Interpretasi Bencana oleh Ken Hewitt (I)
INTERPRETASI BENCANA DARI PERSPEKTIF EKOLOGI MANUSIA (I)
(Interpretation of Calamities from the Viewpoints of Human Ecology)
Ken Hewitt, 1983
Pengantar oleh Ian Burton
Sejarah pertamakali hazard dipelajari atau menjadi subyek ilmiah:
- Di negara barat, masyarakat yang pada awalnya sangat percaya dengan institusi bernama industri, mulai khawatir dengan bencana, sehingga manajemen dan kebijakan industri merasa harus memperhatikan faktor bencana. Karena itulah, mulai di adakan penelitian tentang bencana, yang dipelajari sebagai suatu rangkaian dari fenomena yang saling berkaitan.
- Konsep ini mengganggu konsep awal tentang bencana, yang melihat bencana sebagai dua bagian, yaitu bencana alam dan bencana akibat ulah manusia. Tetapi kemudian (mengapa konsep awal tidak lagi diterima), manusia menjadi tidak terima jika hazard di anggap sebagai hal yang tidak bisa dihindari. Mereka mencari penjelasan atas setiap kejadian yang terjadi, dan bahkan selalu ada kecenderungan untuk mencari hal-hal atau orang-orang tertentu untuk disalahkan. Pertanyaan-pertanyaan bermunculan, dan untuk itu dibutuhkan penyelidikan-penyelidikan inteletual, sehingga dimulailah riset-riset tentang bencana dan juga bersamaan dengan itu, muncul pula tuntutan untuk membuat kebijakan-kebijakan baru yang lebih efektif.
-
Pada awalnya, sebelum tahun 1960-an, bencana alam di teliti sebab-akibatnya oleh bidang ilmu tertentu yang terisolasi dari ilmu lainnya. Dapat dikatakan sangat individualis alias kacamata kuda, tidak melihat ilmu lainnya, dan juga bidang ilmu yang mempelajari hazard ini kerap kali tidak bisa di akses publik. Jadi orang ilmiah hanya sibuk dengan dunianya sendiri, tanpa ada akses publik ke ilmu yang mereka pelajari.
- Mulai tahun 1960-an, pendekatan terhadap bencana mulai antar-bidang (interdisciplinary), hal ini dipengaruhi oleh ahli geografi, yang melakukan riset bahaya-bahaya alamiah (natural hazard research dan juga dipengaruhi oleh ahli sosial yang meneliti bencana (disaster research) Penelitian-penelitian mereka mengungkapkan bahwa bencana tidak bisa lagi dianggap turun dari langit “act of god” tetapi terungkap bahwa kebanyakan bencana terjadi karena kesalahan pemakaian teknologi. Kemudian disadari bahwa tidak hanya faktor kesalahan manusia saja yang mempengaruhi tetapi juga kondisi alamnya. Karena itu untuk memahami secara utuh permasalahan bahaya lingkungan (environmental hazard) kita harus tahu bagaimana hubungan antara manusia dengan alam, dan bagaimana sebenarnya sifat (nature) dari manusia itu sendiri (melihat manusia dalam individu dan kelompok, populasi manusia dan dinamikanya, kemudian hubungannya dengan alam),
- permasalahan sosial dan ilmiah yang berasosiasi dengan ancaman lingkungan saat ini harus ditangani secara antar-bidang dari berbagai level manajemen.
- Masih sangat diperlukan arahan kepada riset-riset baru juga kebijakan baru yang baik terkait bencana. Buku ini diharapkan akan membawa ke arah sana.
- Interaksi antara teori bencana, penelitian bencana dan prakteknya di lapangan sekarang menjadi bidang studi atau subjek pembelajaran di tingkat perguruan tinggi baik di ilmu alam maupun ilmu sosial, dan dipelajari secara interdisciplin.
Pendahuluan
- Buku ini memandang: resiko dari bencana alam yang spontan seperti banjir, badai, kekeringan, dan dingin yang berkepanjangan. Yang terjadi pada berbagai setting lingkungan dan sosial budaya, dengan skala geografi yang beragam, dari yang lokal sampai global. Dari isu-isu yang ada didapatkan kemudian kritikal untuk mengembangkan pemahaman tentang bencana alam dan pengaplikasian dari riset-riset tentangnya. Karena itulah material yang dipilih untuk menyusun buku ini tergantung dari bagaimana penelitian di kembangkan dan diupayakan yang lebih tepat dengan peristiwa bencananya. (Jadi pendekatan riset yang baik adalah spesifik terhadap jenis bahayanya)
- Terbukti bahwa bencana akan menjadi masalah yang akan terus ada bagi manusia. Laporan-laporan tentang kerusakan akibat kejadian geofisik ekstrim terus-menerus ada dan semakin bertambah. Bentuk kerusakan dan implikasinya bagi manusia bervariasi sangat besar. Tetapi ada yang melihat satu pola umum dari variasi ini.
- Banyak penulis menyadari bahwa intensitas kerusakan dan kejadian bencana meningkat secara substansial dalam beberapa dekade terakhir ini. Kenaikan terjadi meskipun komitmen untuk memahami kondisi alam dan memanipulasinya meningkat. Menurut penulis-penulis itu, upaya pemahaman itu terbatas hanya untuk memahami bencana alam saja, dan mereka tidak puas dengan itu. Mereka juga percaya bahwa efektifitas dari aplikasi yang diterapkan tidak lagi sejalan dengan cepatnya transformasi lingkungan dan manusia di semua tempat. Hasil penelitian mereka sangat bervariasi namun akhirnya, hasil penyelidikan mereka sama-sama menyimpulkan bahwa tanpa perubahan perspektif dan penerapannya (practice) yang mendasar, dampak bencana akan semakin buruk meskipun dana dan banyak keahlian sudah dikerahkan.
- Konteks dari penelitian-penelitian di buku ini adalah di komunitas pedesaan dan pertanian. Secara kerangka permasalahan, difokuskan pada pentingnya lintas-budaya dan perbandingan dari contoh-contoh yang didiskusikan dan posisinya di dalam sistem internasional. Untuk menjawab hal itu, kita mencari terlebih dahulu peranan kondisi sosial-budaya dalam membentuk jenis ancaman akibat proses alam dan tingkat kerusakannya.
- Untuk itu diperlukan pendekatan secara geografi dan antropologi. Secara geografi sangat didukung oleh penelitian geograper tentang bencana alam seperti White 1974, Burton and Hewitt 1974, Burton et all 1978. riset antropologi dan geografi selama ini lazim di daerah pedesaan karena secara stereotype menganggap “society on land.” Alasan penting lainnya kenapa studi jenis ini di pedesaan adalah karena di masyarakat pedesaan ditemukan masalah-masalah yang lebih sulit dalam menginterpretasi bencana. Karena itulah kemudian riset tentang bencana berkembang dengan melibatkan pertanyaan-pertanyaan mendasar psikososial, seperti persepsi lingkungan, pilihan untuk menyesuaikan diri dan isu kebijakan publik. Kebanyakan rata-rata setuju dengan upaya memasukkan sosial-budaya atau ekologi manusia ke dalam riset bencana.
- Buku ini terbagi ke dalam tiga bagian. Bagian pertama, interpretasi dari bencana-bencana yang utama dan besar. Bagian kedua, studi-studi kasus dari bentuk-bentuk resiko tertentu, seperti bencana iklim pada komunitas petani, pembangunan di bidang pertanian dan ketahanan pangan.
- Kesimpulan dari semua bab adalah bahwa fokus yang sempit terhadap bencana sebagai kejadian tidak menentu dari kondisi alamiah yang ekstrim, pendekatan yang sempit terhadap kerugian, krisis, pemulihan, dan rehabilitasi akibat bencana, akan membuat kita salah menempatkan manusia di dalam konteksnya terhadap alam. Kita begitu mudah untuk mengabaikan kisaran dari bukti-bukti nyata bahwa kita saling terkait sebagai habitat. Seringkali kita melihatnya sebagai kondisi yang diharapkan bisa kembali normal. Kita tidak melihatnya sebagai sumber dari kerentanan (vulnerability). Kita juga cenderung mengabaikan kendala-kendala penting dari response sosial yang efektif untuk mengambil resiko dari alam, yang sangat tergantung pada tatanan sosio-ekonomi yang normal. Salah satu cara yang paling jelas untuk menghindari hal ini adalah dengan menjadikan masyarakat dan semua hal yang sedang berjalan di dalam keseharian mereka sebagai fokus, dan bertanya di mana peristiwa alam yang merusak cocok terhadapnya.
Ini adalah terjemahan bebas yang dilakukan oleh Ida Ansharyani (Ph.D Student Universite Paris 1 Pantheon-Sorbonne, France) sebagai bahan belajar untuk disertasi CBDRR Gunung Kelud. Untuk mengurangi kesalahan pemahaman, silakan mengontak idaansharyani@gmail.com untuk mendapatkan versi asli dari buku ini. Diterjemahkan (dibaca) di Paris 27-30 Oktober 2008.