksikan dirinya terhadap masa depan dan bagaimana menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian, mereka lebih memilih diorientasikan pada masa saat ini dan di sini (here and now).

- Hewitt merasa aspek manusia di anggap remeh. Hewitt juga melihat dengan pendekatan dominant view maka orang-orang kulit putih mengambil beban di pundaknya. Dan semua yang mereka lakukan ditakutkan hanya bisa diaplikasikan di Amerika Utara dan daerah perkotaan saja.

- Sebenarnya mulai banyak peneliti yang mengimplikasikan “continuity” dalam penelitian bencana, dan juga memperhatikan kondisi awal dan peranan manusia di dalamnya. Tidak sekedar sesuatu yang terpisah dan aneh seperti penelitian geofisik. Kegiatan hazard di amerika utara kemudian mulai menggunakan istilah yang lebih netral “risk assessment atau probabilistic consequences,” dan mulai membuat riset dengan sistem yang lebih global dan menggunakan statistik yang lebih baik.

- Dominant view menempatkan bencana di luar asumsi dan melampui pengetahuan, atau bahkan di anggap metafisik. Sedangkan cara kerja teknokrat adalah dengan struktur asumsi. Dominant view menempatkan bencana diluar tanggungjawab sehari-hari masyarakat dan individu. Paling penting, dominant view membuat asumsi tentang kehidupan sehari-hari (stabil, normal, predictable) menjadi diperdebatkan. Sehingga kita selalu harus terus menerus berkutat dengan perdebatan itu.

- Apa yang harus kita tanyakan adalah bagaimana konsep accident ini berjalan sebagai solusi penjelasan masalah dalam konteks teknokratik. (note ida: Accident secara konsep, tapi kok penjabarannya sangat teknoratik, alias terlalu serius). Sebagai ilmuan, bagaimana kita mengatur (managed) untuk mengiformasikan hal yang terjadi ini dengan menghadirkan kebutuhan logis dan technical sophistication? (note ida: Logical necessity rendah tapi technical sangat dikembangkan).

Ini adalah terjemahan bebas yang dilakukan oleh Ida Ansharyani (Ph.D Student Universite Paris 1 Pantheon-Sorbonne, France) sebagai bahan belajar untuk disertasi CBDRR Gunung Kelud. Untuk mengurangi kesalahan pemahaman, silakan mengontak idaansharyani@gmail.com untuk mendapatkan versi asli dari buku ini. Diterjemahkan (dibaca) di Paris 27-30 Oktober 2008.

Posted by ET in 19:51:23 | Permalink | Comments (2)

Interpretasi Bencana oleh Ken Hewitt (VII)

INTERPRETASI BENCANA DARI PERSPEKTIF EKOLOGI MANUSIA (VII)
(Interpretation of Calamities from the Viewpoints of Human Ecology)

Ken Hewitt, 1983

Masalah-masalah Penjelasan (Problems of explanation)

- Karena tidak melibatkan masyarakat luas yang terkena dampaknya, dan hanya bersifat monolog, maka dominant view di anggap aneh. Akar keanehannya sebenarnya terletak pada bentuk teknokratik dari paham materialismenya. Materialime tidak bisa menjelaskan apakah bencana adalah act of god atau act of man.

- Konsep act of god, jelas tidak dapat diterima secara ilmiah. Konsep act of man lebih problematik. Jelas-jelas konsep ini melibatkan manusia, dan kerentanan manusia dijadikan perhatian utama. Tetapi pertanyaan, apa sebenarnya human action yang dimaksud, menjadi sangat sulit karena aksi tidak hanya proses. Telah didefenisikan dengan baik bahwa action mengacu pada upaya yang terorganisasi dan pembebasan untuk membuat perubahan atau untuk memelihara suatu kondisi tertentu. Bukan hanya sekedar perubahan yang spontan dan tidak direncanakan seperti yang dilihat oleh ilmu fisik pada atmosfer atau litosfer. Jadi human action itu ada banyak rentetannya, sedangkan ilmu alam faktor lainnya tidak sebanyak untuk melihat human action. Action terdiri dari (unsur utamanya) perencanaan dan pengorganisasian. Karena itulah action tidak dibicarakan dalam membahas eksploitasi sumberdaya alam atau di dalam respon pemerintah terhadap bencana alam. (note ida: Human action ditinggalkan karena mereka tahu, itu artinya akan membuat masyarakat sadar dan menjadi pintar lalu akan menuntut hal apa yang baik untuk dirinya terkait bencana). Asumsi utilitarian dari dominant view tidak juga dapat menjelaskan bahwa dengan memasukkan unsur “human action” akan membawa kepada kerusakan, atau pada kejatuhan institusi dan ketidakteraturan perekonomian. Pandangan materialism melihat bahwa human action berasal dari kepentingan pribadi yang pada dasarnya untuk kebutuhan survival atau setidaknya untuk adaptasi. Karena itu, kegiatan manusia yang bisa menyebabkan bencana di anggap tidak mungkin terjadi, kecuali sebagai suatu accident. Jadi kalo berusaha menciptakan kerusakan, oleh materialism dianggap sebagai kriminal atau gila. Lebih jauh, karena itulah dianggap tidak mungkin untuk berdebat tentang kemungkinan bahwa pemerintah, ilmuan, bisnis, dan organisasi lainnya menciptakan bencana. Itu hanya mungkin dari sudut pandang “conspiracy theories,” yang kemudian akan dianggap hanya dilakukan oleh kriminal dan itu hanya pikiran orang yang paranoid. Hewitt berpendapat, bahwa ide “act of man” bukanlah yang bertanggungjawab pada kejadian bencana yang terjadi saat ini, meskipun ada beberapa penulis yang membahas tentang pentingnya membicarakan tentang konspirasi.

- Bencana oleh dominant view di dukung dengan label religius, kosmologi, magis dan fatalistik. Mereka tidak ingin berpanjang lebar tentang sebab-sebab bencana selain bahwa itu kehendak tuhan. Tuhan dilibatkan tetapi jarang sekali sebagai aktor perantara (arbitrary) untuk manusia. Meskipun pada masa lampau manusia menganggap kerusakan sebagai kemarahan tuhan, mereka akhirnya kembali merasa bahwa ini adalah tanggung jawab manusia. Dominant view sangat didukung Secara agama dan magis yaitu bencana di anggap sebagai bentuk balasan tuhan atas kelakuan manusia. Karena itu, unsur manusia dianggap sebagai sesuatu yang sah untuk tertimpa bencana, sehingga riset hazard mengabaikan unsur manusia ini.

- Dominant view juga menekankan bahwa masyarakat tempat studi bencana berpikir primitif dan tidak percaya science, jadi percuma untuk melibatkan mereka ke dalam penelitian hazard. Intinya, dominant view menganggap masyarakat bodoh sehingga penelitian yang mereka lakukan harus sudah dianggap mewakili mereka, meskipun mereka tidak melakukan dialog apapun dan belajar dengan masyarakat.

- Dominant view menginterpretasikan fenomena dan mekanisme material. Cara interpretasinya normatif, evolusioner dan uniform. Manusia dan kehidupannya dipandang bergerak secara progressif. Sehingga mereka kesulitan ketika berhadapan dengan bencana karena bencana menunjukkan trend yang berbeda. Bencana tidak evolutioner tetapi revolusioner perubahannya, kemudian bencana juga membawa pergerakan manusia ke arah kemunduran, daripada kemajuan. Bahkan sudah mulai terlihat fenomena devolution akibat kerusakan berat habitat, misalnya dengan punahnya spesies.

- Dominant view dianggap lebih memilih ingin memanipulasi alam daripada ingin memahaminya. Jadi yang dicari bukan lagi filosofis tentang kebenaran tetapi ilmu pengetahuan ingin dijadikan suatu kekuatan dari institusi tertentu.

- Dulunya bentang lahan/permukaan bumi (landscape) benar-benar hasil pekerjaan alam dan tangan manusia, tetapi sekarang landscape alami dirubah oleh kekuatan teknologi yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan. Etos teknokratik adalah mengontrol sesuatu. Karena itulah jika ilmu pengetahuan digunakan untuk keperluan tertentu dan hasilnya mendatangkan penderitaan bagi manusia, maka akan berakibat buruk pada citra ilmu pengetahuan itu sendiri. (note ida: contohnya banyak: pupuk kimia, nuklir, perkotaan, dll).

- Jadi dengan menjadikan bencana sebagai fenomena alam dan merupakan accident bagi manusia, ini adalah formula yang tepat untuk menyelamatkan muka dari dominant view.

- Cara memandang mereka tentang bencana juga dalam skala ruang dan waktu yang sangat panjang, misalnya dalam skala geologi atau melihat dari sejarah bumi. Hal ini menjadikan bencana menjadi sesuatu yang biasa. Tetapi dari sudut pandang manusia yang skala waktunya berbeda, bencana bukanlah hal yang biasa sehingga penanganannya tidak bisa berdasarkan kerangka ilmiah semata.

- Hewitt beranggapan bahwa penelitian geofisik akan berguna jika menggunakan sudut pandang manusia yang beresiko bencana, misalnya apa kesulitan yang akan dihadapi masyarakat jika disaster berkekuatan x terjadi. Perhatian harus dimulai dari aspek manusia untuk meneliti hal yang fisik sekalipun. Karena meskipun skala manusia lebih pendek, tetapi stress, kerugian, korban, dan perubahan yang diakibatkan bencana pada manusia sangat nyata. Aspek bencana pada hidup mereka tidak bisa diabaikan begitu saja. (note ida: Dominant view menjadi sangat tidak bermoral jika tidak memperhatikan manusia).

- Dampak bencana alam pada manusia dianggap sesuatu yang normal dan tidak ada jalan keluarnya secara scientific, dan tidak ada sesuatu yang baru di situ, sehingga bisa diabaikan. Lalu aspek bencana hanya difokuskan ke hal-hal teknis, agar sesuatu dengan standar ilmiah yang kaku yang sudah ada dan mengikuti hierarki yang sudah ada dan melakukan apa yang sudah dipahami oleh teknokrat. Lalu begitu ada bencana, maka pergi meneliti aspek fisiknya, jelaskan pada pemerintah dan publik, lalu buat aturan-aturan, tetapkan daerah menjadi terlarang, buat daerah installasi baru. Selalu semuanya diarahkan oleh yang paling berkuasa. Dan tidak ada tempat bagi masukan dari masyarakat akar rumput (grass root) yang benar-benar berhadapan dengan bencana.

Ini adalah terjemahan bebas yang dilakukan oleh Ida Ansharyani (Ph.D Student Universite Paris 1 Pantheon-Sorbonne, France) sebagai bahan belajar untuk disertasi CBDRR Gunung Kelud. Untuk mengurangi kesalahan pemahaman, silakan mengontak idaansharyani@gmail.com untuk mendapatkan versi asli dari buku ini. Diterjemahkan (dibaca) di Paris 27-30 Oktober 2008.

Posted by ET in 19:49:23 | Permalink | Comments (2)

Interpretasi Bencana oleh Ken Hewitt (VIII)

INTERPRETASI BENCANA DARI PERSPEKTIF EKOLOGI MANUSIA (VIII)(Interpretation of Calamities from the Viewpoints of Human Ecology)

Ken Hewitt, 1983

Ketidakpastian dan Prediksi (Uncertainty and prediction)

- Hewitt menganggap bahwa garis persentuhan (interface) antara science dan masyarakat membuat kita harus menanyakan pertanyaan-pertanyaan penting dan jawaban-jawaban seperti apa yang akan membuat kita puas. Terkadang pertanyaan-pertanyaan itu jauh dari science dan teknologi sehari-hari.

- Konsep scientific yang sangat mendukung dominant view adalah konsep uncertainty dan ide-ide yang terkait dengannya. Ini berakar pada konsep accident. Konsep uncertainty ini juga melandasi transformasi ilmu sosial, ilmu lingkungan, dan juga pada hampir seluruh penerapan science pada decade akhir-akhir ini (tahun1983), melalui penggunaan statistik. Secara universal, literature tentang bencana menyatakan bahwa permasalahan paling mendasar dari bencana dan alasan paling benar mengapa hazard dapat terjadi adalah karena orang-orang hanya sedikit tahu bahkan tidak tahu bencana itu akan terjadi kapan, dimana, dan akan menimpa siapa. Dan secara intrinsik, konsep uncertainty ini membatasi kita pada apa yang bisa dan tidak bisa kita kembangkan dalam memandang masalah hazard. Dan konsep uncertainty ini memberikan kredibilitas ilmiah untuk memperlakukan hazard sebagai accident.

- Tidak mengerti paragrap 3 (desolee…hehehe)

- Hewitt merasa statistik terlalu mendominasi dalam penelitian tentang hazard. Statistik terlalu diberi porsi yang berlebihan. Konsep statistik sangat sesuai dengan konsep accident, karena dari hasil statistiknya mereka pun akhirnya mengeluarkan hasil-hasil, “probabilitas x, y, z dari hasil analisis statistik.” (note ida: padahal sebenarnya pada analisis statistik pun semua tergantung pada data yang baik dan konsep dari dihasilkan data itu). Banyak kegiatan-kegiatan terkait hazard tidak praktis, dan mereka mengukur kisaran besar bencana alam secara terpisah-pisah. Mereka kemudian menganalisnya menggunakan model kemungkinan (probability) seperti yang digunakan pada riset-riset accident. Hasilnya memperlihatkan pada mereka bahwa bencana adalah sesuatu yang acak (random) atau hampir random, dengan interval yang random pula. Karena itu jelas, bahwa definisi hazard yang probabilistic tidak terhindarkan. Jika umat manusia tidak dipersiapkan atau persiapannya buruk untuk menghadapi bencana hanya karena bencana uncertain dan jarang, lalu predictability harus lah menjadi inti dari manajemen. Solusi rasionalnya adalah hanya dengan memperbaiki pengetahuan tentang kapan bencana terjadi dan mengurangi tingkat uncertainty-nya.

- Penggunaan statistik untuk mengungkapkan fenomena hazard tidak diragukan lagi. Tetapi bahwa hazard kemudian dikurangi hanya semata-mata pada kenyataan statistik dianggap Hewitt sebagai upaya menyelamatkan muka dan akan membawa penelitian hazards ke formula yang salah. Hewitt merasa keberatan dengan cara sumber-sumber uncertainty digambarkan oleh statistik, kemudian dibuat menjadi prediksi. Lalu membuat semua perkiraan bencana dari semua material life melalui alat ini. (note ida: Intinya bagi Hewit, adalah bahwa di balik statistik ada fakta-fakta penting yang kemudian direduksi ketika menggunakan statistik).

Ini adalah terjemahan bebas yang dilakukan oleh Ida Ansharyani (Ph.D Student Universite Paris 1 Pantheon-Sorbonne, France) sebagai bahan belajar untuk disertasi CBDRR Gunung Kelud. Untuk mengurangi kesalahan pemahaman, silakan mengontak idaansharyani@gmail.com untuk mendapatkan versi asli dari buku ini. Diterjemahkan (dibaca) di Paris 27-30 Oktober 2008.

Posted by ET in 19:47:33 | Permalink | Comments (2)

Interpretasi Bencana oleh Ken Hewitt (IX)

INTERPRETASI BENCANA DARI PERSPEKTIF EKOLOGI MANUSIA (IX)
(Interpretation of Calamities from the Viewpoints of Human Ecology)

Ken Hewitt, 1983

Mitos Kehidupan Biasa (The myth of ordinary life)

- Yang kurang dari dominant view adalah apa yang dia defenisikan tentang bencana dan terlebih-lebih caranya memandang aktifitas manusia dan hubungannya dengan alam. Kehidupan manusia dan bencana dipandang sebagai dua hal yang saling berlawanan. Kehidupan manusia dianggap stabil, teratur dan dapat diprediksi, aman, normal, dan produktif sedangkan dianggap abnormal, tidak aman, dan merugikan. Hazard dianggap muncul sebagai intrusi terhadap kondisi normal ini yang tidak dapat dilihat dan murni independent proses alamiah yang ektrim dan jarang. Manifestasi hazard dianggap sebagai tindakan tidak sadar manusia yang memilih bermukim di daerah bencana. Dominant view melakukan analisisnya seolah-olah continuity dan discontinuity, stability dan instability dalam urusan manusia adalah suatu point yang ada pada saat kejadian bencana. (note ida: Aspek manusia tidak bisa dilihat pada satu titik saja, melainkan harus dilihat sebagai sebuah proses yang memiliki banyak variabel di dalamnya).

- Perlakuan statistik terhadap kondisi sosial dan lingkungan juga sangat berperan dalam menjadikan ide kehidupan sehari-hari (everyday life) menjadi mitos (myth). Ketika mendefenisikan everyday life, peneliti-peneliti sosial dan lingkungan banyak menggunakan data-data statistik yang sudah tersedia baik di level pemerintah, atau lembaga yang terpusat lainnya. Statistik terpaksa menjadikan semua fakta menjadi rata-rata, sehingga oleh hewitt tidak bisa mengungkapkan realitas. (note ida: Penelitian sosial masuk lebih dalam untuk mengetahui realitas, lebih daripada statistik yang malah menjadikan realitas menjadi angka-angka yang tidak jelas lagi apa maknanya karena tidak bisa mewakili realitas).

- Konsep kehidupan normal (normal life) di satu sisi dan statistical uncertainty dari bencana pada sisi yang lain, maka everyday life menjadi sangat kecil pengaruhnya pada bencana atau karena ketidaksengajaan.

- Prediksi yang dilakukan oleh dominant view pun menggunakan data-data tertentu yang pengambilan datanya juga tidak bebas nilai, karena sudah sangat terstruktur, terpusat, dan dilakukan oleh institusi tertentu (birokratik). (Note ida: Sehingga konsep uncertainty menjadi kembali tidak jelas karena mereka mengumpulkan data dari berbagai tempat yang berbeda. Dan juga karena mereka hanya memfokuskan pengambilan data di tempat-tempat tertentu, biasanya urban area, atau tempat yang lainnya, maka data uncertainty di banyak tempat tidak tercover oleh mereka). Sedangkan kejadian uncertainty di tempat yang tidak terpantau bisa jadi membawa pengaruh besar pada hal lainnya, seperti misalnya fluktuasi ekstrim ekonomi dan politik.

- Anggap saja pada awalnya kita setuju dengan ide Burton, 1978, bahwa munculnya hazard adalah akibat dari interaksi sistem sosial dan sistem lingkungan. Dan anggap juga bahwa kita setuju bahwa tidak akan ada bencana yang terjadi jika semua peristiwa geofisik dapat diprediksi. (note ida: kalo memang bencana tidak bisa diprediksi, yah sudah tingkatkan aja persiapan kita menghadapinya). Karena itu kita harus yakin dulu bahwa semua aspek lingkungan dapat di prediksi, kecuali yang ekstrim; tetapi kedua, kita harus yakin juga bahwa kehidupan manusia sendiri adalah sesuatu yang dapat di prediksi (predicable) atau (irrelevant). Hal ini sama dengan bahwa jika prediksi alam diperbaiki, maka manusia akan menyesuaikan diri untuk menghilangkan resiko hasil dari prediksi tersebut. Everyday life di anggap oleh dominant view tidak bermasalah, dan dinamikanya tidak penting karena dengan sendirinya akan mengikuti arah penelitian scientific, dan juga dapat dengan mudah dibuat mengikuti perkembangan yang dipikirkan oleh scientific. Cara pandang ini dianggap membungkus determinisme lingkungan. (Note ida: Memberi porsi yang lebih besar pada lingkungan).

- Memberikan gambaran benar atau salah (false or true image) bahwa bencana alam dapat dikontrol, padahal sebenarnya tidak karena uncertainty-nya membuatnya tidak dapat diprediksi, maka akan beresiko membuat masyarakat tidak waspada.

- (Note ida: Juga dengan retorika “predictability” yang dijalankan oleh teknokrat, diharapkan masyarakat akan mudah di kendalikan karena mereka akan sangat berharap dan percaya pada pemerintah, teknokrat, dan para ahli). Konsep predicting society adalah wishful thinking teknokrat, yang secara retorik beranggapan bahwa masyarakat akan mengikuti dengan mudah apapun konsep tentang bencana asalkan bencana dapat diprediksi oleh para ahlinya. (Note ida: Mereka melihat masyarakat sebagai obyek yang tidak memiliki entitas sendiri, dan tidak ada dinamika di dalamnya).

- Literature abad ke-20 yang juga berpandangan teknokrat menganggap aspek everyday life malah extraordinary dan mereka mengatakan bahwa inovasi teknologi, dan bantuan-bantuan luar harus dilibatkan. Dari sudut pandang ini, malah terlihat disaster-nya yang biasa (ordinary). Hidup manusia dianggap sebagai sesuatu yang kayak begitu-begitu aja dari dulu.

- Hewitt merasa mitos tadi jelas ada alasannya, yaitu berdasarkan konteks psikososial saat itu, tetapi itu menjadi mitos ketika cara berpikir seperti itu tidak lagi cocok digunakan karena sudah tidak relevan lagi pada saat ini dan tidak cocok dengan konteks yang didiskusikan. Karena itu pula dominant view hanya mitos juga bagi dia karena sudah tidak relevan.

- Mitologi bagus bagi hewitt karena biasanya berdasarkan pada kosmis dan penciptaan, tetapi myth di dalam dominant view adalah mitos-mitos yang hanya dikembangkan oleh segelintir orang atau kelas-kelas tertentu untuk melindungi kepentingannya, seperti halnya pangeran, pendeta, dll. Dominant view tidak mewakili mitologi yang baik, tetapi mereka membuatnya seolah-olah itu adalah mitologi kosmis, padahal tidak. Hewitt merasa itu tidak dapat diterima, setidaknya bagi ilmu sosial, bahwa seseorang percaya pada materialism kemudian membuat organisasi teknokratik untuk mengatur manusia lainnya.

- Untuk menghindari mitos itu, penting untuk kembali ke filosofis, dan tidak kepada sistematisasi yang dilakukan terhadap ilmu pengetahuan.

Ini adalah terjemahan bebas yang dilakukan oleh Ida Ansharyani (Ph.D Student Universite Paris 1 Pantheon-Sorbonne, France) sebagai bahan belajar untuk disertasi CBDRR Gunung Kelud. Untuk mengurangi kesalahan pemahaman, silakan mengontak idaansharyani@gmail.com untuk mendapatkan versi asli dari buku ini. Diterjemahkan (dibaca) di Paris 27-30 Oktober 2008.

Posted by ET in 19:45:16 | Permalink | Comments (2)

Interpretasi Bencana oleh Ken Hewitt (X)

INTERPRETASI BENCANA DARI PERSPEKTIF EKOLOGI MANUSIA (X)
(Interpretation of Calamities from the Viewpoints of Human Ecology)

Ken Hewitt, 1983

Alternative viewpoints

(penting untuk dijadikan reference: hal 24-25, hati-hati dalam memahaminya, jika akan dipakai dibaca lagi secara hati-hati)

- Bab-bab di buku ini menjelaskan hal yang kontras dengan dominant viewpoints

- Tingkatan penting (the important degree) atau tidaknya bencana alam, tidak dijelaskan dan tidak tergantung pada proses geofisik yang memang memulai kerusakan.

- The important degree dari respon dan kewaspadaan manusia terkait bencana alam tidak tergantung pada kondisi geofisik, baik itu mekanisme, frekuensi dan pengalaman lampau terhadap bencana. Hazard terlihat lebih tergantung pada concerns, pressures, risks, goals, dan juga dinamika hubungan sosial-lingkungan pada suatu komunitas tertentu. Hazard sangat tergantung pada karakteristik sosial suatu komunitas. Mungkin sangat penting bahwa efektif atau tidak efektifnya upaya mengurangi atau menghindari bencana sangat tergantung pada nilai-nilai yang dimiliki komunitas saat ini dan organisasi komunitas yang sedang berjalan, dan institusinya.

- Perluasan penting (the important extent) dari bencana alam, yaitu sebabnya, feature internalnya, dan konsekuensinya tidak dijelaskan oleh kondisi atau perilaku aneh, terhadap peristiwa bencana, melainkan tergantung pada tatanan sosial yang berlaku, hubungan kesehariannya dengan habitat, sirkumstan historis yang lebih besar yang membentuk atau frustate this matter.

- Menurut Hewitt ahli sosial harus benar-benar memikirkan bagaimana mereka bisa terlepas dari dominant view. Dan Hewitt sendiri telah memikirkan hal-hal sebagai berikut dalam upaya itu:

- Hampir semua bencana alam, atau kerusakan yang disebabkannya, merupakan cerminan dari karakteristik sosial dan tempat kejadian itu terjadi. Jadi bukan suatu feature atau gambaran yang accidental.

- Risk, pressure, uncertainty yang terkandung di dalam awareness dan preparedness terhadap fluktuasi alam, mengalir dari kehidupan sehari-sehari, bukan dari skala dan kemunculan fluktuasi itu. (note ida: Jadi sudut pandangnya adalah masyarakat melihat kejadian dari kehidupan sehari-hari mereka, mereka akan memandang bencana dari bagaimana kehidupan sehari-hari mereka bersentuhan dengan suatu kondisi, bukan sesuatu yang tiba-tiba terpisah, yaitu melihat fenomena alamnya langsung. Jadi background masyarakat dalam bencana adalah daily life mereka).

- Kondisi alam yang ekstrim, sebenarnya di dalam sense ekologi manusia, lebih diharapkan dan lebih diketahui oleh masyarakat dibandingkan dengan perkembangan sosial lainnya yang akan mempengaruhi hidup mereka sehari-hari.

- Banyak bukti-bukti bahwa di tempat-tempat bencana recent terjadi, settingnya kemudian adalah mengalami penderitaan perubahan sosial dan dampak lingkungan yang menyertainya dan berlangsung terus (ongoing). Apakah perubahan ini, secara sirkumstansi sosial, lebih dapat di manajemen (manageable),diharapkan (expected), dan lebih pasti bagi korban bencana dibandingkan dengan natural extremes? Apa lagi yang diharapkan oleh penduduk yang tinggal di daerah bencana terhadap karakterstik geofisik bencana atau tempat mereka? Apakah mereka akan tertarik pada geofisik atau pada perubahan yang terjadi pada aspek hidup mereka karena itu, yaitu secara politik, sosial dan ekonomi? Apalagi yang lebih pasti terhadap sesar San Andreas, apakah peristiwa gempa yang kadang-kadang terjadi atau perkembangan kehidupan sehari-hari disekitarnya, sebutlah itu “post-industrial society.”

- Dalam sejarah seribu atau dua ribu tahun lalu di daerah-daerah yang terkena bencana, mereka sudah tahu bahwa proses geofisik yang terkait dengan bencana tidak terhindarkan. Mereka tahu bahwa bencana yang sudah terjadi dapat terjadi lagi. Di dalam semua segmen masyarakat bencana di anggap pasti terjadi, baik akan menimpa dirinya, atau anak cucunya ke depan. Karena itu keuntungannya yang paling real adalah manusia bisa meningkatkan persiapan menghadapinya, karena bencana jarang terjadi. Atau apakah mungkin suatu komunitas yang sehat akan mengabaikan sesuatu yang akan merusaknya hanya karena sesuatu yang merusak tidak jelas kapan akan terjadinya. Karena itulah filosof Brecht, 1965 mengatakan “karena manusia tahu sangat sedikit tentang diri mereka sendiri, karena itulah pengetahuan tentang alam sangat sedikit gunanya bagi mereka. Mereka dapat mengatasi gempa, tetapi teman-temannya (masyarakat) tidak dapat mengatasinya. Dalam penelitian-penelitian (setidaknya penelitian yang dilakukan oleh ilmuan sosial), tentang bencana setidaknya, bahkan untuk bencana gempa bumi sekalipun, adalah our fellow (masyarakat) bersamanya kita harus selamat lebih dulu, baru kemudian yang diurus adalah proses gempa buminya. (note ida: Artinya kita harus selamatkan orang dulu baru ngomong soal teknis gempa, dll). Lagi-lagi karena inilah, kita harus melawan fiksi yang dikembangkan teknokrat.

- Apakah orang-orang tidak waspada dan tidak siap karena bencana jarang terjadi dan tidak bisa diprediksi? (note ida: implikasinya, adalah orang-orang dibuat tidak waspada dan tidak siap oleh sistem teknokrasi). Apakah orang-orang tidak mengacuhkan kemungkinan banjir atau gempa karena mereka disibukkan dengan “present gratification” (kepuasaan saat ini)? (note ida: implikasinya, perhatian mereka dialihkan pada penemuan scientific yang dianggap bisa menyelesaikan masalah). Atau apakah karena kondisi pekerjaan sehari-hari, life support, keamanan sosial dan mental, atau lingkungan artificial yang menghabiskan semua energi mereka, sehingga harus mengabaikan resiko dan membuat mereka mengambil resiko? (sistem kehidupan yang dibuat oleh teknokrat memaksa mereka tidak bisa lagi memasukkan unsur resiko ke dalam hidup mereka). Apakah masyarakat terlihat tidak bisa beradaptasi dengan baik (poorly adapted), karena dunia sosial teknokrat dan spesialis academik yang sempit, telah membuat kita tidak mampu mengenali kenyataan yang harus dihadapi oleh pihak lainnya (masyarakat)? (note ida: Mereka berpikir tentang hidup orang lain dari cara pandangnya sendiri, tanpa mau susah-susah untuk benar-benar mengenal hidup orang lain).

- Tentu saja pada masyarakat modern, misalnya di perkotaan tempat dimana dominant view diterapkan, tidak ada waktu untuk berpikir tentang bencana, dan mempersiapkan diri mereka untuk itu. Mereka bahkan kesulitan untuk mengalokasikan waktu untuk khawatir dan mengurusi misalnya orangtuanya yang jompo, keluarganya yang sakit, yang cacat, dan yang mengalami gangguan mental atau semua istilah-istilah abnormal lainnya, dan khususnya elemen tidak produktif dari kondisi manusia. Orang kota lebih tercerabut dari konsep bencana, mereka tidak punya sense bencana, tetapi ironisnya orang kota lah yang membuat konsep bencana bagi orang lain yang mengalami bencana. Lebih jauh, salah satu dampak khas dari modernisasi adalah merusakkan tatanan tradisional, seperti bagaimana suku-suku, desa, hubungan timbal balik tuan-pekerjanya menghadapi bencana. Proses yang sama juga yang menyebabkan orang-orang marjinal, seperti orang miskin, pengemis, orang kelaparan, menjadi terlunta-lunta di jalan negara berkembang. Karena mereka lebih memakai kacamata orang berada, dan melupakan orang miskin. Seperti yang juga terjadi di amerika utara dan eropa, sampai kemudian dibentuklah suatu institusi untuk menyembunyikan mereka. Perkembangan sosial yang seperti berasal dari proses human ekologi dan geografi dari modernisasi yaitu membuat orang-orang terasing dari wilayahnya sendiri “alienation from land” merupakan bagian integral dari kerentanan masyarakat biasa terhadap bencana alam yang tidak bisa dihindari. Cara pandang bencana secara modern ini menyebabkan masyarakat biasa yang hidup tidak di kota menjadi dalam bahaya berhadapan dengan bencana. Ilmu pengetahuan yang mereka kembangkan menjadi tidak berguna hanya untuk sekedar bersenang-senang belaka. Tetapi pada akhirnya tetap saja institusi teknokrat yang sentralistis dan penelitian tentang hazard, yang berhak mengambil kebijakan atau dianggap memiliki tanggung jawab untuk itu

- Ada beberapa bencana dan kerusakan yang berada diluar kekuasan manusia untuk menghindarinya. Tetapi Hewitt melihat dan percaya bahwa ada bencana dan kerusakan yang seharusnya tidak terjadi atau kerusakan yang seharusnya tidak terjadi hanya kecuali sebagai akibat langsung dari karakteristik dan kerentanan human development. Karakteristik manusia dan kerentanannya yang menyebabkan bencana terjadi. Perkembangan ini merefleksikan adanya ketidaksinkronan antara requirements hubungan lokal regional yang diharapkan sensitif dan aman secara lingkungan, lebih tepatnya pada beberapa segmen masyarakat dan kegiatan pada level regional-lokal dengan permintaan untuk memperluas kekuatan dan ekonomi yang merupakan hal yang sangat didukung oleh teknorat. Karena untuk kekuatan dan ekonomilah teknorasi itu ada. Kebutuhan untuk lebih sensitif pada aspek masyarakat meningkat, tetapi teknokrat memiliki fokus untuk meningkatkan kekuatan dan sektor ekonomi.

- Pembahasan tentang bencana yang dilakukan di dalam bab-bab berikutnya mendukung ide hewitt, bahwa bagaimana dan mengapa terjadi bencana ditanyakan, dengan memperhatikan apa kondisi sosial saat itu dan juga memperhatikan hubungan manusia dan alam yang melatarbelakangi kejadian bencana. Hal ini menempatkan human ekologi menjadi penting tidak sekedar hanya menjadi pendukung ketika bencana mendatangkan korban. Jika masyarakat dalam perkembangan keseharian mereka menjadi bagian yang integral dari “risk from nature,” maka tatanan sosial menjadi penting dalam penelitian dan diskusi tentang bencana. Termasuk didalamnya menguji kekuatan politik dan ekonomi terhadap kerentanan dan manajemen, juga menguji redistibusi resiko yang dimaksudkan oleh institusi.

- Implikasi yang lebih serius terhadap krisis manajemen adalah bahwa selama ini dominant view menyalurkan banyak sumberdaya dan ahli-ahli pada projek yang tidak melibatkan kemalangan manusia. Mereka lebih tertarik pada geofisik yang merupakan masalah yang tidak terlalu berarti di bandingkan inti masalah dari bencana. Dominant view diwakili oleh tindakan pemerintah yang melakukan hal-hal yang bersifat fisik, yaitu misalnya membangun kembali infrastruktur ekonomi untuk memenuhi kebutuhan negara dan sistem internasional melebihi dari apa yang dibutuhkan korban bencana.

- Hal yang penting harus diperhatikan oleh geografer dan antropologis adalah bahwa dominan view tanpa malu tidak peduli pada sejarah dan keanekaragaman alam dan manusia. Juga bahwa mereka membuat konsep-konsepnya dengan latar belakang kota. Jadi kita harus hati-hati ketika meneliti hazard di negara berkembang yang cross-cultural-nya berbeda dengan western.(note ida: Hati-hati dengan pikiran-pikiran orang barat. Hehehe… karena mereka bisa menggunakannya kembali dan membuat struktur baru dari apa yang kita temukan).

- Hewitt akhirnya menandaskan bahwa dia merasa bahwa dominant view jika tetap seperti itu seperti orang yang ingin memerintah ombak… (note ida: artinya sok-sok mau ngatur tapi gak ada yang mau ikutin… dan pura-pura sibuk sendiri dengan penelitian-penelitian yang dia bual-bualkan berharga, padahal tidak berguna. yeee…hidup Ken Hewitt! Jarang-jarang baca referensi seperti ini!!!).

Ini adalah terjemahan bebas yang dilakukan oleh Ida Ansharyani (Ph.D Student Universite Paris 1 Pantheon-Sorbonne, France) sebagai bahan belajar untuk disertasi CBDRR Gunung Kelud. Untuk mengurangi kesalahan pemahaman, silakan mengontak idaansharyani@gmail.com untuk mendapatkan versi asli dari buku ini. Diterjemahkan (dibaca) di Paris 27-30 Oktober 2008.

Posted by ET in 19:42:53 | Permalink | Comments (3)