Wednesday, May 2, 2012

KARAKTER LAHAR G. MERAPI SEBAGAI RESPON PERBEDAAN JENIS ERUPSI SEJAK HOLOSEN

Eko Teguh Paripurno

RINGKASAN DISERTASI

1.  PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Penelitian

Busur gunungapi di Indonesia terdapat dalam gugusan pulau yang menerus dari Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi dan Maluku sepanjang 7.000 kilometer. Sebaran gunungapi ini merupakan konsekuensi atas dinamika tektonik di Indonesia berupa pertemuan lempeng besar Hindia-Australia yang bergerak ke arah utara, lempeng Eurasia yang relatif stabil serta lempeng Pasifik yang bergerak ke arah barat. G. Merapi merupakan salah satu gunungapi paling aktif di dunia. Berdasarkan konsepsi satuan morfologi Pulau Jawa dengan berbasiskan tektonik lempeng, kelurusan gunungapi ini merupakan bagian tengah dari Kerucut Busur Vulkanik Jawa (Adjat Sudradjat, 2006).

Di G. Merapi, bahaya lahar lebih berdampak luas bagi masyarakat dibanding bahaya awan panas. Kerugian bukan hanya kehilangan nyawa, tetapi juga pada hilang dan rusaknya harta benda sebagai aset penghidupan masyarakat. Keterbatasan pemahaman atas proses dan sebaran pelaharan menyebabkan pengurangan risiko bencana lahar belum dapat dilakukan secara optimal. Penelitian yang telah dilakukan sampai saat ini cenderung bersifat kualitatif dan berorientasi kepada kondisi ancaman saat ini. Hal ini berakibat kepada munculnya kesulitan memprediksi ancaman lahar pada masa yang akan datang ketika terjadi perubahan aktivitas erupsi G. Merapi. Untuk mengurangi risiko bahaya tersebut maka kejelasan karakter piroklastika dan lahar masih memerlukan penelitian yang spesifik.

Beberapa pertimbangan yang menjadi alasan bagi pelaksanaan penelitian ini diantaranya adalah: (1) Kondisi geologi kegunungapian G. Merapi yang menarik, berupa kekerapan erupsi dengan variasi batuan gunungapi yang dihasilkan, dan hubungan antar batuan yang dijumpai dalam sistem gunungapi tersebut. (2) Pengkajian kuantitatif hubungan antar jenis erupsi terhadap karakter piroklastika dan lahar, yang hasilnya dapat digunakan untuk acuan bagi pengungkapan kasus sejenis. (3) Ketersediaan data sekunder, sarana dan prasarana pendukung riset seperti citra satelit, laboratorium dan piranti lunak pendukung penelitian.

1.2. Permasalahan

Aktivitas erupsi G. Merapi menghasilkan lava dan endapan piroklastika. Pelaharan merupakan proses pengendapan kembali endapan piroklastika menjadi endapan lahar. Dalam proses tersebut karakter erupsi, edapan piroklastika hasil erupsi, dan bentuk morfologi gunungapi dapat bertindak sebagai penyebab, pengendali, dan petunjuk keberadaan lahar. Penelitian dilakukan dengan menitikberatkan kepada karakter-karakter lahar G. Merapi yang  terbentuk sebagai respon perbedaan erupsi selama Holosen, yaitu rentang waktu sejak 10.000 tahun lalu.

1.3. Maksud dan Tujuan  Penelitian

Maksud penelitian ini adalah untuk mengetahui karakter lahar G. Merapi sebagai respon akibat perbedaan jenis erupsi sejak Holosen, atau sekitar 10.000 tahun yang lalu.
Tujuan penelitian untuk (1) Mengetahui perubahan jenis erupsi G. Merapi sejak Holosen sampai Resen, (2) Mengetahui karakter lava dan endapan piroklastika G. Merapi sejak Holosen sebagai respon perbedaan jenis erupsi, (3) Mengetahui karakter endapan lahar G. Merapi sejak Holosen sebagai respon perbedaan karakter  jenis erupsi.

1.4. Kegunaan Penelitian

Dari aspek teoritis (keilmuan) hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu kegunungapian, khususnya lahar, dalam merubah pendekatan kualitatif ke pendekatan verifikasi kuantitatif dalam penetapan kesimpulan. Metode yang digunakan dan hasil yang dicapai diharapkan dapat memberikan kejelasan hubungan antara erupsi dan lahar untuk dapat digunakan di tempat lain.
Dari aspek praktis (guna laksana) hasil penelitian untuk diterapkan dalam memprediksi pengurangan risiko bahaya lahar dengan lebih tepat pada setiap perubahan karakteristik piroklastika, perubahan jenis dan indeks erupsi.

1.5. Lokasi Penelitian

G. Merapi yang diteliti secara administratif lokasi penelitian terletak di kabupaten Magelang (lereng barat), kabupaten Boyolali (lereng utara), dan kabupaten Klaten (lereng timur), ketiganya di  Propinsi Jawa Tengah serta Kabupaten Sleman (lereng selatan) Daerah Istimewa Yogyakarta.

2. KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS

2.1 Kajian Pustaka

G. Merapi sebagai salah satu gunungapi teraktif di dunia G. Merapi merupakan obyek penelitian yang selalu menarik.  Pembahasan kemajuan penelitian terdahulu  sebagai berikut: (1)     Struktur geologi regional Jawa berpengaruh terhadap kehadiran jajaran gunungapi. Berdasarkan konsepsi satuan morfologi Pulau Jawa dengan berbasiskan tektonik lempeng, kelurusan gunungapi ini merupakan bagian tengah dari Kerucut Busur Vulkanik Jawa (Adjat Sudradjat, 2006). Kelurusan gunungapi ini merupakan patahan-patahan regional yang berhubungan dengan pola jalur penunjaman Tersier sampai Resen yang membujur berarah timur-barat dan bergerak ke arah utara. (2)    Batuan G. Merapi yang bersifat basal-andesitik dan andesitik. Magma  tersebut merupakan hasil evolusi dari basal alumina tinggi sebagai magma asalnya. Disamping differensiasi kristalisasi, magma tersebut  dipengaruhi oleh adanya kontaminasi dari kerak bumi (Del Marmol, 1989). Terdapat perubahan komposisi magma yang berulang dari basa ke asam. Perubahan komposisi berpengaruh pada tingkah laku G. Merapi. Perubahan sifat letusan dari meletus menjadi meleler pada periode saat ini merupakan perubahan penting, karena berpengaruh pada resiko dari letusan.  (Andreastuti, 1999). (3) Pengelompokan stratigrafi dan sejarah erupsi G. Merapi telah dilakukan oleh banyak peneliti dengan berbagai pendekatan. Berdasarkan bentuk morfologi gunungapi, sejarah erupsi stratigrafi G. Merapi dibagi menjadi 2 tahap, yaitu Merapi Tua dan Merapi Muda (Bemmelen, 1949). Berdasarkan kehadiran lava  stratigrafi G. Merapi dapat dibagi ke dalam 3 tahap, yaitu Merapi Purba, Merapi Tua dan Merapi Baru (Del Marmol, 1989). (4) Berdasarkan kecenderungan jenis dan umur hasil erupsinya stratigrafi G. Merapi dibagi menjadi 2 tahap, yaitu Merapi Tua dan Merapi Muda (Wirakusumah, 1984). Berdasarkan waktu terbentuknya  sejarah letusan G. Merapi dibagi menjadi 5 perioda, yaitu: Pra Merapi (> 400.000 tahun lalu), Merapi Tua (400.000 – 6.700 tahun lalu), Merapi Menengah (6.700 – 2.200 tahun lalu), Merapi Muda (2000 – 600 tahun lalu) dan Merapi Sekarang (sejak 600 tahun lalu) (Camus, et.al, 2000) .

Selama Holosen, atau sekitar 10.000 tahun terakhir terjadi banyak peristiwa penting yang berhubungan dengan perbedaan erupsi dalam skala besar. Erupsi tertua G. Merapi terjadi pada tahun 6.630 ± 60 SM. Hasil runtuhan besar pada 1.400 SM menutup Kali Progo dan membentuk danau purba Borobudur. Peruntuhan berikutnya terjadi pada 100 M, sekaligus membentuk dasar kerucut G. Merapi. Erupsi-erupsi besar berikutnya terjadi pada perioda waktu 732 – 928 M.  Runtuhan  terakhir terjadi pada 1130 M. Selanjutnya pada abad 20 erupsi didominasi oleh pembentukan kubah lava dan aliran piroklastika yang berasal dari guguran kubah (Newhall  et. al., 2000).
Sebaran endapan lahar yang terbentuk sejak abad 15 sampai sekarang pada 13 sungai utama di sekitar G Merapi telah menutup kawasan seluas 286 km2. Luasan tersebut merupakan hasil 23 kali proses pelaharan dari 61 letusan. Dengan membandingkan ketebalan lahar yang terbentuk dengan ketinggian aliran lahar berdasarkan saksimata; lahar mempunyai kekentalan 40 – 60 % volume. Lahar ini relatif encer dibandingkan debris-flow volkanik dari beberapa gunungapi di luar negeri yang hanya mempunyai kandungan air antara 10 – 25 % berat (Paripurno, 1997).

Hasil para peneliti terdahulu tersebut memberikan gambaran bahwa riset tentang lahar sebagai respun erupsi belum pernah dilakukan, sehingga riset disertasi dengan tema pokok hubungan hasil erupsi dengan pelaharan ini dilakukan untuk mengungkap kejelasan fenomena-fenomena tersebut melalui verifikasi hipotesis.

Melalui studi terhadap hasil penelitian terdahulu di daerah G. Merapi diperoleh masukan penelitian : (1) Studi peneliti terdahulu terhadap struktur, bentuk, magmatisma, karakteristik erupsi, stratigrafi dan sejarah erupsi G. Merapi telah memberi kesimpulan bahwa G. Merapi terdapat beberapa sistem yang disusun oleh satuan-satuan lava, aliran piroklastika, jatuhan piroklastika dan lahar. (2) Pada penelitian ini dilakukan verifikasi terhadap peran sifat, jenis dan hasil erupsi dalam proses pelaharan yang belum pernah diteliti oleh peneliti terdahulu.

2.2. Kerangka Pemikiran

Tema sentral penelitian ini adalah mengenai masalah karakter lahar G. Merapi sebagai respon terhadap perubahan jenis erupsi yang terjadi selama Holosen. Pendekatan penalaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan induktif, generalisasi dan enumerasi. Penelitian diawali dengan menentukan variabel-variabel yang dianggap berperan dalam mengendalikan fenomena. Generalisasi diperlukan untuk mendapatkan data terukur, yang selanjutnya secara numerik membentuk persamaan regresi dan model matematikanya.

 2.3. Hipotesis

Hipotesis merupakan pernyataan atau kesimpulan sementara yang masih harus diuji atau dibuktikan kebenarannya. Asumsi adalah suatu pernyataan yang ditetapkan melalui sederetan pengujian (verifikasi) fenomena empiris, sehingga diperoleh suatu pernyataan yang tidak terbantahkan. Asumsi-asumsi ini dapat dipertajam menjadi premis-premis yang dapat mendukung formulasi hipotesis (Hirnawan, 2007).
Premis yang dijadikan dasar bagi penetapan hipotesis dalam penelitian lahar ini adalah : (1) G. Merapi merupakan gunungapi tipe strato yang mengalami perbedaan jenis erupsi, yaitu erupsi letusan yang menghasilkan endapan piroklastika dan erupsi efusif menghasilkan lava. (2) Bentuk G. Merapi menunjukan adanya perbedaan jenis erupsi yang penting dan dalam skala besar, sehingga membentuk sistem yang berbeda, yaitu Sistem Merapi Tua dan Sistem Merapi Muda. (3) Pada setiap sistem terjadi perbedaan jenis erupsi yang menyebabkan setiap lava dan endapan piroklastika yang terbentuk mempunyai karakter yang berbeda. (4) Pada setiap sistem terjadi proses pelaharan, sehingga terbentuk Satuan Lahar Merapi Tua dan Satuan Lahar Merapi Muda. (5) Hipotesis penelitian dikemukakan bahwa karaker lahar yang terbentuk di G. Merapi merupakan respon atas perbedaan jenis erupsi yang terjadi,  dan mempunyai hubungan sebab akibat secara kualitatif dan kuantitatif. Karena itu karakter lahar akan dapat ditentukan apabila jenis erupsi tersebut dapat diketahui.
Secara lebih rinci hipotesis dan sub hipotesis penelitian dikemukakan dalam tabel berikut:

Hipotesis Penelitian
Hipotesis 1: G. Merapi sejak Holosen sampai Resen mengalami perbedaan-perbedaan  jenis erupsi
Sub-hipotesis 1.1: Terdapat perbedaan komposisi kimia pada masing-masing satuan batuan hasil erupsi
Sub-hipotesis 1.2. Terdapat perbedaan tingkat erodibilitas pada  masing-masing satuan batuan hasil erupsi, yang ditunjukkan oleh perbedaan kerapatan sungai
Sub-hipotesis 1.3. Terdapat perbedaan luasan rata-rata struktur rims horblenda hasil erupsi ekplosif dan effusif

Hipotesis 2: Endapan piroklastika sejak Holosen sampai Resen mengalami perubahan karakter akibat perubahan jenis erupsi
Sub-hipotesis 2.1. Terdapat perbedaan rata-rata besar komponen pada setiap endapan  piroklastika
Sub-hipotesis 2.2. Terdapat perbedaan rata-rata bentuk komponen pada setiap endapan piroklastika
Sub-hipotesis 2.3. Terdapat perbedaan rata-rata besar komponen batuapung  pada  setiap endapan piroklastika
Sub-hipotesis 2.4. Terdapat perbedaan rata-rata bentuk komponen batuapung  pada setiap  endapan piroklastika

Hipotesis 3: Endapan lahar sejak Holosen sampai Resen mengalami perubahan karakter akibat perubahan jenis erupsi
Sub-hipotesis 3.1. Terdapat perbedaan rata-rata besar komponen pada setiap satuan endapan lahar
Sub-hipotesis 3.2. Terdapat perbedaan rata-rata bentuk komponen pada setiap satuan endapan lahar

Hipotesis 4.: Besar dan bentuk rata-rata komponen endapan piroklastika tidak mempunyai korelasi dengan jarak pengendapan
Sub-hipotesis 4.1. Besar rata-rata komponen endapan piroklastika tidak mempunyai korelasi dengan jarak pengendapan.
Sub-hipotesis 4.2. Bentuk rata-rata komponen endapan piroklastika tidak mempunyai korelasi dengan jarak pengendapan

Hipotesis 5.: Besar dan bentuk rata-rata komponen endapan lahar mempunyai korelasi dengan jarak pengendapan
Sub-hipotesis 5.1. Besar rata-rata komponen endapan lahar mempunyai korelasi dengan jarak pengendapan.
Sub-hipotesis 5.2 Bentuk rata-rata komponen endapan lahar mempunyai korelasi dengan jarak pengendapan

Hipotesis 6.: Komponen endapan lahar mempunyai kesamaan karakter dengan komponen endapan piroklastika sumbernya
Sub-hipotesis 6.1. Endapan lahar mempunyai kesamaan besar butir dengan komponen endapan piroklastika sumbernya
Sub-hipotesis 6.2.Komponen endapan lahar mempunyai kesamaan karakter dengan komponen endapan piroklastika sumbernya

3. SUBYEK DAN METODE PENELITIAN

3.1. Subyek Penelitian

Subyek penelitian adalah G. Merapi. Penelitian menggunakan peralatan dan bahan-bahan berupa Peta Geologi Gunungapi Merapi skala 1 : 50.000 (Wirakusumah dkk., 1989), Peta Geologi Lingkungan Lembar Yogyakarta skala 1: 100.000 (Gustiar dan A. Suhirman, 1993), Peta Geologi Lembar Yogyakarta skala 1: 100.000 (Wartono, dkk, 1994), Peta Rupabumi kawasan G. Merapi dan sekitarnya skala 1: 50.000 (lembar Muntilan, Kaliwang, Boyolali, Sleman, Klaten, Pakem, Klaten, Yogyakarta, Timoho, Jabung), Peta Kawasan Rawan Bahaya Gunungapi Merapi skala 1: 50.000 (Hadisantono, dkk, 2002), Citra landsat tahun pengambilan 2001, 2004 dan 2006 (UNOSAT).
Perlengkapan lapangan berupa palu geologi, kompas geologi, kamera digital, global positioning system (GPS), pita ukur, mistar pembanding, kaca pembesar, komparator besar butir, buku catatan, dan alat tulis. Perlengkapan studio berupa laptop Centrino Duo, 1 memory 1 Gb, beserta perangkat lunaknya (OpenOffice, SPSS for Linux, Geolinux). Peralatan Laboratorium Petrologi berupa mikroskop polarisasi.

3.2 Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan pola pikir deducto – hipotetico – verifikatif.  Pada pola pikir ini digunakan pendekatan probabilistik, dengan objek penelitian berupa populasi yang akan diuji dengan alat uji statistik. Pengujian dilakukan terhadap aneka variabel yang terkait dengan fenomena hubungan karakter erupsi G. merapi, karakter endapan piroklastika dan karakter endapan lahar yang terbentuk. Metode deduksi menjadikan fenomena yang sudah umum dalam hal pengkajian fenomena erupsi G. Merapi sebagai bahan dasar dalam menginterpretasikan hal yang khusus. Penelitian dipaparkan secara kualitatif dan kuantitatif.

3.2.1. Penyediaan Data Dasar dan Data Sekunder

Sebelum penelitian terhadap karakteristik erupsi, karakteristik piroklastika, dan karakteristik lahar dilaksanakan, terlebih dahulu dilakukan penyediaan data dasar dan data sekunder. Data dasar berupa peta geologi dan kolom stratigrafi gunungapi (volcanostratigrapic collumn) G. Merapi. Data dasar ini diperlukan untuk mengetahui sebaran populasi secara detil, sebelum pengambilan sampel dilakukan.

3.2.2. Variabel Penelitian dan Pengukurannya

Penelitian dilakukan terhadap karakteristik erupsi, karakteristik piroklastika, dan karakteristik lahar. Penelitian karakteristik erupsi dilakukan melalui pengambilan data dengan variabel respon berupa (1) sebaran satuan batuan endapan piroklastika, (2) sebaran satuan batuan lava, (3) nisbah percabangan sungai pada satuan lava dan satuan endapan piroklastika, (4) kerapatan sungai pada satuan lava dan satuan endapan  piroklastika (5) komposisi kimia lava dan komponen piroklastika.
Penelitian karakteristik endapan piroklastika dilakukan dengan pengambilan data variabel respon berupa  (1) besar dan bentuk komponen endapan piroklastika, (2)  bentuk dan besar batuapung pada endapan piroklastika,  dan (3) kehadiran struktur zoning pada horblenda dari komponen endapan piroklastika. Penelitian karakteristik endapan lahar dilakukan dengan pengambilan data variabel respon berupa (1) besar dan bentuk komponen endapan lahar, (2) besar dan bentuk batuapung.

 3.2.3. Metoda Pengambilan Conto

Diskripsi karakteristik endapan piroklastika dan endapan lahar diambil dari semua data yang tersingkap, baik berupa data primer (eksplorasi lapangan) maupun data sekunder (hasil eksplorasi dokumen). Semua data diambil berbasarkan data dasar kolom stratigrafi gunungapi (volcanostratigrapic collumn) yang dikorelasikan satu dengan lainnya. Penentuan populasi dilakukan dengan pendekatan genetis stratigrafi gunungapi tersebut.

3.2.4. Prosedur Pengumpulan Data

Sebaran endapan piroklastika dan endapan lahar ditentukan dari data dasar korelasi kolom stratigrafi gunungapi. Demikian pula ketebalan setiap unit endapan piroklastika dan endapan lahar.
Pengukuran dan penghitungan komponen endapan lahar maupun piroklastika dilakukan dengan metode pencacahan (point-counting) pada singkapan batuan. Pengukuran terutama dilakukan terhadap komponen endapan aliran piroklastika maupun lahar berukuran kerikil, kerakal dan bongkah dan komponen raksasa (giant fragmen).  Pendataan dilengkapi dengan pembuatan sketsa singkapan di lapangan.

3.2.5. Metoda Analisa

Penggunaan metoda statistik dalam analisis data dimaksudkan untuk mendapatkan hasil penelitian dengan tingkat kepercayaan tertentu. Untuk membandingkan rata-rata baik populasi maupun sampel dapat digunakan beberapa uji statistik tergantung dari kasus yang dihadapi. Masing-masing alat uji statistik tersebut merupakan pengembangan dari satu alat uji dengan alat uji lainnya (Johnson & Wichern, 1982). Dalam penelitian ini terdapat kasus univariat dan kasus multivariat. Untuk kasus univariat digunakan t-Test (baik sampel independen maupun sampel berpasangan), sedangkan untuk kasus multivariat digunakan T2-Hottelling. Apabila jumlah sampel atau populasi yang ingin dibandingkan lebih dari dua sampel atau populasi, pada kasus univariat digunakan ANOVA (Analysis of Variance), sedangkan pada kasus multivariat digunakan MANOVA (Multivariat Analysis of Variance). Berdasarkan hal tersebut, maka analisis yang biasa digunakan dalam memecahkan permasalahan di dalam disertasi ini berhubungan dengan analisis multivariat.

3.2.6. Penulisan Laporan

Penulisan laporan merupakan tahap terakhir yang dilakukan dalam penelitian ini. Pada tahap ini, seluruh data yang diperoleh, perhitungan-perhitungan, analisis, dan hasil verifikasi hipotesis-hipotesis dijadikan dalam bentuk tulisan, bagan, tabel, diagram dan gambar.

Pedoman penulisan disertasi penulis mengacu pada ”Pedoman Penulisan Tesis/Disertasi dan Penulisan Artikel Ilmiah Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran” yang diterbitkan untuk tahun akademik 2006/2007. Sebagai pendukung buku pedoman tersebut peneliti menggunakan buku ”Riset, Bergulirlah Proses Ilmiah” (Hirnawan, 2007). Sistematika buku ini memperkuat langkah-langkah kongkrit penelitian, khususnya memfasilitasi apabila dilakukan dengan metodologi berbasis paradigma pendekatan probabilistik maupun deterministik.

4. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Penelitian

Pendapatkan kesimpulan hasil yang baik, bada bagian pertama akan dibahas terlebih dahulu mengenai geologi G. Merapi sebagai obyek utama penelitian ini. Pembahasan awal ini meliputi (1) geomorfologi, dan (2) stratigrafi gunungapi.

4.1.1. Geomorfologi

Morfologi G. Merapi memiliki empat lereng yang masing-masing dibatasi oleh tekuk-tekuk lereng. Keempat lereng tersebut terdiri dari (1) lereng kerucut puncak, (2) lereng tengah, (3) lereng kaki dan (4) dataran kaki. Setiap lereng dan tekuk lereng mengekspresikan satuan batuan penyusun dominan, fungsi morfologinya terhadap terbentuknya endapan gunungapi, serta proses-proses yang pernah terjadi padanya.

Daerah aliran sungai (DAS) di kawasan G. Merapi tersusun atas 3 sungai utama yaitu S. Progo, S. Opak dan S. Solo, serta terdiri dari 13 Sub DAS. Luas keseluruhan 1.322,84 km2 dengan panjang sungai 2.418,02 km, yang Seluruh sistem sungai membentuk pola pengaliran radial sentrifugal.  DAS Progo terdiri 4 Sub-DAS yaitu S. Pabelan, S. Lamat,  S. Batang, S. Krasak. DAS Progo mempunyai luas 381.92 km2, dengan panjang sungai 711.22 km sehingga mempunyai nilai kerapatan rata-rata 1,875, dengan nilai tertinggi di DAS S. Batang (1,967) dan terendah DAS S. Krasak (1.775). DAS Opak terdiri dari 4  Sub-DAS yaitu S. Denggung, S. Boyong, S. Kuning, dan S. Gendol. DAS Opak mempunyai luas 380,61 km2, dengan panjang sungai 689,35 km sehingga nilai kerapatan rata-rata 1,81, dengan nilai tertinggi di DAS S. Gendol (2,196) dan terendah DAS S. Denggung (1.794). DAS Solo terdiri dari 5 Sub-DAS yaitu S. Woro, S. Gondang, S. Banyuan, G. Gandul, dan S. Luwuk. DAS Solo mempunyai luas 584,58 km2, dengan panjang sungai 1020,54 km sehingga mempunyai nilai kerapatan rata-rata 1,760 dengan nilai tertinggi di DAS S. Gandul (1,951) dan terendah DAS S. Gondang Timur (1.607). DAS Solo berada pada tubuh G. Merapi Tua.

4.1.2. Stratigrafi gunungapi

Pengkajian stratigrafi G. Merapi dilakukan berdasarkan data sekunder hasil peneliti terdahulu serta data primer hasil pengamatan dan pemetaan langsung di lapangan. Pengamatan litologi dan stratigrafi dilakukan terhadap 350 lokasi pengamatan, yang terdiri dari pengamatan aliran lava, kubah lava, jatuhan piroklastika, aliran piroklastika, dan lahar. Stratigrafi gunungapi G. Merapi berdasarkan respon lahar terhadap perbedaan jenis erupsi, dapat dikelompokkan menjadi 5 tahapan, yaitu: Merapi Baru, Merapi Muda, Merapi Dewasa, Merapi Tua, dan Pra Merapi. Hubungan stratigrafi gunungapi G. Merapi berdasarkan respon lahar terhadap perbedaan erupsi dapat dilihat pada tabel 2.

4.1.2.1. Merapi Baru

Merapi Baru  disusun oleh  Satuan Lava Merapi 5 (Mlv5) Watugaruda,  Satuan  Aliran Piroklastika Merapi 4 (Map4) Brubuhan, Satuan Jatuhan Piroklastika Merapi 4 (Mjp4) Pasarbubar, Satuan Lahar Merapi 5 (Mlh5) Kalikrasak dan Satuan Lahar Merapi 4 (Mlh4) Kaliworo.

Satuan Lava Merapi 5 (Mlv5) Watugaruda,

Satuan Lava ini merupakan sekumpulan kubah lava yang dibentuk setelah erupsi tahun 1888, yang keberadaan saling tumpang tindih di sekitar puncak G. Merapi. Satuan lava tersebut mempunyai luas sebaran 1,248 km2 yang terdiri dari kubah-kubah lava dan lidah-lidah lava yang terbentuk sejak tahun 1786. Satuan Lava Merapi 5 (Mlv5) merupakan andesit piroksen yang disusun oleh massa kristal dan gelas berukuran fanerik halus – afanitik, bentuk kristal euhedral hingga subhedral, hubungan antar kristal inequigranular pada massa dasar gelas dan kristal afanitik.

Lava ini memiliki kandungan silika berkisar antara 52,97%–55,52%. Peningkatan kehadiran SiO2 diikuti oleh penurunan kehadiran TiO2, Al2O3, Fe2O3, CaO, Na2O dan P2O5, serta peningkatan kehadiran  MnO dan K2O. Peningkatan kandungan SiO2 memiliki korelasi sangat kuat dengan penurunan kandungan MgO dan CaO. Pada satuan lava ini terdapat ketidaklaziman apabila dibandingkan dengan kecenderungan umum kehadiran unsur-unsur utama dalam batuan (Kienie, Swanson & Pulpen, 1983 dalam Sudradjat 2006). Pada satuan lava ini penurunan kehadiran Na2O merupakan ketidaklaziman. Satuan ini seluruhnya merupakan alkali kapur (Kuno, 1930) dan seri alkali (Irvin & Baragar, 1971).

Satuan Jatuhan Piroklastika Merapi 4 (Mjp4) Pasarbubar

Satuan ini merupakan endapan-endapan jatuhan piroklastika hasil erupsi G. Merapi Muda. Satuan ini terdapat di sektor barat dan barat daya, di DAS S. Pabelan dan Blongkeng, termasuk dalam  wilayah Patuk Alap-alap, Selokopo, Gemer dan Keningar dengan luas sebaran 3,51 km2.  Andesit piroksen komponen satuan ini disusun oleh massa kristal dan gelas, dengan ukuran kristal  fanerik halus sampai  afanitik, berbentuk euhedral hingga subhedral. Hubungan antar kristal inequigranular pada massa dasar gelas dan kristal afanitik, serta membentuk struktur skoria (20%). Kandungan silika berkisar antara 50,42%–55,90%. Peningkatan kehadiran SiO2 diikuti oleh penurunan kehadiran TiO2, Al2O3, Fe2O3, MgO, dan CaO, serta peningkatan kehadiran MnO, Na2O, K2O dan P2O5. Terdapat penyimpangan dengan korelasi lemah atas kehadiran P2O5 yang meningkat seiring dengan meningkatnya SiO2. Satuan ini seluruhnya merupakan toleitik (Kuno, 1930) dengan seri alkali (Irvin & Baragar, 1971)

Satuan Aliran Piroklastika Merapi 4 (Map4) Brubuhan

Satuan ini merupakan endapan-endapan aliran piroklastika hasil erupsi Merapi Baru yang dierupsikan sejak tahun 1888 sampai sekarang. Satuan ini mempunyai sebaran seluas 28,82 km2, terutama wilayah di sektor barat dan barat daya, meliputi wilayah-wilayah Brubuhan, Ngargomulyo, Geneng, Batur duwur, Batur ngisor dan G. Maron yang merupakan bagian hulu DAS S. Krasak dan S. Batang. Satuan ini juga terdapat di sektor barat laut dan selatan,  mengisi lembah-lembah S. Krasak, S. Bedog, S. Batang, dan S. Woro; serta sedikit di S. Boyong, S. Kuning, S. Gendol . Satuan di S. Krasak paling atas merupakan endapan aliran piroklastika tahun 1994, limpasan dari G. Turgo. Komponen andesit piroksen berukuran kerakal sampai bongkah, bentuk menyudut sampai menyudut tanggung, yang sebagian menunjukan struktur kerak roti. Menerus di bawahnya perulangan endapan aliran-aliran piroklastika dan lahar heterolitik dengan matriks kecoklatan, terdapat struktur laminasi sejajar dan struktur silangsiur.

Satuan teratas di S. Bedog merupakan endapan aliran piroklastika tahun 1995, dengan komponen menyudut yang sebagian menunjukan struktur kerak roti. Tidak menerus di bawahnya perulangan endapan aliran-aliran piroklastika dan lahar heterolitik yang tidak menerus dengan komponen berupa andesit piroksen dan andesit basaltik berukuran kerikil sampai kerakal dengan lubang-lubang akar.
Di S. Boyong aliran piroklastika tahun 1995 merupakan endapan paling muda dengan komponen menyudut yang sebagian menunjukan struktur kerak roti. Menerus di bawahnya perulangan endapan aliran-aliran piroklastika dan lahar yang tidak menerus dengan komponen berupa andesit piroksen dan andesit basaltik berukuran kerikil sampai bongkah. Arang kayu penyusun pada salah satu lapisan ini berumur 470±30 tahun (Newhall, et al. 2000).

Andesit piroksen komponen satuan ini memiliki struktur vasikular (±10%), disusun oleh massa kristal dan gelas, dengan ukuran kristal  fanerik halus sampai  afanitik, dengan bentuk kristal euhedral hingga subhedral. Hubungan antar kristal inequigranular pada massa dasar gelas dan kristal afanitik.

Satuan Lahar Merapi 4  (Mlh4)  Kaliworo

Satuan ini mempunyai luas 17.70 km2, terdapat di sepanjang S. Woro; merupakan hasil proses pelaharan endapan-endapan Satuan Aliran Piroklastika Merapi 4 (Map4) Brubuhan dan Satuan Jatuhan Piroklastika Merapi 4 (Mjp4) Pasarbubar serta didukung komponen dari Satuan Lava Merapi 3 (Mlv3) Batulawang dan Satuan Merapi Merapi 5 (Mlv5) Watugarudo yang mengarah ke arah selatan. Jejak erupsi sumber lahar ini diketahui hasil erupsi tahun 870, 1811 dan 1930.

Satuan ini terdiri dari  debris-flow dan  mud-flow. Lahar debris – flow dengan matriks dominan, dan kehadiran komponen 20 – 40%. Besar komponen maksimum rata-rata mencapai 0,6 meter, dengan komponen raksasa mencapai 1.7 meter sebagai komponen mengambang dengan distribusi merata.  Bentuk komponen compact sampai bladed dengan derajat kebundaran menyudut tanggung sampai membulat tanggung.  Hubungan antar butir cenderung kemas terbuka.  Pemilahan komponen penyusun lahar buruk – sangat buruk. Struktur sedimen yang terbentuk umumnya setempat-setempat, berupa penjajaran komponen, gradasi terbalik ke normal dan gradasi terbalik. Struktur penjajaran komponen  hadir pada endapan lahar tebal.

Endapan lahar mud-flow secara umum menunjukkan kenampakan masif. Struktur berlapis laminasi sejajar, laminasi bergelombang dan gradasi normal terdapat seempt-setempat pada endapan peralihan antara aliran lahar debris-flow dan mud-flow. Pada bagian bawah lapisan pasir tersebut dijumpai pula akumulasi kerikil. Berdasarkan ciri – ciri tersebut, lapisan ini dengan mudah dapat dibedakan dengan endapan lahar yang terdapat diatas dan bawahnya.  Komponen arang kayu banyak dijumpai di bagian dasar lahar  mud-flow di S. Woro ini.

Satuan Lahar Merapi 5 (Mlh 5) Kalikrasak

Satuan ini mempunyai luas 55,55 km2 tersebar di sepanjang S. Krasak dan S. Batang; merupakan hasil proses pelaharan endapan-endapan Satuan Aliran Piroklastika Merapi 4 (Map4) Brubuhan dan Satuan Jatuhan Piroklastika Merapi 4 (Mjp4) Pasarbubar serta didukung komponen dari Satuan Lava Merapi 3 (Mlv3) Batulawang dan Satuan Merapi Merapi 5 (Mlv5) Watugarudo yang mengarah ke sektor baratdaya. Sumber lahar ini merupakan kegiatan erupsi mulai tahun 1930 yang jejak erupsinya didapatkan di S. Krasak, S. Batang, dan S. Blongkeng.

Satuan ini terdiri dari  debris-flow dan  mud-flow. Lahar debris – flow dengan matriks dominan, dan kehadiran komponen 25 – 55%. Besar komponen maksimum rata-rata mencapai 0,6 meter, dengan komponen raksasa mencapai 2 meter sebagai komponen mengambang dengan distribusi merata.  Bentuk komponen compact sampai bladed dengan derajat kebundaran menyudut tanggung sampai membulat. Hubungan antar butir cenderung kemas terbuka sampai tertutup dengan membentuk sentuhan point contact.  Pemilahan komponen penyusun lahar buruk – sangat buruk. Struktur sedimen yang terbentuk umumnya setempat-setempat, berupa penjajaran komponen, gradasi terbalik ke normal dan gradasi terbalik. Struktur penjajaran komponen  hadir pada endapan lahar tebal.

Satuan Aliran Piroklastika Merapi 5 (Map5) Kaliadem

Hasil termuda dari satuan ini adalah endapan aliran piroklastika di Kaliadem merupakan endapan aliran piroklastika hasil erupsi Merapi Baru yang dierupsikan pada tanggal 15 Juni 2006 dengan jumlah sekitar 9 juta m3.  Ujung lidah aliran piroklastika berada di S. Gendol pada jarak 7 km dari puncak G. Merapi. Satuan ini mempunyai sebaran seluas 28,82 km2, terutama wilayah di sektor selatan dan barat daya, meliputi wilayah-wilayah Kaliadem, Kinahreja, yang merupakan bagian hulu DAS S. Krasak, S. Bedog, dan S. Gendol.

Endapan aliran piroklastika ini didominasi oleh andesit piroksen. Dari sayatan petrografi terlihat berwarna coklat keputihan, memiliki struktur skoria (±12%), membentuk tekstur khusus gloumerofirik, disusun oleh massa kristal dan gelas. Kristal  berukuran fanerik halus sampai afanitik, berbentuk subhedral hingga anhedral, Hubungan antar kristal inequigranular pada massa dasar gelas dan kristal afanitik.

4.1.2.2. Merapi Muda

Merapi Muda  disusun oleh Satuan Lava Merapi 4 (Mlv4) Alap-alap, Satuan  Aliran Piroklastika Merapi 3 (Map3) Kaliurang, Satuan Jatuhan Piroklastika Merapi 3 (Mjp3) Sumber, dan Satuan Lahar Merapi 3 (Mlh3) Kalikuning.

Satuan Lava Merapi 4 (Mlv4) Alap-alap

Satuan ini merupakan aliran lava pembentuk struktur lereng puncak yang dierupsikan sebelum tahun 1888. Satuan ini membentuk punggungan-punggungan berpola radial yang berporos pada puncak G. Merapi saat ini. Satuan ini menempati luasan 4,47 km2 dan tersebar pada 11 lokasi yang tersebar pada sektor barat-laut, barat, barat-daya dan selatan pada lereng puncak. Satuan ini tersingkap dengan baik di Selokopo, Patuk Alap-alap, Bukit Dengkeng dan hulu S. Kuning.

Satuan ini disusun oleh batuan andesit piroksen yang  memiliki struktur masif dan membentuk tekstur khusus gloumerofirik. Penyusun berupa massa kristal dan gelas (hipokristalin) berukuran fanerik halus sampai  afanitik, dengan bentuk kristal subhedral hingga anhedral. Hubungan antar inequigranular, pada massa dasar gelas dan kristal afanitik.

Kandungan silika satuan ini berkisar antara 48,69%–55,71%.  Peningkatan kehadiran SiO2 akan diikuti oleh penurunan kehadiran TiO2, Fe2O3, CaO dan MgO, serta peningkatan kehadiran Na2O, Al2O3, MnO, P205, dan K2O. Peningkatan kandungan SiO2 mempunyai korelasi yang sangat kuat dengan penurunan kandungan FeO dan MgO. Kecenderungan meningkatnya kandungan Al2O3 walaupun dengan korelasi sangat lemah merupakan ketidaklaziman yang terdapat dalam satuan lava ini. Batuan ini seluruhnya termasuk alkali kapur (Kuno, 1930), serta sebagian besar merupakan alkali (Irvin & Baragar, 1971).

Satuan Jatuhan piroklastika Merapi 3 (Mjp3) Sumber

Satuan Jatuhan piroklastika Merapi 3 (Mjp3) Sumber merupakan endapan-endapan jatuhan piroklastika hasil erupsi G. Merapi Muda. Satuan ini tersebar di sektor barat laut, selatan dan tenggara dengan luas sebaran 49,74 km2. Terdapat di  wilayah-wilayah Sengi, Krinjing, Babadan, Gowok, Kinahreja, Pelem, Petung, Kaliadem, Jambu, Srunen, Deles, Balerante, Dadapan, Gongang, Ngaliyan, Pandeyan, Lemahombo, dan Sangup yang masuk DAS S. Pabelan, S. Blongkeng, S. Krasak, S. Koteng, S. Bedog, S. Kuning, S. Tepus, S. Gendol, S. Woro, S. Krasak dan S. Banyuan.

Andesit piroksen satuan ini memiliki  struktur skoria (lubang gas 20%), tersusun oleh massa kristal dan gelas, ukuran kristal  fanerik halus -  afanitik, bentuk kristal euhedral hingga subhedral, hubungan antar kristal inequigranular pada massa dasar gelas dan kristal afanitik.
Satuan ini memiliki kandungan silika berkisar antara 49.52%–54.80%. Peningkatan kehadiran SiO2 akan diikuti oleh penurunan kehadiran TiO2, Al2O3, Fe2O3, MnO, MgO,  CaO dan K2O, serta peningkatan kehadiran Na2O, K2O, dan P2O5. Penurunan P2O, Mgo dan CaO mempunyai korelasi sangat kuat dengan peningkatan kandungan SiO2.  Pada lava ini terdapat penyimpangan dengan korelasi lemah dengan adanya kecenderungan kehadiran MnO2 dan K2O yang turun. Seluruh komponen tersebut merupakan batuan toleit (Kuno, 1930) dari seri alkali tinggi (Irvin & Baragar, 1971).

Satuan Aliran Piroklastika Merapi 3 (Map3) Kaliurang

Satuan ini merupakan endapan-endapan aliran piroklastika hasil erupsi Merapi Muda antara tahun 1888 M sampai abad 9 M. Satuan ini mempunyai sebaran seluas 16.02 km2 terutama di sektor barat dan barat daya, meliputi wilayah-wilayah Kaliurang, Tritis, Pusung Bendo, Gemer Lor, dan Keningar. Wilayah-wilayah ini merupakan DAS S. Lamat, S. Pabelan, S. Denggung, S. Boyong, S. Kuning. Kawasan ini merupakan rendahan akibat debris avalanche besar yang terjadi pada abad 9 M (Voight, 2000).

Satuan ini di S. Boyong didominasi oleh endapan aliran piroklastika karena longsoran kubah-kubah lava dengan komponen andesit horblende dan breksi polimik berdiameter mencapai 1 meter. Satuan aliran piroklastika ini berselingan dengan endapan lahar tidak menerus yang mengandung arang kayu dengan umur 3390±90 tahun (Paripurno, 2006). Satuan tertua di alur sungai ini merupakan lava yang diperkirakan seumur dengan lava Telagamuncar.

Di Kalikuning, di bagian atas tidak merata terdapat aliran piroklastika kerena longsoran kubah, dengan komponen raksasa mencapai > 1 meter, kaya arang kayu berumur 360±100 tahun (Newhall, et al. 2000). Beberapa menujukkan pipa-pipa fumarol. Di bagian bawahnya terdapat aliran piroklastika dengan matriks dominan berukuran lapili yang terpadatkan dengan baik, serta di beberapa tempat membentuk struktur silangsiur.  Terdapat akumulasi arang kayu berumur 1700±120 tahun serta 1640±120 tahun (Paripurno, 2006). Paling bawah merupakan endapan aliran piroklastika  andesit dengan didukung matriks andesit horblende & piroksen dengan arang kayu berumur 1840±150 tahun   (Newhall, et al. 2000). Di S. Jueh satuan ini terdiri dari breksi piroklastika abu-abu cerah dengan komponen menyudut sampai membulat tanggung dalam matriks lepas. Komponen kayu yang sebagian terarangkan mempunyai umur 880±60 tahun (Paripurno, 2006).

Andesit piroksen komponen satuan  ini berwarna putih kecoklatan, memiliki struktur vasikuler (±6%), disusun oleh massa kristal dan gelas. Ukuran kristal  fanerik halus sampai  afanitik, bentuk euhedral hingga subhedral, hubungan antar kristal inequigranular pada massa dasar gelas dan kristal afanitik.

Andesit basaltik komponen satuan ini berwarna putih kecoklatan, memiliki struktur vasikuler (±6%), membentuk tekstur khusus gloumerofirik, disusun oleh massa kristal dan gelas, ukuran kristal  fanerik halus sampai  afanitik, bentuk kristal eubhedral hingga anhedral, hubungan antar kristal inequigranular pada massa dasar gelas dan kristal afanitik.

Satuan Lahar Merapi 3  (Mlh3) Kalikuning

Satuan ini mempunyai luas 81,59 km2, tersebar di sektor barat, termasuk di DAS S. Lamat, S. Pabelan, S. Boyong, S. Denggung, dan S. Kuning. Satuan lahar ini merupakan hasil proses pelaharan endapan-endapan Satuan Aliran Piroklastika Merapi 3 (Map3) Kaliurang dan Satuan Jatuhan Piroklastika Merapi 3 (Mjp3) Sumber serta didukung komponen dari Satuan Lava Merapi 4 (Mlv4) Alapalap.

Satuan ini terdiri dari  debris-flow dan  mud-flow. Lahar debris – flow dengan matriks dominan, dan kehadiran komponen antara 15 – 45%. Besar komponen maksimum mencapai 0,8 meter, dengan komponen raksasa (giant component) mencapai 2 meter sebagai komponen mengambang dengan distribusi merata.  Bentuk komponen sebagian besar compact sampai bladed dengan derajat kebundaran menyudut tanggung sampai membulat tanggung. Hubungan antar butir penyusun lahar bervariasi antara kemas terbuka dan kemas tertutup, dengan menunjukkan kontak jenis point contact. Hubungan ini terdapat pada permukaan lahar yang disusun oleh komponen-komponen sangat besar pada endapan lahar debris flow yang membentuk struktur sedimen gradasi terbalik. Pemilahan komponen penyusun lahar buruk sampai sangat buruk. Struktur sedimen yang terbentuk umumnya setempat-setempat, berupa penjajaran komponen, gradasi terbalik ke normal  dan gradasi terbalik. Struktur penjajaran komponen  hadir pada endapan lahar tebal.  Di S. Kuning dan S. Boyong arang kayu sebagai komponen lahar mud-flow banyak dijumpai.

Endapan lahar mud-flow secara umum menunjukkan kenampakan struktur berlapis laminasi sejajar, laminasi bergelombang dan gradasi normal setempat-setempat pada endapan peralihan antara aliran lahar debris-flow dan mud-flow. Pada bagian bawah lapisan pasir tersebut dijumpai pula akumulasi kerikil.  Di S. Kuning dan S. Boyong arang kayu sebagai komponen lahar mud-flow banyak dijumpai.

4.1.2.3. Merapi Dewasa

Merapi Dewasa  disusun oleh endapan Satuan Lahar Merapi 2 (Mlh2) Gendol, hasil pengendapan ulang Satuan  Aliran Piroklastika Merapi 2 (Map2) Deles dan Satuan Jatuhan Piroklastika Merapi 2 (Mjp2) Kinahreja, serta retas dari Satuan Lava Merapi 3 (Mlv3) Batulawang.

Satuan Lava Merapi 3 (Mlv3) Batulawang

Satuan ini merupakan aliran lava yang membentuk punggungan berpola radier yang berporos pada puncak G. Merapi. Satuan ini mempunyai luas sebaran 18,60 km2 yang tersingkap pada 10 lokasi, yang tersebar di sektor utara, timur-laut, timur, tenggara dan selatan. Sebaran terluas satuan ini membentuk tubuh Bukit Batulawang dan Bukit Kendil, yang melebar sampai hulu S. Gendol dan S. Kuning.
Satuan ini terdiri dari batuan andesit pioksen; disusun oleh massa kristal dan gelas (hipokristalin) dengan struktur masif. Ukuran kristal  fanerik sedang -  afanitik, bentuk kristal euhedral hingga subhedral, hubungan antar kristal inequigranular pada massa dasar gelas dan kristal afanitik (porfiroafanitik).

Kandungan silika berkisar antara 52,66–55,65. Peningkatan kehadiran SiO2 akan diikuti oleh penurunan kehadiran TiO2, Al2O3, Fe2O3, MgO, CaO, P2O5, Na2O dan MnO, serta peningkatan kehadiran K2O.  Seperti pada satuan lava lain, pada lava ini terdapat penyimpangan dengan adanya kecenderungan kehadiran Na2O yang turun. Seluruh satuan ini merupakan alkali kapur (Kuno, 1930), yang sebagian besar merupakan alkali tinggi (Irvin & Baragar, 1971).

Satuan Jatuhan Piroklastika Merapi 2 (Mjp2) Kinahreja

Satuan Jatuhan Piroklastika Merapi 2 (Mjp2) Kinahreja merupakan endapan-endapan jatuhan piroklastika G. Merapi Tua. Satuan ini tersebar di sektor utara dengan luas sebaran 9,53 km2. Satuan ini dijumpai di wilayah-wilayah di Kadisepi, Bakalan, Kedung, Ngablak, Selo dan Suroteleng, yang merupakan bagian hulu dari DAS S. Pabelan dan S. Blongkeng.

Endapan satuan ini di S. Kuning maupun S. Gendol hanya merupakan sisipan-sisipan tipis tepra dan abu vulkanik dengan ketebalan 5 sampai 15 cm. Sisipan berupa lapisan didominasi pumis kekuningan dengan diameter komponen andesit piroksen abu-abu keputihan berukuran kerikil, dengan diameter komponen litik mencapai 5 cm. Terdapat perulangan gradasi normal sampai gradasi terbalik, dari andesit horblende berukuran kerakal sampai pasir lempungan berwarna abu-abu gelap, dan kembali ke pasir kerikil dengan tuf lapili di bagian atasnya. Di bagian bawah terdapat lensa-lensa abu vulkanik dengan lapili tuf yang tidak menerus. Bidang tidak menerus antar lapisan terdiri dari lapisan soil dari abu gunungapi, berukuran pasir, berwarna kuning dan berangsur menjadi abu-abu di bagian atas. Di beberapa tempat bidang diskontinyu ini menunjukan adanya bioturbasi dan sisa arang kayu.

Satuan ini memiliki kandungan silika berkisar antara 50,98%–55,85%. Peningkatan kehadiran SiO2 akan diikuti oleh penurunan kehadiran TiO2, Al2O3, Fe2O3, MgO, CaO, dan P2O5, serta peningkatan kehadiran MnO, K2O dan P2O5. Peningkatan kandungan silika terhadap TiO2, Cao dan Mgo dan penurunan Na2O, K2O dan P2O5 menunjukkan korelasi kuat. Pada lava ini penyimpangan terdapat pada kecenderungan kehadiran P2O5 yang meningkat.

Batuan andesit piroksen satuan ini memiliki struktur skoria  (20%), disusun oleh massa kristal dan gelas, ukuran kristal  fanerik halus sampai afanitik, bentuk kristal euhedral hingga subhedral. Hubungan antar kristal inequigranular pada massa dasar gelas dan kristal afanitik. Seluruh batuan ini merupakan seri toleitik (Kuno, 1930) dan alkali (Irvin & Baragar, 1971).

Satuan Aliran Piroklastika Merapi 2 (Map2) Deles

Satuan ini merupakan endapan-endapan aliran piroklastika hasil erupsi Merapi Tua yang dierupsikan  sebelum abad 9 M. Satuan ini mempunyai sebaran seluas 31.33 km2 terutama di sektor barat laut, selatan dan tenggara, meliputi wilayah-wilayah Paten, Gondang, Gowok, Gowoksabrang, Takeran, Pencar, Stabelan, Kaliadem, Deles, Ngaglik, Kaliwuluh, dan Kedungsriti. Wilayah-wilayah ini merupakan daerah hulu aliran  S. Gondang, dan S. Gendol.

Satuan-satuan yang terdapat di S. Gondang sebagian besar dibentuk oleh lapisan-lapisan endapan aliran piroklastika yang bergradasi normal. Pada setiap lapisan di bagian bawah tersusun atas komponen litik andesit horblenda, yang bergradasi dengan lapili pumisan di bagian tengah dan menerus sampai pasir dengan sisipan arang kayu.

Endapan yang tersingkap di S. Gendol secara umum tersusun atas komponen berukuran pasir sampai bongkah. Secara tidak menerus terdapat komponen-komponen besar dengan diameter lebih dari 1 meter, yang merupakan hasil sekali lempar maupun longsoran kubah lava. Di bagian atas terdapat endapan awan panas dan abu vulkanik halus abu-abu dengan lapili yang terlaskan serta blok pumis berdiameter mencapai 5 cm.  arang kayu menunjukkan umur 2190±50 tahun, serta 2240±50 tahun (Newhall, et al. 2000).

Di S. Gondang aliran piroklastika kaya bom dengan struktur kerak roti dan arang kayu berumur 2240±50  dijumpai di Dusun Blorong, Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang (Paripurno, 2006). Lapisan kaya arang kayu terjauh terdapat di Dusun Bulaksalak, Desa Wukirsari, Kecamatan Cangkringan, cabang S. Gendol hulu S. Tepus (STA  240). Arang kayu ini terdapat dalam endapan piroklastika dengan beberapa komponen terlaskan lemah.

Andesit piroksen komponen satuan ini memiliki struktur skoria (±16%), disusun oleh massa kristal dan gelas, dengan ukuran kristal  fanerik halus sampai  afanitik, dengan bentuk kristal euhedral hingga subhedral. Hubungan antar kristal inequigranular pada massa dasar gelas dan kristal afanitik.

Andesit hornblenda komponen satuan ini berwarna coklat keputihan, memiliki struktur masif, membentuk tekstur porfiritik, disusun oleh massa kristal dan gelas, ukuran kristal  fanerik halus sampai  afanitik, dengan bentuk kristal euhedral hingga anhedral. Hubungan antar kristal inequigranular pada massa dasar gelas dan kristal afanitik.

Satuan Lahar Merapi 2  (Mlh2)  Kaligendol

Satuan ini mempunyai luas 93,26 km2 tersebar di sektor selatan, terutama S.  Gendol dan S. Gondang dengan cabang-cabangnya berupa S. Opak, S. Terasi. Satuan lahar ini merupakan hasil proses pelaharan endapan-endapan Satuan Aliran Piroklastika Merapi 2 (Map2) Deles dan Satuan Jatuhan Piroklastika Merapi 2 (Mjp2) Kinahrejo serta didukung komponen dari Satuan Lava Merapi 3 (Mlv3) Batulawang;  terutama hasil erupsi sebelum terjadi longsoran gravitasi besar yang terjadi pada abad 9, yaitu berdasarkan. Jejak erupsi sumber lahar ini didapatkan di beberapa lokasi, yaitu di Sidorejo 120, S.  Gendol 20, S. Jueh 190 SM, Deles 200 SM (Newhall, 2000, Paripurno 2006)

Satuan ini terdiri dari  debris-flow dan  mud-flow. Lahar debris – flow dengan matriks dominan, dan kehadiran komponen 20 – 40%. Besar komponen maksimum rata-rata mencapai 0,8 meter, dengan komponen raksasa mencapai 2 meter sebagai komponen mengambang dengan distribusi merata.  Bentuk komponen compact sampai bladed dengan derajat kebundaran menyudut tanggung sampai membulat. Hubungan antar butir mulai kemas terbuka sampai tertutup dengan menghadirkan point contact. Pemilahan komponen penyusun lahar sedang sampai sangat buruk. Struktur sedimen hadir setempat-setempat, berupa penjajaran komponen, gradasi terbalik ke normal dan gradasi terbalik. Struktur penjajaran komponen hadir pada endapan lahar tebal.

Endapan lahar mud-flow secara umum menunjukkan kenampakan masif. Struktur berlapis laminasi sejajar, laminasi bergelombang dan gradasi normal terdapat setempat-setempat pada endapan peralihan antara aliran lahar debris-flow dan mud-flow. Pada bagian bawah lapisan pasir tersebut dijumpai pula akumulasi kerikil. Berdasarkan ciri – ciri tersebut, lapisan ini dengan mudah dapat dibedakan dengan endapan lahar yang terdapat diatas dan bawahnya.

4.1.2.4. Merapi Tua

Merapi Tua  disusun oleh endapan Satuan Lahar Merapi 1 (Mlh1) Luwuk, hasil pengendapan ulang Satuan  Aliran Piroklastika Merapi 1 (Map1) Rogobelah dan Satuan Jatuhan Piroklastika Merapi 1 (Mjp1) Sela, serta retas dari Satuan Lava Merapi 3 (Mlv3) Watulawang.

Satuan Jatuhan piroklastika Merapi 1 (Mjp1) Selo

Endapan jatuhan piroklastika yang tersingkap di S. Luwuk, S. Gondang dan sekitarnya merupakan bagian dari satuan Mjp1. Secara umum terdapati dalam kondisi lapuk. Merupakan perulangan perlapisan lapili dan abu gunungapi dengan ketebalan perlapisan 5 sampai 25 cm. Komponen didominasi oleh lapili litik dan sedikit pumis dalam kondisi lapuk, dengan diameter maksimum pumis 5 cm dan litik 4 cm, sortasi sedang, kemas tertutup. Litik secara umum terdiri dari andesit horblende abu-abu dan menunjukkan kenampakan vesikuler. Lapisan menunjukkan struktur bergradasi terbalik dijumpai di beberapa tempat, terdiri dari lapili kasar sampai kerikil, dengan komponen mengambang berukuran krakal.  Bidang-bidang ketidakmenerusan biasanya merupakan soil atau gejala pelapukan berwarna kuning  kecoklatan. Di beberapa tempat yang tidak mengalami erosi intensif ketebalan soil mencapai 10 cm.

Satuan ini tersebar di sektor timur dengan luas sebaran  40,28 km2. Satuan ini dijumpai di wilayah-wilayah Sumberpedut, Gatakan, Prawan, Karangnongko, Gedangan, Sumbung, Trosobo, Montong, Semongko, Sruni, Manggung, Brongkol, dan Bendosari, yang merupakan hulu DAS S. Luwuk, S. Gandul. S. Kiu dan S. Banyuan.

Andesit komponen Satuan Jatuhan piroklastika Merapi 1 (Mjp1) Selo memiliki struktur skoria (18%), yang disusun oleh massa kristal dan gelas berukuran fanerik halus sampai afanitik, dengan kristal euhedral hingga subhedral. Hubungan antar kristal inequigranular pada massa dasar gelas dan kristal afanitik.

Satuan ini memiliki kandungan silika berkisar antara 55,11%–62.19%. Peningkatan kehadiran SiO2 akan diikuti oleh penurunan kehadiran TiO2, Al2O3,   P2O5, dan MnO, serta peningkatan kehadiran Fe2O3, CaO, dan K2O.  Seperti pada satuan lava lain, pada lava ini terdapat penyimpangan dengan adanya kecenderungan meningkatnya kehadiran Fe2O3, MgO dan CaO, dan P2O5, serta menurunnya kehadiran K2O. Satuan ini seluruhnya merupaka  batuan  toleitik (Kuno, 1930) toleitik dan sebagian besar merupakan seri alkali (Irvin & Baragar, 1971).

Satuan Aliran Piroklastika Merapi 1 (Map1) Rogobelah

Satuan ini mempunyai sebaran seluas 9,01 km2 terutama di sektor timur dan timur laut, meliputi wilayah-wilayah Rogobelah, Wonojoyo, Sidopekso, dan Purwosari. Satuan ini menempati hulu DAS S. Luwuk, S. Gandul. dan S. Kiu.

Endapan aliran piroklastika berada di bagian bawah, sebagai endapan aliran massa yang didukung butiran (grain supported), dengan komponen penyusun andesit piroksen dan andesit hornblende, menyudut tanggung berukuran sampai 2 meter. Sortasi buruk sampai sangat buruk, dengan komponen menyudut sampai menyudut tanggung yang telah menunjukkan warna-warna lapuk,  serta struktur mengulit bawang. Kemas terbuka dan didukung matriks, degan kehadiran matriks lebih dari 55%. Hampir semua singkapan aliran piroklastika bagian atas dan bidang diskontinyu menunjukkan kenampakan soil di bagian atasnya, sebagai sebuah bidang-bidang diskontiyu. Bidang diskontinyu juga menunjukkan gejala pelapukan berwarna kuning  kecoklatan. Di beberapa tempat yang tidak mengalami erosi intensif ketebalan soil mencapai 10 cm. Satuan ini kaya komponen raksasa yang berasal dari retas aliran lava atau kubah lava berukuran sampai 2 meter, berbentuk menyudut – menyudut tanggung, yang beberapa diantaranya menujukkan kekar prismatik. Komponen arang kayu menunjukkan umur 6100±120 tahun (Paripurno, 2006). Satuan ini diselingi oleh perulangan tepra berukuran lapili sampai kerikil yang biasanya di bagian atas lapuk membentuk soil.

Lava andesit piroksen komponen satuan ini disusun oleh massa kristal dan gelas, dengan ukuran kristal   fanerik halus sampai  afanitik, berbentuk euhedral hingga anbhedral. Hubungan antar kristal inequigranular, pada massa dasar gelas dan kristal afanitik. Terdapat struktur vasikuler (±4%) serta memiliki tekstur khusus pilotaksitik.

Satuan Lahar Merapi 1 (Mlh1) Kaliluwuk

Satuan ini mempunyai luas 103,04 km2 tersebar di sektor timur, terutama S. Banyuan, S. Gandul dan S. Luwuk, serta cabang-cabangnya berupa S. Kapuk dan S. Kiu. Satuan lahar ini merupakan hasil proses pelaharan endapan-endapan Satuan Aliran Piroklastika Merapi 1 (Map1) Rogobelah dan Satuan Jatuhan Piroklastika Merapi 1 (Mjp1) Selo serta didukung komponen dari Satuan Lava Merapi 3 (Mlv3) Batulawang.

Lahar di S. Luwuk hadir sangat tipis, dengan kenampakan jejak-jejak aliran jenuh air yang merupakan perubahan lahar jenis aliran lumpur ke endapan sungai Komponen lahar terdari abu gunungapi berawarna abu-abu tua dengan fosil keong dan karbonasi daun dan seresah. Kehadiran komponen < 45%. Lahar ini merupakan pengendapan ulang dari endapan piroklastika yang jejak erupsinya didapatkan di beberapa lokasi, yaitu Montong 1010 SM, Kemirikebo 1300 SM, Boyolali 3620 SM,  Mriyan, 5040 SM, Cepogo 8787 SM, 600 SM.
Satuan ini terdiri dari  debris-flow dan  mud-flow. Lahar debris – flow dengan matriks dominan, dan kehadiran komponen 20 – 50%. Besar komponen maksimum rata-rata mencapai 0,6 meter, dengan komponen raksasa (giant component) mencapai 1.5 meter sebagai komponen mengambang. Bentuk komponen compact sampai bladed dengan derajat kebundaran menyudut tanggung sampai membulat. Hubungan antar butir cenderung kemas sedang sampai terbuka.  Pemilahan komponen penyusun lahar sedang sampai buruk. Struktur sedimen yang terbentuk umumnya setempat-setempat, berupa penjajaran komponen (alignment), gradasi terbalik ke normal (reverse to normal graded) dan gradasi terbalik (reverse graded).

Endapan lahar mud-flow secara umum menunjukkan kenampakan masif. Struktur berlapis laminasi sejajar, laminasi bergelombang dan gradasi normal terdapat seempt-setempat pada endapan peralihan antara aliran lahar debris-flow dan mud-flow. Pada bagian bawah lapisan pasir tersebut dijumpai pula akumulasi kerikil dan kerakal. Berdasarkan ciri – ciri tersebut, lapisan ini dengan mudah dapat dibedakan dengan endapan lahar yang terdapat diatas dan bawahnya.

4.1.2.5. Pra Merapi

Pra Merapi disusun oleh tubuh Satuan Lava Merapi 1 (Mlv1) Plawangan dan Satuan Lava Merapi 2 (Mlv2) Bibi.  Satuan Lava Merapi  1 (Mlv1) Plawangan merupakan  sisa tubuh G. Merapi Tua, yang pada saat ini merupakan pembentuk utama tubuh G. Turgo dan G. Plawangan yang terletak 6 kilometer di sebelah selatan puncak G. Merapi. Satuan ini mempunyai luas sebaran 1,52 km2.

Satuan Lava Merapi 1 (Mlv1) Plawangan

Lava ini terdiri dari batuan andesit piroksen berwarna abu-abu gelap.  Lava ini memiliki struktur masif, terdapat tekstur khusus pilotaksitik, disusun oleh massa kristal dan gelas dengan ukuran kristal  fanerik halus -  afanitik, serta bentuk kristal euhedral – anhedral.
Hubungan antar kristal inequigranular pada massa dasar gelas dan kristal afanitik. Mineral penyusun terdiri dari plagioklas, olivin, piroksen, mineral opak dan gelas. Plagioklas (±38%), euhedral–subhedral, memiliki kembaran kaldsbad dan albit dengan An-30  jenis andesin yang hadir menyebar sebagai fenokris  dan mikrolit. Olivin (±6%), subhedral hingga anhedral, sebagai fenokris. Piroksen (±16%) berbentuk subhedral, mempunyai kembaran baveno, hadir di sebagai fenokris, Mineral opak (±6%),  euhedral–subhedral, hadir hanya di beberapa tempat. Gelas (±32%), afanitik, hadir merata sebagai massa dasar.

Data kimia elemen-elemen utama menunjukkan prosentase kehadiran silika berkisar antara 48,47% – 54,96%. Seluruh lava menunjukkan termasuk alkali kapur (Kuno, 1930), sebagian besar alkali (Irvin & Baragar, 1971). Peningkatan kehadiran SiO2 akan diikuti oleh penurunan kehadiran TiO2, Fe2O3, MgO, CaO, Na2O, K2O dan P2O5, serta peningkatan kehadiran Al2O2 dan MnO. Pada satuan lava ini kehadiran Al2O3 yang meningkat, penurunan Na2O dan K2O merupakan hal yang tidak lazim.

Satuan Lava Merapi  2 (Mlv2) Bibi

Lava ini merupakan pembentuk utama tubuh G. Bibi yang terletak 3 kilometer di sebelah timur-laut puncak G. Merapi. Satuan ini mempunyai sebaran 0,73 km2. Satuan ini merupakan batuan andesit piroksen, memiliki struktur masif, yang disusun oleh massa kristal dan gelas. Kristal berukuran fanerik halus-afanitik, dengan bentuk kristal subhedral hingga anhedral. Hubungan antar kristal inequigranular pada massa dasar gelas dan kristal afanitik. Mineral penyusun  terdiri dari plagioklas, piroksen, hornblende, olivin, mineral opek dan gelas.
Kehadiran silika berkisar antara 49,02%–55,69%. Peningkatan kehadiran SiO2 akan diikuti oleh penurunan kehadiran TiO2, Al2O3, Fe2O3, MgO, CaO, K2O dan MnO, serta peningkatan kehadiran Na2O dan P2O5. Penurunan kehadiran K2O di dalam satuan lava ini merupakan ketidaklaziman. Seluruh lava termasuk alkali kapur (Kuno, 1930), dan sebagian besar merupakan alkali (Irvin & Baragar, 1971).

4.2. Verifikasi Hipotesis

Pengkajian secara eksploratif menunjukkan bahwa selama Holosen telah terjadi proses erupsi secara meleler dan meletus. Masing-masing proses erupsi menghasilkan satuan-satuan batuan yang berbeda. Satuan-satuan tersebut merupakan hasil respon perbedaan erupsi G. Merapi selama Holosen, dengan verifikasi hipotesis sebagai berikut:

Hipotesis Penelitian

Kesimpulan

1. G. Merapi sejak Holosen sampai Resen mengalami perubahan jenis erupsi.
1.1. Terdapat perbedaan komposisi kimia pada masing-masing satuan batuan hasil erupsi. Uji beda rata-rata multivariat dua populasi (T2-Hottelling) terhadap unsur kimia utama pembentuk batuan hasil erupsi letusan dan leleran membuktikan bahwa keduanya berbeda nyata  satu dengan lainnya,    dengan  unsur kimia utama pembeda terdiri dari TiO2, Fe2O3, MgO, CaO, dan K2O
1.2. Terdapat perbedaan tingkat erodibilitas pada  masing-masing satuan batuan hasil erupsi, yang dicirikan oleh perbedaan rata-rata kerapatan sungai. Uji beda rata-rata dua populasi (Kruskal-Wallis) terhadap kerapatan sungai  tiap satuan batuan hasil erupsi membuktikan bahwa masing-masing batuan mempunyai tingkat erodibilitas yang berbeda.
1.3. Terdapat perbedaan luasan rata-rata rims horblenda hasil erupsi ekplosif dan effusif. Uji beda rata-rata dua populasi (Kruskal-Wallis) terhadap luasan rims horblenda batuan hasil erupsi letusan dan leleran membuktikan bahwa keduanya berbeda nyata satu dengan lainnya.

2. Endapan piroklastika sejak Holosen sampai Resen mengalami perubahan karakter akibat perubahan jenis erupsi
2.1. Terdapat perbedaan rata-rata besar komponen pada setiap satuan  piroklastika. Uji beda rata-rata sampel independen (t – test) dan ANAVA satu arah teruji pada besar komponen piroklastika membuktikan bahwa satuan batuan piroklastika mempunyai perbedaan besar komponen bongkah, kerakal dan kerikil; serta mempunyai kesamaan besar komponen raksasa
2.2. Terdapat perbedaan rata-rata bentuk komponen pada setiap satuan  piroklastika. Uji beda rata-rata sampel independen (t – test) dan ANAVA satu arah teruji pada bentuk komponen piroklastika membuktikan bahwa satuan piroklastika mempunyai perbedaan bentuk komponen bongkah, kerakal dan kerikil; serta mempunyai kesamaan bentuk komponen raksasa
2.3. Terdapat perbedaan rata-rata besar komponen  batuapung  pada setiap  satuan  piroklastika. Uji beda rata-rata sampel independen (t – test) dan ANAVA satu arah teruji pada besar komponen batuapung membuktikan bahwa satuan piroklastika mempunyai perbedaan besar komponen kerikil; serta mempunyai kesamaan besar komponen komponen  berukuran kerakal.
2.4. Terdapat perbedaan rata-rata bentuk komponen  batuapung  pada setiap  satuan  piroklastika. Uji beda rata-rata sampel independen (t – test) dan ANAVA satu arah teruji pada besar komponen batuapung membuktikan bahwa satuan piroklastika mempunyai perbedaan bentuk komponen kerikil; serta mempunyai kesamaan bentuk komponen  berukuran kerakal.

3. Endapan lahar sejak Holosen sampai Resen mengalami perubahan karakter akibat perubahan jenis erupsi
3.1. Terdapat perbedaan rata-rata besar komponen pada setiap satuan lahar . Uji beda rata-rata dua populasi (Kruskal-Wallis) dan ANAVA satu arah  pada besar komponen lahar membuktikan bahwa satuan lahar mempunyai perbedaan besar komponen bongkah, kerakal dan kerikil; serta mempunyai kesamaan besar komponen  raksasa
3.2. Terdapat perbedaan rata-rata bentuk komponen pada setiap satuan lahar.
Uji beda rata-rata dua populasi (Kruskal-Wallis) dan ANAVA satu arah  pada bentuk komponen lahar membuktikan bahwa satuan lahar mempunyai perbedaan bentuk komponen bongkah, kerakal dan kerikil; serta mempunyai kesamaan bentuk komponen raksasa
3.2.Terdapat perbedaan rata-rata bentuk komponen pada setiap satuan lahar. Uji beda rata-rata dua populasi (Kruskal-Wallis) dan ANAVA satu arah  pada bentuk komponen lahar membuktikan bahwa satuan lahar mempunyai perbedaan bentuk komponen bongkah, kerakal dan kerikil; serta mempunyai kesamaan bentuk komponen raksasa

4. Besar dan bentuk rata-rata komponen pada satuan aliran piroklastika tidak mempunyai korelasi  dengan jarak pengendapan
4.1. Besar rata-rata komponen  pada satuan aliran piroklastika tidak mempunyai korelasi dengan jarak pengendapan.
Analisis regresi – korelasi menyimpulkan bahwa pada proses pengendapan aliran piroklastika tidak terdapat korelasi antara besar komponen dengan jarak pengendapan.
4.2. Bentuk rata-rata komponen  pada satuan aliran piroklastika tidak mempunyai korelasi dengan jarak pengendapan.
Analisis regresi – korelasi menyimpulkan bahwa pada pada proses pengendapan aliran piroklastika tidak terdapat korelasi antara bentuk komponen dengan jarak pengendapan.

5. Besar dan bentuk rata-rata komponen pada satuan lahar  mempunyai korelasi  dengan jarak pengendapan
5.1. Besar rata-rata komponen  pada satuan lahar mempunyai korelasi dengan jarak pengendapan. Analisis regresi – korelasi menyimpulkan bahwa pada pada proses pengendapan lahar terdapat korelasi (negatif) antara besar komponen dengan jarak pengendapan. Pengendapan pada satu DAS menujukkan korelasi lebih kuat dibanding pengendapan pada lintas DAS.
5.2. Bentuk rata-rata komponen  pada satuan lahar mempunyai korelasi dengan jarak pengendapan. Analisis regresi – korelasi menyimpulkan bahwa pada pada proses pengendapan lahar tidak terdapat korelasi antara besar komponen dengan jarak pengendapan. Pengendapan pada satu DAS menujukkan korelasi lebih kuat dibanding pengendapan pada lintas DAS.

6. Terdapat kesamaan antara komponen lahar dan piroklastika dalam sumbernya
6.1. Besar komponen endapan lahar memiliki kesamaan dengan besar komponen piroklastika sumbernya
Uji beda rata-rata sampel independen (t – test) terhadap besar komponen satuan lahar dan piroklastika membuktikan bahwa besar komponen berukuran raksasa dan kerikil pada seluruh satuan lahar tidak berbeda dengan satuan piroklastika sumbernya. Di sisi lain terjadi perbedaan besar komponen pada bongkah dan kerakal. Perbedaan yang terjadi pada komponen berukuran bongkah dan kerakal berupa kecenderungan pengurangan ukuran.
6.2. Bentuk komponen endapan lahar memiliki kesamaan dengan besar komponen piroklastika sumbernya
Uji beda rata-rata sampel independen (t – test)  terhadap bentuk komponen satuan lahar dan piroklastika membuktikan bahwa bentuk  komponen berukuran raksasa pada seluruh satuan lahar tidak berbeda dengan satuan piroklastika sumbernya. Di sisi lain pada bentuk komponen bongkah, kerakal dan kerikil terjadi anekaragam kondisi dari berbeda dan tidak berbeda. Dominan tidak berbeda terdapat pada satuan lahar Mlh2

4.3. Pembahasan

Penelitian terhadap G. Merapi  telah memperjelas fenomena bahwa proses perubahan karakteristik lahar merupakan respon perbedaan erupsi. Paparan mengenai hal tersebut dikemukakan dalam alur berikut:

4.3.1. Perbedaan Jenis Erupsi

G. Merapi selama Holosen sampai Resen, atau selama 10.000 tahun terakhir telah terjadi perbedaan jenis erupsi.  Secara fisik perbedaan tersebut dapat dikenali melalui keterdapatan dan sebaran masing-masing jenis batuan hasil erupsi. Erupsi leleran telah menghadirkan aliran lava, lidah lava maupun kubah lava. Kehadiran jatuhan piroklastika sebagai hasil erupsi letusan, serta kehadiran aliran piroklastika sebagai hasil erupsi letusan maupun guguran kubah lava merupakan fakta bahwa perbedaan jenis erupsi telah terjadi.

Selain memberikan jejak fisik, proses erupsi letusan dan leleran telah memberikan jejak kimia pada masing-masing batuan. Deskripsi petrologi megaskopis dan mikroskopis telah dapat menunjukkan bahwa proses erupsi G. merapi telah menghasilkan beberapa jenis batuan penyusun tubuh gunungapi yaitu andesit piroksen, andesit horblenda dan andesit basaltis dari seri toleit, alkali dan alkalai kapur.

Jejak fisik pada batuan dapat dilihat dari kehadiran tekstur khusus pilotaksitik dan struktur scoria pada aliran lava. Hadirnya tekstur khusus pilotaksitika pada sebagian besar komponen endapan aliran piroklastika maupun struktur kerak roti bada beberapa komponen raksasa, mengindikasikan bahwa telah terjadi erupsi dalam bentuk leleran lava, lidah lava maupun kubah lava yang seanjutnya sebagai penyusun utama komponen raksasa tersebut. Di sisi lain, hadirnya batu apung hasil erupsi letusan, terutama  pada satuan jatuhan piroklastika juga menunjukkan adanya perbedaan jenis erupsi tersebut. Perbedaaan besar komponen penyusun endapan aliran piroklastika maupun jatuhan piroklastika antara satu sektor dengan sektor lain pada G. Merapi  juga merupakan indikasi adanya perbedaaan jenis erupsi terebut.

Uji statistik dilakukan untuk mengenalpasti perbedaan-perbedaan tersebut, melalui unit-unit terukur yang penting. Uji statistik terhadap unsur kimia utama yang dilakukan terhadap lava sebagai hasil erupsi leleran, serta komponen jatuhan piroklastika sebagai hasil erupsi letusan, telah menegaskan kembali fenomena tersebut, bahwa terjadi perbedaan erupsi selama Holosen. Perbedaan erupsi tersebut bukan hanya jenisnya yang letusan dan leleran, tetapi juga hadirnya unsur kimia  pembeda masing-masing satuan batuan. Secara kimia teruji bahwa unsur kimia utama TiO2, Fe2O3, MgO, CaO, dan K2O merupakan unsur pembeda untuk masing-masing hasil letusan dan leleran.

Setiap batuan hasil erupsi mempunyai daya tahan terhadap erosi. Jejak erosi secara umum adalah terbentuknya pola tekuk lereng pada gunungapi. Setiap tekuk lereng mencerminkan litologi dominan, sistem vulkanoklastik yang bekerja, dan pada akhirnya dapat menjelaskan fasies gunungapi tersebut.  Litologi dan sistem vulkanoklastik yang bekerja tercerminkan dalam kerapatan sungai yang  berbeda satu dengan lainnya.

Struktur tepi (rims) pada horblenda merupakan jejak proses perjalanan magma dari kantung magma ke permukaan. Semakin lambat proses perjalanan magma, maka struktur tepi yang terbentuk semakin tebal. Uji statistik terhadap struktur tepi dari batuan hasil erupsi letusan yang diwakili komponen satuan jatuhan piroklastika, dan hasil erupsi leleran yang diwakili oleh satuan lava, memperlihatkan bahwa luasan rims hasil erupsi letusan dan leleran berbeda satu dengan lainnya.

4.3.2. Perubahan Karakter Piroklastika

Pengujian perubahan karakter piroklastika dilakukan melalui perubahan besar dan bentuk komponen. Perubahan karakter aliran piroklastika tercermin pada perubahan besar dan bentuk komponen terjadi pada bongkah, kerakal, dan kerikil serta tidak terjadi pada komponen raksasa. Kondisi tersebut menegaskan bahwa proses pengendapan aliran piroklastika merupakan kondisi ideal dari aliran massa tipe debris-flow dan debris avalanche yang selanjutnya diendapkan melalui mekanisme pembekuan (en masse freezing).  Aliran massa ini merupakan aliran yang terjadi dalam kondisi cohesive matrix strengh.

Komponen berukuran bongkah, kerakal dan kerikil yang bertindak sebagai matriks “pembawa” yang saling menggerus satu dengan lainnya dan mengalami pemilahan. Sementara, komponen raksasa yang selalu dijumpai dalam kondisi komponen mengambang, menjadikan massa yang dibawa, sehingga penggerusan dan pemilahan besar butir tidak terjadi padanya.

Komponen batuapung yang tidak hadir pada setiap satuan piroklastika menunjukkan gejala serupa. Perubahan besar dan bentuk terjadi pada komponen kerikil (kecil), dan kesamaan besar dan bentuk terjadi pada komponen  berukuran kerakal (besar).

Seperti lazimnya aliran massa, perubahan bentuk di atas tidak memunculkan keteraturan. Posisi aliran piroklastika sebagai aliran massa dengan ketidakteraturannya ini didukung oleh analisis regresi-korelasi yang tidak menunjukkan adanya korelasi antara besar dan bentuk komponen dengan jarak pengendapan, baik di dalam satu DAS maupun antar DAS.

4.3.3. Perubahan Karakter Lahar

Pengujian perubahan karakter lahar dilakukan melalui perubahan besar dan bentuk komponen. Perubahan karakter lahar tercermin pada perubahan besar komponen berukuran bongkah, kerakal dan kerikil, serta tidak terjadi pada komponen raksasa. Pada lahar perubahan besar butir juga terjadi pada ukuran kerikil. Pertanyaan yang muncul dari kondisi ini adalah “diambil alihnya” fungsi kerikil sebagai massa pembawa pada aliran piroklastika, oleh air pada lahar.

Penambahan massa air menyebabkan kondisi lahar dari hulu ke hilir mengalami perubahan sifat fisik; akan mengalir secara plastis non-newtonian sebagai debris-flow di bagian hulu dan berangsur menjadi hyperconcentrated flow di bagian hilir. Kondisi ini menjadikan komponen raksasa menjadi komponen yang tidak berubah, sampai batas kemampuan massa lahar mampu membawanya. Atau dengan kata lain, selama lahar masih merupakan debris-flow. Dengan demikian kemampuan lahar dalam mengangkut komponen raksasa tersebut sangat tergantung kepada konsentrasi lahar yang ada.

Perubahan karakter komponen lahar dari hulu ke hilir, sebagai perubahan lahar dari debris-flow ke hyperconcentrated flow dapat dilihat dari hasil analisis regresi-korelasi. Dari analisis tersebut diketahui adanya korelasi lemah sampai sangat kuat antara besar komponen dan jarak pengendapan terdapat pada satuan lahar antar DAS, yaitu pada Satuan Lahar Merapi 1 (Mlh1) Kaliluwuk, Satuan Lahar Merapi  4 (Mlh4) Kaliworo dan Satuan Lahar Merapi 5 (Mlh5) Kalikrasak. Selanjutnya, korelasi akan semakin menguat, menjadi sedang sampai sangat kuat terdapat pada sebagian besar lahar dalam satu DAS, yaitu pada Satuan Lahar Merapi 1 (Mlh1) Kaliluwuk,   Satuan Lahar Merapi  2 (Mlh2) Kaligendol, Satuan Lahar Merapi  4 (Mlh4) Kaliworo  dan  Satuan Lahar Merapi  5 (Mlh5) Kalikrasak. Korelasi yang menunjukkan adanya pengurangan besar komponen pada penambahan jarak pengendapan merupakan proses perubahan dari debris-flow ke hyperconcentrated flow.

4.3.4.  Kesamaan Karakter Lahar dengan Sumbernya

Dengan uji beda rata-rata terhadap besar komponen satuan lahar dan piroklastika menunjukan bahwa besar komponen berukuran raksasa dan kerikil pada seluruh satuan lahar tidak berbeda dengan satuan piroklastika sumbernya. Di sisi lain terjadi perbedaan besar komponen pada bongkah dan kerakal. Perbedaan yang terjadi pada komponen berukuran bongkah dan kerakal berupa kecenderungan pengurangan ukuran. Selanjutnya terhadap bentuk komponen satuan lahar dan piroklastika diketahui bahwa bentuk  komponen berukuran raksasa pada seluruh satuan lahar tidak berbeda dengan satuan piroklastika sumbernya. Di sisi lain pada bentuk komponen bongkah, kerakal dan kerikil terjadi anekaragam kondisi dari berbeda dan tidak berbeda. Dominan tidak berbeda terdapat pada satuan lahar  Satuan Lahar Merapi  2 (Mlh2) Kaligendol.

Komponen raksasa yang tidak berubah pada lahar dan piroklastika sumbernya berasal dari litologi yang sama. Sebagian besar komponen raksasa merupakan potongan kubah lava atau aliran lava.

4.3.5. Hubungan dan Sebaran Antar Satuan

Dari pembahasan tersebut  terlihat bahwa pelaharan yang terjadi sangat bergantung pada pross-proses sebelumnya, berupa jenis erupsi dan hasil erupsi.  Jenis erupsi merupakan kontrol terhadap proses pelaharan dan endapan lahar yang dibentuk, sebaliknya, endapan lahar merupakan respon atas jenis erupsi dan proses yang mendahuluinya.  Oleh karena itu pola sebaran endapan lahar sangat dipengaruhi oleh perbedaan jenis letusan gunungapi.

5 KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. G. Merapi selama Neogen telah mengalami perubahan jenis erupsi dengan perbedaan unsur  kimia utama TiO2, Fe2O3, MgO, CaO, dan K2O, perbedaaan tingkat erodibilitas dan prosentase struktur rims sebagai pembeda untuk masing-masing hasil erupsi letusan dan leleran.
2. Perubahan karakter piroklastika ditentukan oleh besar dan bentuk komponen berukuran bongkah, kerakal dan kerikil; tidak oleh komponen berukuran raksasa. Perubahan besar dan bentuk komponen piroklastika tidak beraturan; tidak berkorelasi dengan jarak pengendapan.
3. Perubahan karakter lahar ditentukan oleh besar dan bentuk komponen berukuran bongkah, kerakal dan kerikil; tidak oleh komponen berukuran raksasa. Perubahan besar komponen lahar beraturan; berkorelasi sedang sampai sangat kuat dengan jarak pengendapan. Terdapat pengurangan besar komponen pada penambahan jarak pengendapan. Korelasi semakin kuat pada pelaharan dalam satu daerah aliran sungai. Perubahan bentuk komponen lahar tidak beraturan; tidak berkorelasi dengan jarak pengendapan.
4. Kesamaan karakter lahar dengan sumbernya ditujukkan oleh komponen berukuran raksasa dan kerikil. Proses pelaharan menyebabkan berkurangnya besar komponen berukuran bongkah dan kerakal.
5. Kesamaan karakteristik lahar dan piroklastika pada komponen raksasa menyebabkan perlunya adaptasi pengurangan risiko ancaman lahar lebih ditekankan pada pengelolaan komponen raksasa.
6. Berbasarkan karakter hasil erupsi letusan dan leleran serta proses pelaharan, G. Merapi terbentuk atas lima satuan lava, empat piroklastika dan lima satuhan lahar.

5.2. Saran

Penelitian ini telah berusaha menjawab 6 (enam) hipotesis, 15 (limabelas) sub-hipotesis, serta lebih dari 100 uji verifikasi, yang ingin digunakan untuk memahami fenomena pelaharan G. Merapi, khususnya karakteristik lahar sebagai respon perbedaaan jenis erupsi. Selanjutnya untuk lebih baiknya perlu dilakukan:
1. Menerapkan metoda ini untuk pemetaan geologi pada gunungapi yang lain
2. Melakukan penelitian geologi gunungapi dengan melakukan mencermati karakter lahar dengan lebih rinci.
3. Mempertimbangkan posisi lahar sebagai respon jenis erupsi pada pemetaan pembuatan Peta Kawaran Rawan Bencana G. Merapi maupun Peta Risiko Bencana Letusan G. Merapi
4. Mengevaluasi pengelolaan lahar dan aliran piroklastika dengan melakukan pengelolaan komponen raksasa.

Bandung, September 2008

Posted by Paripurno in 02:30:26 | Permalink | No Comments »

DISASTER RECOVERY ACTION PLAN OF MERAPI VOLCANO AREA– INDONESIA

Eko Teguh Paripurno

1. INTRODUCTION

Indonesia is the nation with remains vulnerable to disaster. History notes that Indonesia had became places for 2 biggest volcanic eruption in the world ever. In 1815, Mt Tambora in Sumbawa Island, West Nusa Tenggara, was erupted and releases about 1,7 million tons of ash and volcanic materials. Half of the materials is formed layer in the atmosphere which reflected the sunlight back to the atmosphere itself. Then, because of the sunlight which enter the atmosphere was decreasing a lot, the earth at that time was not received enough heat, and it causes cold wave. The cold wave made the year in 1816 as ‘’A year without summer’’ and caused crop failure and expanded starvation in many places. At the same century, around 1883, Mt. Krakatau was erupted too. It was estimated that it has strength which almost same with 200 megaton TNT, and it about 13,000 times more powerful than atomic bomb which destroy Hiroshima and Nagasaki in the Wolrd War II. The most deadly disaster in the beginning of XXI century also begins in Indonesia. On 26 December 2004, a massive earthquake was occurred in the west of Sumatra Island Ocean near Simeulue Island. This earthquake triggers gigantic ruination in some of coastal areas which had impacted. Along the XX century, only few of disaster which caused massive damage like that. In Indonesia itself, earthquake and tsunami caused 165,708 deaths and caused more than 48 Trillion losses.

The latest occurrence is the eruption of Merapi Volcano. Merapi Volcano is strato-type Mountain with 2980 m high above sea level. Geographically, it located in 7’32.5’ S and 110’ 26.5’ E. It administratively located in 4 regencies; Sleman in Yogyakarta Special Region; also Magelang, Boyolali, and Klaten in Central Java Province. In 20 September 2010, the level of Merapi lifted from ‘’standby level’’ (level III) to the warning level (level IV), and in 26 October 2010 was became Merapi’s first eruption, and then continued to secondary/extensive eruption until the beginning of November 2010. This eruption caused deaths loss and wealth loss which later designated as Natural Disaster. That eruption is the biggest, compared with same disaster in five occurrences in the past; 1994, 1997, 1998, 2001, and 2006.

Based on Center for Data Information of National Agency for Disaster Management – Badan Narional Penanggulangan Bencana (NADM-BNPB data in 27 November 2010, Merapi Volcano disaster caused 242 deaths in Yogyakarta Special Region area, and 97 deaths loss in Central Java area. The damage that caused by eruption were enormous. It affects the Habitation, infrastructural, telecommunication, electrical and energy crisis, and also sanitation. In habitation sector, the eruption buried many villages in Special Region of Yogyakarta and thousands of villagers’ houses were destroyed. It is noted that 2,636 units of houses were heavily damaged and can’t livable, 156 were damaged moderately, and 632 houses were in minor damage. Overall, 3,424 houses were damaged in Yogyakarta Special Region. Meanwhile, in Central Java, it is noted 551 units of houses were heavily damaged and can’t livable, 950 were damaged moderately, and 2,204 houses were in minor damage. Overall, 3,705 houses were damaged there.

2. CONDITION OF DISASTER AREA

About usage of the land, the biggest composition of land usage in Merapi Volcano area is for agriculture, whether it is for field or non-field. Exception is for villages in Selo subdistrict in Boyolali Regency which the non-agriculture area is larger than agriculture area. Total of the villagers in vulnerable area of Merapi Volcano is 226,618 in 57 villages with the total area 314,7 km2.

Land transportation is the most common transportation which used in Merapi Volcano area. Although, the data itself is limited so there are no valid data about it, but it can be seen that most of the villages has asphalt road. Only 4 villages in Kemalang subdistrict, Klaten which most of the road is still composed with ground. The access to the village in the vulnerable area is very good, which means the road to the village is always can be used.

For the air transportation, the nearest airport is Adi Sumarmo Airport, Solo, whihch located in Ngemplak subdistrict, Boyolali and Adi Sucipto Airport in Yogyakarta. These airports serve domestic flight and also international flight from Singapore and Kuala Lumpur. Beside for commercial flight, Adi Sumarmo Airport in Solo is also used as Indonesian Military Air Force homebase.

As data from village potential 2008 report that almost all of the villages in vulnerable area has access to the telecommunication, although the level of availability are different among the villages. The highest users of Telephone Service are in Ngemplak and Pakem in Sleman regency. As the limited public phone, the people who need the service can use Telecommunication Stand. Meanwhile, there are still large number of subdistrict who did not have Post Office, the Post Office Aide, or Roving-post office, which is in Magelang, Boyolali, and Klaten regency. The internet usage is also still limited. There are only 2 villages which has Internet Café. In general, Srumbung, Sawangan, and Turi subdistrict are the 3 subdistricts which has the most limited communication facility.

In 2008, there are 132 kindergartens, 169 elementary school, 27 junior highschools, 15 senior highschools, and 3 universities in Merapi area. Beside that, there are 5 outstanding schools, 18 boarding schools, 39 Madrasah Diniyahs (equal with elementary school) and 1 seminary school.

Generally, the health facility is focused in Sleman regency. There are 2 hospitals in Sleman regency, and in other regencies are usually served by clinic.Even, the villages in Srumbung subdistrict, Magelang regency do not have any clinic. Generally, the health workers in the villages around Merapi mainly worked as baby healer and midwife. Ngemplak and Pakem subdistrict, Sleman regency, has highest population in the availability of health workers.

For drinking water and clean water, the vilages in Magelang & Boyolali regency generally using water spring, except for the people in Musuk and Kemalang sub-district which depending from the rain. On the contrary, majority of the villages in Sleman regency get the clean water from well. Generally, the villagers in Merapi area do not need to spend money for water. Majority of he villagers in Merapi Volcano area are Islam. There are so many mosque and mushalla in the villages around Merapi Volcano area. About 677 mosques, 446 mushalla, 43 churches, and 3 shrines. No monastery can be found there.

Area around Merapi Volcano area is full of tourism place, especially historical tourism place with most of place such as temple which spreaded widely aournd 4 regencies. Beside that, there are some natural view such as Ketep Pass in Magelang regency and National Park of Merapi which attracts so many people. Borobudur Temple in Magelang regency becomes somewhat primadonna around the domestic and foreign tourists. In general, many temples in Merapi Volcano area did not damaged very much, but some of them had closed due to volcanic ashes. Because that, by Borobudur Temple had suffered the biggest loss, so it estimated 1 year for cleaning.

3. ACTION PLAN POLICY

With concerning in the impact of Merapi Volcano eruption, the document of post-disaster Rehabilitation and Reconstruction Plan needs to be settled, as mandated by NADM-BNPB regulation rule No. 17/ 2010 about General Guidnce of post-disaster Rehabilitation and Reconstruction Plan, to implementing rehabilitation and reconstruction in disaster area, comprehensively and effectively, with paying attention in: (1). Post-disaster Rehabilitation and Reconstruction Plan Assessment result; (2) Priority establishment; (3). Allocating sources and implementation time; (4) Documents of Working plan for both of central and local government; and (5) Other related documents in development plan.

According to Head of NADMBNPB regulation no 17/2010, post-disaster Rehabilitation and Reconstruction Plan, in Yogyakarta Special Region and Central Java Province in 2011-2013 were organized as program and activity plan in order to: (a) Building the synchronization and commitment between central, local, and regency government, community, society, business, college/academical, and NGO, which aimed to rebuild all of people’s living aspects which had impacted; (b) To harmonize all of the rehabilitation plan and activities after disaster which already designed by Central government, in this case, called institution/ministry, and Provincial government of Central Java, Special Region of Yogyakarta, Magelang regency, Boyolali regency, Klaten regency, and Sleman regency. (c) Adjusting the Post-disaster Rehabilitation and Reconstruction Plan which already designed by Central Government, Provincial Government, and Regency Government with Local Medium-term Development ; (d) To harmonize post-disaster Rehabilitation and Reconstruction Plan with annual planning of Central, Local, and Regency Government Workplan; (e) Giving exact description to the other stakeholders about post-disaster Rehabilitation and Reconstruction Plan in order to make it well-ordered along with the activities; (f) Develop the system and mechanism of funding mobilization from National Budget Plan, Provincial Budget Plan, Regency Budged Plan and community as efficient, effective, transparent, participative and accountable as possible, in accordance with good governance principle.

Post-disaster Rehabilitation and Reconstruction Plan area, in Special Region of Yogyakarta and Central Java Province 2011-2013 aims for (a) Harmonize the Central and local Government and the other private, national society, and local in order to make the post-disaster Rehabilitation and Reconstruction activities in Merapi Volcano area in a good and smooth condition; (b) Program planning of Rehabilitation and Reconstruction activities correspond with the system of national and local development planning; (c) Participative and Consultative planning and budgeting program and activities, correspond with documents of national and local plan; (d) Participative and Consultative planning and budgeting program and activities, which are rehabilitation and reconstruction plan and activities which already consulted and contains some opinion from and to all of the stakeholders; (e) To make easier the monitoring and management in fund sourcing for rehabilitation and reconstruction activity post-disaster with respecting carefulness and responsibility principle. (f) Appropriate planning and budgeting program and activities, correspond with documents of national and local plan.

The scope rehabilitation and reconstruction is the recovery of the post-disaster of Merapi Volcano eruption area, which based on Head of NADM-BNPB Regulation no. 17/2010 which are: (a) humanity aspect, which contains of social & psychological recovery, health, and education service(b) recovery on habitation and housing which contains of the environment and house improvement; (c) recovery on infrastructure aspect, which contains public service and infrastructure improvement; (d) recovery on social aspects, which contains of recovery on social and culture construction (e) recovery on economy aspect, which contains of economy improvement both in agriculture sector or non-agriculture sector (f) recovery on cross-sectoral aspect, including governmental, safety, and discipline and life environment, with financial and banking.

The opinion for permanent housing in Special region of Yogyakarta and Central Java Province based on administration area Detail Placement Planning of Merapi Volcano Area, with some considerations in spatial structure and pattern, with the main criteria (a) safe from vulnerability of volcanic disaster (based on Mapping of Disaster Vulnerable Area which released by ministry of Human resources), (b) maximum tilt of land is 30 percent, (c) located in the cultivation place, outside the field, garden area, and agriculture, etc) which established by Head of impacted regency, (d) located in the same subdistrict (characteristic consideration in social & economy); also support criteria (a) availability of standard water, (b) availability of insfratructure facility, (c) easiness in land acquisition, (d) availability of minimum land for housing

Based on spatial planning policy towards vulnerable area, relocation solution is rehabilitation and reconstruction approach with consisting some aspects: (1) the society should be facilitated to dialogues with government as regulator and decision-makers, (2) land compensation policy should be established before holding a dialogue with society, (3) society, with clear consideration based on safety, still allowed to cultivating their land in MVA II, (4) permanent living/housing (in relocation area) are still allowed in MVA II with considering local capacity in disaster mitigation, (5) delineation of permanent living still expanded with considering local capacity in disaster mitigation, (6) funding sources for Relocation and land compensation are organized by Central Government, (7) relocation need to be held woth considering social, economy, and culture condition on he society

4. POLICY STRATEGY

Housing and settlement. The policy of Housing and settlement are being implemented from Vulnerable Area III which are not appropriate for living base don mapping recommendation of Geology Institute of Human Resources ministry. Related to relocation, because the limitation of land, so the appropriate approach are: (a) village compaction, (b) relocation to another village, (c) transmigration, (d) self-relocation

The general strategy of housing and settlement are organized based on target priority, as explained: (a) The valid owner/heir of the land, according the regulation and law, and agree & accept the transmigration program; (b) The valid owner/heir of the land, according the regulation and law, are agree & accept the relocation program; (c) The villagers are not the owners of the land which agree & accept for transmigration program; (d) Availability of access to the livelihoods for those who accepting the relocation or transmigration program; (e) Availability of Community Settlement Plan based on mitigation and disaster risk reduction; (f) Availability of risk mapping in every impacted regencies with bigger scale for following –up the risk mapping with scale 1:250,000 which already organized by Yogyakarta Government and Central Java Government; (g) Integrated spatial planning based on disaster risk reduction; (h) Availability access to basic service in the new location

To get the target, the strategic activities for doing early recovery as soon as possible for the victims are implementing the data collection of the villagers, land status, job status, and land-conformity analysis towards new location which already considering the potency of primary and secondary threat of Merapi Volcano

Because of the Rehabilitation and reconstruction act plan of Merapi Volcano post-disaster with using housing relocation approaching and zero growth in Merapi Vulnerable Area (MVA) III, the main issues for saving the villagers in MVA III which need to be noted and implemented are: (a) Funding source for land acquisition for the owner/heir in MVA III; (b). Land availability for settlement/housing relocation and settlement infrastructure development in the new location; (c). The establishment of MVA III as ‘’not proper place for living’’ to support zero growth policy in MVA III; (d). The controlling of Merapi Volcano area for protected and cultivation areas

To support zero growth policy, framework policy, and regulation based disaster risk reduction and sustainability in MVA III are: (a) The establishment of MVA III as ‘’not proper place for living’’ as NADM-BNPB head’s arrangement or the higher arrangement; (b) Housing Placement Plan with Systematic Area based on disaster risk reduction which elaborated in more detailed-plan as the guidelines of controlling, including the permission; (c) Economy Incentive program for the villagers which accepting the relocation and/or transmigration program

Public Infrastructure sector. The proper strategy to achieve the target in rehabilitation and reconstruction of it are: (a) Village’s way rebuilding, water source service and sanitation are implemented based on relocation policy in the establishment of Environmental Funding; (b) Regency’s way rebuilding based on spatial planning plan revisied edition of Sleman; (c) Water flowing Area according the Public Works ministry policy and revision of Housing Placement Plan with Systematic Area revision of Sleman, Klaten, Boyolali dan Magelang regency and integrated with rehabilitation and reconstruction act plan post-disaster in Yogyakarta and Central Java province; (d) Reconstruction of electric and energy infrastructure according the technical criteria. The service is based on the relocation and spatial planning of Sleman, Klaten, Boyolali dan Magelang regency; (e) Recontruction of telecommunication infrastructure based on the technical criteria from Telecommunication Ministry, and the service is based on the relocation and spatial planning policies of Sleman, Klaten, Boyolali dan Magelang regency

Social. The proper strategy to achieve the target of education, healh, lethargy and social institute in rehabilitation and reconstruction are: (a) Limiting step by step the reconstruction of education, healh, lethargy and social institute infrastructure in MVA III; (b) Developing/ Building the education, healh, lethargy and social institute infrastructure based on the relocation and spatial planning policies of Sleman, Klaten, Boyolali dan Magelang regency; (c). Provide the guidelines and training program for pre-disaster regularly; (d) Social service priority for vulnerable group; (e) Provide the Health service incentive for the participant of relocation program

Society Economy. Economy of the society, via agriculture, garden land, farming land, fisheries, forestry, trade, and small industries and tourism service in rehabilitation and reconstruction of productive economy component are: (a) Providing land for agriculture, garden land, farming land, fisheries, forestry; (b) Land opening for agriculture, garden land, farming land, fisheries, forestry which implemented in the ‘’cash for work’’ mechanism; (c) Facilitation for debitor in Magelang, Boyolali, Klaten dan Sleman regency to get the good treatment towards the bank creditors; (d) Providing the financing stimulant and training of skills for reviving the society’s livelihood in the new location based on the guide from local and central government; (e) Trade infrastructure building according to the relocation policy and spatial planning policies of Sleman, Klaten, Boyolali dan Magelang regency with the technical criteria is persist from earthquake

Cross-Sector. The proper strategy to achieve the targets of delivery service in the recovery of cross-sector sub-areas of governance, security and orderness in the rehabilitation and reconstruction of cross-sector components are: (a) Providing the administrative services of population to the people in the shelters and people in the location of new settlements. (b). Updating the database population.; (c) Governance, security and orderness infrastructure development according to spatial planningpolicies of Sleman, Klaten, Boyolali and Magelang regency. (d) Contingency Plan dissemination and community preparedness SOP who still lived in MVA III.; (e) Strengthening early warning systems of eruptions, earthquakes and flood of cold lava to the people who lived in disaster-prone areas. (f). Updating the boundary of Merapi Volcano National Park area.

Financingschemes. Post-disasterrecovery of Merapi Volcano eruption can be implementedwithin 3 (three) financial years, from 2011 to 2013, with the following assumptions: (a) Housingrecoveryfor 2 (two) years ofthe budget, which isin 2011-2012, includingthe construction ofenvironmental infrastructure of the Ministryof Public Worksscheme; (b) Recovery ofpublicinfrastructure which implemented from 2011to 2013, in accordance with construction ofvital infrastructureforconductingbasic serviceson the new location; (c)Prioritizedsocialrecoveryin fiscal year 2011 and2012,along withrelocation program of settlements; (d) Prioritizedproductiveeconomicrecoveryin 2011and 2012, along withrelocationprogram of settlements; (e) Recovery ofcross-sector are prioritizedin 2011, torestore the function ofpublic service andpreventing greater damageon theenvironment component. Estimatedfunding needs for post-disaster rehabilitation andreconstructionin2011-2013 is amounted toIDR955.5billion, consistsofstate budgetresourcesIDR831.3billion(87%), APBD from the province IDR70.5billion(7.4%) and theregencybudget IDR53.6billion(5.6%).

5. NEED ASSESMENT

Based on the analysis of damage and lossesand the impact of Merapi eruption disaster towards humanity, which include: housing, infrastructure, productive economic sectors, social sectors and cross sectors. So, the estimation of total funding for the rehabilitation and reconstruction need spost-eruption of Merapito the affected regencies in the Special regionof Yogyakarta and Central Java Province reached until IDR 1.023 trillion, each for the Province of Yogyakarta IDR. 473.392 billion and CentralJava. 550.103 billion. Where most of the recovery needs are designated to Infrastructure sector funding, which takes IDR. 417.673 billion (40.81% of total funding needs), then followed by recovery needs for Productive Economic sectors IDR. 222, 160 billion (21.71%), Housing Sector takes IDR. 217, 911 billion (21.29%), Social Sector IDR.149, 248 billion (14.58%) and Cross-Sector IDR 16.502 billion (1.61%).The diagram below shows the composition off inancing post-disaster recovery of Mt. Merapi eruption in 2011-2013 based on the proposed funding sources, consisting of the state budget, which takes amount IDR. 899.613 billion (88% of the total funding requirements); Provincial Budgets for IDR.70, 292 billion(7% of total funding needs) and the regencies budget of IDR. 53.590billion(5% of total funding needs).

Housing. The totalrecovery ofthe housing sector needs is about IDR. 200, 627, with details ofthe Central Java province is IDR. 94.616 billion and thespecial region of Yogyakartafor IDR.106, 011 billion. Most of the recovery costs of housing sector will be funded through grants IDR. 135.000 billion.

Infrastructure. As seen on damaged facilities, infrastructural sector is most severe because of Merapi Volcano eruption, especially in land transportation (road and bridge) and water source infrastructure. Based on the analysis of rehabilitation and reconstruction need, for infrastructure sector recovery needs budget about IDR 417, 637 billion, which is IDR 315,324 billion for central Java province, and IDR 102, 348 billion for special region of Yogyakarta.

Productive Economy. Productive economic sectors eruption of Merapi is greatly affect the economic life of the society who are living in 4 (four) in the affected regencies of Central Java Province and Province of Yogyakarta. Due to eruption of Merapi, the practical activities of the society’s economy are stopped cyclically or totally unable to do because the loss of economic activity. Beside destroys (direct effects) infastructure & facility, the interruption of economic activities, especially in the area around Merapi Volcano have also raises a number of losses (indirect effects) that must be faced by the society as a result of interruption of the production process and the potential revenue that should have earned by the society.


Based on the analysis of damage and losses as well as to estimate the need for humanitarian recovery, Economic recovery needs in the Productive sector is estimated to reach IDR. 220.160 billion which is to support the recovery of sub-sectors of agriculture, fisheries, Units of CommunityActivities and cooperatives, tourism and trade. Funding needs in the recovery of productive economic sectors in Central Java province IDR. 75.067 billion, While the province of Yogyakarta takes amount IDR.147, 092 billion.

Social. Recoveryinthe socialsectors, such as: (1) health infrastructure, which include: health centers, health centers and maternal health centers and children, (2) educational infrastructureconsists of kindergartens and elementary schools, middle schools and high schools building, (3) development of infrastructure in the form of mosques and churches and, (4) recovery of social institutions in the form of orphan age or rehabilitation of trauma. So, the total amounts for social infrastructure development needs isIDR. 149.248 billion. Beside that, activity in the social sector need to be supported by health counseling activitie son society, society assistance and other areas of health sub-sector and education.

Cross-sectors. Cross sectors, including construction of damaged facilities and infrastructure in the form of village offices and recovery for administrative services, governance, demography and strengthening the capacity of disaster areas. Besides damage to government buildings, on Cross-Sector is also occur in sub-sectors of environment consist of the damage to vegetation on National Park of Merapi Volcano. From about 6,410 acres is national park area, approximately 4,000 hectares of vegetated area in Sleman and Magelang regency, special Region of Yogyakarta, Klaten and Boyolali regency of Central Java Province, are covered by thick ashes, and vegetation corrupt (at the level of seedlings and saplings), migration of animals (birds, long-tailed monkeys, wild boar, tiger, etc.) and ecosystem damage.Total recovery needs on Cross-Sector is IDR.16, 502 Billion, and IDR.9.860 billion for Central Java province and Yogyakarta Province is IDR.6, 641 billion.

6.ACTION PLAN

Law Number1/2004 about State Treasury determined that in order to hold and support the priority activities in order to achieve the goals of development, the government couldtakes a loanand/ orreceived grants from bothd omestic and foreign. Funding of disaster rehabilitation and post-disaster reconstruction have been arranged in Government Regulation No.22/2008 on Financingand Management of Disaster Assistance, are : (a) disaster relieffund is a fund which is used fordisaster management during the pre-disaster emergency responseand/or post- disaster; (b) Disaster relieffundis the responsibility betweenGovernmentand Local Government.Disaster relieffundscome from: a)state budget, b) local budget; and/or c) society; (c) Disaster relief funds which sourced from thestate budget, also provides disaster contingency fund/ pre-disaster mitigationat pre-disaster stage, available fundat the stage of emergency responseandsocial aidin grant format the stage ofpost-disaster recovery.

This early recovery program, principally, is an activity to overcome post-disaster transition which implemented after the end of emergency response program before the rehabilitation and reconstruction program; it focused to recovery towards basic function and basic needs of society and recovery of the vital facility and infrastructure

This early recovery program of Merapi Volcano eruption in Special region of Yogyakarta and Central Java province has been implemented for two months in transition period after the end of emergency response program before the rehabilitation and reconstruction program

The target of early recovery program in Special region of Yogyakarta and Central Java province are: (a) Recover the basic function and basic government service and recovery of the vital facility and infrastructure; (b) Recover the social institutions in society which impacted by disaster, and hopefully can be contribute well for rehabilitation and reconstruction process; (c) Provide stimulant for livelihoods recovery and society’s income; (d) Build strong basic to begin rehabilitation and reconstruction process

Rehabilitation and reconstruction activities post Merapi eruption are implemented with the relocation approach from MVA III skimmed with Ministryof Public Works. The housing and settlement relocation became the main thing of the rehabilitation and reconstruction process, which became the guidance of the revision of spatial planing policies of Sleman, Klaten, Boyolali and Magelang regency. The public infrastructure reconstruction, recover of social component, productive economy and cross-sector basically are complement along with the relocation program in MVA III, with targets: (a) The establishment of spatial function which gives protection to the people from Merapi Volcano’s threat; (b) The establishment of disaster response in effective, efficient, coordinated and comprehensive way with paying attention to local culture; (c) the establishment of spatial control which fused with natural resources, and non-natural resources and human resources; (d) To harmonize natural environment with non-natural environment; (e) The improvement of environment quality and disaster risk reduction

The funding needs for early recovery, rehabilitation and reconstruction post Merapi disaster comes from Damages and Losses Assessment and Human Recovery Need Assessment which covers 5 sectors: (a). Housing and settlement facility, (b). Infrastructure, (c). Economy, (d). Social, and (e), Cross-sector. As explained before, the efforts of rehabilitation and recovery activities for the damaged facility due to Merapi Volcano eruption are targeting the people who get the impacts, which can give better benefit from the rehabilitation and recovery programs in Special region of Yogyakarta and Central java province

Based on theresults of the assessmentof disasterimpact assessment, totalvalue ofthe estimated needsforthe rehabilitation and reconstruction the component of recovery andpost-disaster of Merapi Volcano eruption in Yogyakartais equal to IDR. 496 906 910 000, -. However,the funds that is already available from the regency budget isIDR.103.769.190.000, -, Provincial Budgets isI DR.131.073.320.000, - from theMinistry/agencyis IDR.262.064 400 000, -. Totalpost-disaster recovery needsof Central Java Province is IDR. 461 477 430 000, - indicated are available from the Regency budgetis IDR25,547,000,000, -, and the budget from the province is IDR.26,248,000,000, - and budget ministry/agencyis IDR.503 577 530 000, -. The chances for post-disaster recovery of Merapi Volcano eruption funding is from central government, NADM-BNPB itself will allocate recovery fund, which is the impact from BA 999 budget in 3 years term (2011-2013)

Implementation of the recovery, rehabilitation and post-disaster reconstruction of Merapi Volcano eruption in the Special Region of Yogyakarta and Central Java province is intended to rebuild the affected communities, jobs and stimulate the local economy; by integrating disaster preparedness and mitigation in the recovery process and disaster risk reduction within the framework regional development policy over the medium and long term. Besides, also in accordance with Hyogo Framework for Action from 2005 to 2015 which includes rehabilitation and reconstruction process as a strategic opportunity for disaster risk reduction and building back better, and paying attention to the objective of Millennium Development Goals ( MDGs). As emergency phase was ended in January 2011 towards rehabilitation and reconstruction, then the implementation of post-disaster recovery, with early recovery that comes from the social fund which granted by NADM-BNPB in 2010, which amounting to IDR. 36 Billion is begin.


In the efforts of the economic recovery in the societies which affected by disasters in the region quick-term or short-term, then economic development will be done through a Cash for Work (CFW) where can provide employment for the people quickly at once, in order to provide a stimulus for the local economy and provide some economic opportunities by providing productive decision-making at the community level and the individual level. In order to be precise, then, the implementation of Cash for Work (CFW) are need to be equipped with: (1). Monitoring mechanism to keep the clear productivity targets of labor and employment, (2) The determination of salary rates, so that the right program will not become a disincentive for people who already work, or the invasion of workers from non-disaster areas into the Cash for Work (CFW) program. In this case, the Cash for Work (CFW) salary should be set below local salary rate, (3). Criteria of activities which aimed to building social infrastructure or to sharpen community’s skills in the long-term that can increase the revenues and improve income distribution, and increase labor market flexibility. For example, the construction of public infrastructure and economic sectors that would giving any advantages in the long-term.

To evaluate the rehabilitation and recoinstuction program, there are 5 indicators that will be needed: (a). Consistency of recovery strategy, priority activity, and funding with rehabilitation and reconstruction action plan; (b) Coordination between Central and local government, and society, which resulted in synchronization of planning and budgeting; (b) Participation via consultation mechanism which filtering the society’s, who get benefit, aspiration; (c) Institution capacity of rehabilitation and reconstruction executive in planning and implementing the rehabilitation program via financial and work report; and government and society’s capacity in disaster management; (e) Sustainable potency in long-term/medium term framework.

7.CLOSING.

Action Plan forPost-Disaster RehabilitationandReconstructionof Merapi Volcano eruptionin YogyakartaandCentralJavaProvincein2011 – 2013has been agreedjointly by theMinistries /Institutions thatare involvedthrough aseries ofconsultationanddiscussionprocessthatwill becomeguidelinein the implementation ofthe rehabilitationandreconstructionin a determinedperiod.


Practically,rehabilitationandreconstructionplan ofaction can bedeterminedthrough BNPB orotherregulationsas needed. Furthermore, whennecessary, and supportedby datawhichhas beenverifiedby theGovernment ofKlaten,Boyolali, Magelangregencyof Central Java province, and Sleman regency and Special region ofYogyakartaandimplementation plan activities were obtaining the consent from the head of NADM-BNPB, theAction Plan forPost-Disaster RehabilitationandReconstruction of Merapi Volcano eruption in Central Java ProvinceandSleman regency and special region of Yogyakarta, amendmentmay be revisedas thePlan of Action forPost-Disaster RehabilitationandReconstruction oferuptionof Merapiin Central Java Province, which later to be determinedby the Head of NADM-BNPB inSpecial region of Yogyakarta.

Durationof the ActionPlan for post-disaster rehabilitationand reconstruction of Mt.Merapi eruptionis the3 fiscal years,whichbegin from fiscal year 2011andcompleted infiscal year2013.Nevertheless, most of theimplementation ofrehabilitationandreconstructionactivitiesare implementedduringfiscal year2011 andfiscal year2012,with housingrelocation, restoration ofelectricityinfrastructure, energyandtelecommunications, the recovery of productivesocialandeconomicrecovery as the main priorities. Restoration ofland transportinfrastructureandwater resourcescan be finishtofiscal year2013,including some aspects ofdisasterriskreduction.

Extended Abstract, based on Draf of Post-Disaster RehabilitationandReconstruction Plan ofMerapi Volcano Eruption in Central Javaand Yogyakarta2011 – 2013, National Agency for Disaster Management. Paper for International  Workshop for  “Enhancing Safety and Security: Reducing Vulnerabilities and Building Resilience to Natural Hazards” on Sept. 7 – 9 , 2011 in Jeju, Republic of Korea.

Posted by Paripurno in 01:24:43 | Permalink | No Comments »

Tuesday, May 1, 2012

GENESIS GUMUK-GUMUK GUNUNGAPI (HILLOCKS) DI LERENG BARAT G. RAUNG, JAWA TIMUR, INDONESIA

Oleh Eko Teguh Paripurno

Extended Abstract

Indonesia merupakan negara kepulauan busur gunungapi terpanjang di dunia. Terdapat sedikitnya 129 gunungapi aktif, yang merupakan 17% gunungapi dunia berjajar di busur ini. Gunungapi tersebut tersebar di Sumatra 30, Jawa 35 , Bali & Nusatenggara 30, Maluku 16 dan Sulawesi 18. Luas kawasan rawan bencana mendekati 20.000 km2, dengan penduduk di kawasan rawan bencana mendekati 10 juta orang.

G. Raung dengan ketinggian 3332 dml, seperti sebagian besar gunungapi-gunungapi di Indonesia lainya merupakan gunungapi strato dengan disertai kaldera (1) yang pernah mengalami erupsi ganda. Sejarah perkembangan erupsinya disominasi oleh erupsi Tipe Volkano yang diselingi dengan aliran lava. Tipe Vulkano merupakan erupsi eksplosif magmatis berkomposisi andesit basaltic sampai dasit, umumnya melontarkan bom-bom vulkanik atau bongkahan di sekitar kawah dan sering disertai bom kerak-roti atau permukaannya retak-retak. Material yang dierupsikan tidak melulu berasal dari magma tetapi bercampur dengan batuan samping berupa litik. Oleh karenanya tubuh gunungapi tersusun atas lava dan tephra yang terdiri dari breksi, lapili dan abu vulkanik. (2)

Berdasarkan data geologi bahwa pusat letusan G. Raung mempunyai sumber erupsi terpusat (3), yang berpindah-pindah selama pra sejarah berpindah-pindah, masing-masing berurutan dari G. Wates, G. Pajuaran, G. Pajungan dan G. Raung. Pada saat kegiatan G. Pajungan pernah terjadi suatu letusan dahsyat disertai dengan longsoran besar melanda di bagian lereng barat G. Raung, yaitu berasal dari G. Panjungan (Sutawidjaja dkk., 1987). Longsoran gunungapi ini membentuk morfologi perbukitan, hillocks (4), di sekitar gunungapi.

Ketidaksembangan sektoral pada tubuh gunungapi dapat menyebabkan terjadinya longsoran dan lahar (5). Longsoran skala besar tercatat pernah terjadi di sekitar G. Galunggung, Tasikmalaya Jawa Barat dan di sekitar G. Raung, Jember, Jawa Timur. Sumber longsoran di sekitar G. Raung berasal dari kecamatan Sumberjambe dan Ledokombo akibat erupsi G. Panjungan. Endapan-endapan proksimal terdapat di kecamatan-kecamatan Sumberjambe, Ledokombo, Sukowono dan Kalisat. Endapan-endapan medial terdapat di kecamatan-kecamatan Sumbersari dan Pakusari. Endapan-endapan distal dijumpai di Kaliwates, Rambipuji, Jenggawah, Balung, Umbulsari, Puger dan Kencong. Total volume dari sekitar 2200 gumuk yang berada di sekitar G. Raung diperkirakan mencapai 120 juta meter kubik.

Gumuk-gumuk tersebut merupakan sisa aliran debris flow yang mengalir turbulen dan diendapkan secara en masse freezing di bagian hulu dan menerus sampai hyperconcetrated-flow dan dilute stream-flow. Endapan debris-flow didominasi komponen berukuran kerakal sampai bongkah dengan komponen raksasa yang selalu hadir. Endapan hyperconcetrated-flow didominasi butiran berukuran kerikil, sedang bongkah dan kerakal hanya sebagai komponen mengambang. Ukuran komponen kerakal sampai bongkah untuk jenis debris-flow atau kerikil untuk jenis mud-flow. Komponen endapan penyusun berasal dari tubuh gunungapi hasil beranekaragam erupsi berupa rempah lava dan breksi vulkanik dengan bentuk komponen membulat tanggung sampai menyudut.

Debris-flow merupakan fluida plastis yang mengikuti kaidah Bingham Plastic, yaitu diasumsikan sebagai aliran massa rigid dan tidak mengikuti kaidah Newton. Mekanisme pendukung butirannya disebabkan oleh adanya daya dukung matrik yang bekerja padanya. Keduanya umumnya bersifat kohesif karena adanya matriks yang mengandung lumpur lebih dari 20%. Partikel-partikel lumpur tersebut merupakan suspensi penyangga komponen ketika massa bergerak. Karena sifatnya yang kohesif maka padanya terjadi proses en masse freezing. Pendekatan karakteristik aliran menggunakan model Bingham dengan persamaan g τ = S + μ du/dt; dengan τ = resistensi, S= shear strength dan μ = kekentalan

Wedomartani, 20120502

Bahan Diskusi pada Seminar Mahasiswa Pencinta Alam MAPENSA Fakultas Pertanian Universitas Negeri Jember, 12/05/2012

(1) Kaldera, merupakan depresi topografi yang besar, berbentuk bundar atau oval. Ukuran kaldera memang lebih besar dari kawah, meskipun tidak ada batasan ukuran yang membedakannya hingga mempunyai ukuran berupa kawah dapat disebut kaldera. Bentuk morfologi gunungapi lain berupa kerucut, kubah, maar, dan kawah. Kerucut, merupakan bentukan yang umum dijumpai pada gunungapi piroklastik dan berlapis. Bentukan kerucut yang dibangun oleh bahan lepas gunungapi dapat berupa kerucut batuapung yang tersusun oleh batuapung, kerucut scoria yang tersusun oleh scorea dan kerucut sinder yang merupakan kumpulan sinder dan bahan skoreaan. Kubah, biasanya dijumpai pada tipe gunungapi lava (shield volcano). Kubah lava merupakan bentukan dari lelehan lava kental yang keluar melalui celah dan dibatasi oleh sisi curam disekelilingnya. Maar, umumnya dijumpai pada tipe gunungapi gas atau peroklastik.Kawah, merupakan bentuk negative yang terjadi karena kegiatan gunungapi. Berdasarkan genetiknya dibedakan kawah letusan dan kawah runtuhan. Sedangkan berdasarkan letaknya terhadap pusat kegiatan dikelompokkan kawah kepundan dan kawah samping (kawah parasiter).

(2) Berdasarkan tinggi rendahnya derajat fragmentasi dan luasnya, juga kuat lemahnya letusan serta tinggi tiang asap, gunungapi dibagi menjadi beberapa tipe erupsi, yaitu: Islandia, Hawai, Stromboli, Vulkano, Plini, Sub-Plini, Ultra-Plini, Sursetyan dan Freato-Plini. Tipe Islandia merupakan erupsi efusif berupa aliran magma basalt yang menerus. Tipe Hawai merupakan erupsi efusif dari magma basaltic atau mendekati basalt, umumnya berupa semburan lava pijar, dan sering diikuti leleran lava secara simultan, terjadi pada celah atau kepundan sederhana. Tipe Stromboli serupa dengan Tipe Hawai, berupa semburan lava pijar dari magma yang dangkal, dengan bentuk semburan lebih kuat menyerupai kembangapi. Tipe Plini merupakan erupsi yang sangat ekslposif dari magma berviskositas tinggi atau magma asam, komposisi magma bersifat andesitik sampai riolitik. Material yang dierupsikan berupa batuapung dalam jumlah besar. Tipe Sub-Plini merupakan erupsi eksplosif dari magma asam/riolitik dari gunungapi strato, tahap erupsi efusifnya menghasilkan kubah lava riolitik. Erupsi Sub-Plini dapat menghasilkan pembentukan ignimbrit; Tipe Ultra-Plini, erupsi sangat eksplosif menghasilkan endapan batuapung lebih banyak dan luas dari Plini biasa; Tipe Surtseyan dan Tipe Freato-plini, kedua tipe tersebut merupakan erupsi yang terjadi pada pulau gunungapi, gunungapi bawah laut atau gunungapi yang berdanau kawah. Surtseyan merupakan erupsi interaksi antara magma basaltic dengan air permukaan atau bawah permukaan, letusannya disebut freatomagmatik. Freatoplinian kejadiannya sama dengan Surtseyan, dengan magma yang berinteraksi dengan air berkomposisi riolitik.

(3) Gunungapi diklasifikasikan ke dalam beberapa sumber erupsi, yaitu erupsi terpusat, erusi samping, erupsi celah dan erupsi eksentrik. Erupsi pusat adalah proses erupsi yang keluar melalui kawah utama. Erupsi samping merupakan proses erupsi yang keluar dari lereng tubuh gunungapi. Erupsi celah merupakan erupsi yang muncul pada retakan/sesar dengan bentuk memanjang sampai beberapa kilometer. Erupsi eksentrik merupakan erupsi samping yang tidak melalui kepundan pusat yang mengalami penyimpangan ke samping, melainkan langsung dari dapur magma melalui kepundan tersendiri.

(4) Hillocks merupakan bukit – bukit kecil di sekitar kaki gunungapi, dari hasil endapan lahar atau letusan gunungapi. Morfologi disekitar gunungapi lainnya berupa kerucut parasiter dan antiklinorium. Kerucut parasiter adalah bentukan kerucut pada kaki gunungapi utama, terbentuk akibat magma yang terjadi berhubungan langsung dengan kegiatan gunungapi. Antiklinorium Gunungapi merupakan rangkaian perbukitan antiklinorium yang dijumpai pada kaki gunungapi. Terbentuk oleh gaya kompresi lateral karean runtuhnya kerucut gunungapi.

(5) Sebagian besar kehadiran longsoran longsoran maupun lahar dipicu oleh air hujan sehingga dikenal sebagai lahar hujan. Bentuk lain dikenal sebagai lahar letusan, yang dipicu oleh erupsi gunungapi yang memiliki tubuh air dalam danau kawah atau tubuh es di puncaknya. Lahar yang terbentuk di sekitar G. Merapi adalah contoh lahar hujan, sedang yang terbentuk di sekitar G. Kelut adalah contoh lahar letusan

Posted by Paripurno in 18:44:26 | Permalink | No Comments »

Wednesday, December 14, 2011

PERAN ORNOP DALAM PEMULIHAN BENCANA MERAPI

Bencana cenderung terjadi pada komunitas yang rentan, dan akan membuat komunitas semakin rentan. Berkenaan dengan hal tersebut, Undang-undang Penanggulangan Bencana Nomor 24 Tahun 2007 memandatkan perlunya upaya pemulihan setelah terjadi bencana sampai pada kondisi masyarakat yang lebih baik. Pemulihan dimaknai sebagai serangkaian kegiatan yang sistematis untuk mengembalikan kondisi masyarakat dan lingkungan hidup yang terkena bencana dengan memfungsikan kembali kelembagaan, prasarana, dan sarana dengan melakukan upaya rehabilitasi dan rekontruksi. Rehabilitasi adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah pascabencana dengan sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat pada wilayah pascabencana. Rekonstruksi adalah pembangunan kembali semua prasarana dan sarana, kelembagaan pada wilayah pascabencana, baik pada tingkat pemerintahan maupun masyarakat dengan sasaran utama tumbuh dan berkembangnya kegiatan perekonomian, sosial dan budaya, tegaknya hukum dan ketertiban, dan bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat pada wilayah pascabencana.

Kondisi masyarakat” yang dimaksud dalam undang-undang tersebut adalah aset penghidupan yang melekat pada setiap individu, keluarga, kelompok atau unit sosial yang lebih tinggi. Menurut konsep penghidupan berkelanjutan ada enam aset penghidupan yang melekat di masyarakat di dalam upayanya mengembangkan kehidupannya yaitu: (1) aset manusia, (2) aset fisik / infrastruktur, (3) aset ekonomi / finansial, (4) aset sosial, (5) alam / lingkungan, dan (6) aset politik. Sumberdaya manusia merupakan kemampuan dasar yang dimiliki setiap manusia, seperti kesehatan, kepandaian, keterampilan. Aset sosial merupakan kekayaan sosial yang dimiliki komunitas, misalnya jaringan dan keterikatan hubungan berdasarkan ketertarikan, kebutuhan, kesenangan kepercayaan. Aset sumberdaya alam merupakan kemampuan alamiah dalam melayani / mencukupi kebutuhan kehidupan seperti seperti tanah, air, kualitas udara. Aset fisik merupakan sumberdaya produktif buatan yang dimiliki oleh individu, komunitas maupun pemerintah seperti peralatan, infrastruktur, lahan, seperti transportasi, bangunan tempat tinggal yang aman, sanitasi dan persediaan air yang memadai. Aset finansial, adalah sumber-sumber ekonomi yang digunakan oleh komunitas untuk mencapai tujuan-tujuan kehidupannya, seperti persediaan maupun tabungan uang dan barang.

Proses pemulihan bila dilihat dengan perpektif pengembangan aset dapat dilakukan dalam bentuk usaha-usaha mendorong proses pemulihan (1) penguasaan aset, (2) penganekaragaman aset, maupun (3) kemampuan transformasi nilai aset. Penguasaan aset merupakan kemampuan masyarakat dalam mengakses maupun mengontrol sumberdaya yang diperlukan untuk mengembangkan kehidupannya. Penganekaragaman aset merupakan kemampuan masyarakat dalam melipatgandakan / memperbanyak jenis aset yang dapat diakses dan dikontrol. Transformasi nilai aset merupakan kemampuan masyarakat dalam meningkatkan nilai aset melalui proses pertukaran aset yang berada dalam ruang akses dan kontrolnya.

Penguatan penguasaan dan penganekaragaman aset ekonomi masyarakat merupakan pilihan favorit Organisasi Masyarakat Sipil (OMS). Sebagian besar OMS melakukan pemulihan penguasaan aset ekonomi secara langsung dilakukan dengan memberikan bantuan berbagai bahan dan alat yang dapat digunakan untuk meningkatkan aset ekonomi, misalnya bantuan berbagai jenis alat produksi seperti bibit cepat panen, ternak, modal dagang, pupuk organik, mesin produksi makanan. Pilihan ini biasanya didukung dengan “sedikit” usaha-usaha pemulihan penguasaan dan penganekaragaman aset fisik / infrastruktur yang juga akan berdampak pada pulihnya aset lain, terutama ekonomi; misalnya perbaikan sarana pertanian, perbaikan sarana air bersih, perbaikan saluran irigasi.

Mendorong proses pemulihan melalui usaha meningkatkan kemampuan sumberdaya manusia merupakan pilihan OMS lainnya. Usaha ini merupakan penguatan transformasi yang akan mengarah pada penguatan penguasaan aset ekonomi. Hal ini dapat kita lihat pada pilihan pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan OMS berupa pelatihan pertanian jamur kuping, perikanan, produksi pakan konsentrat, membuat pakan ternak alternative, pembenihan dan pembuatan pupuk organik, pemasaran produk makanan, pembuatan pupuk organik. Kegiatan-kegiatan ini bukan barang baru bagi komunitas Merapi. Pilihan OMS dalam mendorong pemulihan penganekaragaman aset secara tidak langsung dilakukan melalui pelatihan-pelatihan pembuatan souvenir dari pasir, produksi makanan basah, produksi makanan ringan. Kegiatan-kegiatan ini merupakan hal baru bagi komunitas Merapi yang selama ini sebagai petani dan peternak.

Peran pada penguatan penguasaan, penganekaragaman, transformasi dan mobilisasi aset fisik / infrastruktur rupanya bukan pilihan menarik bagi OMS. Peran pada pemulihan aset fisik / infrastruktur nampaknya sudah dipasrahkan ke pemerintah dan lembaga bantuan dan hutang antar negara. Sedikit OMS yang melakukan upaya pemulihan penguasaan dan penganekaragaman aset sosial. OMS “berwarna” keagamaan mengisi ruang penguasaan aset sosial keagamaan; yang berwarna pendidikan. Sedikit OMS yang mengambil peran penguatan aset politik. Dinamika advokasi berkenaan dengan upaya pemulihan yang baik jarang kita dengar. Aset alam dan lingkungan nampaknya yang paling merana karena hanya sangat sedikit OMS yang mengawal proses ini. Sebagian hanya menyinggung lewat kegiatan-kegiatan pendek yang cenderung “setor lantas ngeloyor”. Misalnya, penanaman pohon. Belum melalui proses pemberdayaan yang sistematis. Pada ruang-ruang peran yang relatif kosong tersebut seharusnya kita mengisi. Kita perlu melakukan usaha-usaha penguatan penguasaan dan penganeka-ragaman aset, tetapi juga tidak melupakan upaya transformasi dan mobilisasi aset.

Pada akhirnya, rasanya kita perlu menegaskan ulang mandat kita semua untuk melakukan pemulihan yang lebih baik. Masalah sekaligus kerentanan besar kita di Indonesia saat ini adalah Korupsi. Karenanya kita semua perlu menjaga agar proses pemulihan yang sedang berjalan ini benar-benar sebagai sebuah Community Based Disaster Recovery (CBDR) yang sesungguhnya, bukan menjadi Corruption Based Disaster Recovery. Atau memang kita perlu menjadi “anjing pelacak” atas diri kita sendiri untuk memastikan pemulihan ini berjalan lebih baik?

Wedomartani – Sleman, 27 Oktober 2011

Posted by Paripurno in 19:59:43 | Permalink | Comments Off

Wednesday, February 2, 2011

PEMBELAJARAN PELEMBAGAAN DAN GERAKAN PRBBK

Narasumber: Eko Teguh Paripurno
Tanggal: 14 Januari 2011
Pewawancara: Sofyan dan Ina Nisrina

Pengantar wawancara dengan penjelaskan tentang agenda dan tujuan dari wawancara.

Sofyan (S) : Bagaimana dan apa yang melatarbelakangi ide symposium pertama tentang PRB BK, hingga kemudian bergulir menjadi agenda tahunan?

Eko Teguh Paripurno (ET) : Symposium pertama diadakan di Jogjakarta tahun 2004. Isu yang dibawa tentang Penanggulangan Bencana Berbasis Komunitas. Belum ada istilah risiko. Saat itu, MPBI bisa dikatakan, (dalam tanda petik), “belum punya komunitas”. Dari sekian banyak orang di MPBI harus ber-PRBBBK – harus berkomunitas di satu sisi.
Ide symposium ini juga untuk melihat, benar apa tidak yang namanya manajemen bencana berbasis komunitas itu ada atau tidak?, benarkah bisa mengelola bencana?, atau bagaimana bentuk pengelolaannya?. Jadi ya semacam tantangan. Sebelumnya juga ada diskusi-diskusi dan sering dilakukan di Jogjakarta. Kaitan dengan dinamika, model-model dan ide-ide penanggulangan bencana itu juga ada di Jogja. Yang paling pokok adalah, muncul kesadaran bahwa (penanggulangan bencana) ini harus di level komunitaskan. Maka saat itu diadakan di Jogja, plus juga sekaligus bermain ke komunitas. Maka diajaklah berbicara dengan komunitas. Bayangkan saja, ada puluhan orang ke komunitas (Merapi) datang untuk ngobrol dengan komunitas. (Komunitas Merapi – PASAG) tidak diundang khusus untuk kegiatan tersebut. Tapi seperti biasa, kegiatan di sesuaikan dengan pertemuan PASAG (Merapi) di sana.
Kegiatan ini juga sekaligus untuk menguji, apakah yang disebut berbasis komunitas itu ada dan efektif. Dan PRB BK yang dilakukan pada saat itu lebih pada community organizer. Pada saat itu pertanyaan yang mucul adalah apakah para pihak itu melakukan penanggulangan bencana dan komunitas itu dilibatkan, belum sampai pada harus seperti apa (pra syarat).

S; Kita belum bisa mendeteksi, dari mana support dalam pelaksanaan PRB BK pertama?

ET; Orang datang sendiri dan bayar sendiri. Ada dukungan, tapi tidak banyak, kalau tidak salah, hanya untuk ruang pembuatan Kaos. Dengan demikian, onkos transport antar kota dan wilayah (bahkan pulau) mereka bayar sendiri Tidak seperti yang sekarang yang ditanggung semuanya. Saya ingat persis, ketika ada peserta dari LSM dari Kupang yang meminta reimburse tapi memang tidak kita sediakan. Akhirnya kami “bantingan” untuk memulangkan anak tersebut. Tapi bagi yang lain, sudah paham dan bahkan pesertanya mencapai sekitar 60 orang. (angka pasti jumlah peserta akan di check di proceding Symposium PRB BK I)
Justru saya kagum, bisa begitu banyak yang datang. Padahal isu manajemen bencana masih belum populer saat itu. Selain perkawanan, pengikatnya juga karena semua orang mempresentasikan programnya. Jadi seperti mengabsen program-program berbasis komunitas. Saat itu masih bisa dikatakan gerakan. Setelah kejadian Aceh, isu tentang bencana menjadi populer serta dana begitu banyak untuk project bencana, orang tidak lagi berpikir itu sebagai sebuah gerakan.

S; PRBBK sudah bergulir menjadi agenda tahunan, namun, setelah PRBBK pertama tahun 2004, PRBBK kedua baru kemudian diadakan pada tahun 2006, apakah alasannya karena kesibukan dalam menangani Aceh, sehingga tidak bisa diselenggrakan tahun 2005?

ET; Seingat saya, tahun 2004 PRB BK belum diagendakan penting untuk diadakan setiap tahun. Kemudian juga karena sibuk, karena memang kita sangat MPBI; orang-orang seperti Pak Sugeng, Mas Puji, ingin tahu, bagaimana sebenarnya (pengelolaan) bencana di Indonesia, dan bagaimana penanggulangan berbasis komunitas itu. Dan juga ada tantangan harus membuat “Disaster management position paper” kaitannya dengan Penanggulangan bencana berbasis masyarakat. Sehingga memang pikirannya terganggu.
Memang, kita disibukkan dengan kasus Aceh – Nias. Apa lagi MPBI punya target Aceh bangkit kembali, sehingga itu (Symposium) menjadi tidak terpikir. Baru kemudian pasca Tsunami Aceh, banyak teman-teman Aceh yang juga berkumpul dan menginginkan itu, seperti PMI, IFRC dll. Maka kemudian diadakan lagi pada tahun 2006 itu di Jakarta.

S; Pada saat itu juga bertepatan dengan pembahasan RUU PB bukan?

ET; Iya, pada tahun 2006 itu memang sedang dibahas RUU PB tersebut. Selain itu juga, saat itu banyak lembaga-lembaga punya program-program PRB BK. Mungkin tahun 2006, peserta PRB BK paling banyak. Yang menjadi pembahasan saat itu juga terkait dengan lembaga-lembaga yang datang. Menjadi pertanyaan, apakah program dua bulan tentang penanggulangan bencana berbasis masyarakat itu dapat disebut dengan PRB BK?
Cita-cita dari penyelenggaraan symposium tahun 2006 itu adalah untuk membuat kejelasan mana yang disebut PRB BK dan mana yang bukan. Walaupun itu tidak pernah bisa.
Maka kembali ke diskusi lama lagi, bahwa yang ada unsure “Community-based” masih harus diperjelas lagi. Untuk siapa bekerja, dengan siapa, oleh siapa dan lain-lain. Saat itu memang, pikiran orang dalam (penanggulangan) bencana seperti itu.
Munculnya program-program “oleh masyarkat” dalam pengelolaan bencana atau pengurangan risiko bencana merupakan turunan dari konsep-konsep partisipasi, konsep-konsep kerja sama; jika ditarik ke belakang, itu merupakan turunan dari program-program pemberdayaan masyarakat yang telah berkembang sebelumnya. Untuk itu, barangkali perlu memutuskan; “harus oleh siapa dan dengan siapa, baru dianggap PRBBK itu tidak”.

S; Apakah rekomendasi Living Guide yang muncul di PRBBK VI di Bali sudah menjadi rekomendasi dari awal symposium?

ET; pemaknaan atas Living guide itu sebeanrnya juga berubah-ubah. Pada dasarnya (dalam buku living guide) ingin mencari kegiatan-kegiatan di masyarakat yang dilakukan oleh para pihak. Praktek-praktek yang ada tersebut (dirangkum dan didokumentasikan) menjadi living guide book. Tapi ternyata sulit. Tidak cukup banyak teman-teman yang menjalankan (PRB BK) secara konsisten dan utuh sebagai bagian dari hal yang diidam-idamkan. Ada juga yang salah; mengatakan ini sebagai PRB BK, tapi sebenarnya bukan.
Maka diputuskan, untuk selanjutnya tidak sebagi jati diri, tetapi sebagai proses yang akan dimasukan dalam living guide book. Hal yang menarik; perubahan tersebut targetnya harus ada. Maka kawan-kawan meneliti dan menuliskannya dari berbagai FGD dan diskusi. Hasil jadinya adalah seperti buku yang di (launching) Bali.
Mungkin itu bukan cita-cita ideal sebuah living guide book. Karena maunya bekembang dari waktu ke waktu (dokumen hidup). Dari diskusi awal, hasil ini akan di coba di praktekan di lapangan, selanjutnya dikaji kembali, di bawa ke ranah teoritik dan kembali di bawa atau dipraktekan di lapangan. Demikian seterusnya dan menjadi sebuah daur.

S; Orang sangat antusias di Makasar, karena dari sisi out put sangat kelihatan pencapainnya. Tapi banyak pendapat dari peserta yang mengikuti proses Konferensi Nasional secara serial merasa Konferensi Nasional di Jakarta seperti tidak ada sambungan dengan yang di Makasar. Apakah karena ini berkaitan dengan isu yang diangkat lebih tegas. Misalnya PRB BK di perkotaan.

ET; Menurut saya, sebenarnya itu telah dibicarakan dengan inten. Tapi mungkin karena dari (sebagian) peserta sendiri tidak melakukan praktek-praktek itu, begitu juga kita. Ketika diminta; mana praktek baiknya, juga tidak muncul. Pertanyaannya, apakah karena waktunya terlalu pendek, ataukah karena gerakan ini memang belum terbentuk? Ditambah lagi karena isunya menyimpang jauh.
Jujur, itu karena pelembagaan kegiatan PRB BK belum dilakukan. Sebenarnya, kalau mau kasar, (dalam menjalankan PRB BK) kita hanya menjalankan sebagai EO (even organizer) saja. Akan lebih indah, kalau kita tidak hanya sebagai EO. Tapi mengingatkan, mengajak pihak-pihak terkait untuk menindaklanjuti hasil-hasil yang lalu. Idealnya, cita-citanya itu dibicarakan, tidak hanya sebelum tapi juga sesudah. Tapi yang menarik kalau saya yang kebetulan ngajak, “Oh ayo itu dilakukan…” Namun sulit juga dilakukan karena beberapa hal;
Pertama, sulit dilakukan karena target itu sudah sudah dilakukan, jadi teman-teman aktivis tidak mungkin mengulang itu lagi.
Kedua, karena isunya berubah di tingkat komunitas, atau donornya berhenti. Jadi tidak mudah melakukan sesuatu yang tidak mengikat. Kecuali setelah itu ada donor lagi.
Bagi saya, kalau menarik pembelajarannya dari pengalaman yang ada; Mari tidak terlalu cepat. Tidak mengabaikan isu-isu yang ke belakang, tapi bagaimana bisa dibagi, paling tidak ada sepetiga maju ke depan, sepertiga isu baru, sepertiga isu ke belakang.

S; Bagaimana kita mengintegrasikan antara PRB BK, baik kaitannya sebagai gerakan atau pelembagaan. Ambil salah satu contoh adalah program Kampung Siaga Bencana Kemensos. Atau kementrian lain yang secara implicit atau explicit mempunyai program pengurangan risiko bencana. seperti kementrian kelautan dengan program mina bahari. Atau kementrian dalam negari atau lainnya.
Hal yang lain, bisa jadi PRB BK ke tujuh bekerjasama dengan pemerintah dan menggunakan anggaran Negara.

ET; Pada dasarnya saya sepakat saja. Tapi kalau Kampung Siaga Bencana dibawa ke ranah Konferensi, jangan sampai menjadi trade mark Kampung Siaga Bencana, ada label © (copy right). Tapi harus benar-benar menjadi Kampung yang benar-benar siaga, dimaknai sebagai status yang terbuka. TAGANA juga, jangan sampai TAGANA©. Kalau bisa, mereka harus melepaskan atribut-atribut itu. Prinsipnya, kalau memang mau, ya ayo. Oleh masyarakat disini harus benar-benar dilakukan oleh masyarakat.
Disini, siapapun bisa berperan, tapi tanpa ada © nya. Karena itu akan memudahkan untuk overlay. Kalau dibilang itu beda, ya gampang mencari bedanya. Demikian juga kalau dibilang sama, akan mudah mencari persamaanya. Jadi kalau diibaratkan, seperti obat generic. Merk bisa macam-macam, tapi isinya sama. Harapannya memang sebaiknya ada pelibatan pihak lain, sehingga itu bisa lebih bermakna.
Maka, saya sampaikan, kawan-kawan MPBI jika mengorganisasikan komponen-komponen PRB BK, masing-masing harus ada nilai umumnya, tapi juga melihat siapa yang membawa mandate itu. Dengan begitu, mungkin ada lembaga-lembaga yang melakukan hal itu juga, ya silahkan saja. Tapi hati-hati, jangan sampai PRB BK ini nanti menjadi bisnis PRB BK.
Membangun gerakan harus ada kesamaan cita-cita, kesamaan cara pandang. Sehingga mereka mau mengalokasikan internal resourcenya. Walaupun yang sering jadi maslaah juga, karena internal resources tidak paham, akhirnya eksternal resources yang mendorong itu melakukannya atas dasar kebutuhan actor eksternal tersebut.
Sistem gerakan harus bekerja kuat. Kalau masuknya PRB BK – keluarnya juga PRBBK. Bukan PRB BK yang sudah terkontaminasi. Kalau ada input 10, out put 2, risidu 8, maka itu artinya ada masalah. Perlu upaya lain untuk meminalisasi residu. Jika dalam bahasa fisika, ada katalis. Nah fungsi katalis adalah meruduksi keluaran berupa residu. Artinya, jika input 10, output 7, dan residu menjadi 3 atau bahkan residu 0 (semua menjadi output). Dan ketika itu adalah managemen sistem, ayo persyaratan sistem-sistem itu dijalankan.
Ketika BNPB keluar dengan pedomannya, maka aturan itu harus mendeskripsikan bagaimana hal-hal input dijalankan dengan baik, sehingga outputnya akan baik juga. Jangan sampai tidak match. Kalau beda antara konteks dan panduan, maka itu tidak bisa.

S; Kebijakan itu lebih banyak mengatur selain pemerintah. Misalnya untuk peran serta masyarakat, maka aturan itu lebih banyak untuk komunitas. Sangat sedikit mengatur tentang kewajiban pemerintah sendiri. Dan bisa jadi, justru kebijakan yang niatnya mengakomodir peran serta masyarakat justru mengekang perjalanan PRB BK itu sendiri?

ET; Yang saya tekankan, jangan sampai target untuk menghasilkan sesuatu yang baik justru terhambat. Prinsipnya, Jangan buru-buru.
Kaitannya dengan pelembagaan, kalau itu menjadi peraturan pemerintah (PP), peraturan tersebut harus memperkuat upaya-upaya atau mendukung PRB BK. Peraturan tidak saja akan mengikat pemerintah, tapi juga akan mengikat orang lain. hal yang menjadi catatan adalah dan penting; bagaimana peraturan tersebut mendukung PRB BK.

S; Jika menarik benang merahnya, ini sepertinya akan mengarahkan pada peraturan pemerintah tentang peran serta masyarakat, bagaimana menurut Mas?

ET; Maka itu butuh penjabaran. Poin pentingnya, harus ada alasan logis, kenapa PRB BK itu penting, dan keberadaan PP harus mendorong PRB BK menjadi lebih baik. Bahasa lainnya, perangkat-perangkat kebijakan akan membantu pencapaian dari tujuan PRB BK. Bukan sebaliknya, harus ada PP untuk menjadikan / agar PRB BK lebih baik. Karena jika itu yang terjadi, maka tujuan pelembagaan PRB BK tidak akan berhasil.

S E K I A N

Posted by Paripurno in 00:39:10 | Permalink | Comments Off

MENCUKUPI KEBUTUHAN REHABILITASI MELALUI REFORMASI KEBIJAKAN HAK ATAS PASIR

Oleh: Eko Teguh Paripurno

Erupsi G. Merapi kali ini telah mengakibatkan hilangnya nyawa dan harta benda bagi warga di kawasan rawan bencana. Sampai saat ini tercatat 265 orang meninggal dunia, 507 orang menderita luka-luka sehingga memerlukan rawat inap, dan 318.588 orang mengungsi. Para pengungsi tersebar di 772 titik pengungsian, di 13 kabupaten di sekitar G. Merapi. Saat ini penanganan darurat terhadap para pengungsi dan warga yang menderita luka sedang dilakukan.

Saat ini serangkaian pengkajian dan penilaian kerusakan dan kebutuhan dilakukan oleh banyak pihak. Masing-masing pihak cenderung mengusung metoda yang dianggap paling tepat. Ada Disaster Lost Assessment (DaLA), Post Disaster Need Assessment (PDNA), maupun Human Recovery Need Assessment (HRNA). Maksudnya jelas, menemukan angka pasti kerusakan dan kebutuhan akibat bencana. Tentu pertanyaan selalu masih ada. Seberapa jauh para pihak tersebut menempatkan komunitas sebagai subyek? Akan menjadi masalah baru bila ternyata penilaian kerusakan dan kebutuhan tersebut dipenuhi oleh “keinginan” para pihak eksternal, dibanding kebutuhan komunitas sendiri.

Pasca hiruk pikuk penanganan darurat akan dilakukan upaya pemulihan awal. Beberapa program konon telah diagendakan pemerintah dan para pemangku kepentingan lainya; antara lain pembangunan hunian sementara, pemenuhan hidup untuk masa transisi ke rehabilitasi dan rekontruksi, serta pengembalian kondisi sosial ekonomi masyarakat yang menjadi miskin akibat bencana. Hunian sementara diperuntukkan bagi 2350 kepala keluarga yang tidak memiliki tempat tinggal karena awan panas yang melanda KRB 3 dan KRB 2. Diharapkan hunian sementara ini dapat dibangun dengan dana 6,5 juta rupiah / rumah, dengan mekanisme cash for work dengan bentuk bangunan sesuai keinginan pemiliknya. Dipersiapkan pula dukungan (stimulus) untuk relokasi dan perbaikan pembangunan rumah sampai 15 juta rupiah / rumah. Pemenuhan jaminan hidup sesuai stadar Kemsos sebesar 5000 rupiah / orang / hari direncanakan untuk 2350 keluarga yang kehilangan rumah. Perbaikan ekonomi masyarakat diupayakan melalui penciptaan lapangan kerja bagi eks pengungsi melalui cash for work maupun pendanaan untuk usaha mandiri. Untuk yang terakhir ini pola-pola yang sudah ada seperti KUR, PNPM nampaknya akan digunakan.

Program tersebut diatas kertas setidaknya akan memerlukan 54,76 milyar rupiah yang terdiri dari 15,28 milyar rupiah untuk hunian sementara, 4,23 milyar untuk jaminan hidup, 35,25 milyar rupiah untuk perbaikan dan pembuatan rumah. Jumlah tersebut belum yang akan digunakan untuk memperbaiki infrastruktur yang rusak. Jumlah juga akan bertambah bila pemerintah beritikad baik memenuhi hak masyarakat petani dan peternak di kabupaten Magelang, Boyolali dan Klaten yang menjadi miskin dan tidak jelas bagaimana mereka memenuhi kebutuhannya selama 3 – 6 bulan ke depan.

Cara gampang yang biasanya dilakukan oleh pemerintah pusat adalah menggunakan dana on call yang tersedia di berbagai kementrian. Di pemerintah daerah selain dana on call juga dilakukan dengan mengumpulkan dan mengalihkan dana-dana yang diperkirakan tidak habis digunakan di asing-masing sektor. Bila tidak cukup, pilihan lain yang sangat buruk adalah menggunakan dana hutang. Para pemberi hutang nampaknya juga sudah bersiap-siap menyediakan ongkos. Bahkan sudah ngiming-imingi.

Sampai saat ini tentu kita masih berpendapat bahwa G. Merapi adalah berkah bagi kita semua. G. Merapi adalah tandon air dan “pabrik” pasir dan batu yang sangat berharga. Kita ketahui bersama material pasir dan batu hasil erupsi G. Merapi 2010 bukanlah barang tidak berharga. Bisnis pasir dan batu adalah bisnis sederhana dan mudah yang hasilnya luar biasa. Bisnis ini yang telah menjadikan para pelaku bisnis pasir yang mendapatkan hak kelola menjadi kaya raya. Dengan logika yang sama, bila hak kelola pasir ini sepenuhnya diberikan kepada masyarakat dan pelaku dan pemegang mandat rehabilitasi, maka bukan tidak mungkin kebutuhan ongkos rehabilitasi dapat dipenuhi tanpa harus hutang. Selanjutnya, jika hak kelola tersebut juga diberikan sepenuhnya ke masyarakat di kawasan rawan bencana, bukan tidak mungkin jumlah yang diterima dari mengelola pasir dan batu dapat digunakan sebagai pengganti jaminan hidup.

Berapa sih jumlah uang pasir itu dan batu? Dari informasi yang telah banyak dilansir, G. Merapi telah mendistribusikan 140 juta m3 batu dan pasir. Hitungan sederhana, bila 40 juta m3 dari volume tersebut dapat dikelola dengan baik untuk kepentingan rehabilitasi, maka akan terkumpul uang 100 milyar dari uang restribusi, dan 300 milyar dari keuntungan pengelolaan pasir batu. Kita ketahui bahwa setiap truk tanggung berisi 4 m3 lasir / batu, dengan besar restribusi rata-rata 10.000 rupiah / truk, dan rata-rata terendah ongkos isi pasir 100.000 rupiah / truk. Nilai ini akan lebih besar lagi untuk pengisian batu pecah yang mencapai 600.000 rupiah / truk. Agar kemandirian dan keswadayaan rehabilitasi ini dapat dilakukan, maka kita perlu melakukan reformasi kebijakan hak atas pasir. Tentunya keputusan ini akan mendapatkan penolakan dari pelaku bisnis pasir dan pejabat pengelola ristribusi yang selama ini telah diuntungkan. Dan, pilihan keputusan ada pada kita. Seharusnya, pasir memang untuk kesejahteaan rakyat.

(Dimuat di Suara merdeka, 27 Desember 2010)

Posted by Paripurno in 00:32:18 | Permalink | Comments Off

Monday, November 10, 2008

Interpretasi Bencana oleh Ken Hewitt (I)

INTERPRETASI BENCANA DARI PERSPEKTIF EKOLOGI MANUSIA (I)
(Interpretation of Calamities from the Viewpoints of Human Ecology)

Ken Hewitt, 1983

Pengantar oleh Ian Burton

Sejarah pertamakali hazard dipelajari atau menjadi subyek ilmiah:

- Di negara barat, masyarakat yang pada awalnya sangat percaya dengan institusi bernama industri, mulai khawatir dengan bencana, sehingga manajemen dan kebijakan industri merasa harus memperhatikan faktor bencana. Karena itulah, mulai di adakan penelitian tentang bencana, yang dipelajari sebagai suatu rangkaian dari fenomena yang saling berkaitan.

- Konsep ini mengganggu konsep awal tentang bencana, yang melihat bencana sebagai dua bagian, yaitu bencana alam dan bencana akibat ulah manusia. Tetapi kemudian (mengapa konsep awal tidak lagi diterima), manusia menjadi tidak terima jika hazard di anggap sebagai hal yang tidak bisa dihindari. Mereka mencari penjelasan atas setiap kejadian yang terjadi, dan bahkan selalu ada kecenderungan untuk mencari hal-hal atau orang-orang tertentu untuk disalahkan. Pertanyaan-pertanyaan bermunculan, dan untuk itu dibutuhkan penyelidikan-penyelidikan inteletual, sehingga dimulailah riset-riset tentang bencana dan juga bersamaan dengan itu, muncul pula tuntutan untuk membuat kebijakan-kebijakan baru yang lebih efektif.

-

Pada awalnya, sebelum tahun 1960-an, bencana alam di teliti sebab-akibatnya oleh bidang ilmu tertentu yang terisolasi dari ilmu lainnya. Dapat dikatakan sangat individualis alias kacamata kuda, tidak melihat ilmu lainnya, dan juga bidang ilmu yang mempelajari hazard ini kerap kali tidak bisa di akses publik. Jadi orang ilmiah hanya sibuk dengan dunianya sendiri, tanpa ada akses publik ke ilmu yang mereka pelajari.

- Mulai tahun 1960-an, pendekatan terhadap bencana mulai antar-bidang (interdisciplinary), hal ini dipengaruhi oleh ahli geografi, yang melakukan riset bahaya-bahaya alamiah (natural hazard research dan juga dipengaruhi oleh ahli sosial yang meneliti bencana (disaster research) Penelitian-penelitian mereka mengungkapkan bahwa bencana tidak bisa lagi dianggap turun dari langit “act of god” tetapi terungkap bahwa kebanyakan bencana terjadi karena kesalahan pemakaian teknologi. Kemudian disadari bahwa tidak hanya faktor kesalahan manusia saja yang mempengaruhi tetapi juga kondisi alamnya. Karena itu untuk memahami secara utuh permasalahan bahaya lingkungan (environmental hazard) kita harus tahu bagaimana hubungan antara manusia dengan alam, dan bagaimana sebenarnya sifat (nature) dari manusia itu sendiri (melihat manusia dalam individu dan kelompok, populasi manusia dan dinamikanya, kemudian hubungannya dengan alam),

- permasalahan sosial dan ilmiah yang berasosiasi dengan ancaman lingkungan saat ini harus ditangani secara antar-bidang dari berbagai level manajemen.

- Masih sangat diperlukan arahan kepada riset-riset baru juga kebijakan baru yang baik terkait bencana. Buku ini diharapkan akan membawa ke arah sana.

- Interaksi antara teori bencana, penelitian bencana dan prakteknya di lapangan sekarang menjadi bidang studi atau subjek pembelajaran di tingkat perguruan tinggi baik di ilmu alam maupun ilmu sosial, dan dipelajari secara interdisciplin.

Pendahuluan

- Buku ini memandang: resiko dari bencana alam yang spontan seperti banjir, badai, kekeringan, dan dingin yang berkepanjangan. Yang terjadi pada berbagai setting lingkungan dan sosial budaya, dengan skala geografi yang beragam, dari yang lokal sampai global. Dari isu-isu yang ada didapatkan kemudian kritikal untuk mengembangkan pemahaman tentang bencana alam dan pengaplikasian dari riset-riset tentangnya. Karena itulah material yang dipilih untuk menyusun buku ini tergantung dari bagaimana penelitian di kembangkan dan diupayakan yang lebih tepat dengan peristiwa bencananya. (Jadi pendekatan riset yang baik adalah spesifik terhadap jenis bahayanya)

- Terbukti bahwa bencana akan menjadi masalah yang akan terus ada bagi manusia. Laporan-laporan tentang kerusakan akibat kejadian geofisik ekstrim terus-menerus ada dan semakin bertambah. Bentuk kerusakan dan implikasinya bagi manusia bervariasi sangat besar. Tetapi ada yang melihat satu pola umum dari variasi ini.

- Banyak penulis menyadari bahwa intensitas kerusakan dan kejadian bencana meningkat secara substansial dalam beberapa dekade terakhir ini. Kenaikan terjadi meskipun komitmen untuk memahami kondisi alam dan memanipulasinya meningkat. Menurut penulis-penulis itu, upaya pemahaman itu terbatas hanya untuk memahami bencana alam saja, dan mereka tidak puas dengan itu. Mereka juga percaya bahwa efektifitas dari aplikasi yang diterapkan tidak lagi sejalan dengan cepatnya transformasi lingkungan dan manusia di semua tempat. Hasil penelitian mereka sangat bervariasi namun akhirnya, hasil penyelidikan mereka sama-sama menyimpulkan bahwa tanpa perubahan perspektif dan penerapannya (practice) yang mendasar, dampak bencana akan semakin buruk meskipun dana dan banyak keahlian sudah dikerahkan.

- Konteks dari penelitian-penelitian di buku ini adalah di komunitas pedesaan dan pertanian. Secara kerangka permasalahan, difokuskan pada pentingnya lintas-budaya dan perbandingan dari contoh-contoh yang didiskusikan dan posisinya di dalam sistem internasional. Untuk menjawab hal itu, kita mencari terlebih dahulu peranan kondisi sosial-budaya dalam membentuk jenis ancaman akibat proses alam dan tingkat kerusakannya.

- Untuk itu diperlukan pendekatan secara geografi dan antropologi. Secara geografi sangat didukung oleh penelitian geograper tentang bencana alam seperti White 1974, Burton and Hewitt 1974, Burton et all 1978. riset antropologi dan geografi selama ini lazim di daerah pedesaan karena secara stereotype menganggap “society on land.” Alasan penting lainnya kenapa studi jenis ini di pedesaan adalah karena di masyarakat pedesaan ditemukan masalah-masalah yang lebih sulit dalam menginterpretasi bencana. Karena itulah kemudian riset tentang bencana berkembang dengan melibatkan pertanyaan-pertanyaan mendasar psikososial, seperti persepsi lingkungan, pilihan untuk menyesuaikan diri dan isu kebijakan publik. Kebanyakan rata-rata setuju dengan upaya memasukkan sosial-budaya atau ekologi manusia ke dalam riset bencana.

- Buku ini terbagi ke dalam tiga bagian. Bagian pertama, interpretasi dari bencana-bencana yang utama dan besar. Bagian kedua, studi-studi kasus dari bentuk-bentuk resiko tertentu, seperti bencana iklim pada komunitas petani, pembangunan di bidang pertanian dan ketahanan pangan.

- Kesimpulan dari semua bab adalah bahwa fokus yang sempit terhadap bencana sebagai kejadian tidak menentu dari kondisi alamiah yang ekstrim, pendekatan yang sempit terhadap kerugian, krisis, pemulihan, dan rehabilitasi akibat bencana, akan membuat kita salah menempatkan manusia di dalam konteksnya terhadap alam. Kita begitu mudah untuk mengabaikan kisaran dari bukti-bukti nyata bahwa kita saling terkait sebagai habitat. Seringkali kita melihatnya sebagai kondisi yang diharapkan bisa kembali normal. Kita tidak melihatnya sebagai sumber dari kerentanan (vulnerability). Kita juga cenderung mengabaikan kendala-kendala penting dari response sosial yang efektif untuk mengambil resiko dari alam, yang sangat tergantung pada tatanan sosio-ekonomi yang normal. Salah satu cara yang paling jelas untuk menghindari hal ini adalah dengan menjadikan masyarakat dan semua hal yang sedang berjalan di dalam keseharian mereka sebagai fokus, dan bertanya di mana peristiwa alam yang merusak cocok terhadapnya.

Ini adalah terjemahan bebas yang dilakukan oleh Ida Ansharyani (Ph.D Student Universite Paris 1 Pantheon-Sorbonne, France) sebagai bahan belajar untuk disertasi CBDRR Gunung Kelud. Untuk mengurangi kesalahan pemahaman, silakan mengontak idaansharyani@gmail.com untuk mendapatkan versi asli dari buku ini. Diterjemahkan (dibaca) di Paris 27-30 Oktober 2008.

Posted by ET in 20:01:27 | Permalink | Comments (2)

Interpretasi Bencana oleh Ken Hewitt (II)

INTERPRETASI BENCANA DARI PERSPEKTIF EKOLOGI MANUSIA (II)
(Interpretation of Calamities from the Viewpoints of Human Ecology)

Ken Hewitt, 1983

Ide tentang bencana di era teknokrat (The Idea of calamity in the technocrate age)

- Hewit menganggap bahwa meskipun bencana sudah menjadi bagian dari hidup umat manusia, tetapi pemikiran ke arah situ masih baru. Sehingga perlu untuk sejenak melepaskan diri dari konsep yang lama yang terpisah-pisah, untuk menemukan pendekatan yang baru. Komunitas ilmiah harus mulai secara konsisten bergerak di bidang ini dan secara serius berpikir logis, daripada menjadikan masalah ini hanya sebagi mode.(Note ida: Hanya sekedar euforia karena semua orang tiba-tiba bicara bencana). Peneliti harus mencari data-data empiris sebanyak mungkin, selengkap mungkin untuk kemudian dipadukan dengan konsep-konsep yang umum.

- Hewit juga merasa ada kecenderungan bahwa data-data yang dihasilkan oleh penelitian-penelitian di bidang bencana masih diambil berdasarkan kerangka kebutuhan agar bisa pas dengan konsep yang sudah ada. Ini menghambat pemahaman yang lebih baik tentang bencana dan bagaimana kita akan mengatasinya. Hewit merasa, bahwa untuk penelitian hazard, kita harus terbuka pada semua data yang ada dan berpikir bahwa mungkin saja kita bisa menemukan konsep yang lebih baik tentang hazard. Bahkan penelitian tentang bencana selalu mungkin untuk mematahkan konsep yang lebih dulu ada.

- Dalam penelitian tentang hazard, kita harus punya pikiran awal, sejauh mana pandangan yang mendominasi (dominant view) mempengaruhi pikiran dan penelitian kita. Dominant view, bisa dari orang-orang yang terkait dengan penelitian kita (pembimbing atau tuntutan project juga kali yee…), literatur yang kita baca, istilah-istilah yang sudah sering digunakan, cara pandang perusahaan terhadap hazard, dll. Bahkan untuk membuat inovasi baru pun, banyak penelitian-penelitian ternama dari ahli geografi dan ahli sosial yang masih sangat tergantung pada dominant view.

- Dominant view ini kadang dipakai karena orang-orang sudah sering memakainya berkali-kali dan karena view ini di dukung oleh ahli-ahli ternama, melebihi dari kerangka logis dari view itu sendiri. Istilahnya : konstruksi sosial ilmu pengetahuan (social contruction of knowledge), paradigma, dan konsensus akademik (academic concensus).(catatan ida: Jadi semacam priyayi di dalam lingkungan ilmiah yang diikuti kata-katanya. Orang-orang hanya ikut-ikut aja tanpa lagi berpikir kritis, karena percaya-percaya saja, soalnya yang ngomong ahlinya, dan sudah terkenal. Pak Hewitt maunya kita agak memberontak sedikit, alias harus selalu berpikir anti kemapanan terhadap konsep riset bencana yang sudah ada).

- Hewitt sendiri merasa kesulitan untuk mencapai sesuatu yang baru karena pengaruh dominant view yang semakin resisten. Tetapi dia kemudian selalu berpikir dari detil empiris dan metodologi, dan selalu mempertanyakan pada dirinya sendiri, apa yang membuatnya berpikir demikian secara psikososial, mempertanyakan juga asumsi dan aplikasinya.

- Hewitt akan me-review penelitian bencana sebelumnya dari segi cara berargumentasi, penggunaan informasi dan asumsi manajerial yang selama ini tidak hanya memisahkan penelitian bencana dari penelitian-penelitian lainnya, tetapi juga menutup pintu untuk berbagai kemungkinan viewpoints dan perhatian tentang bencana.

Ini adalah terjemahan bebas yang dilakukan oleh Ida Ansharyani (Ph.D Student Universite Paris 1 Pantheon-Sorbonne, France) sebagai bahan belajar untuk disertasi CBDRR Gunung Kelud. Untuk mengurangi kesalahan pemahaman, silakan mengontak idaansharyani@gmail.com untuk mendapatkan versi asli dari buku ini. Diterjemahkan (dibaca) di Paris 27-30 Oktober 2008.

Posted by ET in 19:58:31 | Permalink | Comments (3)

Interpretasi Bencana oleh Ken Hewitt (III)

INTERPRETASI BENCANA DARI PERSPEKTIF EKOLOGI MANUSIA (III)
(Interpretation of Calamities from the Viewpoints of Human Ecology)

Ken Hewitt, 1983

Garis Besar Dominan View (The dominant view in outlines)

- Natural hazard di anggap sebagai akibat ekstrim dari proses geofisik. Jadi, tingkat kerusakan dan kejadian bencana berpusat pada sifat alami (nature) dari bencana, misalnya badai, dll. (note ida: Dapat dikatakan memberi porsi yang sangat besar pada proses alamiah dari bencana). Dan tingkat kerusakannya serta aksi manusia yang menyertainya hanya di anggap sebagai respon terhadap komponen-komponen bencana seperti magnitude, kecepatan, frekuensi, dan aspek lain dari bencana alam. (note ida: Jadi cara pandang mereka adalah: jika ada gempa skala X, kerusakan apa yang akan terjadi. Manusia dianggap sebagai salah satu komponen diam terhadap aspek bencana, hanya untuk mengetahui apa yang terjadi pada bencana dengan karakteristik tertentu).

- Risk assessment berpikir sebagai causality dari kegiatan alam dan bagaimana dampaknya pada sosial. Jadi masih berfokus pada geofisik, sehingga penelitian terkait itu dan juga saran-saran ilmiah sangat banyak di lakukan untuk monitoring geofisik, perhitungan teknis langsung (direct engineering) atau rencana tata ruang dalam hubungannya dengan naturals agents.

- Peneliti-peneliti masih tidak mau mengakui bahwa faktor sosial-ekonomi atau kondisi habitat berpengaruh lebih besar terhadap resiko daripada kondisi alam yang ektrim. Sebenarnya konsep ini sudah mulai terlihat ketika ahli geofisik berdiskusi tentang gempa 1976, dan menemukan bahwa meskipun kekuatan gempanya tidak terlalu besar, korbannya lebih besar daripada gempa yang lebih besar, karena gempa terjadi “by chance” di daerah yang padat penduduknya. Jadi sudah terlihat bahwa bencana adalah terkait dengan peluang suatu fenomena alam dalam kaitannya dengan kondisi manusia.

- Geografi of risk lebih pada distribusi dan intensitas dari bencana secara geografis, tanpa memasukkan unsur manusianya, tidak peduli apakah distribusi bencana itu ada pada daerah padat penduduk atau tidak.

- Jadi dalam dominant view, bencana dilihat dari kacamata yang difokuskan pada alam. Ada kepercayaan yang kuat bahwa masyarakat dapat melakukan sesuatu terhadap bencana, tetapi lagi-lagi, kepercayaan ini kemudian menyimpulkan bahwa sesuatu yang dapat dilakukan masyarakat itu adalah persoalan kebijakan publik yang lagi-lagi harus didukung dengan penemuan geofisik, geotek, dan kapasitas manajerial yang paling baru. Jadi dominant view memandang masyarakat biasa hanya bisa berbuat sedikit terkait bencana. Permasalahan bencana dianggap semata-mata sebagai rasio seberapa besar tekanan alam dan bagaimana respon atau counterforce institusi dan teknologi yang paling mutakhir. (note ida: Memposisikan penemuan ilmiah teknis terkait bencana sebagai superhero, dan kita bergantung pada superman yang bernama dominant view untuk menyelamatkan bumi dari bencana).

- Dapat disimpulkan tiga area yang dikuasai oleh dominant view:

- Komitment untuk mendukung monitoring ilmiah, dan pemahaman proses geofisik, sebagai dasar untuk menghadapi dampaknya terhadap manusia. Tujuan utama terkait dengan bencana adalah prediksi.

- Kemudian dilakukan perencanaan-perencanaan dan kegiatan manajerial untuk menjalankan komitmen di atas. Seperti untuk membuat alat pengontrol longsor, banjir, membuat kode-kode, dan peta resiko, dll. Juga dibuat perencanaan-perencanaan fisik. (note ida: dan sebisa mungkin masyarakat harus menyesuaikan diri dengan hasil penelitian itu. Misalnya jika dari hasil penelitian suatu tempat berbahaya, satu-satunya cara, masyarakat harus pindah).

- Tindakan darurat (emergency measure) termasuk di dalamnya perencanaan bencana (disasters plans), organisasi untuk mengurangi penderitaan (relief) dan rehabilitasi. Semua ini di tentukan (set up) oleh penelitian-penelitian dan perencanaan geofisik. Pada tingkat aksi, penelitian menjadi di bawah aksi, karena yang melakukan aksi lapangan adalah militer, atau organisasi berbau militer lainnya. Dan karena kebanyakan tempat di muka bumi ini tidak memiliki akses terhadap penemuan terbaru geofisik dan manajemen teknologi, maka masyarakat akan berhadapan dengan dominant view melalui tahap emergency ini.

- Di bidang riset, sangat dominan penelitian di bidang ilmu alam dan keteknikan (engineering). Meskipun demikian, menurut Hewitt, ilmu sosial memegang peranan penting terutama dalam mempelajari perilaku saat krisis “crisis behaviour” dan tindakan emergency; atau dalam mempelajari secara terfokus satu kelompok tertentu berdasarkan pengalaman, harapan, dan jenis bencana alam yang ada di wilayah mereka.

- Sebenarnya sudah dari dulu ada beberapa analis sosial yang tidak setuju dengan dominant view. Untuk ke depannya, ilmuwan sosial harus mulai meningkatkan konsentrasinya pada hubungan langsung sosial-ekonomi dan tingkah laku (behaviour) pada ketiga wilayah dominant view tadi. Mereka menanyakan bagaimana masyarakat memandang resiko pada wilayah-wilayah yang diklasifikasikan ke dalam zona-zona bencana tertentu. Apakah mapping sosial (perception towards risk) bisa dilakukan seperti mapping geofisik, dan bagaimana hasilnya, apakah mapping persepsi sama dengan mapping fisik? Jika tidak apa faktor yang mempengaruhinya? Hasilnya dapat dibandingkan dengan pengetahuan geofisik tentang bencana tertentu (pekerjaan geofisik). Mereka bertanya tentang bagaimana masyarakat bereaksi perkiraan bencana, permintaan untuk mengkonservasi air dan peraturan zonasi bahaya. Mereka meneliti bagaimana masyarakat dan institusi mengatasi/pulih (cope) ketika gunung api meletus atau ketika gagal panen.

- Terkadang ide-ide ini sangat beralasan, tetapi terlihat tidak penting jika disandingkan dengan pengetahuan terbaru geofisik, dll. Tetapi jika tidak dilakukan, maka ilmu tentang bencana akan sangat sempit terfokus pada peristiwa alam, tetapi melupakan pengaruh sosial pada bencana. Hewitt yakin, upaya penelitian sosial tentang bencana akan mengurangi dominasi dari dominant view juga pada geofisik.

- Penelitian butuh dana (funding), karena itu penting juga ide penelitian sosial tentang hazard mulai didengung-dengungkan ke lembaga-lembaga funding juga ke universitas.

- Selama ini funding sangat mendukung penelitian tentang ilmu alam atau riset yang mendukung dominant view. (note ida: Semacam subjectivitas dari lembaga funding dalam mendukung jenis research).

- Dominant view menggunakan pendekatan technokratis, yang pemahaman dan kegiatannya menggunakan prosedur teknis. Hal ini hanya mendukung prestige birokrasi, karena akan terkenal namanya karena menjadi sangat ahli di suatu bidang. Misalnya akan terkenal karena menemukan ini atau itu yang sangat jelas penemuannya. Sedangkan ilmu sosial, pendekatan yang murni teknologi akan membuat kita tidak bisa menangkap fenomena secara utuh. Faktor sosial-ekonomi, politik, dapat juga didekati secara teknokratik, dan menurut argumentasi Pak Hewitt, “ilmu alam yang pendekatannya “technological-fix” terhadap bencana, secara esensial merupakan konstruksi sosial budaya yang merefleksikan pandangan yang berbeda “distinct“, mewakili institusi “institution centered”, dan etnosentris, tentang manusia dan alam. (note ida: So, yang dianggap teknologi fix juga tidak bebas nilai, ketika di anggap teknologi atau tidak itu kan dari nilai yang di anut juga”).

- Ken hewitt tidak ingin ilmu sosial hanya terbatas pada persepsi individu terkait dengan pengalamannya dan kepribadiannya. Tetapi bahwa “cara berpikir (thought) mempengaruhi reality”. Dan realitas tidak bisa dipandang sebagai data-data empiris universal juga asimilasinya dengan psikologi dalam membentuk persepsi dan kognisi manusia. Ide Hewitt adalah, semua data empiris tidak bisa dipandang universal. Tetapi Hewitt mau lebih memperhatikan kondisi yang membentuk proses ini, kondisi yang mempengaruhi data apa yang ingin kita cari dan terlihat penting, dan cara-cara yang dapat diterima untuk menginterpretasi fakta-fakta tersebut. Dan hal-hal tersebut sangat terkait dengan tatanan sosial.

- Hewitt memandang pola konstruksi sosial dari dominant view bersifat weberian. Dia melihat cara kerja institusi dalam menyalurkan dana dan sumberdaya manusianya, ke dalam beberapa pola kerja dan aplikasi, yaitu cenderung sentralistis, ofisial, dan birokratis. Dominant view dalam penelitian-penelitian bencana lebih mewakili “etos birokratis,” yang menyalurkan peneliti-peneliti untuk melakukan pendekatan yang berbeda terhadap fakta-fakta, dan memandang secara lain nature dari teori dan aplikasinya. Mereka memandang terpisah teori dan fakta serta aplikasinya. Penelitian-penelitian dilakukan lebih agar mewakili pihak atau organisasi yang mensponsori penelitian atau image yang dimiliki oleh peneliti tentang apa yang seharusnya dan dapat dilakukan oleh organisasi. (note ida: Research hazard dipandang hewitt tidak bebas nilai atau sudah cenderung sangat subjectif). Riset dan ilmu-nya sendiri meskipun sangat praktis dalam aplikasinya, biasanya tidak mendapat tempat, karena pertimbangan untuk meloloskan suatu riset sudah tidak lagi memperhatikan unsur itu. Riset lebih ditentukan oleh pengambil kebijakan yang tidak lagi memperhatikan nilai riset. Jadi dominant view sudah sangat terstruktur, dan sangat mapan dalam kerangka institusi.

- Untuk memperbaiki hal itu, Hewitt menyarankan untuk memikirkan, pertama, bahwa bencana alam merupakan permasalahan spesial bagi teknokrasi (anak emas para teknokrat). Kedua, bahwa kebanyakan peneliti berpaham teknokrat tersebut terlihat tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya tidak memperbaiki apa pun kecuali hanya ingin mencapai tujuan ilmiah, dan strategi riset. Yang ketiga, kita semua mengalami jalan buntu dengan bentuk-bentuk stategi teknoratik yang kaku, terutama dari sudut pandang sosial budaya dan geografi. Keempat, hewitt menyarankan agar di tingkat sistem internasional, dimana strategi itu di operasikan, dan debat-debat intelektual dan sosial berkembang sangat pesat, agar berani menantang kepada diri mereka sendiri seberapa efektif dan seberapa benar dominant view.

- Karena itu dapat di simpulkan bahwa kita membutuhkan pendekatan-pendekatan lain terhadap kebencanaan.

Ini adalah terjemahan bebas yang dilakukan oleh Ida Ansharyani (Ph.D Student Universite Paris 1 Pantheon-Sorbonne, France) sebagai bahan belajar untuk disertasi CBDRR Gunung Kelud. Untuk mengurangi kesalahan pemahaman, silakan mengontak idaansharyani@gmail.com untuk mendapatkan versi asli dari buku ini. Diterjemahkan (dibaca) di Paris 27-30 Oktober 2008.

Posted by ET in 19:56:56 | Permalink | Comments (1) »

Interpretasi Bencana oleh Ken Hewitt (IV)

INTERPRETASI BENCANA DARI PERSPEKTIF EKOLOGI MANUSIA (IV)(Interpretation of Calamities from the Viewpoints of Human Ecology)

Ken Hewitt, 1983

An enclosure system

- Analogi kebencanaan mirip dengan analogi kegilaan focault yang kemudian di beri tempat untuk di perhatikan dan di temukan oleh “age of reason“. Kegilaan (madness) dan kebencanaan (calamity) sangat mengganggu. Keduanya membuat kita bertanya tentang apa sih sebenarnya keteraturan atau order. Madness bisa dilihat sebagai hukuman dari disorder, dan bencana dapat dipandang sebagai ketidakbergunaan ilmu pengetahuan. Keduanya terjadi seperti tidak bisa dikontrol oleh masyarakat. Ada juga yang berpandangan bahwa kedua hal itu merupakan penilaian terhadap tingkah laku atau aktifitas manusia, seperti yang didengung-dengungkan pergerakan ekologis dalam menghadapi problem lingkungan.

- Pada kedua kasus, counteract di anggap perlu dengan melakukan langkah-langkah positif, dan memikirkan potensi untuk menghadapinya. Pada titik inilah pembagian hazard dengan pendekatan teknokratik ada untungnya. Sangat baik memperlakukan kebencanaan sebagai problem spesial riset di wilayah tertentu. Permasalahan dapat dimanajemen dengan membuat interpretasi yang terarah dan sempit, serta data-data yang meyakinkan. Hewitt merasa bahwa kebencanaan harus di tangani secara utuh, tidak parsial. Harus melingkupi filosofi, prosedur praktis, dan juga harus memikirkan permasalahan secara pragmatis, hati-hati dalam mengupasnya.

- Istilah yang dipakai dalam penelitian-penelitian bencana sebenarnya sudah menunjukkan asumsi dasar tentangnya. Istilah-nya selalu memakai kata “tidak” (un-ness), yang menunjukkan ketidakteraturan dan ketidakterhubungannya dengan manusia. Kejadian alam dipandang terpisah dari manusia. Istilah yang dipake unmanaged, unexpected, uncertain, unprecedented, unawareness, unreadiness, unscheduled events.

- Yang berkembang adalah bencana tidak dianggap sebagai bagian integral dari kehidupan manusia dan alam, atau dianggap tergantung satu sama lain. Pernah ditemukan pendahuluan dan kesimpulan yang menempatkan bencana sebagai latar belakang dari ekologi manusia dan kumpulan permasalahannya yang berbeda-beda. Tetapi bencana dan ekologi manusia dijelaskan sebagai permasalahan yang berbeda.

- Hazard atau tidaknya ditentukan oleh orang-orang geofisik dengan melihat suatu ukuran tertentu dari proses alam. Misalnya debit sungai, skala seismik, kecepatan angin, dll. Kerentanan manusia sangat terikat erat dengan kenyataan geofisik ini. (Note ida: Pertanyaan tentang konsep hazard, bagaimana sebenarnya menentukannya?)

- konsep tentang stabil tidak stabil juga dipertanyakan. Menurut Scheidegger, Jika status quo tetap dapat dipertahankan, maka itu bukan bencana. Karena itulah konsep bencana terkait erat dengan istilah “kondisi yang stabil.” meskipun scheidegger mengacu kepada kestabilan geofisik, nilai rasa (sense) bahwa rusaknya rangkaian kestabilan pada habitat ditemukan juga pada interpretasi sosial terhadap resiko ini. Bencana dianggap sebagai fenomena alam yang menyebabkan ketidakstabilan atau merusak kehidupan normal dan hubungan habitat. Riset sosial tentang bencana mengambil analogi yang sama dengan sistem mekanis. Riset sosial tentang bencana memandang bencana sebagai kegagalan pada sistem sosial, sedangkan sistem mekanis memandang bencana sebagai tekanan yang melebihi kekuatan material atau struktur tertentu.

- Jadi untuk tahu bencana, kita harus tahu dulu sistem sosialnya. Apa yang dimaksud dengan stabil, dan aktifitas yang berada dalam keteraturan, juga apa itu tidak teratur, tidak terduga, dan tidak direncanakan. (note ida: penting untuk mengetahui persepsi masyarakat tentang hal ini, karena yang real berhadapan dengan bencana adalah mereka, meskipun scientist memiliki defenisinya sendiri).

- Lebih jauh, kerusakan, impairement, dan apa yang harus dipulihkan oleh bantuan luar cenderung membentuk keseluruhan perhatian setiap individu terhadap bencana. Dan gambaran ini umumnya hanya terjadi pada aspek-aspek bencana yang sangat merusak dampaknya. Pola survival dan bukti-bukti kestabilan struktur – yang dapat dilihat di hampir semua tempat bencana yang melingkupi fraksi besar manusia dan properti yang terkena dampak bencana – mendapat perhatian yang sangat kecil.

Ini adalah terjemahan bebas yang dilakukan oleh Ida Ansharyani (Ph.D Student Universite Paris 1 Pantheon-Sorbonne, France) sebagai bahan belajar untuk disertasi CBDRR Gunung Kelud. Untuk mengurangi kesalahan pemahaman, silakan mengontak idaansharyani@gmail.com untuk mendapatkan versi asli dari buku ini. Diterjemahkan (dibaca) di Paris 27-30 Oktober 2008.

Posted by ET in 19:55:13 | Permalink | Comments (2)