Tuesday, September 19, 2006

SEKALI LAGI TENTANG LUMPUR LAPINDO


Bisa dijelaskan fenomena alam yang menyebabkan terjadinya luapan lumpur tersebut?
 
 

 

Bencana merupakan fenomena yang terjadi karena komponen-komponen pemicu, ancaman, dan kerentanan  bekerja bersama secara sistematis. Ada beberapa pemahaman yang perlu dipertegas sebelum melihat kasus luapan lumpur tersebut dari sisi manajemen bencna, yaitu relasi antara bencana (disaster), pemicu (trigger), ancaman (hazard), kerentanan (vulnerability) dan risiko (risk). Tentu sebaiknya tidak dipisah-piyahkan keberadaannya, sehingga bencana itu terjadi dan upaya-upaya peredaman risiko itu dilakukan. Bencana terjadi apabila masyarakat dan sistem sosial yang lebih tinggi yang bekerja padanya tidak mempunyai kapasitas untuk mengelola ancaman yang terjadi padanya. Ancaman, pemicu dan kerentanan, masing-masing tidak hanya bersifat tunggal, tetapi dapat hadir secara jamak, baik seri maupun paralel, sehingga disebut kompleks. 

Darimana lumpur tersebut berasal?  

 

Pada kasus bencana luapan lumpur panas tersebut terdapat serangkaian pemicu. Proses pemboran eksplorasi Banjar Panji 1 merupakan pemicu orde pertama terjadinya underground blow-out. Beberapa catatan kronologi pemboran menunjukkan bahwa telah terjadi kick, loss, well killing, tigh-hole dan lainnya yang kurang ditangani secara sempurna. Ketidakstabilan tekanan bawah permukaan tersebut­ merupakan pemicu orde kedua sehingga terjadi pelepasan lumpur diapir dari kedalaman 6000-9000 ft melalui retakan-retakan di sekitar zona patahan Porong berumur kwarter yang ada di sekitarnya.  Selanjutnya gunung lumpur (mud volcano) telah “tiwikrama” dari ancaman menjadi bencana.  

 

Bagaimana struktur lapisan bumi pada posisi tersebut?  

 

Struktur batuan di bawah permukaan di daerah tersebut, sama dengan dengan daerah sekitarnya di bagian utara pantai utara Jawa, terdiri dari formasi batugamping dan lempung.    

 

Apa kandungannya, dan gimana bedanya dengan lava gunungapi?

 

Aktivitas ini dikenal segabai pembentukan gunungapi lumpur (mud vulcano), tetapi pembentuknanya sangat berbeda dengan pembentukan gunungapi (volcano). Mud volcano merupkan proses pelepasan lumpur ke permukaan, sedang volcano merupakan proses pelepasan magma ke permukaan. Lumpur ini merupakan batuan endapan (sedimentary rock) dari lingkungan pantai dan danau purba yang terpendam di bawah permukaan dan tertekan keluar. Lumpur ini banyak mengandung material organik yang berukuran lempung, dan pada saat ini bersampur dengan air formasi. Berbeda dengan lava yang berupakan hasil endapan aktivitas primer gunungapi sebagai batuan bekuan (igneous rock) Dugaan awal saat ini panas lumpur berasal dari sistem patahan murni. Namun tentunya tidak menutup kemungkinan sistem patahan tersebut menerus ke sistem gunungapi terdekat. Apakah semburan lumpur panas ini berhubungan dengan aktifitas geotermal atau tidak, dapat dilihat dari sisi kandungan mineral, temperaturnya, dan tentu letaknya. Data pengukuran yang beredar di milis Ikatan Ahli Geologi Indonesia pada akhir bulan lalu antara 60-80 derajat C. Memang suhu ini lebih tinggi diari mata air panas di Parangwedang yang hanya sekitar 35-40 derajat C, tetapi jauh lebih rendah dibanding mata air panas yang benar-benar karena geotermal seperti yang terjadi di Cisukarame gunung Halimun jawa barat yang mencapai 90 derajat C. Kandungan H2S dalam dapat berasal dari hasil geothermal atau pemisahan karbonat. Namun bila unsurnya tinggi tentu perlu dicurigai. Dari sisi tempat posisi sumur Banjarpanji sekarang sekitar 25 km dari G. Welirang, yang masih dalam ”batas toleransi” kehadiran mata air panas di berbagai tempat gunungapi lain yang berada pada jarak 15 sd 20 km dr gunungapi.      

 

Apakah di Indonesia ada fenomena seperti ini?  

 

Contoh fenomenal mud volcano yang sedang aktif ada di di purwodadi, yang dikenal dengan “bledug kuwi”. Sementara yang tidak aktif, yang dapat dilihat dari sebaran material lumpur yang keberadaaannya tidak selaras dengan batuan-batuan yang ada disekitarnya bisa kita temui di Sangiran, Tuban, Mojokerta, bangkalan dan Gununganyar Sidoarjo. Proses “erupsi” lumpur tentu akan terus berlangsung ssampai material lumpur dan atau energi (gas) yang terkandung di dalamnya habis. Oleh karena itu sangat mungkin lumpur banjar panji ini menjadi mud volcano aktif sebagaimana bledug kuwi.   

 

Apa sebab luapan lumpur hingga tidak terkendali hingga kini?  

 

Tindakan mengendalikan ancaman dilakukan untuk mengurangi (dan bila memungkinkan menghilangkan) intensitas dan besaran ancaman. Memahami ancaman diperlukan sebagai dasar untuk memutuskan tindakan-tindakan pengendalian sumber ancaman. Semakin kita mengenal ancaman dengan baik, maka tindakan yang kita lakukan atas ancaman akan semakin berhasilguna; sebaliknya pemahaman yang terbatas atas ancaman menjadikan tindakan yang kita lakukan tidak berhasilguna. Tindakan penutupan sumur dan pemasangan snubbing unit yang tidak memberikan hasil menunjukkan kita belum mampu memahami sumber ancaman tersebut dengan baik.  Beberapa masalah yang belum dapat dirincikan dari luapan lumpur ini adalah volume maksimum lumpur yang berpotensi dikeluarkan. Volume maksimum ini berubungan dengan besar volume “kantung” lapisan geologi pembawa lumpur tersebut, serta hubunganya dengan lapisan lain maupun interkoneksi asupan lumpur dari “kantung-kantung” yang lain.    

 

Apakah ada kemungkinan salah hypotesa dalam menanggulangi luapan lumpur tersebut?  

 

Keterbatasan kita atas ancaman ini tentu berimplikasi pada kesalahan hipotesis dan kesalahan tindakan. Beberapa bulan lalu para pihak berwenang tentu sudah melakukan upaya pengkajian rinci untuk lebih memahami ancaman itu. Untuk mengurangi kesalahan hipotesis itu tentu banyak hal penting yang seharusnya telah dilakukan, antara lain pengkajian kronologi pemboran di sumur Banjarpanji 1 dan bahkan di sumur-sumur lain di sekitarnya, pencarian informasi geologi dan geofisika detil, perhitungan volume dan tekanan, serta kemungkinan over-pressure.  

 

Bagaimana upaya penganggulangan yang sudah dilakukan terhadap luapan lumpur tersebut? Apakah sudah optimal?  

 

Seperti kita ketahui bersama, serangkaian tindakan penanggulangan bencana telah dilakukan. Perkembangan terakhir peanggulangan luapan lumpur versi Media Center (29/08/06) misalnya, telah dilakukan pembuatan kolam-kolam dengan tanggul-tanggul penampung lumpur, penanganan pengungsi, pemberian santunan biaya hidup dan sewa rumah, gantirugi bagi pekerja, serta penanganan masalah lalulintas. Segala bentuk penanggulangan ini masih merupakan tindakan penanganan darurat.  Modal-modal kehidupan masyarakat yang terkena luapan lumpur ini jelas tidak dapat digunakan dengan segera, persis seperti sebelum luapan  terjadi. Oleh karena itu kita perlu menambah skenario baru untuk proses pengembalian modal kehidupan masyarakat, baik modal alam-lingkungan, human, sosial, fisik, dan finansial. Kita perlu memulai melakukan tindakan yang berorientasi jangka panjang, terutama untuk mengembalikan modal-modal penghidupan masyarakat yang secara langsung atau tidak langsung telah hilang atau rusak oleh luapan lumpur itu. Skenario pengembalian modal kehidupan ini tentu jangan dipahami dengan ”mengganti sama persis”, tetapi bolehjadi dapat dilakukan dengan membangun modal-modal baru dan membangun pola adaptasi. Hasil akhir yang diharapkan dari skenario ini adalah terjaminnya keberlanjutan kehidupan masyarakat dengan modal ”baru” yang dimiliki.  Skenario penguatan modal kehidupan bagi masyarakat tersebut terutama dilakukan dengan mengarusutamakan usaha penguatan kapasitas, mengurangi kerentanan dan ketergantungan. Upaya-upaya ini secara konseptual dapat dilakukan dengan mengurangi kondisi tidak aman (unsave condition), meredam penekan dinamis (dynamic pressure) untuk kondisi rentan, dan pada akhirnya menyelesakan akar masalahnya (root causes).  

 

Ada pendapat yang menyebutkan bahwa kemungkinan kecil luapan lumpur panas tersebut bisa ditutup, sehingga harus ada skenario game over? 

 

Banyak sumber mengatakan bahwa kita belum memiliki kemampuan untuk itu, kenyataannya memang sampai sampai saat ini kita belum mampu menangani sumber ancaman lumpur itu. Relief well sedang akan dilaksanakan dan diharapkan dapat meredam underground blow-out. Namun jika upaya itu gagal, tentu permainan belum selesai. Kita boleh gagal saja menangani sumber ancaman, tetapi ”permainan” yang harus terus dilakukan adalah berupaya melakukan peredaman resiko bencana yang sekarang telah terjadi, dan akan terus bertambah karena kegagalan itu.  

 

Apakah ada kemungkinan permukaan tanah secara perlahan-lahan akan menurun? Berapa besar kecepatannya per bulan?  

 

Luapan lumpur ini adalah proses pemindahan massa lumpur dari bawah permukaan ke permukaan akibat tekanan beban massa tubuh batuan yang berada di atasnya. Penurunan maksimum ketinggian permukaan tanah akan sesuai dengan ketebalan massa lempung yang berada di bawah permukaan, serta bentuk struktur patahan yang ada di lokasi tersebut.. Bila disebandingkan dengan kedalaman pada sumur Porong 1 di sebelahnya, maka penurunan maksimum akan mencapai 200 meter. Kecepatan penurunan tergantung luasan blok masa batuan yang membebani dan besar debit pelepasan. Semakin besar blok, maka semakin besar tekanannya sehingga debit luapan semakin besar. Semakin besar debit peluapan lumpur maka penurunan permukaan akan semakin cepat. Pada akhirnya secara alamiah akan terjadi penyeimbangan. Penurunan permukaan tanah yang lama akan diisi oleh permukaan massa lumpur yang baru. Bila diasumsikan luas massa beban 14 km2 maka dengan debit rata-rata 7.000 m3 per hari, maka penurunan yang terjadi sekitar 0,5 mm per hari.   

 

Agar luapan lumpur tidak menggenangi wilayah lebih luas lagi, ada rencana mengalirkan lumpur tersebut ke lokasi pembuangan yang salah satunya adalah ke laut. Lumpur tersebut harus di-treatment seperti apa sebelum dibuang ke laut?  

 

Setiap pilihan yang dilakukan untuk menangani luapan lumpur tersebut pasti mengandung resiko. Pilihan membuang lumpur ke laut adalah salah satu pilihan dari beberapa pilihan yang lain.  Membuang lumpur langsung ke laut akan berdampak pada terganggunya ekosistem laut, yang berimplikasi pada penurunan nilai modal kehidupan masyarkat pesisir. Ini dimungkinkan bila jumlah suspensi lumpur dalam laut terjaga pada titik biota laut dapat beradaptasi pada kondisi tersebut. Treatment yang harus dilakukan pada dasarnya untuk mengurangi jumlah suspensi dan unsur-unsur gas yang terkandung dalam lumpur. Cara sederhana yang bisa dilakukan adalah dengan membuat kolam-kolam pengendapan sekaligus kolam-kolam aerasi.  

 

Bagaimana Anda melihat tanggung jawab Lapindo Brantas atas bencana tersebut? Apakah sudah optimum dalam menangani masalah pengungsi dan tunjangan kepada para korban?  

 

Serangkaian penanganan yang dilakukan oleh PT Lapindo Brantas masih berorientasi pada penanganan kondisi darurat. Penanganan ini dalam jangka panjang akan memunculkan masalah baru berupa ketergantungan baru dan bahkan hilangnya modal kehidupan masyarakat.. Berkenaan dengan hal  itu maka sudah waktunya melakukan perubahan orientasi penanganan korban dari tindakan-tindakan penanganan darurat ke upaya mengembalikan modal untuk keberlanjutan kehidupan masyarakat. PT Lapindo Brantas dan Pemerintah (Pusat dan Daerah) perlu memahami posisi dan mandat masing-masing dalam tanggung-gugat ini. PT Lapindo Brantas adalah tertanggung-gugat sebagai pemicu limpahan lumpur, serta pemerinta sebagai pemegang mandat konstitusi negara untuk melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia.     

 

* Jawaban saya terhadap bertanyaan kawan-kawan wartawan seputar kasus semburan lumpur. Semoga bermanfaat

Posted by ET Paripurno at 16:34:31 | Permalink | Comments (3)

Monday, September 18, 2006

VOLKANISMA DAN EVOLUSI TEKTONIK


Pendahuluan

 

Para peneliti terdahulu telah menyampaikan kesesuaian hubungan antara tatanan geologi dan geofisika dari busur kepulauan Indonesia dengan tektonik global yang baru. Gagasan mengenai hubungan antara vulkanisma dan tektonik Indonesia telah digambarkan oleh van Bemelen (1949), yang pemahaman dan sintesisnya dengan tektonik lempeng saat ini tidak selaras. Gagasan lebih lanjut adalah menjelaskan evolusi tektonik Indonesia bagian barat dengan memakai data baru dan menggunakan penentuan umur batuan granit, serta menjelaskan gejala evolusi tektonik Indonesia bagian timur yang rumit. Di sini tektonik lempeng digunakan sebagai dasar, memodifikasi, meningkatkannya dan melakukan perubahan terhadap yang perbah dilakukan dalam teori klasik.  

Pembaruan Model Tektonik Lempeng Indonesia

 

Model tektonik lempeng Indonesia dalam satu pola konvergen telah dibuat oleh Hamilton (1970) dan Katili (1971). Sistem busur subduksi Sumatera dibentuk oleh penyusupan lempeng samudra di bawah lempeng benua. Lempeng benua tebal dan tua ini meliputi busur volkanik berumur Perm, Kapur dan Tersier (Katili, 1973).  Sedimen elastis sangat tebal  menyusup di subduksi Sumatera (Hamilton, 1973) dan sedimen yang tebal didorong ke atas membentuk rangkaian kepulauan. Batuan magmatik yang dibentuk di atas zona Benioff selalu mempunyai karakter asam dan menengah.

 

Sistem subduksi Jawa dibentuk oleh subduksi lempeng samudra di bawah lempeng benua. Lempeng ini tipis dan berumur muda, serta seluruhnya hampir terdiri dari batuan volkano-plutonik berumur Tersier (Katili, 1973). Beberapa ignimbrit dijumpai di Jawa. Batuan magmatik kebanyakan menengah. Lempeng samudra di selatan subduksi tertutup sedimen pelagis dengan ketebalan 200 m (Hamilton, 1973).

 

Sistem subduksi Timor menunjukkan karakter yang berbeda. Dua fase yang berbeda dapat  dirincikan dalam perkembangan busur Banda. Pada tahap awal, lempeng samudra India-Australia disusupkan dibawah lempeng samudra Banda. Tahap berikutnya diikuti oleh subduksi lempeng benua Australia ke zona subduksi busur Banda, sebagai akibat gerakan menerus lempeng Australia ke utara. Hasil dari penurunan zona subduksi aktif ini adalah tidakadanya gunungapi aktif di pulau Alor, Wetar dan Romang. Jika asumsi ini benar, maka perlu dicari material mantel (ofiolit) di endapan tua Timor, serta sedimen darat di endapan-endapan Plio-Plistosen

 

Batuan magmatis yang dibentuk di atas zona Benioff Timor cenderung menengah dan basa. Lempeng di sini tipis dan muda dan diapit oleh lempeng benua. Ketebalan sedimen di zona subduksi Timor saat ini sekitar 8000 kaki, dengan kondisi yang relatif terganggu oleh sesar tensional yang dapat diamati.

 

Busur Sumatera, Jawa dan Banda menunjukkan perbedaan yang disebabkan oleh elemen-elemen lempengnya. Lempeng yang tua dan tebal akan membentuk rangkaian pulau-pulau besar dengan sifat gunungapi asam sampai menengah, sedang lempeng yang muda dan tipis akan membentuk pulau-pulau kecil dengan sifat gunungapi menengah sampai basa.

 

Dalam zona subduksi Tersier di Kalimantan barat-laut jarang ditemukan elemen-elemen eugeosinklin seperti ofiolit, rijang, lempung merah. Flish berumur Kapur Atas - Eosen Atas  yang berkembang sedikit atau tidak mengandung rijang dan ofiolit, sehingga menunjukkan adanya subduksi sangat miring (Haile, 1972).

 

Zona subduksi kapur di Jawa Tengah yang menerus ke Pegunungan Meratus di Kalimantan menunjukkan karakteristik dari batuan bancuh tipe Fransiscan (Sukendar, 1974) dan bentuknya yang mengarah ke subduksi Lempeng Samudra India-Australia,

 

Busur luar non-volkanik Indonesia ditafsirkan sebagai zona subduksi Tersier (Hamilton, 1970; Katili, 1973), dengan berbagai jenis  petro-tektonik yang dapat dibedakan. Pulau-pulau di pantai barat Sumatera ditandai oleh flish tebal dengan sedikit ofiolit.

 

Di pulau Timor, Seram, Buru dan Buton, sejumlah besar material sedimen klastik ditemukan. Sedimen Plio-Pleistosen hampir seluruhnya mempunyai karakter sedimen dan sedikit ofiolit.

 

Zona Subduksi Tersier dari Sulawesi Timur menunjukkan bahwa lapisan tipis sedimen pelagis mengisi palung. Hal yang sama terjadi di sekitar Halmahera dan pulau kecil disekitarnya. 

 

Kerangka Tektonik Busur Kepulauan Indonesia

 

Busur Sunda memperlihatkan efek dan mekanisme tektonik lempeng yang jelas. Bentuknya yang cembung ke arah samudra India dan perbedaan tatanan geologi, dan geofisika diintrepretasikan berhubungan dengan gaya tektonik yang bekerja padanya.  (Hatherton dan Dickinson, 1969; Fitch, 1970;  Hamilton, 1973; dan Katili, 1973).

 

Bentuk busur Banda yang melengkung, serta Sulawesi dan Halmahera yang ganjil terjadi karena gerak benua Australia dan Papua ke arah utara, yang dikombinasikan oleh gaya dorong Lempeng Pasifik ke arah barat (Katili, 1973). Hal serupa juga dikemukakan oleh Visser dan Hermes (1962), Audley-Charles dan Carter (1972), dan Gribi (1973). Timor, Seram, Buru dan Buton merupakan sistem busur yang sama berkenaan dengan kesamaan tatanan geologinya yang berasal dari hasil penunjaman Lempeng Samudra India-Australia.

 

Sulawesi pada zaman Mesosoikum kaya batuan metamorf, kecuali Buton dan Seram. Bagian tenggara Sulawesi mengandung ofiolit yang diperoleh dari lempeng samudra dengan endapan nikel dan krom, sedang Buton, Seram dan Timor menunjukkan perlapisan yang mengandung hidrokarbon.

 

Busur dalam volkanik Sangihe dan busur luar non-volkanik Talaud cenderung sejajar berarah utara-selatan. Punggungan Talaud meluas sampai Mayu dan menerus ke lengan timur Sulawesi. Punggungan bawah laut Mayu di Laut Maluku menunjukkan gaya berat minimum yang diduga merupakan akumulasi endapan-endapan opak dari sisa subduksi tua.

 

Bentuk dua lengan Sulawesi timur dan Halmahera dapat disebandingkan dengan dua anak panah yang bergerak ke barat. Ini telah diketahui cukup lama bahwa lengan timur yang cembung ke arah barat terdiri dari ofiolit, dan busur barat terdiri dari gunungapi aktif, yang di Sulawesi telah padam pada zaman Kwarter. Sulawesi dan Halmahera merupakan busur kepulauan yang mengarah ke utara selatan yang cembung ke arah Pasifik dengan zona subduksi Sulawesi-Maluku yang miring ke barat.

 

Pergerakan Lempeng Pasifik ke arah barat yang mengikuti sistem sesar transform menjelaskan kompleksitas tatanan geologi kawasan Sulawesi-Halmahera.  Selama pergerakan ini pulau Banggai dan Buton dibawa ke arah timur laut. Pergerakan Banda ke arah timur-barat hanya merupakan pelenturan, tidak membuat sesar besar sepertihalnya di Papua dan Sulawesi.  Volkanisme Kenozoikum  Sampai Resen

 

Daerah ini mempunyai tiga fase evolusi magmatik, seperti dikemukakan oleh Stilles sebagai “initialer vlkanismus”, “synorogener putonismus” atau “subsequenter vlkanismus” dan “finaler vlkanismus”. Tetapi konsep ini tidak dapat diterapkan dengan kaku ketika mempelajari hubungan antara volkanisme dan tektonik di Indonesia (Katili, 1969). Konsep Stilles hanya menunjuk satu daerah orogen, dan van Bemmelen memperluas gagasan itu dan menerapkan hal tersebut ke zona yang mempunyai struktur paralel pada sistem pegunungan Sunda, sesuai dengan teori undasinya.

 

Variasi komposisi laterit dari magma basal memotong kepulauan Indonesia ke berbagai busur sesuai dengan klasifikasi Kuno (1966), kedalaman yang berbeda akan memproduksi magma yang berbeda. Hartheron dan Dickinson (1969) menunjukkan bahwa di Indonesia terdapat korelasi antara peningkatan K2O dalam produk gunungapi yang baru dengan  kedalaman zona Benioff. Withford dan Nichols menyimpulkan bahwa kandungan K2O batuan dari gunungapi tunggal di Jawa normalnya memberikan hubungan garis lurus apabila dirajahkan dengan zona Benioff.  

 

Perbedaan kenampakan geologis, geofisik dan kegunungapian Sumatera dan Jawa terjadi karena perbedaan arah gerak ke utara dari lempeng India-Australia, dan perbedaan evolusi penurunan slab. Ini didukung fakta bawa zona magmatik di Sumatera dan Jawa mempunyai pola berbeda (Katili, 1973). Gunungapi di busur Jawa dan Banda menunjukkan dengan jelas efek dari proses ini.

 

Gunungapi potasik yang hadir di utara Jawa, utara Flores maupun Sumbawa tidak dijumpai di Sumatera. Ini dapat diterangkan bahwa penetrasi terdalam dari litosfer di Jawa dan Flores dapat mencapai 400 dan 700 km. Ketidakadaan gunungapi di Alor, Wetar dan Romang telah dijelaskan oleh adanya penghentian subduksi di busur subduksi Timor (Katili, 1974). Jika gunungapi ini masih berhubungan dengan subduksi Timor, maka perlu ada kesimpulan lain: seberapa jauh subduksi yang padam mempengaruhi keaktifan gunungaapi seperti terjadi di Una-una di teluk Gorontalo, Sulawesi Tengah.

 

Fitc (1970) menunjukkan bahwa walaupun tidak ada bukti dari mekanisme lokal untuk mendukung keberadaan undertusting sepanjang ujung timur busur Sunda, zona Benioff ada di zona ini. Penghentian zona subduksi oleh ketidakadaan undertrusting tidak harus menunjukkan penghentian gerak litosfer di bagian dalam.

 

 Gunungapi alkali kapur di busur Banda cenderung sejajar dengan palung Timor-Seram, dan berakhir dengan tidak beraturan di Seram. Zona subduksi berakhir di utara Buru dan berubah menjadi bagian luar sisi selatan dari zona sesar Palu Koro. Tidak ada gunungapi aktif yang hadir di antara pulau Buru dan lengan tenggara Sulawesi sebagai representasi lingkungan sesar transform.

 

 Di lengan barat Sulawesi, gunungapi aktif Kenozoikum akhir hadir di ujung selatan pulau, di teluk Gorontalo sebagai gunungapi Una-una serta di wilayah Minahasa dan Sangihe. Posisi tektonik dari gunungapi potasik di Sulawesi selatan ini tidak jelas zona Benioff  yang terjadi pada penyusupan di Pulau Jawa

 

Gunungapi Una-una memproduksi batuan seri alkali menengah, dan tidak ada hubungannya dengan  gunungapi-gunungapi alkali kapur yang terdapat di Sangihe dan Minahasa (Katili, 1960). Gunungapi berhubungan dengan adanya zona subduksi yang miring ke arah selatan yang telah patah, seperti dikemukakan Hamilton (1970). Kandungan potas yang tinggi sesuai dengan keberadaan zona subduksi itu. Gunungapi-gunungapi aktif alkali kapur dari kelompok Minahasa-Sangihe dapat berhubungan dengan zona subduksi yang miring ke arah barat, yang sejajar dengan jalur volkanik ini .

 

Kenampakan menarik lain yang dikemukakan oleh van Bemmelan adalah adanya plato basal di Lampung, Karimunjawa, Miut (Kalimantan Barat) dan Mindai (Paparan Sunda) yang sangat alkalis (Hutchinson, 1973). Di Sumatera tidak dijumpai gunungapi potasik dan litosfer tidak mempunyai kedalaman lebih dari 200 km. Boleh jadi keberadaannya di Kalimantan Barat, kepulauan paparan Sunda atau di Malaysia tidak berkaitan dengan zona subduksi yang ada di sebelah selatan, tetapi dihubungkan dengan zona subduksi yang lain. Hal tersebut juga tidak dijumpai di Selat Makassar dan Laut Cina. Hutchison (1973) mengemukakan hubungan basal tersebut  ke deep extension faulting sebagai interaksi lempeng-lempeng Eurasia, Samudra India-Australia dan Pasifik. 

 

Adalah menarik untuk dicatat bahwa basal alkali Karimunjawa dan Sukadana diposisikan sebagai batuan dasar yang terangkat. Busur Karimunjawa, menurut Nayoan (1973) merupakan komplek batuan sedimen klastik dengan ketebalan lebih dari 1.000 m, terdiri dari batupasir kwarsa yang termetamorfkan berumur Kwarter, yang tertutup batuan basalan. Tinggian Lampung  yang ditutup oleh basal Sukadana yang berasal dari geneis pra Tersier dan amfibolit yang diintrusi oleh batuan granit berumur Kapur (Katili, 1973). Pemikiran spekulatif pemunculan batuan basal alkali ini diinterpretasikan sebagai gunungapi aktif oleh hot spot yang tidak dapat dihubungkan dengan zona-zona subduksi dan pengangkatan. Jika asumsi ini benar, maka kita harus menerima kenyataan bahwa dataran Sunda telah berproses berjuta-juta tahun (Wilson, 1972)  Volkanisma Tersier

 

Lokasi geografi kepulauan-kepulauan timur Indonesia sebelum interaksi Lempeng-lempeng Eurasia, India-Australia dan Pasifik direkontruksikan berdasarkan pada analisis kinematik kerangka tektonik kepulauan Indonesia seperti telah didiskusikan paparan terdahulu.

 

Batuan volkanik Tersier di lengan barat daya Sulawesi meliputi trakit, batuan piroklastik, dasit, andesit, lava dan endapan lahar yang sebagian telah terkonsolidasi.  Batuan ini terdapat di Pare-pare dan di sepanjang zona sesar Palu.  

 

Batuan volkanik basa menghadirkan bentuk basal dan spilit. Umur batuan yang tidak diketahui hanya batuan volkanik Donggala di Sulawesi Tengah yang dianggap sebagai fasies volkanik berumur Eosen Formasi Tinombo.

 

Batuan granit di bagian selatan Sulawesi mempunyai umur yang berkisar 5 x 106 sampai 8,6 x 106 juta tahun, sekitar Pliosen Awal sampai Miosen Akhir. Batuan beku gunungapi berumur Tersier Awal di lengan utara Sulawesi telah diselidiki secara dengan rinci oleh Trail dkk (1974)

 

Formasi Dolokopa yang berumur Miosen Awal sampai Akhir mengandung andesit yang berlapis dengan graywacke dan batugamping. Volkanik Bilungala pada Miosen Awal sampai Pliosen di dekat Gorontalo mengandung andesit, dasit dan riolit. Breksi Wobudu berumur Miosen sampai Pliosen terdiri dari aglomerat andesit, tufa dan beberapa dasit serta basal. Gunungapi Pani yang diperkirakan berumur Pliosen, terdiri dari dasit, riolit, dan andesit yang terdiri dari batuan gunungapi dengan nama gunungapi Pinogu yang berumur Pliosen Akhir sampai Plistosen, mengandung andesit, dasit tuf dan aglomerat.  Tidak ada penanggalan radiometrik dilakukan terhadap batuan granit di kawasan ini, tetapi indikasi hubungan di lapangan menurut Trail dkk (1974) berkisar antara Pliosen (granodiorit Bumbulan) sampai Miosen (diorit Bone dan Bolihuto). Hal ini mungkin berhubungan dengan zona subduksi dari gunungapi Miosen di lengan utara dan lengan timur Sulawesi.

 

Batuan volkanik dan granitik berumur Pliosen akhir di Gorontalo boleh jadi desebabkan oleh subduksi minor yang terletak di barat laut Sulawesi yang terjadi akibat bergeraknya sistem sesar Sorong ke arah barat.   Volkanisma Pra Tersier

 

Batuan volkanik Kabur di Pegunungan Gumai mengandung dua fasies yang berbeda (Musper, 1937). Seri Saling yang mengandung tufa, batuan breksi volkanik kasar, aliran lava berkomposisi basalan dan andesitan dan batugamping terumbu. Seri Lingsing yang berisi formasi monoton dari lapisan tipis asam dan lempung dengan rijang radiolaria. Batuan volkanik berumur Kapur Atas mempunyai kisaran umur 169 ± 7 sampai 171 ± 3 juta tahun.

 

Volkanisme Perm terjadi di sepanjang Sumatera. Kejadian pada dataran tinggi Padang, Sumatera Tengah dan Jambi dirincikan dengan baik oleh Klompe dll (1961). Di Sumatera Tengah batuan volkanik mengandung aliran andesit horblenda, andesit augit dan tufa dengan interkalasi serpih asam dan batugamping yang mengandung fosil berumur Perm. Model tektonik lempeng memerlukan eksistensi granit Perm di Sumatera. Berdasarkan penentuan radiometri granit Paleozoikum di Sumatera Selatan dan Tengah berumur 276 – 298 juta tahun.

 

Batuan volkanik basalan dan andesit yang melimpah  dideskripsikan oleh Klompee (1961) di Kalimantan Barat dan Malaysia Timur. Sebaran batuan volkanik andesitan dan riolitik yang melimpah merupakan ciri khas semanjung Malaysia Timur (Hutchinson, 1973)

 

Kesesuaian zona subduksi  gunungapi Sumatera berumur Perm  yang menyusup ke benua Asia dengan zona Benioff purba yang berasosiasi dengan volkanik Malaysia – Borneo, yang menyusup ke arah Samudra India. Kejadian ini tidak sesuai dengan sistem palung busur yang telah dirincikan oleh Katili (1973) dan diperkuat oleh  Hutchinson (1973) Pupilli (1973). Alkali granit yang melimpah dengan umur yang berbeda di Kalimantan barat nampak mendukung keberadaan postulat yang menolak adanya zona subduksi ini.

 

Kejadian lain menyebutkan bahwa volkanisma Perm di Timor, didiskusikan oleh Roever (1941). Batuan di sini mengandung basal olivin, traki basal, traki alkali dan alkali riolit yang lebih tua dari ofiolit Timor, yang selama ini dikenal sebagai kegiatan volkanik di awal geosinklin. Kenampakan gologis, komposisi dan umur gunungapi tersebut  menunjukkan bahwa bukan busur volkanik Perm.   Penutup

 

Zona penujaman berumur Perm yang menyusup ke timur laut ke arah Benua Asia yang hadir di Kalimantan Batat menunjukkan salah satu episoda hadirnya litofser ke kawasan ini. Vulkanisma andesitan dan tubuh granit menyertai proses subduksi ini. Dalam waktu yang sama subduksi yang berarah barat daya dipercaya bekerja di timur laut tepi benua. Batuan andesitan, basalan, granitik terdapat di Malaysia Barat dan Kalimantan Barat sebagai kawasan volkano-plutonik.

 

Pada zaman Kapur zona subduksi bagian barat daya dan barat laut, keduanya menjadi lebih besar dan mengarah ke Samudra India dan Laut Cina Selatan.

 

Selama Tersier pengembangan sistem palung busur di Indonesia mencapai titik paling tinggi. Pusat pemekaran yang berasal dari Samudra Idia menghasilkan satu sistem palung busur yang meluas dari ujung barat laut Sumatera, Jawa, Sunda Kecil, Timor, Tanimbar, Kai, Seram, Buru dan Buton. Busur Banda pada waktu itu menunjukkan kecenderungan arah timur-barat seperti di Nias, Mentawai dan selatan Jawa yang memanjang sejauh 6.000 kilometer. Volkanisme secara intensif dan serempak terjadi bersamaan sepanjang pantai barat Sumatera, pantai selatan Jawa dan Sunda Kecil. Batuan granitis ditemukan di Flores, Alor dan Ambon sepanjang jalur volkano-plutonik Tersier

 

 Pada waktu yang hampir bersamaan pola subduksi baru berarah utara selatan terbentuk di timur Kalimantan, dengan pusat pemekaran di Samudra Pasifik. Kemunculan  ini berhubungan pula dengan sistem busur kepulauan Sulawesi - Filipina, karena arah gerak lempeng Pasifik sejak Oligosen-Eosen berubah ke dari timur - barat (Ben Abraham dan Uyeda, 1973).

 

Pada Miosen Tengah sampai Atas arah  zona subduksi Sulawesi Minadanau bergeser dari utara – selatan  lebih ke timur, sehingga membentuk busur kepulauan Halmahera. Busur ini tidak dapat berkembang lebih jauh. Subduksi berhenti pada akhir Miosen, dan membentuk busur luar non-volkanik seperti Mentawai, Nias, Tanimbar, Kei, Buru, Seram dan Buton.

 

Peristiwa paling dramatis di dalam sejarah geologi Indonesia terjadi selama Pliosen, ketika benua Australia bergerak cepat keutara bergabung dengan perputaran Papua yang berputar berlawanan arah jarum jam, dan bersama-sama ke barat membentuk sistem sesar transform Sorong, yang merubah perkembangan Indonesia Timur. Busur Banda yang berarah timur-barat dibengkokan ke arah barat membentur Sulawesi dan Halmahera, sehingga membentuk huruf K, juga menekan Sulawesi kembali  beratus kilometer kembali ke arah benua Asia.

 

Pada zaman Plio-Plestosen zone subduksi  barat Sumatera dan selatan Jawa bergeser ke arah laut dari palung Sumatera dan Jawa saat ini. Volkanisme Akhir Kapur sampai Resen bergerak dengan arah kebalikan dari arah kemiringan zona Benioff menunjukkan kedangkalan dibanding sebelumnya.

 

Pergerakan benua Australia ke arah utara dan pergerakan lempeng Pasifik ke arah barat daya terus berlanjut, dan diakomodasikan oleh palung Banda dan sistem sesar transform Sorong, sepanjang Banggai, Sula dan Buton.

 

Gunungapi di Indonesia timur dibentuk setelah tumbukan, mengikuti pola yang relatif sama sejak Tersier, tetapi rusak ketika pola subduksi telah diganti oleh pergerakan sesar transform. Gunungapi ini terdapat di Sulawesi utara, yang dibentuk oleh subduksi minor yang mengakomodasi pergerakan pulau ini. Gunungapi ini juga hadir di Halmahera sebagai konsekuensi polaritas balik akibat benturan di sebelah barat pulau ini.

 

Evolusi tektonik Kepulauan Indonesia menunjukkan bahwa sejak  Paleozoikum zona subduksi sudah menyebar secara sistematis di area yang melebar dari benua ke arah Lautan India, dan kemudian selama Tersier di arah Lautan Pasifik. Zona subduksi semakin tua akan mendekati benua dan semakin muda mendekati lautan.

 

Busur volkano-plutonik juga menunjukkan suatu zonasi struktur, tetapi volkanik dan granit menunjukkan umur yang berbeda walaupun berada pada jalur yang secara umum tergantung pada tingkat kemiringan zona Benioff. Zona struktur  dan kehadiran gunungapi di Indonesia barat sulit ditetapkan kacuali sejak Paleosoikum.  Di Indonesia barat zona subduksi belum bergeser sangat jauh ke arah Samudra India, sehingga gunungapi yang lebih muda menembus jalur orogen yang lebih tua. Di Indonesia timur migrasi jalur gunungapi terjadi pada jarak beratus-ratus kilometer. Perbedaan ini dianggap sebagai perilaku menyimpang. Pertumbuhan zona subduksi di Indonesia barat secara regular dapat berlanjut, tetapi di bagian timur selama Pliosen terjadi beranekaragam benturan dari Lempeng India-Australia, Asia dan Pasifik.

 

Hasil tumbukan ini menjadi pelengkap zona subduksi dengan polaritas terbalik seperti yang terjadi di Halmahera dan Sulawesi barat laut.  Sintesis ini mendukung gagasan bahwa Laut Banda merupakan lempeng samudra yang terperangkap di antara busur yang lebih muda, bukan sebagai diapir yang terjadi karena mekanisme tarikan seperti dikemukakan oleh Karig (1971).   

Ringkasan dari sumber pokok Geotectonics of
Indonesia: a modern view,
The Directorate General of Mines, Jakarta,  Katili J.A. 1998, hal. 200-224.

Posted by ET Paripurno at 10:05:06 | Permalink | Comments (4)

Saturday, September 16, 2006

VOLKANISMA DAN EVOLUSI GEOLOGI

1. Distribusi Batuan Beku

 


Gunungapi adalah fenomena utama yang menyertai evolusi kulit bumi. Hal ini merupakan hasil nyata dapat dijumpai dalam seluruh waktu geologi. Mengambil konsep kevulkanikan dalam arti luas, sebagai sebuah proses internal maupun eksternal yang menyeluruh merupakan faktor utama dalam evolusi kerak bumi. Kepulauan Indonesia merupakan reprasentasi singkat dari tesis ini. Sejumlah busur orogen dapat dicirikan dengan baik sejak zaman Paleosoikum sampai Resen. Sebagian besar diikuti oleh intrusi dan ekstrusi batuan beku dari berbagai umur. Pencirian dapat  dibuat oleh batuan beku pra orogen, ofiolit hasil geosinklin, batuan hasil geantiklin berafinitas Pasifik, variasi orogen akhir dari batuan berafinitas Mediteran serta ekstrusi basal olivin pasca orogen.  

Kepulauan di Paparan Sunda.

 

Paparan Sunda membentuk tepi kontinen yang kurang stabil, dikelilingi oleh sistem busur vulkanik Sunda. Ini dikonsolidasikan oleh orogenesa yang terjadi di daerah ini pada Palaesoikum Muda – Mesosoikum Tua. Siklus diatrofisma ini berawal di kepulauan Anambas dan menyebar ke arah timur laut ke Natuna dan ke arah barat daya ke kepulauan Riau dan Bangka Beliton. Di kepulauan Anambas batuan beku basa (gabro, gabro porfiri, diabas dan andesit) merupakan kelompok batuan tua yang diintrusi oleh batolit granit berumur Permo Trias. Kelompok batuan  ini sebanding dengan batuan Permokarbon Pulu Melayu di Kalimantan Barat.   Di kepulauan Natuna batuan tertua terdiri dari batuan beku basal (gabro, diorit, diabas, norit, ampibolit, serpentinit dan tufa) yang berasosiasi dengan rijang radiolaria. Ini merupakan tipikal asosiasi  ofiolit radiolaria yang dapat  dikorelasikan dengan batuan berumur Permokarbon bagian dari Formasi Danau (Molengraff) di bagian utara Kalimantan Barat. Seri yang lebih muda terdiri dari serpih dan konglomerat dengan batuan vulkanik basa berhubungan dengan  batuan berumur Trias bagian atas di Kalimantan Barat dan di daerah paparan Sunda. Batuan ini diintrusi oleh batolit granit pasca  Trias.  Pulau Midai yang sangat kecil  di barat daya kepulau Natuna merupakan vulkanik basal sub resen.  

 

Kepulauan Riau-Lingga

 

Batuan vulkanik dapat  disebandingkan dengan batuan gunugapi seri Pahang di Malaysia. Mereka sebagian merupakan batuan berumur Permokarbon dan Trias. Intrusi granit kemungkinan terjadi antara zaman Permokarbon dan Trias Atas. Batolit granit di daerah ini sebagian besar berumur pasca  Trias, atau mungkin Yura. Cebakan timah di daerah ini berhubungan dengan granit pasca Trias.  Cebakan timah jarang dijumpai di sebelah timur (Bintan dan Lingga) dan banyak dijumpai di sebelah barat (Karimun, Kundur, Singkep). Jalur timah ini meluas ke tenggara sampai Bangka dan Biliton. Pulau ini terdiri dari serpih dan kuarsit yang dapat disamakan dengan batuan berumur Trias Atas di kepulauan Riau-Lingga, sebagai busur yang diintrusi oleh batolit granit yang mengandung timah. Batolit granit yang sekarang tersingkap, kemungkinan merupakan merupakan batuan dasar (basement) regional  dari batuan plutonik granit. Karakter kulit bumi paparan Sunda sangat berhubungan dengan intrusi granit pasca  Trias (atau intra Yura), dan pengaruh ikutannya.    

 

Kalimantan

 

Evolusi geologi jalur utara Kalimantan barat dimulai dengan adanya penurunan geosinklin setelah pembentukan batuan dasar sekis kristalin Pra  Karbon. Kegiatan ini diikuti intrusi batuan basa (gabro) dan ekstrusi (batuan basalan dan basalan andesit dari Seri Molengraaff’s Pulau Melayu). Fase awal dari perlipatan Permotrias, diikuti oleh penempatan batolit, terutama tonalitik. Setelah denudasi kuat sehingga batolit-batolit  tersingkap, terjadi proses transgresi  Trias Atas. Sedimentasi berlanjut di bagian barat jalur ini sampai Lias, dan diikuti oleh volkanisme asam sampai menegah. Fasa kedua adalah perlipatan kuat pada zaman Yura. Transgresi Yura atas dan Kapur di daerah Seberuang berumur Kapur (Zeylmans Van Emmichoven, 1939) menunjukkan adanya interkalasi lava asam dan tufa asam. Pelipatan lemah terjadi akibat tekanan intrusi diorit pada zaman Kapur Atas. Intrusi berlanjut sebagai intrusi hipabisal dan ekstrusi batuan vulkanik Oligomiosen (terutama andesit hipersten horblenda, dengan berbagai verietas asam lainnya). Di bagian Tersier  bawah Cekungan Ketunggan juga merupakan diorit holokristalin seperti dikemukakan Zeylmans Van Emmichoven  (1939). Pada zaman Kwarter, batuan basal muncul di seputar  andetis horblena Niut, sehingga dapat dikomparasikan dengan erupsi efusif basal Sukadana di Sumatra.Batuan plutonik “Schwaner Zona” merupakan bagian terdalam yang tersingkap di Kalimantan Barat. Di sini, dari timur ke barat membentuk pusat sumbu sistem pegunungan Palezoikum muda sampai Mezosoikum tua  Kalimantan Barat. Evolusi daerah ini dimulai dari pembentukan kompleks batuan dasar sekis kristalin dan geneis. Transgresi terjadi pada Permokarbon yang menghasilkan fasies pelitik dan psamitik dan sebagian endapan batugamping. Pada Permo Trias terjadi intrusi plutonik yang dimulai dengan gabro dan diakhiri batuan lebih asam yang kebanyakan tonalit, batuan beku dalam, dengan lampopir, aplit dan pegmatit. Setelah batuan plutonik tersingkap, pengendapan  pelitik dan psamitik terjadi pada zaman Trias Atas. Tidak ada fasies vulkanik  Trias Atas yang ditemukan di Zona Schwaner.  Selanjutnya terjadi perlipatan yang diikuti oleh alterasi hidrotermal epimagmatik.  Pengangkatan berlangsung sampai sekarang dengan disisipi intrusi selama  Tersier .Bagian selatan Zona Schwaner ini terdapat tiga kelompok batuan utama, yaitu batuan plutonik, batuan vulkanik Komplek Matan dan batuan sedimen klastik Komplek Ketapang. Bagian dari batuan komplek Matan dan Ketapang teralterasi oleh intrusi batolit granit. Batuan metamorf dari komplek Matan dapat dikorelasikan dengan batuan gunugapi seri Pahang di Malaysia dan Kompleks  Ketapang berumur  Trias Atas. Batuan non metamorf di komleks tersebut diasumsikan sebanding dengan endapan  Tersier  Bawah dan batuan vulkanik di jalur sebelah utaranya.Di Kalimantan Tenggara terbentang Pegunungan Meratus berumur Pra Tersier berarah utara – selatan. Di Meratus perkembangan batuan beku relatif  lebih muda dibanding dengan Kalimantan Barat. Kompleks batuan dasar sekis kristalin di sini berumur Mesosoikum akhir. Orogenesa di Zona Meratus baru terjadi ketika proses pembentukan pegunungan di Kalimantan Barat akan selesai.  Zaman Yura geosinklin terbentuk, berikut pengendapan ofiolit dan radiolaria dari Formasi Alino. Kemungkinan Formasi Alino berumur Yura di Kalimantan Tenggara sama dengan batuan Permokarbon Formasi Danau di jalur utara Kalimantan Barat. Formasi Alino dan Paniungan dari zona Meratus diintrusi oleh batuan plutonik. Intrusi yang pertama ini merupakan variasi batuan plutonik asam  yang sangat beragam (dunit, peridodit) yang diakhiri dengan batuan granit plagioklas dan porfirtik.  Setelah pengangkatan pertama batuan non-vulkanik ini Zona Meratus mengalami penurunan kembali. Pada zaman  Kapur tengah sampai atas terjadi pengendapan dari hasil erosi kuat batuan berumur Yura yang terlipat serta masa batuan plutonik peridotit dan granit.  Kapur terdiri dari fasies vulkanik dan non-vulkanik. Pada akhir Kapur Zona Meratus mengalami pengangkatan kedua, dan aktivitas vulkanik berlangsung sampai  Tersier  Bawah. Pengangkatan kedua ini menutup aktivitas siklus orogenesa Zona Meratus. Zona Meratus merupakan contoh baik untuk siklus pembentukan pegunungan. Pada zaman Yura dimulai dengan penurunan geosinklin yang diikuti dangan vulkanik bawah laut dengan proses ofiolitnya, sebagai awal mulainya pembentukan batuan plutonik basa dan ultrabasa. Penurunan geosinklin ini disertai dengan dua kali pengangkatan. Geantiklin pertama terjadi pada zaman Kapur Bawah. Ini didominasi batuan non-vulkanik, berupa batolit granit yang diintrusikan ke pusat geantiklin. Pengangkatan kedua merupakan aktivitas vulkanik dengan inti magmatik dari geantiklin sampai ke permukaan.   

 

Filipina

 

Kepulauan Filipina sebagian besar terdiri dari batuan beku, sedang batuan sedimen hanya tipis di bagian permukaan. Seperti halnya yang terjadi di Kalimantan barat dan tenggara, evolusi orogenik di Filipina dimulai dari penurunan geosinklin, yang diikuti dengan intrusi dan ekstrusi batuan basa dan ultrabasa (ofiolit). Hanya saja prosesnya terjadi dalam umur yang lebih muda. Batuan plutonik basa dan ultrabasa merupakan kerangka dasar kepulauan ini dengan intrusi granit yang jarang terjadi. Batuan ini dianggap sebagai batuan yang paling tua, walaupun banyak beberapa argumen bahwa batuan ini lebih muda dari yang diperkirakan.    Maluku Utara.

 

Evolusi geologi Maluku Utara dan aktivitas magmatisme kawasan ini sama dengan di Filipina.  Penurunan geosinklin mulai terjadi pada Mesosoikum awal. Transgresi di kelompok Halmahera kemungkinan terjadi setelah  kepulauan Sula dan Obi. Batuan abisal di kelompok Halmahera secara umum terdiri aas gabro, norit, peridotit tersepentinitsasi, diorit, kuarsa dan granodiorit. Ofiolit basa dan ultrabasa diitrusi selama penurunan geosinklin. Ada jeda stratigrafi antara Eosen dan Neogen. Pada endapan Neogen dan Kwarter hadir batuan vulkanik menengah sampai asam.  Aktivitas vulkanik hadir di Halmahera utara, Ternate  dan pulau-pulau kecil lainnya.  

 

Sulawesi

 

Batuan beku dari berbagai komposisi menyusun pulau ini.  Bagian utara dan barat Sulawesi disusun oleh batuan beku alkali  kapur  berumur Tersier. Sepanjang pantai barat sampai lengan selatan dari vulkanik terdiri dari batuan beku alkali-kapur yang melampar luas. Terpisah dengan batuan ini terdapat dilengan utara. Di Sulawesi timur dan tenggara peridotit dan batuan ofiolit lainnya tersingkap luas, dengan batuan vulkanik dan granitit hampir tidak ada. Di Sulawesi utara, barat dan tengah hanya didapatkan ampibol granit. Di Sulawesi terdapat intrusi pada ofiolit berupa batuan beku basa (peridodit dan serpentinit), gabro dan basal (splite). Ofiolit banyak terdapat di Sulawesi utara, barat dan tengah, tetapi tidak tersingkap di lengan timur.  

 

Maluku Utara dan Busur Banda.

 

 Kepulauan ini merupakan ujung yang terpisah dari Sistem Pegunungan Sunda. Pada Mesosoikum jalur orogen kawasan ini masih merupakan satu kesatuan dengan Sistem Pegunungan Circum-Australia. Pada Paleozoikum akhir, orogenesa dimulai dengan penurunan geosinklin di Cekungan Banda bagian tengah. Daerah ini merupakan pusat diatrofisma. Dari sini deformasi menyebar ke arah utara (Sistem Seram) dan selatan  (Sistem Tanimbar), yang di dihubungkan oleh sektor Kai dan busur Banda yang hadir sampai Tersier. Evolusi busur banda ini secara umum sesuai dengan proses pembentukan pegunungan dari Kepulauan Indonesia.Saat ini Sistem usur Banda mempunyai anomali isostatik negatif yang kuat. Ini menunjukkan bahwa pada jalur ini terdapat energi potensial yang  diperkirakan merupakan busur inti dan kerak batuan sialik dengan densitas rendah. Busur ini belum terkonsolidasi dengan kuat, mempunyai temperatur tinggi, dan banyak mengandung gas dengan kekentalan rendah. Kondisi ini menunjukkan adanya magma aktif yang memberikan gaya vertikal jika kondisi memungkinkan.     Kepulauan Sunda Kecil.

 

Kepulauan Sunda Kecil merupakan bagian dari Sistem Pegununggan Sunda. Evolusi orogenesa di kawasan berhubungan dengan Busur Banda. Ada dua deret jenis batuan beku dalam sistem ini (Roevei, 1940). Batuan tertua di Timor berumur Perm, berupa kelompok basal trakit yang mempunyai karakter Atlantik lemah. Batuan vulkanik ini dierupsikan pada awal pembentukan geosinklin. Setelah itu Sistem Orogenesa Timor berkembang. Seri lain berupa komplek ofiolit – split, yang berumur Pra Miosen. Batuan ini merupakan  bagian dalam dari geosinklin, yang juga dapat dijumpai secara luas lingkaran luar Busur Banda. Batuan beku ini mempunyai karakter Mediteran yang kontras dengan seri Atlantis. Seri Mediteran bersifat potasik, dierupsikan pada saat akhir siklus orogenesa, di bagian dalam busur vulkanik. Contoh dari batuan ini adalah lava yang mengandung leusit dari erupsi G. Batu Tara, Tambora dan Soromandi. Tipe lain di bagian dalam busur vulkanik  Kepulauan Sunda Kecil dibentuk oleh granodiorit  Tersier. Di Flores terdapat bantuan berumur intra Miosen, sedang di Lirang maupun Wetar yang diduga berumur Neogen. Di dalam busur vulkanik ini terdapat tiga siklus aktivitas vulkanik: Neogen Tua, Neogen muda dan Kwarter sampai Resen. Dua siklus tertua didorong oleh intrusi batolit granodiorit yang naik sampai beberapa kilometer di bawah permukaan.  Pengangkatan terakhir terjadi pada Plio-Plistosen disebabkan oleh  pengaktifan kembali vulkanik yang akan padam. Ini merupakan tipikal pembentukan gunungapi di Maluku yang merupakan jalur vulkanik di luar cekungan.  

 

Jawa.

 

Jawa merupakan bagian dalam dari busur vulkanik Sistem Pegunungan Sunda. Pada zaman Mesosoikum jalur ini berada di bagian geantiklin yang jauh di sebelah utara.  Di sini ofiolit bercampur dengan sedimen Pra  Tersier, misalnya di daerah Luk Ulo dan Ciletuh, Jawa Barat.  Batuan Pra  Tersier  di Luh Ulo terdiri dari sepertinit, gabro dan diabas (Harloff, 1933). Batuan Pra  Tersier  di Ciletuh juga mengandung batuan beku basa dan asam yang termetamorfosakan (gabro, peridotit dan serpentinit) dengan sekis klorit dan filit. Pada akhir geantiklin Mesosoikum terjadi proses pengangkatan. Pengangkatan pertama bukan merupakan aktivitas non-vulkanik. Akhir  Tersier  merupakan perioda penurunan. Endapan non-vulkanik berumur Eosen diendapkan secara trangresi di atas komplek batuan dasar Pra  Tersier. Selanjutnya pada akhir Paleogen magma sampai permukaan, dan perioda vulkanik kuat dimulai, dengan beberapa menunjukkan karakter bawah laut (Andesit tua, siklus awal dari vulkanik Pasifik).Pada Miosen tengah jalur vulkanik Jawa didorong oleh batolit granit sampai granodiorit, sehingga menghasilkan vulkanik-vulkanik Andesit Tua yang sangat basa. Batuan beku holokristalin Intra Miosen sekarang tersingkap di Merawan, Jiwo, Luh Ulo, Tenjo Laut, Cilaju, Bayah dan lainnya (misalnya tufa dasit atau dasit di Genteng, selatan Tenjolaut) yang mengakhiri siklus vulkanik berafinitas Pasifik.Siklus vulkanik kedua terjadi pada zaman Neogen akhir, yang diakhiri oleh pengngkatan kedua dari busur vulkanik. Selanjutnya siklus ketiga berlangsung terus sejak Kwarter sampai sekarang. Kenampakan khas dari siklus kedua dan ketiga vulkanik ini adalah intrusi dan ekstrusi sepanjang tepi selatan geantiklin Jawa yang menunjukkan keanekaragaman batuan-batuan alkali. Intrusi Neogen akhir di Zona Bogor (Jawa Barat) dan Pegunungan Serayu Selatan di Jawa Tengah menunjukkan karakter essexitic. Pada zaman Kwarter gunungapi yang menghasilkan leusit hadir di timur laut Jawa yang merupakan sisi dalam geantiklin vulkanik (Muria, Ringgit).   

 

Sumatra

 

Bukit Barisan di Sumatra dibentuk dengan cara seperti geantiklin Jawa Selatan. Selama Mesosoikum jalur ini merupakan bagian muka busur dari geantiklin yang berukuran lebih luas dari Bukit Barisan saat ini. Endapan di geosinklinal terlipat kuat membetuk isoklin dengan arah gerak dari timur laut ke barat daya. Proto Barisan masih terdapat batuan non-vulkanik. Sepanjang lereng timur dari geantiklin Barisan berumur Kapur masih terdapat granit yang telah mengalami perlipatan kuat. Busur ini dimulai dari pulau Berhala di selat Malaka utara, meluas di sepanjang  Suligi-Lipat Kain dan Lisun-Kuantan, serta melipat kuat sampai sebelah timur danau Singkarak dan Jambi. Umur granit  di bagian utara jalur (pada granit pembawa timah di Berhala dan Suligi-Lipat Kain) diperkirakan Yura. Di bagian lebih selatan berumur  Karbon dan Permokarbon, dan sebagian pasca  Trias. Kemungkinan granit di Lampung yang mengintrusi sekis kristalin dan geneis dari komplek batuan dasar tua merupakan bagian dari lipatan ini.Seperti halnya busur vulkanik Pulau Jawa dan Sunda Kecil, pulau Sumatra mengalami tiga siklus aktivitas vulkanisma. Siklus pertama terjadi pada akhir Paleogen dan diakhiri oleh pengangkatan intra Miosen. Pengangkatan ini diikuti oleh intrusi batolit granodiorit, yang menjadi dasar dari batuan vulkanik Andesit tua. Di permukaan kenaikan magma granit ini diikuti oleh erupsi paroksismal dari letusan Katmaian yang mengeluarkan aliran tufa asam dengan jumlah yang sangat besar.Sepanjang Neogen atas, siklus kedua aktivitas vulkanik Pasifik terbentuk dan diakhiri oleh pengangkatan Plio-Plistosen. Selanjutnya erupsi paroksismal itu ditutup oleh letusan magma batolit granit yang berada di dekat permukaan (Semangko, Ranau, Toba). Demikian juga tufa asam Lampung di Sumatra selatan dan tufa Bantam di Jawa Barat dan di selat Sunda dierupsikan pada periode ini. Akhirnya siklus ketiga terbentuk, menumbuhkan kerucut-kerucut vulkanik di sepanjang Bukit Barisan. Sedikit berbeda terdapat pada erupsi efusif basal olivin resen yang terjadi di Sukadana Lampung. Irupsi celah ini terdapat di tepi perisai kontinen Dataran Sunda, dan dapat disebandingkan dengan erupsi efusif basal di Midai, Niut - Karimun Jawa. 

 

Pulau Barat Sumatra.

 

Kepulauan ini memberi gambaran yang berbeda dari busur luar Sistem Pegunungan Sunda.  Selama  zaman Tersier  jalur ini merupaka palung busur dari Zona Barisan. Pada zaman Eosen, intrusi basa dan ultrabasa yang terserpentinitisasi hadir. Pada zaman Kwarter pembentukan busur geantiklin pada jalur ini dimulai, dan berlanjut sampai saat ini. Anomali isostatik negatif pada jalur ini menandakan adanya energi potensial yang mmungkin muncul. Pengangkatan pertama dari palung busur ini seluruhnya batuan non-vulkanik, dan sesuai dengan aturan umum dari evolusi orogen di Kepulauan Indonesia.  

 

Kepulauan Andaman dan Nikobar

 

Peristiwa magmatisma dan orogenesa yang serupa terjadi di kepulauan ini. Seri Serpentinit representasi dari ofiolit vulkanik palungbusur lebih tua dari Eosen. Tetapi menurut Chiber (1934) lapisan basal Eosen juga bercampur dengan  batuan vulkanik ultrabasa, seperti yang terjadi di Nias.   

 

New Guinea.

 

Di pulau ini terdapat dua sistem orogenesa.  Rangkaian pegunungan bagian tengah merupakan dari Sistem Cir­cum-Australian, dan bagian utara merupakan bagian dari Sistem Melanisia. Sistem Melanesia terdiri dari busur vulkanik di bagian dalam dan busur non-vulkanik di bagian luar. Bagian tengah dari busur vulkanik ini aktif pada zaman Neogen. Bagian utara dibentuk oleh busur luar non-vulkanik dari Sistem Melanisia. Di bagian utara New Guenea juga terdapat aktifitas diatrofisma Pra  Tersier  yang diikuti dengan aktivitas pembentukan batuan beku. Di pegunungan Cyclope utara tersingkat batuan-batuan  ofiolit berupa serpentinit dan gabro yang diintrusi oleh batuan plutonik asam (diorit dan granit). Di Vogelkop intrusi granit mengalami metamorfosa kontak dengan endapan-endapan berumur Yura yang teralterasi. Bagian tengah New Guinea mengalami penurunan geosinklin sejak zaman Silur. Aktivitas geosinklin pada zaman Oligosen tidak memunculkan batuan vulkanik. Aktivitas vulkanik baru hadir selama  Miosen, berikut intrusi batuan plutonik monsonit, syenodiorit, diorit, granodiorit, granit dan lainnya. Akhirnya morfologi saat ini dibentuk akibat aktivitas vulkanisma selama Kwarter.    

 

Pulau Christmas.

 

Pulau ini terdiri dari batuan dasar berupa batuan vulkanik bersifat basa dari afinitas Atlantik berumur Tersier. Komposisi batuan beku berhubungan dengan aktivitas vulkanik lainnya yang berada di Samudera Atlantik, Pasifik dan Hinidia. Yang membedakan dengan kepulauan Indonesia adalah kehadiran alkali kapur dari seri Pasifik yang dominan.   

 

2. Evolusi Magmatik dan Orogenesa

 

Tinjauan terhadap hubungan antara orogenesa dan aktivitas batuan beku di kepulauan Indonesia akan mengikuti kecdenderungan aturan umum. 1.    Batuan-batuan dengan afinitas Atlantik berada di luar jalur orogen. Erupsi akan terjadi selama tahap awal proses penurunan cekungan geosinklin, sebagai awal pembentukan pegunungan.2.    Siklus pembentukan pegunungan dimulai dengan penurunan geosinklin. Pada pusat geosinklin diatrofisma terbentuk. Orogenesis memencar secara radial sebagai gelombang permukaan yang besar (Anambas, Banda) 3.      Batuan-batuan ofiolit dengan komposisi basa dan ultrabasa dierupsikan dari cekungan muka busur dari gelombang permukaan tersebut. Gunungapi bawah laut ini berasosiasi dengan rijang radiolaria dan endapan-endapan laut dalam. 4.      Setelah perioda penurunan geosinklin berlangsung (dalam jutaan atau puluhan juta tahun) muka busur melengkung ke atas membentuk struktur geantiklin. Secara umum beberapa peristiwa pengangkatan terjadi, dan disisipi oleh fase penurunan yang tenang. 5.      Pengangkatan geantiklin jalur orogen secara umum menghadirkan batuan non-vulkanik, yang selanjutnya diikuti oleh aktifitas vulkanik orogen dengan  batuan-batuan alkali-kapur dari afinitas Pasifik. Hanya geantiklin termuda dari Sistem Pegunungan Sunda dan Filipina yang menunjukkan cekungan samudra selama terjadi pengangkatan. Tahap akhir dari evolusi jalur orogen selalu menghadirkan batuan beku potasik dengan afinitas Mediteran. 6.      Setelah melewati beberapa fase diatrofisma dengan berbagai pengaruh intrusi dan ekstrusi batuan beku, jalur orogen terkonsolidasikan menjadi kerak yang kaku seperti karakter kontinen. Fokus diatrofisma yang asli akhirnya terkonsolidasikan ke blok kerak yang kaku, yaitu pada jalur  orogen yang telah menyebar radial setahap demi setahap ke seluruh busur. 7.      Jalur orogen ini, yang berada di sekitar daerah diatrofisma tua yang telah terkonsolidasi, dapat dibedakan dari busur dalam vulkanik dan busur luar non-vulkanik  melalui struktur lipatan sentrifugal. Daerah yang terkonsolidasikan dapat membentuk peneplain di bawah permukaan, atau berada di bawah kerak utama sehingga mencapai kedalaman beberapa kilometer di bawah permukaan laut.   8.  Di sepanjang tepi Sistem Dataran Sunda basal olivin dierupsikan pada zaman Kwarter (Midai, Niut, Murai, Beluh, Karimunjawa, Sukadana).   

 

3. Asal Batuan beku

 

Sulit menguraikan hubungan timbal balik antara berbagai gejala tektonogenesis, vulkanik, anomali gravitasi dan gempabumi, apabila tidak mempunyai hipotesis kerja tentang asal mula magma. Penting melalukan penafsiran evolusi dan merekontruksi hubungannya agar mampu mempunyai konsep yang umum mengenai asal mula batuan beku, yang selaras dengan semua hal yang berhubungan dengan geologi, vulkanologi dan geofisika. Sebagian besar teori geotektonik yang diusulkan di masa lalu melalaikan sisi ini. Nampaknya evolusi geokimia bumi mempunyai arti penting bagi evolusi orogen ( van Bemmelen, 1948).  

 

Problem Granit

 

Asal mula granit menjadi topik hangat pada setiap dikusi. Tulisan mengenai hal tersebut antara lain dikemukakan oleh Grout (1941), P. Niggli (1942), Reinhard (1943), Read (1943), Holmes (1945), Backlund (1945), Raguin (1946), Reynolds (1947), Eskola (1948), Glangeaud (1948), Bowen (1948), Brouwer (1947), King (1947), Nieuwenkamp (1948).   Ada dua pendapat yang saling berlawanan. Pertama, granit berasal dari erupsi efusif magma yang mengintrusi kerak bumi. Teori ini berdasarkan penelitian kimia-fisika pelelehan silikat di laboratorium. Bowen, Nigli dan peneliti lain mengeluarkan teori diferensiasi kristalisasi fraksinasi. Berdasarkan teori ini magma granit berasal dari magma induk yang lebih basa dari komposisi basal. Faktor utama dari diferensiasi adalah kristalisasi dan fraksinasi dibawah pengaruh gaya gravitasi. Konsep ini tidak dianggap bertentangan dengan klasifikasi klasik tentang batuan beku menurut Rosenbusch. Asal mula magma granit ini diadopsi oleh sebagian besar ahli petrologi.Konsep lain mengikuti alur pemikiran yang dikemukakan oleh ahli petrologi Perancis  Ami Bout, Fournet, Ter­mier, Lacroix, Perrin. Roubault, Lelubre, Raguin (1946). Konsep ini menyatakan bahwa magma bermula dari aktifitas pancaran pada pra kondisi batuan (­pra-existing rocks). Menurut pendapat ini granit berasal dari pra kondisi batuan yang berasal dari komposisi kimia dan mineralogi yang berbeda akibat introduksi dan perubahan unsur dalam jumlah yang besar. Proses granitisasi ini terjadi dalam bentuk padat, tanpa melalui bentuk magma granit. Migrasi material terjadi secara difusi (Ramberg, 1944; Bugge, 1945; Wahl, 1946, dll.). Dalam tahun-tahun berikutnya beberapa petrologis Inggris, Scandinavia dan negara lainnya mengikuti teori ini. Teori ini berdasarkan riset kimia fisika tentang difusi dan reaksi intra-kristalin dalam kondisi padat, menggantikan reaksi silika cair. Teori granitisasi ini menempatkan granit pada kelompok batuan metamorf. Granit menurut konsep tersebut adalah hasil metamorfisma lanjut.Teori diferensiasi kristalisasi fraksinasi memberikan klasifikasi batuan beku dan proses-proses yang berhubungan dari pnematolitik dan metamorfosa hidrotermal dalam aura kontak. Tetapi studi mengenai hubungan batuan beku di lapangan dan perubahannya menjadi batuan metamorfik telah memunculkan keraguan dan pantas dipertimbangkan. Kebenaran dari konsep asal mula batuan beku harus melalui langkah magmatisma nyata. Reinhard (1943) menjelaskan hubungan ini, ”Alam tidak mengambil isyaratnya dari teori, tetapi kita yang harus menyesuaikan teori kita ke alam. Ketika observasi geologi lapang bertentangan dengan magma induk batuan beku, kita perlu mencari kemungkinan lainnya”.  

 

Kontroversi Antara Magmatists dan Transformists

 

Sekian lama setelah Hutton meninggal (1797) beda pendapat tentang mencari kebenaran antara Volcanists dan Neptunist, yaitu kontroversi antara Magmatist dan Transformist, masih terjadi. Pangkal permasalahnnya adalah tentang keberadaan granit. Dalam pemahaman lama mengenai kristalisasi, batuan yang dicairkan merupakan proses yang bisa menjelaskan asal granit. Pendapat lainnya adalah difusi dalam kondisi padat. Alterantif lain adalah kristalisasi ulang dalam status sedimental padat, sebagai perubahan kimia fisika yang disempurnakan oleh difusi melalui kenaikan suhu dan statusnya yang padat.Oleh karena itu pertanyaan pertama yang harus dipecahkan dan penjadi postulat para magmatis adalah melihat magma sebagai magma sebenarnya yang merupakan cairan silikat. Karakter plutonik granit bukanlah suatu jaminan asal magma. Pernyataan behwa batuan plutonik merupakan hasil kristalisasi magma adalah suatu hipotesis murni. Jawaban atas pertanyaan ”apakah magma?” dalam pandangan kaum ortodok adalah suatu cairan pijar berupa larutan molekular dengan komposisi utama silika, dengan unsur-unsur yang mudah menguap, terutama air, yang mendorongnya bersifat mobile. Dalam konsepsi modern, magma dipahami seperti bubur beras (”milky rice pudding”), campuran kristal dan air. Magma ini tidak terlalu berbeda dengan konsep sekarang.  Menurut konsepsi ortodok, asal granit berasal dari intrusi magma dan mengalami kristalisasi sebagian; sementara fase berikutnya menyebabkan metamorfosa yang melibatkan batuansamping dan merubah komposisinya. Konsep ini nampaknya tidak cukup. Setidaknya untuk kasus Indonesia.Secara teoritis terdapat 3 jenis granit. (1) granit juvenil, yang dibentuk oleh kristalisasi dan deferensiasi magma, (2) granit palingenetic, yang dibentuk oleh anatexix (peleburan) dari batuan dengan komposisi kimia seperti granit (serpih, geneis, batupasir, granit) atau oleh pencampuran batuan yang berbeda komposisi, (3) granit metasomatik, yang dibentuk oleh proses metasomatis dari batuan tua, yang dapat dikenali dengan adanya struktur palimsest. Ketiganya ada dialam ini, tetapi tidak ada ukuran yang tepat untuk masing-masing batuan granit tersebut. Pada saat ini batuan plutonik tersingkap dengan berbagai asal kedalaman, dan granit relatif melimpah. Kita harus mengasumsikan bahwa magma induk (parental) basa harus berada lebih dalam daripada tingkat denudasi. Kita hanya dapat meneliti batuan plutonik, tersingkap sebagai intrusi pada kerak bumi; itu merupakan hasil interaksi dari magma induk bagian atas. Kita tidak dapat meneliti magma plutonik. Untuk menyatakan bahwa batuan plutonik itu berasal dari suatu magma adalah tidak lebih dari sebuah hipotesis yang memerlukan bukti dukungan.Reinolds (1947) menyatakan bahwa banyak kejadian yang membuktikan bahwa pembentukan granit dapat berlangsung melalui transformasi bentuk pada pra kondisi batuan. Alterasi metasomatik progresif memungkinkan merubah bentuk batuan plutonik menjadi lebih asam dan mempunyai kristal lebih kasar. Menurut Hou dan Harwood (1937) konsentrasi energi untuk magmatisasi secara lengkap oleh pancaran adalah suatu konsekuensi dari beberapa faktor: tingkat energi yang memancar, reaksi eksoterm dengan material yang dikenai, serta temperatur setelah proses. Sementara Hausas (1944) menafsirkan bahwa proses magmatisasi dari metasomatisme memerlukan keseimbangan: (1) pancaran yang datang, (2) asal energi, (3) material kerak bumi, dan (4) pancaran lain.Proses granitisasi selalu disertai dengan proses basifikasi atas batuan itu. Bahkan kehadiran granit akan lebih sedikit. Ini disebabkan komposisi endapan geosinklinal lebih banyak mengandung unsur basa dibanding granit. Proses granitisasi dan basifikasi dikenal pula sebagai diferensiasi metamorfosa, yang merupakan hasil difusi metamorfosa.   

 

Beberapa Massa Granit Plutonik di Indonesia

 

Orogenesis di Kepulauan Indonesia diikuti oleh intrusi seperti batolit granit  sebagai inti geantiklin. Granit ini berumur Permo-Triassic sampai Tersier akhir, sedemikian sehingga mereka menyebar secara berangsur lebih muda di jalur  orogenesa dari pusat diastrofisma yang berbeda.Di pusat orogenesa pasti mempunyai tahap diatrofisma dan granit yang paling tua, kemudian gejalanya menjadi lebih muda ke arah busur sebelah luar. Perkecualian dibentuk oleh granit Sumba berumur Mesosoikum. Di dataran Sunda sebaran massa plutonik dari yang bagian dalam ke sebelah luar sudah jelas. Poros Daratan Sunda dibentuk oleh jalur  Anambas-Schwaner yang berumur Permotrias. Perjalanan ke utara dari poros ini, ditemukan pertama Zona Natuna-Semitau dengan umur lebih tua, sekitar Trias. Di Seberuwang didapatkan diorit  berumur Kapur Akhir. Di Ketungau batuan berumur Tersier Tengah diduga diorit. Granodiorit berumur Tersier tengah juga di Kalimantan Utara (Kinabalu), yang belakangan menjadi anggota busur orogenesa Pilipina. Intrusi diorit di daerah Telen Kalimantan Timur menduduki suatu posisi terisolasi. Mereka mungkin menjadi anggota Zona Semitau. Dari zona Anambas-Schwaner ke arah selatan dijumpai  granit Malaya berumur Yura di Kepulauan Riau-Lingga, Bangka, Billiton, Karimata Pulau dan Kalimantan Barat. Zone ini  dapat dibagi menjadi dua jalur. Di bagian dalam cebakan timah jarang dijumpai, dan sebelah luar  membentuk jalur timah.Di Sumatra busur bagian dalam dari  Sistem Pegunungan Sunda terdapat jalur  dengan massa seperti granit di unit terlipat. Jalur berumur Kapur akhir ini meluas dari timur melalui Pulau Jawa ke Flores.  Di Ambon, Kaibodo, Manipa dan Kellang tempat busur Banda ini berakhir dijumpai batuan seperti granit berumur Tersier Tengah.Dari Kalimantan ke timur kita bertemu granit berumur Kapur  Meratus, dan kemudian granit berumur Tersier di Sulawesi utara. Distribusi granit ini betul-betul menyatakan bahwa telah ada suatu pertumbuhan granit sejak Mesosoikum dari Anambas-Schwaner ke arah Sistem Pegunungan Sunda. Di bagian pusat sekarang membentuk kerak bumi yang kaku seperti karakter kontinental.  Intrusi granit terjadi secara bertahap sesuai evolusi orogenesa. Pada puncak dari  geantiklin kita temukan aktivitas jenis magma volkanis seri Pacific, dengan komposisi basalik-andesit. Aktivitas ini di dalam jalur geantiklin  didahului oleh tekanan dan intrusi ofiolit  di geosinklin;  langkah-langkah berikutnya terjadi evolusi orogenesa dan magma Mediteran. Oleh karena itu diperlukan  memandang masalah dari  asal granit Kepulauan Indonesia dalam hubungan dengan formasi dari  asal magma  granit.  

 

Asal Berbagai Variasi Magma Di Indonesia

 

Di Indonesia terdapat berbagai rangkaian batuan beku. Hubungan satu dengan yang lainnya dapat dicermati.Tahap pra orogen berupa pembentukan suatu cekungan geosinklin di selama Palaesoikum. Proses ini termasuk yang terjadi di Timor oleh erupsi traki basal dari seri Lautan Atlantik (De Roever, 1940). Tahapan ini diikuti oleh suatu evolusi orogen di dalam geosinklin selama Mesosoikum, Tersier dan Kwarter sebagai proses pembentukan jalur geantiklin dan cekungan geosinklin. Secara bertahap jalur orogen ini menyebar keluar pusat cekungan geosinklin. Foredeep melengkung atas ke dalam suatu geantiklin dan bergeser keluar lebih jauh. Selanjutnya pada dasar cekungan orogen, ofiolit basa sampai ultrabasa mengalami ekstrusi dan intrusi dari asosiasi ofiolit radiolaria dan intrusi peridotit dan serpentinit. Selama proses pembentukan geantiklin batuan ofiolit bercampur dengan naiknya migmatit sehingga dasar tubuh batolit granit terjadi. Biasanya terdapat tiga atau lebih gerakan pengangkatan pada setiap jalur orogen. Pengangkatan pertama masih  bukan batuan volkanik, pengangkatan kedua kedua  proses erupsi lava basa, menengah maupun asam, dari seri lava Pasifik, dan langkah ketiga vulkanik padam. Masing-masing pengangkatan diikuti oleh intrusi batuan plutonik berkomposisi menegah dan asam. Tahap lanjut dari evolusi jalur orogen ini adalah hadirnya erupsi batuan tipe Mediteran. Akhirnya tahap akhir orogen sebagai tahap pembentukan kontinen terbetuk. Dataran Sunda telah dikonsolidasikan oleh tahap diastrofisme Mesosoikum Tua, sedang proses pembentukan pegunungan berlanjut bergeser ke keluar membentuk orogen jalur Sunda saat ini.  Pusat Datara  Sunda sekarang membentuk baselevel sebagai suatu peneplain khas. Pada akhir Kwarter di sepanjang tepi blok yang terkonsolidasi ini terjadi aliran lava basal olivine.Cakupan batuan beku begitu luas dan sangat berkaitan dengan evolusi kerak bumi. In memberi kesan  bahwa peristiwa yang berkaitan dengan proses yang terjadi pada pembentukan batuan beku merupakan hal penting dalam proses pembentukan pegunungan. Pertanyaan selanjutnya, dengan demikian, sebenarnya adalah, dalam hal ini  mana magma juvenile dan mana magma induk? Kelihatannya hanya erupsi awal basal trakitik yang dapat diperlakukan seperti itu. Pra kondisi kerak bumi berkomposisi sialik berumur Perm harus diikuti oleh kekar dan patahan utama agar magma di bawah permukaan dapat hadir ke permukaan. Steinmann, Kossmat, dkk mempertimbangkan ophiolites berasal dari magma juvenil. Tetapi peridotites, di Sulawesi Timur  mengalir ke permukaan dengan tenang dan menggantikan seluruh komplek batuan dasar yang kristalin. Dia tidak diproduksi oleh diferensiasi kristalisasi dari intrusi basal yang sangat besar, sebab mereka secara langsung ditimpali oleh endapan bawah laut berumur Kapur yang berumur sama dengan intrusi tersebut. Di Seram Barat, Manipa dan Kellang  bagian intrusi tersingkap. Situasi yang sama ditemukan di Kawasan Meratus, ketika  tubuh peridotit secara berturut-turut diintrusi dan digantikan (replace) oleh gabro, diorit, diorit kuarsa dan granit plagioklas. Situasi ini justru kebalikan dari apa yang seharusnya terjadi  pada kasus diferensiasi kristalisasi dan fragsinasi. Batuan menjadi lebih asam dengan terus bertambahnya kedalaman. Anomali isostatik negatif di Sulawesi Timur dan Seram menunjukkan bahwa peridotit menandakan adanya masa peridotit yang sekarang mendasari kaki pegunungan granit.Situasi ini mendorong ke arah pemikiran bahwa pada seri batuan basa sampai ultrabasa dari geosinklin berukuran sangat besar, bagian permukaannya merupakan akumulasi magma asam (granit). Ini merupakan hasil berbagai proses evolusi kimia di bagian permukaan kerak bumi.  Proses hypo-differentiation tersebut merupakan hasil gangguan keseimbangan lapisan tengah basal tectonosphere karena penurunan  cekungan. Penurunan cekungan menyebabkan terjadinya pembebasan tekanan akibat relief, sekaligus terjadi peningkatan gradien geotermal di lapisan dasar dan menengah. Dengan proses hypo-differentiation tersebut, dalam waktu berjuta-juta tahun, kerak basal akan terbagi-bagi menjadi batuan ultrabasa (anti root) dan granit (mountain-root).Mengenai gunungapi strato dapat dipahami sebagai konsentrasi saluran-saluran dari  peningkatan pancaran  dalam jumlah yang besar dari bagian magma yang mudah menguap. Gunungapi itu merupakan cerobong di atas intrusi batolit. Kita tidak bisa bayangkan pernah magma juvenil bisa naik menerobos astenolit dan membuat zona migmatit selama tahapan evolusi geantiklin dari suatu jalur orogen. Kedalaman intrusi dari batolit granodiorit Tersier Tengah pasti tidak lebih dari 2 km, dan granodiorit Tersier Akhir di Wetar dan Lirang mungkin lebih tinggi. Pada kasus erupsi paroksismal Kwarter Ranau dan Toba di Sumatra, bagian puncak intrusi granit diledakkan. Oleh karena itu magma palingenic Pacific mungkin dibentuk dekat di bawah permukaan. Intrusi dangkal ini berasimilasi dengan batugamping Tersier, sehingga menyebabkan menyimpang dari kebiasaan (menghasilkan produk letusan Mediteran. Akhirnya, setelah konsolidasi dari kerangka batuan beku jalur orogen ini, kekar utama memotong kerak bumi sampai ke lapisan magma. Erupsi efusif basal olivine dari Daratan Sunda  lekat menyerupai batuan basal dari  jalur orogen. Mereka dicemari oleh material kerak. Oleh karena itu magma induk riil mungkin lebih banyak trakit basal.  Ringkasan ini memberi kesimpulan utama dari  diskusi di depan. Kita adalah sungguh sadar akan fakta bahwa sebagian dari aktivitas batuan beku berbeda dari  konsep petrologi “klasik”. Tetapi kita sudah mencoba untuk mempertimbangkan dan menghubungkan dengan gejala geofisika dan geologi yang mengikuti evolusi batuan beku ini, untuk memberi suatu sintesis berdasarkan fakta mengenai gambaran umum tentang evolusi orogen. Sintesis ini berdasar pada teori geosinklin dari Hall dan Dana. Baru-baru ini Knoff (1948) telah memberi suatu tambahan ringkasan teori ini. Doktrin geosinklin adalah suatu prinsip dasar dalam ilmu pengetahuan geologi, dan sangat bernilai untuk penafsiran evolusi orogen di Indonesia. Di kepulauan ini kita temukan banyak contoh perubahan bentuk jalur geosinklin ke dalam rantai pegunungan. Lebih dari itu, kita dapat melacak evolusi ke samping daerah ini dari jalur orogen lebih tua ke dalam yang lebih muda, serta hubungan antara jalur orogen dan aktivitas batuan beku, isostasi, dan seismisitas. Sekali lagi perlu ditekankan bahwa sejarah yang berhubungan geologi, baik permukaan bumi maupun planet kita ini secara keseluruhan, tidak cukup memberikan informasi tanpa mempertimbangkan evolusi geokimia.  

 

* Terjemahan bebas dari sumber pokok The Geology of Indonesia, Government printing office, Netherland:
The Hague,  Van Bemmelen, R.W. 1949, hal 224 - 256.

Posted by ET at 06:38:47 | Permalink | Comments (10)

Friday, September 15, 2006

TUJUH PRINSIP MENGHADAPI TSUNAMI




 Pendahuluan
Tsunami: ancaman bagi komunitas pesisir

  • Tsunami hanya mengancam masyarakat pesisir yang sekaligus kawasan rawan gempa
  • kehadiran tsunami dipicu oleh kehadiran gempa tektonik maupun vulkanik setara dengan 6,8 sr
  • Sebaran tsunami memanjang searah pantai, dan melebar tegak lurus pantai/ luas sebaran tergantung tingkat kelandaian pantai

 Prinsip 1: Mengenali risiko tsunami

  • Bagaimana sifat alamiah (gempa &) tsunami?
  • Bagaimana daya rusak (gempa &) tsunami?
  • Bagaimana menghadapi (gempa &) tsunami?
  • Bagaimana risiko (gempa &) tsunami bagi komunitas? 
  • Bagaimana  mendapatkan informasi seputar bahaya tsunami lokal?

 Prinsip 2: Menghindari pembangunan baru

  • Menghindari pembangunan baru di daerah terpaan tsunami untuk mengurangi korban di masa yang akan datang
  • Perencanaan pemanfaatan lahan dengan sistem zonasi yang tepat akan mengurangi risiko tsunami
  • Proses penerapan strategi perencanaan pemanfaatan lahan  harus disesuaikan dengan tingkat ancaman sevara horisontal maupun vertikal
  • Strategi-strategi spesifik perencanaan pemanfaatan lahan untuk mengurangi risiko tsunami perlu digali

 Prinsip 3: Mengatur  pembangunan baru di daerah terpaan

  • Daerah bekas terpaan tsunami perlu pengaturan ketat  untuk memperkecil kerugian di masa yang akan datang
  • Peran perencanaan wilayah dalam mengurangi risiko tsunami mencaji kunci utama.
  • Proses penerapan strategi perencanaan wilayah harus disesuaikan dengan tingkat ancaman
  • Strategi perencanaan wilayah spesifik  perlu dilakukan untuk mengurangi risiko tsunami
  • Strategi penanggulangan  dapat dilakukan melalui adaptasi tipe pembangunan sesuai dengan tingkat bahaya

 

Prinsip 4: Merancang dan membangun bangunan baru untuk mengurangi kerusakan

  • Rancangan konstruksi berperan penting dalam mengurangi risiko tsunami, baik pada kontruksi pemukiman maupun kontruksi fasilitas umum
  • Proses penerapan strategi rancangan konstruksi perlu disesuaikan dengan tingkat ancaman di masing-masing lokasi
  • Strategi rancangan dan konstruksi secara spesifik perlu dilakukan untuk mengurangi risiko tsunami

 Prinsip 5: Melindungi pembangunan yang sedang  berjalan

  • Pembangunan yang sedang berjalan perlu dilindungi dengan melakukan perencanaan  ulang dengan lebih baik
  • Pembaruan perlu dilakukan untuk mengurangi risiko tsunami dan proses mengurangi kerawanan
  • Strategi pembaruan spesifik perlu dilakukan untuk mengurangi risiko tsunami

 Prinsip 6: Mengambil tindakan pencegahan khusus

  • Perlu tindakan khusus dalam mengatur dan merancang infrastruktur dan fasilitas utama untuk mengurangi kerusakan peranan lokasi dan rancangan sarana-prasarana kritis dalam mengurangi risiko tsunami
  • Proses untuk menerapkan strategi penempatan dan rancangan sarana- prasarana penting
  • Lokasi dan strategi rancangan sarana -prasarana penting yang spesifik  perlu dilakukan tindakan pencegahan khusus untuk mengurangi risiko tsunami

 Prinsip 7: Merencanakan evakuasi vertikal

  • Evakuasi vertikal sangat potensial dalam mengurangi kerugian tsunami
  • Proses pelaksanaan sebuah strategi evakuasi vertikal memerlukan kerjasama semua pihak
  • Strategi rencana evakuasi vertikal yang spesifik untuk mengurangi dampak tsunami bagi warga

 

Posted by ET at 10:09:06 | Permalink | No Comments »

PENGENALAN TSUNAMI UNTUK PENANGGULANGAN BENCANA


 PROLOG
  

 

Tsunami  adalah sebuah kata yang diambil dari khasanah bahasa Jepang yang artinya kira-kira ‘gelombang di pantai’. Banyak orang menyebutnya tsunami  ‘gelombang pasang’, padahal sesungguhnya tsunami  tidak ada hubungannya dengan pasang surut gelombang air laut. Memang di permukaan laut sewaktu terjadi tsunami  akan muncul gelombang-gelombang besar yang seringkali sampai menyapu pantai-pantai yang jauh, tetapi gelombang-gelombang itu tidak sama dengan gelombang naik dan turun yang biasa datang dan pergi silih berganti. Asal gelombang-gelombang tsunami  adalah dari dasar laut atau sari daerah pantai yang memiliki kegiatan-kegiatan seismik, kelongsoran tanah dan letusan gunungapi. Apa pun penyebabnya yang jelas air laut terdorong sehingga meluap, pecah menyapu dataran dengan daya rusak luar biasa.   

FENOMENA PENYEBAB TSUNAMI   

 

Gerakan-gerakan geologis yang memicu timbulnya tsumani  berlangsung akibat tiga hal pokok : Gerakan dasar laut, Tanah longsor, Kegiatan gunung api. Yang paling sering menyebabkan tsunami  adalah gerakan-gerakan sesar / patahan di dasar laut, disertai peristiwa gempa bumi. Patahan / sesar, bila dipaparkan adalah zona planar lemah yang bergerak melaui kerak bumi. Sebenarnya jika dikatakan bahwa gempa bumi menjadi penyebab tsunami  tidaklah tepat. Yang benar tsunami  maupun gempa bumi sama-sama merupakan hasil gerakan-gerakan patahan / sesar.  Penyebab ketiga adalah kegiatan volkanis atau gunungapi. Kawah gunungapi, baik yang berada di bawah laut maupun yang ada di pantai, bisa mengalami pergeseran tempat, entah terangkat atau terbenam,akibat gerakan patahan / sesar. Akibatnya mirip dengan longsoran. Atau gunungapi itu meletus. Pada tahun 1833, gunungapi terkenal di Indonesia, yakni Krakatau meletus hebat sampai memunculkan tsunami  setinggi 39 meter, menyapu dataran Jawa dan Sumatera. Waktu itu terdapat sekitar 36.000 korban tewas. Meskipun tsunami  yang dipicu oleh tanah longsor atau gunungapi mungkin sangat menghancurkan kawasan disekitarnya,namun energi tsunami (gelombang pasang itu kecil, cepat surut ukurannya dan dalam jarak jauh hampir-hampir tak terasa atau nampak. Tsunami  raksasa yang bisa melintasi samudera hampir selalu disebabkan oleh aktifitas tektonik, gerakan-gerakan patahan bawah laut (submarine faulting) yang berhubungan dengan gempa bumi.   

 

CIRI-CIRI UMUM TSUMANI   

 

Telah disebutkan di muka bahwa tsunami  berbeda dengan gelombang-gelombang lautan dalam yang biasa kita saksikan. Kalaupun tampilannya hampir mirip, gelombang-gelombang laut yang terbesar pun disebabkan oleh terpaan angin yang menyapu permukaan air laut. Gelombang-gelombang air laut yang normal jarang bisa melampaui panjang 300 meter jika diukur dari puncak ke puncak. Sedangkan tsunami  bisa mencapai panjang 150 kilometer antar puncak. Lagi pula gelombang-gelombang tsunami (gelombang pasang ) bergerak dengan kecepatan yang jauh melebihi gelombang biasa.       

 

Laju gelombang laut yang normal sekitar 100 kilometer per jam, sementara di perairan dalam bisa bergerak dengan kecepatan menyaingi pesawat jet – 800 kilometr per jam ! uniknya, meski bergerak sangat kencang,tsunami  hanya menaikkan permukaan air laut sampai 30-45 sentimeter saja, dan tak jarang awak kapal ditengah laut tidak melihat tanda-tanda amukan tsunami  biarpun pada saat itu sedang terjadi bencana di kawasan pantai. Pada tahun 1946, seorang kapten kapal yang melepas jangkar di lepas pantai dekat Hilo mengatakan bahwa dirinya sama sekali tidak merasakan perubahan apapun dalam kondisi gelombang laut di bawah kapalnya, padahal dengan mata kepalanya sendiri dang kapten bisa menyaksikan bahwa gelombang-gelombang raksasa sedang memecah pantai.  Berlawanan dengan kepercayaan umum, sesungguhnya tsunami  bukan sebentuk gelombang raksasa tunggal. Sebuah tsunami  bisa terdiri atas 10 gelombang atau lebih, yang kemudian biasa disebut ‘rantai gelombang tsunami ’, gelombang-gelombang itu susul menyusul dengan jarak waktu antara 5 sampai 90 menit satu sama lain. Saat gelombang-gelombang tsunami  makin mendekati pantai, terjadi perubahan. Bentuk dasar laut diseputar pantai mempengaruhi bagaimana “perilaku” tsunami  itu nanti. Kalau dasar laut dekat pantai dalam, gelombang-gelombang yang akan memecahkan dipantai lebih kecil. Sebaliknya di wilayah-wilayah yang berpantai dangkal, memungkinkan terbentuknya gelombang-gelombang tsunami yang sangat tinggi. Di daerah teluk dan kuala / muara, air bisa bergolak maju mundur. Peristiwa ini dinamakan seiches, dan dapat mendongkrak ketinggian gelombang-gelombang tsunami  sampai memecahkan rekor.

 

Selagi gelombang-gelombang merapat ke pantai,jarak tempuh per jam mengecil, gerakannya melambat, sampai akhirnya   hanya  mencapai sekitar 48 kilometer per jam. Sinyal pertama kedatangan tsunami  di pantai tergantung pada bagian mana dari gelombang-gelombangnya yang lebih dulu sampai ke tepian. Jika palung (lembang antar gelombang) lebih dulu merapat, akan terjadi penurunan ketinggian permukaan air. Sebaliknya permukaan air akan meninggi bila yang lebih dulu sampai ke tepi adalah puncak gelombang. Tetapi tidak mudah mengamati kejadian sebenarnya. Pengamat dipantai mungkin tidak bisa memastikan bagian mana yang lenbih dulu tiba. Kecuali dalam kasus penurunan tingakt permukaan air, penyurutan air besar-besaran, yang memuntahkan ikan-ikan mengelepar diatas pasir.     

 

Barangkali Anda sudah beberapa kali melihat gambar tsunami , yang biasa menyertai berita tentang bencana ini atau kemungkinan terjadinya. Namun gambar-gambar itu bisa menyesatkan jika menyebabkan timbulnya anggapan bahwa tsunami  selalu tampil dalam bentuk dinding air vertikal (dalam istilah asing disebut bore). Jika Anda mengamati tsunami  yang sebenarnya, lebih sering tampak sapuan air bah yang dimuntahkan ke pantai, seolah ada bendungan jebol. Gelombang-gelombang dan riak-riak air laut yang normal mungkin akan “bertengger” di puncak gelombang tsunami , atau gelombang tsunami  itu sendiri dengan relatif tenang meluncur dan “mendarat” di seputar pantai. Banjir tsunami  berbeda-beda,bahkan antara dua pantai yang berdekatan pun terjadi banjir yang berlainan. Yang mempengaruhi perbedaan ini antara lain adalah : Topografi (tinggi – rendah) patahan muka laut, Bentuk pantai, Gelombang-gelombang pantulan, Modifikasi (penyesuaian) bentuk gelombang karena seiches dan pasang naik, Faktor-faktor yang mempengaruhi kerawanan terhadap tsunami   

 

PENGARUH TSUNAMI   Ada beberapa faktor yang paling berpengaruh terhadap kerawanan semua daerah yang dibayangi bencana tsunami  : (1) Pertambahan penduduk dunia yang kian pesat,makin memusatnya pemukiman di wilayah – wilayah perkotaan, dan makin besarnya penanaman modal infrastruktur, khususnya di daerah-daearah pesisir. Sebagain  daerah pemukiman dan letak harta tak bergerak yang bernilai ekonomis ini (hotel-hotel, fasilitas wisata bahari, dsb). Berada dalam jangkauan bahaya tsunami .  (2) Kurangnya perencanaan pendirian bangunan dan proyek yasa lahan yang sejak semula dirancang untuk tahan terhadap sapuan gelombang tsunami . (3) Kurangnya (atau bahkan tidak adanya) sistem peringatan bencana tsunami  bagi penduduk, atau kurangnya pendidikan umum untuk membangkitkan kesadaraan akan dampak-dampak buruk tsunami  dan kedahsyatannya yang hingga kini tidak bisa diramalkan sebelum benar-benar terjadi. Salah satu contoh kekurangan informasi yang memadai terjadi di Hilo, Hawai.Penduduk sekitar tempat itu sudah mengalami amukan tsunami (gelombang panang) pada tahun 1952 dan 1957. Kekuatan tsunami  yang menyambangi mereka kala itu termasuk menengah, namun penduduk sudah terburu-buru menyimpulkan bahwa tsunami  yang kan datang, seandainya ada ‘pasti’ takkan lebih dahsyat lagi. Mereka hanya bersiap-siap menghadapi tsunami  yang kira-kira sama dengan tsunami (gelombang pasang ) - tsunami   terdahulu. Maka, ketika akhirnya tsunami  menghampiri pantai Hilo pada tahun 1960, bisa dikatakan penduduk berkumpul memadati pantai, banyak yang justru ingin menonton datangnya gelombang-gelombang itu, padahal kali ini yang datang tsunami  berkekuatan raksasa.  

 

DAMPAK TSUNAMI   Dampak – dampak Tsunami  yang paling parah : Kerusakan fisik, Korban jiwa kesehatan masyarakat, Pasokan air bersih, Tanaman dan pasokan pangan, Banjir dan kerusakan fisik akibat tsunami . Tsunami bisa menyebabkan : (1) Panen musnah seluruhnya bila pada saat tsunami  datang para petani baru saja menanami sawah dan ladang (tanaman yang masih jemah itu tercabut seluruhnya dari tanah, dan terseret ombak ke lautan). (2) Tanah  garapan kehilangan kesuburan akibat genangan air laut. (3) Lumbung pangan akan tergenang atau bahkan terseret arus dan tenggelam, dan persediaan pangan akan rusak sebagian atau seluruhnya bila tidak sempat diselamatkan ke tempat lain yang lebih tinggi letaknya. (4) Binatang ternak yang tak diungsikan secepatnya akan mati tenggelam atau terseret arus. (5) Sistem budidaya tanaman pangan (termasuk teras-teras sawah yang rendah, petak-petak,pengairan, peralatan seperti traktor, bajak, dsb) hancur,hilang terbawa ombak, atau rusak akibat air garam. (6) Sistem perikanan hancur (kapal dan perlengkapan nelayan remuk atau hilang terseret ombak).

 

 

CATATAN: Materi ini merupakan bagian dari “ Introduction of Hazard” yang diterbitkan oleh UNDP / UNDRO, Disaster Management Program 1992. Dialih bahasakan dan disunting untuk kebutuhan pelatihan manajemen bencana yang diselenggarakan KAPPALA Indonesia, OXFAM GB dan Pusat Studi Manajemen Bencana UPN Veteran Yogyakarta. Semoga bermanfaat


 

Posted by ET at 09:29:14 | Permalink | Comments (1) »

ENVIRONMENT CONFLICT AS DISASTER

 

POTRAIT OF ENVIRONMENT DISPUTE 

 

The conceptual frame of this idea is environmental management by perspective of community based disaster management. In brief, disaster management is any efforts to reinforce environmental governance system at local communities and any upper levels to reduce impacts of environmental problem as roots of disasters. Furthermore, they are conducted in order to make the community feel secure in sustainable resource managing.

The disputes between agents of social-environmental components dominate the portrait of the environmental disputes in
Indonesia, leaving agents of physiochemical and biotic agents as victims of the overall disputes. However, parties of the disputes are community and industrial doers. Vertical dispute between communities (considered as the victim) versus industrials develops into horizontal one, dispute among community: community as victims and community as labours. Community are eager to terminate the factory since it pollutes river and food crops. On the other hand, for labours, the factory termination means termination of their livelihood. Pure environmental dispute among community occurs when a community becomes the victim of environmental damages which are resulted by another one. Moreover, inter-societal dispute occurs in East Java on the late of 2001.  Community lives in low land consider those live in edges of the forest are doers of forest destruction result in the frequent floods and erosion.


 

 

RESOLUTION OF ENVIRONMENTAL DISPUTES

 

Resolution of environmental dispute can be carried out within or without legal procedures.  However, there is a tendency to look for resolution by means of legal procedures though the results are not satisfying.  Any of those cases handled in legal procedures tend to be civil cases. In other words, environmental disputes find solutions when there are compensations of the material and immaterial suffers are delivered. Meanwhile, it is clear that according to the laws, every action results in pollution will be prosecuted with criminal law.

 

Alternative mechanisms in resolution of disputes are negotiation and mediation. Indeed, negotiation is a term, which is known very well especially by industrialists. Negotiation is a verbal effort between parties involved in resolution of dispute. Meanwhile, mediation is similar with negotiation, which is attended by the third neutral party who has the authority to make decision. The third party is known as mediator functioned to facilitate parties in the dispute in order to reach agreement for the negotiation. It seems that the mediation gives some better chances, i.e.: (1) the framework of the problems can be widely and completely discussed, (2) the solution can be briefly conducted, (3) the process is well mannered conducted, (4) low cost.

 

Resolution of environmental dispute by mediation approach is applied in Tapak case – Semarang. There are some agreements reached: (1) compensation, (2) impacts control, (3) industry’s social responsibility towards community, (4) reorganizing industries followed by additional control requirements, (5) post agreement monitoring mechanism which involves community and NGOs.

 

Considering results of agreement between parties in the dispute, it seems that there are some matters must be reconsidered especially regarding with environment components. Hence, who has the right to be environment’s representative in that dispute? Some cases indicate that local government are reluctant to see that environmental dispute is interfered by a third party. Its attendance as facilitator of the weak party tends being considered as disturbance of process to gain agreement.    ENVIRONMENTAL DISASTER

 

The description reflects that any environmental problems are not well addressed. Some other problems are still remained. However, there is a tendency indicates that dialectic phenomenon in dispute resolution will lead to a new problem in that ongoing process.

 

The resolution of the dispute will lead to new problems in that resolution process. An environmental resolution tends to lead to the rise of problems accumulation: remained and new problems. In the case of diesel fuel pollution of PT KAI in Jlagran and its around, for example; the resolution reached by installing water installation for community will remain and arise new problems. The remained problem such as content of diesel fuel in aquifer of ground water, which potentially spread although source of the leak of diesel fuel has been stopped, and also the hard smell of polluted well. The new problem is that community have to earn money for their need of water. In the perspective of disaster management those problems are potential to be source of disaster.

 

Disaster is a social phenomenon as collective result of hazard components, namely natural phenomenon or maiden phenomenon in other side, and community vulnerability in other side. Disaster occurs when community has a lower ability rather than the hazardous level may be occurred to it. The hazard becomes disaster when community is vulnerable or has a lower capacity than that dangerous level or even becomes one of the sources of the hazard.

 

Intersocietal dispute or upper social level occurs directly or indirectly when there is effort to grab the assets or disturbance process to access the above live assets. Assets grabbing or disturbance process on access of live can be triggered by environmental problems. Community’s or upper social levels’ activities which resulted the environment problems will threat the other party when their live assets and their live access being disturbed. Horizontal dispute, which is potentially arise from the environment problems is often being neglected by local government but in the other hand is being used by the other party to continue their activity which damage the environment. The cases of PT London Sumatera in South Sulawesi and PT Inti Indorayon Utama in North Sumatera can be approached by perspective of disaster management that the environment problems resulted conflicts.

 

Every individual, community or the bigger social levels develop the adjustment capacity system to respond the hazard. Short time responds are called coping mechanism and long time responds are called adaptive mechanism. The mechanism facing for the short time change especially in order to access basic needs of live: safety, foods, and place than long time purpose for strengthening livelihood.

 

 

APPLICATION OF DISASTER MANAGEMENT

 

In the perspective of disaster management, environmental dispute can be reduced by total risk reduction. Basically, total risk reduction is the application of precautionary principle at every level of disaster management. The disaster management is the activity involves every aspect of planning and disaster prevention pre, present and post-disaster. Steps of disaster prevention cycles must be applied completely.

 

The precautionary principle begins by monitoring every part of activities, which potentially becomes the hazard to the existence of livelihood assets and human kind. Sooner or later, the hazard will potentially become disaster which leads to human victims, lose of good and chattel, and environmental damages. Any disaster occurs out of community adaptation ability with their resources. Regarding with the condition, it is important to consider potential risk which possibly appear such as a large number of suffer or lose out of possibility (of souls, victims, damage and financial loss) which caused by a special danger in certain place and time. The risk is usually measured mathematically as the probability of effect or consequences of a danger. When potential risk in the arranged activity is bigger than the benefit, precautionary principles are important.  The effort to reduce imbedded vulnerability, i.e. a group of conditions which leads and brings consequences (of physic, social, economic, and behaviour) which has bad effect to the efforts of prohibition and prevention of disaster, such as: woods logging, stone mining, and to burn forest.

 

The disaster prevention cycle is necessary done completely. Prevention effort of rising effect is the first treatment. To prevent water flood, it is necessary to encourage society effort of making diffusion well, and vice versa to prevent wood logging. In order to prevent waste leak it is important to arrange save procedure and to control the obedience behaviour. Although the prevention effort is done, but in other side the chance of the rising problem is still exist so the mitigation effort is need to be applied, they are efforts to minimize the disaster effect.  There are two kinds of mitigations, i.e.; structural mitigation in the form of infrastructure maiden, which minimizes impacts, and non-structural mitigation in the form of arrangement of laws, city layout management and training.  

 

Those efforts need preparedness i.e. execution of disaster anticipation actions through organizing appropriate, effective and well-prepared programs. However, polluter tends to ignore preparedness. PT KAI, PT IIU, and local community do not realize that it is important to conduct preparedness in anticipating impacts of any pollution.  For example, communication equipments, commando post, and shelters as well. Furthermore, enhanced early warning system   is needed too. It provides marks to warn that a disaster might be happened in a soon period by creating equipments codifying that chemical element in a river or well around the heart of threat is about to rise. Criteria of early warning are (1) accessible, (2) immediate, (3) coherent, and (4) officially released.

 

Finally, as disaster is about to come, responses i.e. immediate actions are executed to cope with impacts of disaster and to reduce further impacts, especially rescuing victims, good and chattel. In this case, relief, aids consist of primary needs, is required. They are: food, clothes, shelters, health cares, sanitations and save water.

 

To avoid further threatening impacts, former infrastructures are reestablished. In spite of establishing infrastructures such as roads, providing electricity and save water, market, primary health care, etc, ecological functions are developed. In short-term, stages developed are rehabilitation and reconstruction.

 

Rehabilitation is actions assisting community in building housing, general facilities and significant social functions. Furthermore, it also includes developing community economy and ecological functions. Reconstruction is medium and long-term actions to provide improvement on physical, social, and economic areas. These actions are directed to bring back community life into conditions which are similar (at least) or better than they are before.

 

 

Addressing Problem

 

As the perspective is understandable and applicable, environmental problems will never give rise. At least, primary problems are addressed that no potentials of conflict left. However, obstacles in understanding and applying the perspective lied upon some significant factors.

 

The main problem in environmental areas and its delayed actions of addressing lied upon community’s lack of awareness on environmental problems. In fact, community do not see environmental problems as problems which will result in impact endangers their life. Even worse, the problem will be left for generations. Top down information conditions community’s lack of awareness since they wait for obligation destined by governments. Also, they are lack of knowledge and awareness on community rights since socialization and dissemination of information on pollution is also scarce.

 

Governments’ and apparatus’ measures to manage, monitor and control pollution considered low.  They are reflected on the addressing of pollution problems. Moreover, proactive measures by government and apparatus, such as police and tribunal are low as well.  They tend to stand up for capital owners. It results in their disobedience on pollution impacts threatening community and environment.

 

Police as the guardian of law enforcement does not proactively address environmental crimes. Investigation processes should have been conducted immediately as information of the problems appears. They do not need to wait for victims’ complain since environmental problems are not crimes by accusation. Moreover, lesser priority given to the problems results in the longer time to address them.

  Recommendation

           

Holistic address on environmental problems through both decreasing and abolishing the impacts. Environmental workers need to take holistic and synergic managerial transformation both structurally and by processes. Individuals, households, communities, and higher level of social units, local or central governments need to transform behaviors, policies, laws and institutions. It is also recommended to address environmental problems by reducing any fragilities and insecure conditions, dynamic pressures and core problems.

 

Finally, there is a call for capacity, commitment of governments and community to implement environmental management perspective in any policies and practices of resource management. Indeed, the implementation is about to succeed, as community and government comprehend the whole environmental problems. Suppose, we may address them in a harmonious and synergic way. The governance of addressing root of problems and their impacts is still a demand when there are problems, of course. Therefore, strategic efforts to enhance one’s capacity and to minimize impacts, developing reserves, resources product and post-disaster adaptations are still needed as well. Having recognized them as community’s needs and that they will be directly perceived, we placed it as primary needs since they are the main subjects of environmental problem management. Moreover, community participatory in planning, designing, conducting, monitoring and evaluating are a must.  

Posted by ET at 08:52:49 | Permalink | No Comments »

PENGENALAN LONGSOR UNTUK PENANGGULANGAN BENCANA

PROLOG
   Tanah Longsor adalah salah satu bencana alam yang paling merusak pemukiman serta prasarana manusia di seluruh dunia setiap tahunnya. “Tanah Longsor” merupakan istilah umum, yang mencakup berbagai corak gerakan tanah, longsoran batu, nendatan dan jatuhan batu, yang meluncur ke bawah lantaran pengaruh gaya tarik bumi (gravitasi). Meski bisa saja tanah longsor terjadi berantai dengan gempa bumi,banjir dan letusan gunungapi, namun tanah longsor secara lokal dan terpisah banyak terjadi ketimbang bencana-bencana yang telah disebutkan diatas. Bahkan dalam jangka waktu tertentu menyebabkan lebih banyak kerugian dibanding bencana-bencana lain itu.   

FENOMENA PENYEBAB TANAH LONGSOR  

 

Tanah longsor terjadi karena adanya perubahan-perubahan secara tiba-tiba ataupun perlahan-lahan / bertahap dalam komposisi, struktur, daur hidrologi atau kondisi vegetasi disuatu lereng. Perubahan-perubahan itu bisa terjadi karena : (1) Getaran-getaran bumi karena gempa, peledakan (bom, dll.), mesin-mesin, lalu-lintas dan guntur / petir. Sebagian besar kelongsoran yang paling parah akibatnya dipicu oleh gempa bumi. (2) Perubahan-perubahan kadar air dalam tanah akibat hujan lebat atau kenaikan ketinggian permukaan air. (3)Hilangnya penopang tanah permukaan bumi yang bisa terjadi akibat erosi, proses pelongsoran terdahulu, pembangunan, penggalian, penggundulan atau lenyapnya tumbuh-tumbuhan yang semula akarnya mengikat tanah. (4) Peningkatan beban pada tanah yang disebabkan oleh hujan deras, salju, penumpukan batu-batu lepas atau bahan-bahan yang dimuntahkan gunungapi, bangunan, sampah / limbah, tanaman. (5) Pengairan atau tindakan fisik / kimiawi lainnya yang dapat merunkan kekuatan tanah dan bebatuan setelah jangka waktu tertentu. Di kawasan perkotaan pun kadang terjasi longsoran, namun lebih sering diakibatkan oleh perbuatan manusia sendiri, atara lain : (1) Pemotongan / pembelokan arah aliran air alamiah dan rekayasa yang menyebabkan perubahan kandungan air. (2) Pembangunan baru yang melibatkan metoda – metoda ‘tambal-sulam’, sehingga kestabilan lereng terganggung.   

 

CIRI-CIRI UMUM TANAH LONGSOR   

 

Biasanya tanah longsor terjadi sebagai dampak sekunder dari hujan badai yang lebat, gempa bumi serta letusan gunungapi. Bahan-bahan yang membentuk tanah longsor terbagi menjadi dua jenis lapisan batu atau lapisan tanah (yang terdiri atas tanah dan berbagai sisa bahan organik). Berdasarkan corak gerakannya,tanah longsor bisa digolong-golongkan menjadi :  

 

Guguran / runtuhan. Suatu guguran atau runtuhan adalah jatuhanya sejumlah bebtuan atau bahan lain ke arah bawah dengan gerakan meluncur turun atau melenting di udara. Ini umum terjadi disepanjang jalan atau jalur kereta api ayang kanan-kirinya bertebing curam, atau tebing-tebing karang rendah di wilayah pantai. Tebing batu / tanah yang besar dan rapuh bisa menyebabkan kerusakan besar bila runtuh atau gugur.  

 

Longsoran / luncuran sejumlah besar bahan. Bila guguran hanya meluncurkan sejumlah kecil bahan dari permukaan yang lebih tinggi (hanya rontokan saja), longsoran atau luncuran besar ini melibatkan sejumlah besar bahan yang tadinya membentuk permukaan lebih tinggi itu, yang tergelontor ke bawah. Ini terjadi akibat lapuk atau rapuhnya suatu bagian (atau beberapa bagian) dari permukaan yang lebih tinggi. Longsoran bisa jatuh ke bawah dalam keadaan utuh, bisa juga lebur berkeping-keping.  

 

Robohan. Sesuatu roboh lantaran posisi semula yang membuatnya berdiri mantap mengalalmi perubahan sehingga kedudukannya goyah dan jatuh. Dalam kasus suatu tebing, keambrukan terjadi akibat gaya-gaya rotasi yang memindahkan posisi bebatuan. Lantaran perubahan ini,batuan mungkin tedorong ke posisi tidak stabil di pucuk tebing. Keseimbangan hanya bertumpu pada sudut tertentu yang masih terpijak. Bila terdapat pemicu yang menyebabkan titik tumpu itu berubahan, maka tubuh batuan akan “ terdorong” ke depan dan berjatuhan kedataran dibawahnya. Batu-batu yang jatuh dalam proses ini hanya sedikit, hanya yang terletak di posisi genting saja di pucuk tebing. Robohan ini tidak memerlukan banyak gerakan dan tak harus menyebabkan guguran atau longsoran batu.  

 

Persebaran Lateral Bongkah-bongkah tanah yang berukuran besar menybar melintang (horizontal) dengan retaknya pusatnya semula. Sebaran lateral biasanya terjadi di lereng-lereng landai,biasanya kurang dari 6 persen dan umumnya menyebar sampai 3-5 meter (biasanya mencapai 30-50 meter bila kondisinya memungkinkan). Mula-mula biasanya terjadi patahan / sesar dari dalam, membentuk banyak rekahan di permukaan. Ini bisa terjadi lantaran pelarutan tanah (misalnya akibat gempa). Pada saat Alaska diguncang gempa tahun 1964, lebih dari 200 jembatan rusak atau hancur akibat persebaran lateral delta-delta yang terbuat dari endapan banjir terdahulu.  

 

Aliran rombakan Aliran tanah dan bebatuan yang longsor ini menyerupai cairan kental, kadang bergerak sangat cepat, dan bisa menjangkau beberapa kolimeter. Biasanya terjadi setelah hujan lebat, meskipun air tidak selalu diperlukan untuk menyebabkan aliran ini. Aliran lumpur sedikitnya 50% di antaranya berupa pasir. Lempung dan endapan. Bila lumpur mengalir dari letusan gunungapi, namanya lahar, yakni bahan-bahan letusan yang tetimbun di lereng-lereng dan mendingin, tergelincir turun akibat hujan deras, pelelehan salju / es yang mendadak atau luapan air danau. Aliran limbah murni terdiri atas tanah, batuan dan sisa-sisa jasad organik, berpadu dengan udara dan air umumnya terjadi di selokan-selokan atau pematang-pematang curam. Aliran rayapan terjadi jika tanah atau bebatuan terkikis dan mengalir pelan-pelan, hampir tak nampak perubahannya. Meski begitu dalam jangka panjang rayapan ini bisa juga menyebabkan tiang-tiang listrik, telpon dan lain-lain ambruk meluncur ke bawah.   

 

MERAMALKAN TERJADINYA LONGSORAN  

 

Kecepatan gerak tanah longsor bermacam-macam antara yang sangat perlahan (kurang dari 6 centimeter per tahun) hingga yang luar biasa cepatnya (lebih dari 3 meter per detik). Lantaran inilah barangkali kemampuan kita untuk melacak gejala dan meramalkannya pun berbeda-beda. Bila yang dimaksud adalah ramalan akurat dan pasti sangat sulit dibuat. Kapan dan seberapa besar daya kelongsoran akan sulit diperkirakan sekalipun adanya situasi pemicu yang kuat ramalan akan terjadi hujan lebat, adanya kegiatan seismik dsb. Berpadu dengan pengamatan kelongsoran tanah – mungkain bisa menjadi panduan memperkirakan kemungkinan waktu (secara garis besar) dan dampak-dampak yang mungkin timbul.Untuk memperkirakan terjadinya kelongsoran diperlukan data-data geologi (hejadian struktur, kandungan dan proses perkembangan bumi) geomorfologi (kajian tentang bentuk-bentuk permukaan tanah) hidrologi (hajian tentang daur peredaran air) dan flora didaerah tertentu.   

 

Data Geologis Ada dua aspek geologis yang penting artinya untuk menilai kestabilan tanah dan meramalkan terjadinya kelongsoran : (1) Litologi – kajian tentang ciri-ciri batuan – kandungannnya, tampilan permukaan / teksturnya atau berbagai ciri lain – yang akan mempengaruhi pembawaan batu itu. Semua ciri akan menentukan kekuatan, daya bentuk, kepekaan terhadap bahan kimia dan pengolahan fisik, serta berbagai faktor penentu kestabilan lereng. (2) Struktur batuan dan tanah – tampilan – tampilan struktural yang mungkin mempengaruhi kestabilannya, termasuk urutan dan  corak lapisan, perubahan-perubahan litologis, bentangan-bentangan titik-titik pertemuan / persendian antar bagian, patahan / sesar dan lipatan.  

 

Geomorfologis Data geomorfologis terpenting utnuk membantu meramalkan tanah longsor adalah sejarah kelongsoran tanah di daerah yang teliti. Faktor-faktor penting lainnya mencakup kemiringan / kecuraman sehubungan dengan kekuatan bahan-bahan yang membentuknya serta aspek arah itu dan bentuk kemiringannya.  

 

Hidrologis dan Klimatologis Kajian tentang smber, gerakan, jumlah dan tekanan air di daerah itu harus dilakukan. Demikian pula cuaca (khusus, jangka pendek) dan iklim (umum,jangka panjang) perlu dikaji. Pola-pola iklim bertemu corak-corak tanah bisa menimbulkan berbagai jenis kelongsoran yang berbeda-beda. Umpamanya musim hujan di daerah tropis seperti Indonesia dapat menyebabkan aliran batu, tanah dan limbah organik dalam jumlah besar.  Flora Tanaman-tanaman yang menumbuhi lereng bisa menyumbangkan pengaruh positif atau justru sebaliknya negatif terhadap ketangguhan lereng itu. Akar-akar tumbuhan mungkin akan menahan air dan meningaktkan ketahanan tanah namun bisa juga malah memperlebar patahan / sesar-patahan / sesar batu dan mendorong masuknya air yang menyebabkan pencairan dan pelongsoran.  

 

FAKTOR RESIKO

 

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kerawanan Menghadapi Risiko Kelongsoran Pemukiman manusia akan dihadang risiko besar untuk menderita kerusakan cukup parah akibat tanah longsor bila di bangun di daerah-daerah berikut : Lereng curam, Tanah rapuh, Pucuk tebing, Lembah dikaki lereng curam / tebing, Delta lempung / pasir / endapan arus, Mulut aliran air dari lembah pegunungan. Jalan dan jalur komunikasi melalui pegunungan juga dalam bahaya bila terjadi tanah longsor. Kebanyakan corak kelongsoran merusak bangunan, meskipun pondasi bangunan sudah diperkuat. Kerusakan yang parah mungkin akan menimpa unsur-unsur prasarana yang berada di bawah tanah misalnya jaringan kabel atau pipa.   

 

DAMPAK-DAMPAK AKIBAT KELONGSORAN  

 

Kerusakan fisik Apapun yang berada di puncak atau jalur longsoran akan mengakibatkan kerusakan parah atau bahkan hancur total. Timbunan bebatuan mungkin akan merusak jalur komunikasi dan menutup jalan raya. Saluran air juga bisa tersumbat sehingga ada risiko air meluap dan banjir. Barangkali kerusakan hanya di sekitar terjadinya bencana lain seperti gempa bumi dan letusan gunungapi. Selain itu banyak dampak merugikan yang bersifat tak langsung : (1) Bila longsor mengubur daerah pertanian atau hutan, produktifitas pertanian / kehutanan lenyap atau terganggu. (2) Nilai jasa lahan setempat anjlok dan penerimaan pajak negara akan berkurang akibat kemerosotan itu. (3) Dampak-dampak parah terhadap mutu air di sumber yang mengalir serta prasarana pengairan. (4) Dampak-dampak fisik sekunder misalnya banjir.  

 

Korban manusia Dalam bencana tanah longsor, korban tewas biasanya berasal dari pemukiman penduduk yang terletak di daerah rawan. Mereka meninggal akibat runtuhnya bangunan dan terkubur bahan-bahan yang dibawa tanah longsor itu. Di seluruh dunia sekitar 600 kematian per tahun terjadi akibat bencana ini terutama dilingkaran Pasifik. Di Amerika Serikat saja di perkirakan 25 jiwa melayang tiap tahun akibat kelongsoran lebih besar dibanding tingakt kematian akibat gempa. Longsoran besar dapat menyebabkan jumlah korban tewas lebih besar lagi, seperti tanah longsor di lereng-lereng Huascaran, Peru, akibat gempa bumi tahun 1970yang memakan korban lebih dari 18.000 orang. Apapun yang terletak di atas atau di jalur longsor akan mengalami kerusakan parah,bahkan kehanguran menyeluruh akibat bencana ini. 

 

LANGKAH-LANGKAH PEMINIMALAN RESIKO

Penyusunan peta daerah-daerah rawan longsor. Penerapan langkah-langkah peminimalan resiko akibat kelongsoran harus didahului dengan penelitian penentuan lokasi rawan longsor. Dengan bekal petaini para perencana pembangunan bisa menentukan tingkat resiko dan membuat keputusan-keputusan yang berkenaan dengan upaya menghindari, mencegah atau menanggulangi kelongsoran yang sudah maupun yang akan terjadi. Telah tersedia teknik-teknik akurat bagi para perencana untuk memetakkan daerah-daerah rawan longsor ini. Teknik-teknik itu bersandar pada sejarah kelongsoran di masa lalu, peta-peta topografis (tinggi rendahnya permukaan bumi) data litgrafis ( lapisan batu) dan foto-foto dari udara. Berbagai corak tata pemetaan bisa digunakan. Peta ini dapat disisipi data tambahan misalnya tentang jarak lokasi dari zona-zona gempa, sungai bawah tanah atau saluran air mana yang rusak. Di Prancis telah disusun rencana yang dinamakan Zona-zona Rawan Resiko Gerakan Tanah dan Batuan (Zones Exposed to risks of Movements of the Soil and Subsoil/ZERMOSI). Hasilnya adalah peta-peta daerah rawan dengan skala 1 : 25.000 atau lebih besar lagi yang dipakai sebagai alat perencanaan upaya penanggulangan bencana tanah longsor. Peta-peta itu memuat data tentang derajat resiko tiap jenis kelongsoran termasuk kegiatan,tingkat dan dampak potensialnya     Pengaturan penggunaan tanah. Cara paling efektif untuk meminimalkan dampak tanah longsor adalah dengan mengatur lokasi pembangunan di tanah yang stabil dan memanfaatkan daerah-daerah rawan longsor sebagai lahan-lahan kosong terbuka, atau sebagai tempat kegiatan dengan intensitas rendah (taman, padang penggembalaan,dsb). Kendali penggunaan tanah hendaknya dilakukan untuk mencegah pemakaian daerah-daerah rawan sebagai lokasi pemukiman ataupun tempat prasarana penting. Kontrol agraria inipun dapat melibatkan upaya pemindahan penduduk yang terlanjur menempati wilayah-wilayah rawan khususnyajika ada lokasi lain yang lebih aman. Kalaupun dikeluarkan izin pemakaian hak guna tanah atau pendirian bangunan di sana harus ada pembatasan tentang jenis dan jumlah bangunan yang boleh didirikan. Kegiatan-kegiatan yang bisa memicu kelongsoran harus dilarang. Jika kebutuhan akan tanah atau lahan sangat mendesak barangkali bisa dibenarkan dilakukannya usaha rekayasa penstabilan tanah meski biayanya sangat besar. Cara paling efektif untuk meminimalkan resiko terkena dampak tanah longsor adalah membangun di tanah yang stabil dan memanfaatkan tanah di daerah-daerah rawan sebagai taman,lapangan terbuka, atau padang penggembalaan yang berarti kegiatan-kegiatan berintensitas rendah,jangan dipakai lokasi pemukiman atau pembangunan  prasarana-prasarana vital.  

 

Perundang-undangan. Pemerintah harus bertanggung jawab pula atas biaya perbaikan kerusakkan akibat tanah longsor dan atas upaya-upaya pencegahan terjadinya bencana ini terlebih karena faktor manusia cukup berperan. Di Jepang umpamannya,semula kegiatan-kegiatan pengendalian tanah longsor berkait dengan perundang-undangan yang mengatur masalah pelestariaan sumberdaya alam,yakni perbaikan mutu sungai, pengendalian pengikisan dan pemeliharaan lahan-lahan pertanian dan kehutannan. Pada tahun 1969 Dewan Perwakilan Rakyat mengeluarkan undang-undang tentang program pengendalian yang menyeluruh, khusustentang kelongsoran yang membebankan pengeluaran untuk pemulihan daerah yang terkena bencana alam kepada pemerintah karena bencana alam tidak bisa dianggap sebagai tanggung jawab perorangan manapun.    

 

Asuransi. Program-program asuransi pertanggung jawaban kerugian akibat tanah longsor bisa menurunkan beban kerugian itu bagi pemilik harta tak bergerak (bangunan) dengan membagi nilai pertanggungan (polis) dalam basis yang lebih besar dan memuaskan standar-standar pemilihan lokasi bangunan yang memenuhi syarat untuk dijaminkan dan syarat-syarat lain yang berkaitan dengan teknik pembangunan. Cara seperti ini telah dilaksanakan di Selandia Baru, ketika suatu program asuransi nasional membantu perorangan yang rumahnya rusak akibat kelongsoran maupun bencana alam lain yang berbeda di luar jangkauan kendali mereka. Khususnya untuk program asuransi kebakaran dikumpulkan dana bencana khusus yang diambil dari warga masyarakat sendiri.  

 

Perombakan / perubahan Struktural Penguatan bangunan-bangunan dan prasarana yang sudah ada menurut banyak pakar bukan piihan yang baik untuk penanggulangan bencana tanah longsor.  Alasan mereka kerentanan struktur bangunan yang berada dijalur longsoran hampir bisa dipastika, peluang rusak atau hancur nyaris 100%. Karena itu harus diutamakan pilihan-pilihan penanggulangan lainnya., yang bergantung kepada : (1) Nilai lahan atau struktur bangunan itu dibanding dengan biaya langkah-langkah perlindungannya. (2) Kesempatan-kesempatan utnuk memnerapkan peraturan penggunaan tanah dan ketersediaan lokasi-lokasi alternatif. (3) Jumlah orang yang terimabs langkah-langkah itu. (4) Skala kerugian yang diperkitakan akan menimpa. (5) Langkah-langkah perbaikan dan perlindungan dapat ditambahkan pada lahan itu sendiri misalnya perbaikan sistem pengairan tanah (penambahan bahan-bahan yang cukup mampu mengikuti perubahan alur tanah) dan perombakan kemiringan tanah (pengurangan kemirngan yang curam, sebelum mulai dilakukan pembangunan di sana). Dinding-dinding beton yang kuat mungkin dapat menstabilkan lokasi-lokasi bangunan. Bisa juga dipertimbangkan rekayasa-rekayasa teknik berskala besar. Kerentanan bangunan yang didirikan di atas jalur kelongsoran hampir 100%. 

 

Kebutuhan – kebutuhan Pasca Bencana Daerah yang langsung terkena dampak kelongsoran memerlukan perlengkapan dan regu-regu pencari dan penyelamat, mungkin pula akan dibutuhkan peraatan pembongkaran tanah demi mencari korban di bawah timbunannya sekaligus untuk membersihkan daerah itu. Bagi korban yang kehilangan rumah akan diperlukan tempat penampungan sementara. Untuk menentukan apakah kondisi-kondisi kelongsoran mungkin menimbulkan ancaman-ancaman tambahan / susulan bagi para anggota regu penyelamat atau penghuni daerah dsekitarnya, harus diadakan konsultasi dengan para pakar evaluasi bencnan tanah longsor. Dampak-dampak sekunder tanah longsor misalnya banjir, mungkin menuntut langkah-langkah bantuan tambahan bagi para korban. Jika kelongsoran itu berhubungan dengan gempa, letusan gunungapi atau banjir, bantuan utnuk daerah itu akan menjadi bagian dari upaya penanggulangan bencana terpadu.

 

CATATAN: Materi ini merupakan bagian dari “ Introduction of Hazard” yang diterbitkan oleh UNDP / UNDRO, Disaster Management Program 1992. Dialih bahasakan Pustaka Pelajar DAN OXFAM BG, disuntung ET Paripurno untuk kebutuhan pelatihan manajemen bencana yang diselenggarakan Pusat Studi manajemen bencana UPN Veteran Yogyakarta, KAPPALA Indonesia dan OXFAM GB. Semoga bermanfaat

Posted by ET at 07:47:59 | Permalink | No Comments »

PENGENALAN GEMPA UNTUK PENANGGULANGAN BENCANA


PROLOOG 

 

Di antara sekian banyak jenis bencana alam, gempa bumi termasuk yang paling dahsyat. Gempa bisa terjadi kapan saja sepanjang tahun, siang atau malam, dengan dampak buruk yang terjadi secara mendadak dan hanya memberikan sedikit isyarat bahaya. Gempa dapat menghancurkan bangunan hanya dalam waktu beberapa detik saja, menewaskan atau melukai orang-orang yang berada di dalamnya. Gempa bumi bukan hanya mampu meluluh-lantakkan kota-kota sampai hampir tak tersisa lagi, namun juga bisa menggoyahkan kestabilan pemerintahan, perekonomian, dan struktur sosial suatu negara.   

FENOMENA PENYEBAB GEMPA BUMI

 

Kerak bumi terdiri dari lapisan batuan (litosfera) yang berbeda-beda ketebalannya. Di bawah samudra, dalamnya sampai 10 kilometer, dan dibawah benua kedalamannya mencapai 65 kilometer. Kerak bumi itu sendiri tidak berbentuk benda tunggal, melainkan berupa bagian-bagian yang dinamakan lempeng. Ukuran lempeng bermacam-macam, ada yang beberapa puluh, beberapa ratus, bahkan beberapa ribu kilometer. Teori tektonik lempeng menyatakan bahwa lapisan kerak bumi itu berada di atas lapisan lain yang lebih mampu bergeser atau bergerak, namanya mantle atau lapisan pengantara (di bawah litosfera ). Lapisan pengantara bisa bergerak berkat mekanisme tertentu yang hingga kini belum bisa diketahui pasti ataupun dibuktikan, namun para ahli memperkirakan gerakan itu dimungkinkan oelh arus konveksi panas. Ketika lapisan-lapisan saling bergeserkan, tekanan pada bumipun meningakt. Tekanan-tekanan ini bisa digolong-golongakan menurut corak gerakan sepanjang batas-batas wilayah setiap lempeng : Gerakan saling menjauh, Gerakan meluncur miring secara relatif ke arah lapisan-lapisan lain, Gerakan saling mendorong. Semua gerakan itu dihubungkan dengan terjadinya gempa bumi yang mencapai daerah permukaan.

 

Batas – batas wilayah setiap lempeng yang mengeluarkan energi yang telah tersimpan, dengan cara mengalirkannya atau memuntahkannya, adalah bagian rapuh, patahan / sesar, lipatan, atau patahan yang dalam istilah asing disebut retkan. Teori pengikatan ulang secara elastis menyatakan bahwa kerak bumi terus-menerus ditekan gerakan-gerakan lapisan-lapisan tektonik, sehingga akhirnya melampaui titik tegangan tertinggi yang dapat ditahannya. Lantaran itulah terjadi ledakan atau muntahan sepanjang patahan / sesar, dan selama itu lapis-lapis bebatuan melakukan pengikatan ulang dengan tekanan-tekanan elastisnya sendiri sampai tegangan mereda. Biasanya, batu-batu itu melakukan pengikatan ulang di kedua sisi patahan / sesar dengan arah yang berlawanan.   

 

FAKTOR – FAKTOR YANG MENYEBABKAN KERAWANAN

 

Ada beberapa faktor kunci yang turut mengakibatkan kerapuhan kita dalam menghadapi gempa bumi : (1) Lokasi pemukiman ada di sekitar daerah seismik, terutama di atas tanah yang rapuh, sepanjang lereng yang sangat riskan kelongsoran, atau pada jalur – jalur patahan / sesar. (2) Struktur – struktur bangunan, misalnya rumah, jembatan, bendungan, dan sebagainya, tidak tahan terhadap gerakan atau bahkan getaran tanah. Bangunan – bangunan bata yang tanpa rangka dan pondasi yang kuat, dengan atap yang berat, lebih rawan kerusakan akibat gempa jika dibandingkan dengan bangunan – bangunan dari kayu yang ringan. (3) Kelompok – kelompok bangunan padat / berdesakan, dan banyak sekali penghuninya. (4) Kurang akses terhadap informasi tentang resiko-resiko gempa bumi. (5)Gempa bumi punya ‘aturan ketat’ yang selalu dipatuhinya sendiri : tiap 1 korban tewas ; ada 3 yang selamat tapi mengalami luka-luka.   

DAMPAK GEMPA BUMI

 Kerusakan fisik. Kerusakan fisik terjadi pada pemukiman manusia, berbagai bangunan, struktur dan infrastruktur (khususnya jembatan, jalan layang, jalur kereta api, bendungan / dam, fasilitas penyimpan limbah cair, stasiun pembangkit dan penyalur tenaga listrik, dsb). Bila struktur sudah lemah akibat goncangan  gempa, getaran-getaran pasca gempa akan semakin memperlemahnya. Dampak-dampak sekunder gempa ,meliputi kebakaran, tanggul jebol akbat arus air yang terhambat di satu tempat dan meluap di tempat lain akibat tanah longsor. Tempat-tempat penimpanan dan pengolahan berbagai bahan kimia dan industri berbahaya bisa rusak akibat gempa, demikian pula penampungan limbahnya, sehingga muncul bahaya kebocoran. Sedangkan sarana komunikasi bisa terputus. Kerusakan harta benda secara fisik dapat menyebabkan dampak yang berat dalam hal papan, kebutuhan MCK dan air bersih, produksi ekonomis, serta kemerosotan standar hidup masyarakat yang terkena bencana. Akan banyak orang yang kehilangan tempat tinggal akibat gempa bumi, meskipun seberapa jauh dampak bencana itu terhadap penghidupan penduduk di suatu lokasi tergantung pula kepada tingkat kerawanan daerah itu.  Korban gempa. Tingkat atau jumlah korban gempa bumi biasanya cukup tinggi, khususnya jika gempa terjadi di daerah padat penduduk, terutama bila jalan yang membelah pemukiman atau menjadi pemisah dua kelompok bangunan termasuk sempit, sementara bangunan-bangunan itu sendiri tidak tahan gempa, dan /atau tanah di bawahnya mudah longsor / larut / tidak stabil. Atau banyak bangunan yang terbuat dari batu bata atau tanah liat yang dikeringkan dengan atap genteng yang berat dan lantainya juga berat. Umumnya terdapat selisih yang cukup berarti antara jumlah korban gempa yang terjadi pada siang hari dengan jumlah korban gempa yang berlangsung pada malam hari, khususnya jika sudah larut. Ini terjadi karena sebagian besar orang sudah lelap tidur di malam hari, dan pada saat tidur getaran-getaran pendahuluan yang merupakan sinyal bahaya gempa) tidak bisa dirasakan. Lagi pula dilarut malam kebanyakan orang tidak mengakses media massa (televisi, radio) yang memberikan peringatan akan terjadi gempa. Tetapi gempa juga bisa mengancam banyak korban meskipun terjadi pada siang hari. Pada siang hari gempa akan mengancam banyak korban jika orang-orang berkelompok dalam jumlah banyak di dalam gedung-gedung besar yang strukturnya rapuh (sekolah, kantor,pabrik, tempat ibadah, dsb). Jumlah korban biasanya makin menurun seiring dengan jauhnya lokasi dari pusat gempa (episenter). Sudah menjadi ‘aturan resmi’ gempa bumi, yang umumnya dipatuhi-nya yakni bahwa jumlah korban luka-luka tiga kali lebih banyak dibanding jumlah korban tewas. Ini bila gempa tidak desertai bencana-bencana lain yang mengakibatkan munculnya ancaman-ancaman lanjutan, misalnya gelombang tsumani (gelombang pasang), tanah longsor dan lain-lain. Dalam hal ini jumlah korban tewas bisa sangat tinggi. Di wilayah-wilayah yang berisi rumah-rumah penduduk dengan bahan ringan, terutama yang berangka kayu, biasanya jumlah korban tidak sebanyak pemukiman yang dipadati bangunan-bangunan batu bata. Bila  bangunan dibuat dari bahan ringan, sekalipun gempa berlangsung secara rutin, tatkala muncul dampak-dampak besar yang sangat merugikan penduduk di wilayah itu. Kesehatan masyarakat. Jelas bahwa korban-korban gempa yang berhasil lolos dari bencana itu dengan luka ringan hingga parah membutuhkan perawatan medis yang layak. Kerugian jasmani parah yang paling umum menimpa korban gempa adalah petah atau hancurnya tulang-tulang tubuh. Merekapun akan terancam oleh hal-hal lain yang membahayakan kesehatan bila terjadi banjir yang menusul gempa itu (lihat bagian lain yang khusus membahas bencana banjir). Pasokan air bersih terputus atau penduduk terpaksa menggunakan simpanan air yang tercemar 9ancaman ini nyata meskipun tidak ada data khusus tentang banyak dan luasnya penyebaran penyakitpenyakit akibat air kotor atau tercemar yang dipakai oleh korban-korban gempa bumi) atau para korban hidup berdesakkan di kamp-kamp penampungan yang dihuni lebih dari jumlah yang layak. Biarpun gempa bumi tidak selalu mengakibatkan munculnya persebaran penyakit-penyakit menular bisa berkembang biak dengan leluasa bila langkah-langkah pengaman telah ambruk akibat gempa, sementara sarana MCK dan kebersihan secara umum jauh merosot. 

 

Pasokan air bersih. Masalah-masalah berat bisa muncul dan menimpa para korban gempa sehubungan dengan pengadaan dan pembagian air bersih bila : (1) Sistem-sistem pengadaan dan penyaluran air yang tertata (misalnya melalui Perusahaan Air Minum) mungkin mengalalmi kerusakan parah, khususnya jika sistem-sistem penampungan dan pembuangan limbah cair juga rusak dan bocor sehingga kalaupun air bersih masih bisa dialirkan ke pemukiman korban gempa, air itu tiba dalam keadaan sudah tercemar limbah yang merembes kedalamnya. (2) Bendungan penampungan air mungkin bobol. (3) Sumur-sumur terbuka milik penduduk setaempat mungkin pula, atau justru tak bisa lagi dipakai lantaran tertutup oleh bahan-bahan yang runtuhnya akibat gempa. (4) Gempa bumi dapat mengakibatkan perubahan tingkat-tingkat ketinggian air, sehingga ada kemungkinan sumur-sumur serta mata air di permukaan tanah menjadi kering.

 

Pasokan pangan. Sistem-sistem pembagian (distribusi) dan pemasaran pangan mungkin terputus akibat bencana itu. Sarana pengangkutan mungkin rusak dan jalan raya tak bisa dilalui akibat kepatahan / sesar dan kelongsoran dan jembatan-jembatan ambruk. Sementara itu, ditingkat produksi pangan, panen hancur akibat banjir yang menyusul gempa dan persediaan di lumbung atau gudang ikut hanyut atau membusuk. Namun kejadian-kejadian di atas termasuk jarang terjadi. Biasanya, sekalipun telah berlangsung gempa,pasokan pangan lokal tidak mengalami penurunan.

 

CATATAN 

Materi ini merupakan bagian dari “ Introduction of Hazard” yang diterbitkan oleh UNDP / UNDRO, Disaster Management Program 1992. Dialih bahasakan oleh OXFAM GB dan disunting ET Paripurno untuk kebutuhan pelatihan manajemen bencana yang diselenggarakan OXFAM GB, KAPPALA Indonesia, dan Pusat Studi Manajemen Bencana UPN eteran Yogyakarta . Semoga bermanfaat

 

Posted by ET at 05:49:27 | Permalink | No Comments »

PENGENALAN G. API UNTUK PENANGGULANGAN BENCANA


PROLOG 

Gunungapi adalah sebuah cerobong yang pangkalnya ada didalam perut bumi dan ujungnya menyembul ke permukaan kerak bumi. Gunungapi adalah ‘gudang’ penyimpanan lelehan bebatuan yang dinamakan magma, yang panas. Diperkirakan ada 600 gunungapi yang masih aktif (“aktif” disini berarti punya catatan sejarah pernah meletus, dan kemungkinan akan meletus lagi) diseluruh dunia. Jumlah itu kehilangan sedikit, tapi masih ada ribuan gunung lagi yanga tidur (dormant), artinya, dulu pernah meletus lalu sekarang sedang istirahat, tak menampakkan kegiatan-kegiatan vulkanis di permukaan, namun bisa aktif kembali sewaktu-waktu. Tiap tahun diperkirakan sekitar 50 gunungapi meletus. Bencana letusan gunungapi sudah lebih dari 300.000 orang tewas, secara langsung maupun tidak langsung, akibat letusan vulkanis. Saat ini kurang lebih 10% dari seluruh penduduk dunia tinggal di daerah-daerah yang dekat gunungapi yang berbahaya.  

KERAWANAN TERHADAP LETUSAN GUNUNGAPI

 Ada beberapa faktor khas yang mempengaruhi kondisi masyarakat yang terancam letusan gunungapi. Faktor-faktor ini menyebabkan risiko mereka terhadap dampak buruk letusan gunungapi kian bertambah : (1) Kesuburan tanah sekitar gunungapi, yang antara lain disebabkan oleh sisa-sisa letusan di masa lampau yang menyatu dengan tanah, menarik penduduk untuk menetap dan mengolahnya. Bukan saja di kaki gunung tapi juga samapai ke lereng-lereng dan lembah dekat kawah orang membuka ladang dan membudidayakan tanaman pangan. Dengan begitu terdapat harta benda (panen) yang cukup banyak dan nyawa manusia yang juga terbilang lumayan jumlahnya di sekitar pusat letusan, ini semua akan berarti risiko jiwa dan kerugian fisik yang paling langsung. (2) Bila lokasi ladang dan tempat tinggal itu berada di daerah ‘hilir angin’ (kearah bertiupnya angin) atau di jalur aliran lava atu lahar (yang diketahui berdasarkan sejarah letusan-letusan yang lalu), atau dekat dengan sumber air mengalir (sungai) risiko akan makin besar, terutama banjir dan longsor. (3) Bangunan yang rancangan atapnya tidak kuat menahan beban timbunan abu yang pasti akan menimpanya saat gunungapi meletus sangat rentan terhadap kerusakan, bahkan bisa ambrol. Ini bukan saja menjadi risiko penghuni rumah di gunung itu saja, melainkan juga menjadi risiko semua penduduk di daerah berjarak beberapa kilometer dari gunung. (4) Semua bahan yang bisa meledak (tabung gas, bensin, dsb) menjadi sumber risiko bagi penduduk disekitarnya.  

 

DAMPAK-DAMPAK UMUM LETUSAN GUNUNGAPI

 

 

Korban jiwa dan kesehatan masyarakat. Korban tewas umumnya akibat terkena luncuran bara ( piroklastik) dan banjir lahar. Yang agak jarang terjadi adalah kamatian akibat banjir atau guguran lava dan semburan gas-gas beracun. Korban yang selamat namun menderita cedera parah biasanya lantaran terkena guguran batu dari atas lereng dan akibat terkubur banjir lahar. Uap panas dan awan debu / abu panas menyebabkan kulit terbakar dan paru-paru gagal berfungsi dengan baik. Gangguan pernapasan bisa menimpa manusia dan bintang akibat hujan abu dan gas-gas beracun.

           

Gas-gas lain yang tidak beracun tetapi kepadatannya melebihi udara misalnya korban dataran dioksoda (zat asam arang) akan berbahaya bila tertimbun di daerah – daerah dataran rendah. Sementara itu hujan abu akan mencemari sumur dan mata air, padahal abu itu mungkin mengandung bahan-bahan kimia berbahaya, sehingga jika air itu digunakan (terutama untuk minum dan memasak) akan menyebabkan orang jatuh sakit.Selain itu, bencana letusan gunungapi juga memicu bencana lain seperti tsunami (gelombang pasang) dan kelaparan lantaran pasokan pangan terhenti. Kedua bencana susulan ini memakan korban jiwa pula.  

 

Pemukiman dan fasilitas masyarakat. Kapanpun gunungapi meletus, bersiap-siaplah menghadapi kehancuran segala sesuatu yang berada di jalur luncuran bara / lava pijar / lahar. Segala sesuatu ini mencakup juga tanaman pangan dan perkebunan, lahan-lahan budidaya, pemukiman, jembatan, jalan raya, saluran listrik,telepon, air dan lain-lain. Bangunan dan prasarana lain (misalnya trafo dan tiang-tiang listrik) bisa ambruk lantaran beban hujan abu, khususnya bila abu itu basah,entah oleh hujan atau kejadian lain, dan  kebakaran bisa terjadi akibat jatuhan abu yang masih panas. Limbah letusan yang memblokir jalur aliran air bisa juga menyebabkan air meluap dan terjadi banjir. Banjir pun dapat terjadi akibat es glasial atau salju dipuncak gunung yang meleleh. Arah aliran sungai bisa berubah akibat rekahan tanah yang memicu percabangan dan guguran bahan-bahan padat yang menyebabkan penyumbatan. Mesin – mesin terancam macet dan rusak akibat hujan abu yang menyumbat saluran irigasi, pembangkit listrik, mesin pesawat terbang dan sebagainya. Awan debu dan abu yang memicu badai listrik bisa menghancurkan jalur komunikasi. Transportasi darat, laut dan udara mungkin akan terganggung. Khusus untuk jalur angkutan udara, lalu lintasnya bisa kacau akibat awan abu yang menyebabkan langit gelap, berbahaya karena dapat mengakibatkan pesawat kehilangan arah, sementara mesinnya tersumbat, sehingga jatuh atau bertabrakan. Karena kendala-kendala pengangkutan inilah upaya penyelamatan sering gagal. 

 

Panen dan pasokan pangan. Tanaman apa pun yang kebetulan dibudidayakan di jalur luncuran bara / lava pijar / lahar akan hancur – lebur. Meskipun limbah letusan kelak akan menyuburkan tanah, selama beberapa waktu sesudah letusan itu sendiri abu dan lainlain akan menyebabkan tanah tak lagi bisa diolah. Kalaupun pohon-pohon besar tak sampai tercabut atau tumbang akibat luncuran lava / lahar, masih ada kemungkinan tumbang atau patah-patah akibat hujan abu yang membebani daun dan rantingnya. Ternakpun terancam mati atau sakit akibat menghirup udara yang tercemar gas-gas beracun dan debu. Seandainya ternak selamat. Lahan merumput mereka bisa jasi akan hancur lantaran hujan abu yang mengandung bahan-bahan kimia beracun, misalnya fluorin.

 

CATATAN:

Materi ini merupakan bagian dari “ Introduction of Hazard” yang diterbitkan oleh UNDP / UNDRO, Disaster Management Program 1992. Dialih bahasakan Pustaka Pelajar dan disunting oleh ET Paripurno untuk kebutuhan pelatihan manajemen bencana yang diselenggarakan KAPPALA Indonesia dan OXFAM GB serta Pusat Studi Bencana UPN Veteran Yogyakarta. Semoga bermanfaat

Posted by ET at 05:37:17 | Permalink | No Comments »

Thursday, September 14, 2006

JENIS BANJIR DAN SEBAB-SEBAB TIMBULNYA BANJIR


PROLOOG

 Sepanjang sejarah, manusia selalu tertarik untuk mendiami tanah-tanah subur di daerah luapan banjir atau dibantaran sungai, dimana kehidupan akan lebih nyaman berkat kedekatan dengan sumber pangan serta air. Ironisnya sungai atau aliran air yang menydiakan kemudahan hidup bagi masyarakat manusia disekitarnya itu juga menjadikan masyarakat tadi menghadapi risiko bencana tahunan akibat banjir. Banjir dapat terjadi akiabt naiknya permukaan air lantaran curah hujan yang distas normal, bendungan yang bobol, pencairan salju yang cepat, terhambatnya aliran air di tempat lain atau waduk yang jebol. Dalam masalah jumlah korbannya, banjir menduduki peringkat kedua, hanya dikalahkan oleh bencana kekeringan. 

 JENIS BANJIR DAN SEBAB-SEBAB TIMBULNYA BANJIR

 

 Banjir kilat. Banjir ini biasanya didefinisikan sebagai banjir yang terjadi hanya dalam waktu 6 jam sesudah hujan lebat mulai turun. Biasanya juga dihubungkan dengan banyaknya awan kumulus yang menggumpal di angkasa, kilat atau petir yang keras, badai tropis atau cuaca dingin.  Karena banjir ini sangat cepat datangnya, peringatan bahaya kepada penduduk sekitar tempat itu harus kilat pula, dan segera dimulai upaya penyelamatan dan persiapan penanggulangan dampak-dampaknya. Umumnya banjir kilat akibat meluapnya air hujan yang sangat deras, khususnya bila tanah bantaran sungai rapuh dan tak mampu menahan cukup banyak air. Penyebab lain adalah 1.  kegagalan bendungan menahan volume air (debit) yang meningkat, 2) es yang tiba-tiba meleleh atau 3. berbagai perubahan besar lainnya di hulu sungai. Kerawanan terhadap banjir kilat akan meningkat bila wilayah itu merupakan lereng curam, sungai dangkal dan pertambahan volume air jauh lebih besar daripada yang tertampung, air mengalir melalui lembah-lembah sempit dan bila hujan guntur terjadi. 

 

Banjir luapan sungai. Jenis banjir ini berbeda dari banjir kilat karena banjir ini terjadi setelah proses yang cukup lama, meskipun proses itu bisa jadi lolos dari pengamatan sehingga datangnya banjir terasa mendadak dan mengejutkan. Selain itu banjir luapan sungai kebanyakan bersifat musiman atau tahunan dan bisa berlangsung selama berhari-hari atau berminggu-minggu tanpa berhenti. Penyebabnya adalah kelongsoran daerah-daerah yang biasanya mampu menahan kelebihan iar, pencairan salju yang menumpuk semasa musim dingin, atau terkadang akibat kedua hal itu sekaligus. Banjir terjadi  sepanjang sistem sungai dan anak-nak sungainya, mampu membanjiri wilayah luas dan mendorong peluapan air lembah-lembah sungai yang mandiri (yang bukan merupakan anak sungainya) banjir yang meluap dari sungai-sungai selain induk sungai biasa disebut ‘banjir kiriman’. Besarnya banjir tergantung kepada beberapa faktor. Di antaranya  kondisi-kondisi tanah (kelembapan dalam tanah, tumbuh-tumbuhan di atas tanah, kedalaman salju, keadaan permukaan tanah seperti tanah ‘telanjang’, yang ditutupi batu bata, blok-blok semen, beton, dsb). Serta ukuran lembah penampungan air sungai itu. Di wilayah yang semi-tandus, misalnya yang membentang sepanjang benua Australia barangkali banyak sungai kering. Banjir terjadi dari sungai-sungai kering itu berminggu-minggu setelah terjadi angin topan dari lautan atau setelah terjadi hujan badai. Sungai bermuara ke laut, karenanya topan laut mampu mengarahkan air ke sungai kering itu hingga terjadi arus air sampai ratusan kilometer sampai ke arah darat. Semua itu berlangsung dalam waktu lama dan sama sekali tidak ada tanda-tanda gangguan cuaca pada waktu banjir melanda dataran – sebab peristiwa alam yang memicunya telah terjadi berminggu-minggu sebelumnya. Data sejarah banjir luapan sungai yang melanda kota-kota di lembah utama membuktikan bahwa tindakan-tindakan perlindungan tidak bisa diandalkan, akibat beraneka-ragamnya sumber banjir, yang bukan hanya dari induk sungai melainkan juga dari anak-anak sungai.

 

Banjir pantai. Sebagai banjir dikaitkan dengan terjadinya badai tropis (juga disebut angin puyuh laut atau taifun). Banjir yang membawa bencana dari luapan air hujan sering makin parah akibat badai yang dipicu oleh angin kencang sepanjang pantai. Air garam membanjiri daratan akibat satu atau perpaduan dampak gelombang pasang, badai, atau tsunami (gelombang pasang). Sama seperti banjir luapan sungai, hujan lebat yang jatuh di kawasan geografis luas akan menghasilkan banjir besar di lembah-lembah pesisir yang mendekati muara sungai.

 

 ANDIL MANUSIA DALAM MEMICU BANJIR

 

Banjir sering dianggap termasuk bencana alam, artinya terjadi secara alamiah. Banjir dianggap sebagai bencana bila manusia mendiami daerah-daerah rawan banjir,yakni dekat sungai atau pantai. Pertumbuhan penduduk yang kian pesat telah menyebabkan daerah-daerah rawan bencana cukup padat penduduk dan risiko banjir terpaksa diterima lantaran sulit menemukan wilayah lain yang aman untuk hidup, mengingat daerah-daerah aman sudah penuh sesak. Negara-negara maju terpaksa menghadapi masalah yang dipicu oleh kepadatan penduduk ini. America Serikat ini misalnya, terpaksa merogoh kocek negara sampai miliyaran dolar sejak tahun 1936 untuk membiayai program perlindungan pendudukan dari bencana banjir yang kemungkinan tak terelakkan namun semua dampaknya harus ditanggulangi. Toh tetap saja risiko banjir tahunan menghadang penduduk daerah rawan. Bahkan ancaman banjir kian membesar karena penduduk membangun daerah-daerah rawan banjir kian membesar karena penduduk membangun daerah-daerah rawan banjir secara lebih cepat ketimbang kecepatan para insinyur dalam merancang perlindungan yang lebih baik bagi mereka.  Pertumbuhan penduduk yang pesat berpadu dengan pengelolaan sumberdaya yang kurang efektif telah menyebabkan timbunya jenis-jenis banjir baru. Daerah hulu sungai yang berhutan untuk ‘menangkap’ lebihan air sudah diubah menjadi padang rumput pakan ternak atau menajdi lahan pertanian, sehingga lembah penampung itu menjadi jauh berkurang dayanya untuk menahan air yang datang. Tanah yang kini tak lagi terikat oleh akar-akar pepohonan jadi mudah longsor, menambah risiko bencana ganda dan tebing-tebing sungai yang dahulu dipenuhi tumbuhan sebagai ‘benteng’ pengaman daerah sekitarnya telah gundul, lalu runtuh, menyebabkan air sungai lebih mudah mengalir ke arah yang tingginya sama atau lebih rendah dari sungai. Banjirpun menjadi makin sering, makin mendadak dan makin parah dampaknya.  Corak banjir baru lainnya adalah banjir kilat perkotaan. Tanah dikota sebagaian serta bangunan yang tak terhitung lagi. Karena bisa dikatakan hampir tak ada tanah ‘telanjang’ yang berfungsi alamiah sebagai penyerap air, hujan lebat langsung mengalir diatas permukaan baik di halaman-halaman gedung yang sudah disemen, di tepi-tepi jalan aspal dan sebagainya. Namun pemeliharaan saluran-saluran ini serngkali terbengkalai. Musim kemarau mengirimkan debu,kotoran, sampah dan tumbuhan liar yang akhirnya memblokir lubang pipa di permukaan. Air di jalan dari jalan raya hingga jalan perumahan yang terbuat dari beton dan aspal, tidak bisa ke mana-mana lagi kecuali mengalir terus membentuk jalur sendiri dipermukaan jalanan, membanjiri daerah itu.  Banjir adalah peristiwa alamiah. Ia menjadi ‘bencana’ tatkala manusia mulai mendiami daerah-daerah luapan banjir yang semula mampu menahan air sehingga tak mengalir ke dataran-dataran lain. 

 

CIRI CIRI UMUM BANJIR

 

 

Analisa terhadap banjir dan pengukuran banjir dapat dilakukan dengan : kedalaman air, pondasi bangunan memiliki derajat toleransi terhadap penggenangan air yang berlainan dengan derajat toleransi akar tumbuh-tumbuhan, lamanya penggenangan air, kerusakan atau derajat kerusakan bangunan, infrastruktur dan tumbuh-tumbuhan sering berkaitan dengan jangka waktu berlangsung-nya penggenangan air.

 

Arus air yang sangat kencang akan berbahaya, mengakibatkan daya pengikisnya sangat besar (menerjang apa saja yang menghadang) serta peningkatan tekanan dinamika air sehingga pondasi bangunan dan infrastruktur melemah. Ini bisa terjadi dilembah bantaran sungai, pantai yang rendah dan daerah jalur indik sungai. Perkiraan tentang tingkat kenaikan permukaan air sungai penting sebagai dasar peringatan bahaya banjir, rencana pengungsian dan pengaturan tata ruang daerah. Dampak-dampak komulatif dan kekerapan terjadi banjir yang diukur dalam jangka waktu cukup panjang akan menentukan corak pembangunan apa dan kegiatan pertanian apa yang boleh berlangsung di bantaran sungai atau daerah-daerah rawan banjir lainnya.  

 

Peramalan banjir yang berasal dari luapan air sungai melibatkan perkiraan-perkiraan tentang: tinggi permukaan air sungai, debit air sungai, waktu kejadian, lamanya kejadian, debit air tertinggi di titik-titik tertentu sepanjang jalur sungai (induk maupun anak sungai). Ramalan yang dikeluarkan untuk disebarluaskan kepada masyarakat dihasilkan dari pemantauan rutin ketinggian permukaan air sungai serta pemantauan curah hujan setempat. Peringatan akan terjadi banjir kilat hanya bisa bergantung pada ramalan-ramalan cuaca (meteorologis) serta pengetahuan tentang kondisi-kondisi geografis setempat, tidak bisa disusun ramalan tersendiri berdasarkan data-data lapangan. Mengingat singkatnya waktu antara tahap pendahuluan dengan tahap kejadian, banjir kilat tak memungkinkan pemantuan tingkat ketinggian air sungai di lapangan.

 

Dalam bencana apapun, data sejarah suatu kawasan rawan atau sumber bencana harus selalu ada, dipelajari dan diperbaharui terus menerus tiap kali ada kejadian baru. Untuk kajian perbandingan dengan peristiwa-peristiwa banjir terdahulu dan sebagi dasar informasi peringatan yang akan disampaikan kepada masyarakat yang beresiko terlanda banjir harus diingat unsur-unsur sebagai berikut : 1. Analisis kekerapan banjir. 2. Pemetaan tinggi rendah permukaan tanah (topografi). 3. Pemetaan bentangan daerah seputar sungai (kontur sekitar sungai) lengkap dengan perkiraan kemampuan sungai itu untuk menampung lebihan air. 4.Catatan pemantauan lelehan salju / es dan kelongsoran tebing / daerah hulu. Kemampuan tanah untuk menyerap air. 5.Catatan pasang surut gelombang laut (untuk kawasan pantai / pesisir). Kekerapan badai. 6. Geografi pesisir / pantai. 7. Ciri-ciri banjir. Cara efektif untuk memantau jalur banjir adalah lewat teknik-teknik penginderaan jauh, misalnya Landsat. Citra-citra satelit ditafsirkan, kemudian dipakai sebagai patokan pemetaan daerah-daerah rawan banjir dan daerah-daerah jalur banjir. Upaya-upaya lain untuk memperbaiki peramalan banjir telah dilaksanakan oleh berbagai badan yang menginduk ke PBB, antara lain Organisasi Meteorologis Dunia, dengan memakai Pemantauan Cuaca Dunia serta Sistem pengolahan Data Global. Sistem-sistem ini bersifat strategis manakala kondisi-kondisi banjir bersifat lintas batas nasional atau melewati wilayah kedaulatan lebih dari satu negara. Namun sebagian besar ramalan banjir luapan sungai dan banjir kilat hanya bersandar pada pengamatan-pengamatan Badan Meteorologis dan Geofisika Nasional. 

 

KERAWANAN TERHADAP BANJIR.

 Di daerah dekat sungai, utamanya bantaran serta lembah-lembah yang paling berisiko terhadap terjangan banjir adalah : 1. Bangunan dari bahan tanah atau bata bisa pecah / meleleh bila kena air, 2. Bangunan dengan pondasi dangkal, 3. Bangunan dengan pondasi yang tidak kedap air, 4. Sistem – sistem pembuangan air (selokan pipa) saluran pasokan air, saluran listrik, mesin-mesin dan semua barang elektronik (terutama industri dan telekomukasi ), 5. Lumbung pangan, tanaman di lahan, ternak dalam kandang, 6. Benda-benda bersejarah / artefak budaya yang tak tergantikan seandainya hancur atau rusak berat, 7. Industri kelautan, termasuk galangan kapal, kapal-kapal itu sendiri, pelabuhan, gudang pelabuhan, dan sebagainnya. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi kerawanan adalah 1. Kurang / tak tersedianya tempat-tempat penampungan pengungsi lengkap dengan fasilitas yang dibutuhkan, di ketinggian yang melebihi ketinggian luapan air, 2. Kurang / tidak adanya informasi yang diterima masyarakat tentang jalur-jalur pengungsian, 3. Kurang / tidak efektifnya kegiatan-kegiatan penanggulangan bencana. 

 

Banjir besar kemungkinan akan menyebabkan banyak korban tewas akibat tenggelam, khususnya anak-anak dan orang-orang berusia lanjut/ cacat/lemah. Namun sebagaian besar ‘hanya’ mengakibatkan cedera parah yang tidak sampai fatal, sehingga pertolongan medis harus selalu tersedia dan korban yang parah harus segera dilarikan ke rumah sakit, lebih-lebih jika membutuhkan operasi.

 

 

 DAMPAK-DAMPAK

 

 Bangunan-bangunan akan rusak atau hancur akibat : daya terjang air banjir, terseret arus, daya kikis genangan air, longsornya tanah di seputar / di bawah pondasi, tertabrak terkikis oleh benturan dengan benda-benda berat yang terseret arus. Kerugian fisik cenderung lebih besar bila letak bangunan di lembah-lembah pegunungan dibanding di dataran rendah terbuka. Banjir kilat akan menghantam apa saja yang dilaluinya. Di wilayah pesisir, kerusakan besar terjadi akibat badai yang mengangkat gelombang-gelombang air laut – kerusakan akan terjadi tatkala gelombang datang dan pada saat gelombang itu pergi atau kembali ke laut. Lumpur, minyak dan bahan-bahan lain yang dapat mencemarkan tanah, udara dan air bersih akan terbawa oleh banjir dan diendapkan di lahan yang sudah rusak atau di dalam bangunan. Tanah longsor kemungkinan terjadi bila tanah itu tak kuat diterjang air dan terkikis / runtuh. Air yang menerjang atau mengalir deras bisa merobohkan dan menenggelamkan manusia serta binatang meski bila air itu relatif tidak dalam.

 

Banjir besar pemberi bantuan mengangkut bantuan air dengan truk-truk tangki, masalah ini bisa diredam sampai keadaan normal kembali. Banyak yang lebih besar timbul jika sumber-sumber air itu tercemar oleh jasad manusia dan mayat binatang yang tewas saat banjir datang dan belum sempat disingkirkan dari sana akibat belum cukup amannya daerah banjir itu. Arus air mungkin juga akan menyebabkan saluran tersumbat oleh mayat-mayat. Bila ini terjadi, sumber air akan menjadi areal pembiakan penyakit atau menjadi bersifat patogenis dan barang siapa mengkonsumsi air itu akan jatuh sakit. Seluruh lahan bisa puso atau panen sepenuhnya gagal, sementara ternak banyak yang mati sehingga pasokan pangan pasca-banjir akan terganggu. Saat banjir datang, lumbung bisa ambruk, terbenam, tergenang atau hanyut terbawa air, semua isinya membusuk. Biji-bijian seperti gabah/padi/beras, gandum, jagung, dan lain-lain cepat busuk meski baru tergenang air sebentar saja. Maka terjadi krisis pangan.  Dalam kasus-kasus banjir selama ini, kebanyakan kerugian pangan terjadi akibat stok pangan rusak, termasuk yang masih di lahan. Kerusakan tanaman pangan di sawah atau ladang tergantung pada jenis tanamannya dan berapa lama penggenangan airnya. Ada tanaman yang cepat mati hanya setelah digenangi air sebentar, ada yang mampu menahan terjangan air tapi akhirnya mati jika air itu tak terserap oleh tanah dan terus menggenang. Kasus semacam ini terjadi di Bangladesh saat banjir tahun 1988. Selain mengungsikan isi lumbung, ternak harus juga segera dibawa ke tempat yang aman. Kalau tidak, mereka bisa tenggelam, terseret arus atau tersangkut di tempat lain tempat. Sapi, kerbau, kambing dan lain-lain merupakan sumber pangan, karenanya perlu dijaga keselamatannya saat banjir. Hilang atau rusaknya benih dan ternak akan menggagalkan pemulihan kegiatan pertanian / peternakan sesudah banjir surut jika ada bantuan dari luar. Untuk tanah pertanian, banjir memberi manfaat sekaligus masalah. Bila terjadi pengikisan lapisan bunga tanah (humus), atau lahan dilanda air garam, selama bertahun-tahun petani tidak bisa lagi mengolah tanah itu untuk budidaya pertanian. Namun pengendapan lumpur banjir juga bisa sangat meningkat kesuburan tanah. Di pesisir di antara para nelayan, kerugian besar mungkin terjadi akibat peralatan dan piranti hilang atau rusak. Maka pasokkan pangan dari laut terhenti atau merosot.  

 

Di sisi lain, banjir bisa menguntungkan karena: 1. Banjir bisa menggelontor bahan-bahan pencemar air yang mengendap menyumbat saluran air. 2. Banjir bisa menjaga kelembaban tanah dan mengembalikan kelembaban tanah tandus / kering. 3. Banjir bisa menambah cadangan air tanah. 4. Banjir bisa menjaga lingkungan hayati (ekosistem) sungai dengan cara menyediakan tempat bersarang, berbiak dan makan bagi ikan, burung dan binatang-binatang liar.

 

LANGKAH-LANGKAH PEMINIMALAN DAMPAK NEGATIF.

 

Pemetaan unsur-unsur rawan atau rentan. Dengan memetakan daerah rawan serta menggabungkan data itu dengan rancangan kegiatan persiapan dan penanggulangan. Suatu strategi dapat di daerah-daerah luapan air dengan langkah-langkah pengendalian banjir. Para perencana dapat meminta masukan dari berbagai bidang keilmuan untuk menilai risiko-risiko, tingkat risiko yang masih diterima/dianggap cukup wajar (ambang risiko) dan kelayakan kegiatan-kegiatan lapangan yang direncanakan. Informasi dan bantuan dapat diperoleh dari berbagai sumber, dari badan-badan internasional hingga ke tiangakt masyarakat.

 

Pemetaan daerah-daerah luapan air/jalur banjir. Dalam memaparkan banjir, biasanya dipakai frekuensi statistik, menggunakan parameter kejadian dalam 100 tahun. Paparan ini menjadi pedoman pemrograman penanggulangan banjir. Parameter kejadian banjir 100 tahun itu memaparkan areal yang memiliki kemungkinan 1 % terlanda banjir dengan ukuran tertentu pada tahun tertentu. Frekuensi-frekuensi lain mungkin bisa juga dipakai, misalnya 5, 20,50 atau 500 tahun, tergantung kepada ambang risiko yang ditetapkan untuk suatu evaluasi.

 

Peta dasar dipadukan dengan peta-peta lain dan data-data lain, membentuk gambaran lengkap/utuh tentang jalur banjir. Masukan-masukan lain yang menjadi bahan pertimbangan diantaranya : Analisis kekerapan banjir. Peta-peta pengendapan. Laporan kejadian dan kerusakan. Peta-peta kemiringan / lereng. Peta-peta vegetasi (lokasi tumbuh tanaman, jenis dan kepadatannya). Peta-peta lokasi pemukiman, industri dan kepadatan penduduk. Peta-peta infrastruktur.

 

Di sebagian negara berkembang, pengumpulan informasi jangka panjang sering sulit dilaksanakan. Untuk menanggulangi masalah ini bisa digunakan teknik-teknik penginderaan jauh, yang menjadi pilihan lain bila tak dipakai teknik-teknik pemetaan tradisional dan biaya operasinya akan kira-kira sama efektif sebab menghemat tenaga dan waktu (metode-metode pengumpulan data tradisional sangat padat karya dan memakan waktu lama), misalnya dalam kajian daur air (penelitian hidrologis) daerah yang luas.

 

Pemetaan silang bencana-bencana. Banjir sering menyebabkan, terjadi bersamaan dengan atau menjadi akibat dari, bencana-bencana lain. Agar daerah-daerah yang rawan terhadap lebih dari satu jenis bencana bisa diketahui, dilakukan penyusunan peta silang, sintetis atau terpadu. Peta ini merupakan alat yang sangat bagus untuk panduan perancangan program pertolongan dan penanggulangan. Namun peta ini masih memiliki kekurangan,yakni tidak memadai jika digunakan sebagai pedoman kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan bencana yang hanya mencakup satu daerah tertentu saja atau bencana tertentu saja.   

 

Pengaturan tata guna tanah. Tujuan pengaturan tata guna tanah melalui undang-undang agraria dan peraturan-peraturan lainnya adalah untuk menekan risiko terhadap nyawa, harta benda dan pembangunan di kawasan-kawasan rawan bencana. Dalam kasus banjir, suatu daerah dianggap rawan bila daerah itu biasanya dan diperkiraakan akan terlanda luapan air dengan dampak-dampak negatifnya; penilaian ini didasarkan sejarah banjir dan kondisi daerah. Bantaran sungai dan pantai seharusnya tak boleh dijadikan lokasi pembangunan fisik dan jangan ditinggali. Selain itu, Badan Pertahanan Nasional beserta departemen-departemen terkait harus memperhatikan pula perlu kawasan perkotaan. Dengan pengaturan tata guna tanah yang dilandasi data-data ilmiah dan dengan mengacu kepada potensi bencana, setidaknya bencana alam seperti banjir tak akan diperparah oleh pengizinan pemakaian tanah yang tak mengindahkan kelayakan.  

 

Pengurangan kepadatan penduduk dan bangunan. Di daerah-daerah rawan banjir, jumlah korban tewas maupun cedera akan langsung terkait dengan kepadatan penduduk. Bila daerah itu masih dalam tahap perencanaan pembangunan atau perluasan kawasan, rencana itu harus mencakup pula kepadatan. Bila daerah itu sudah terlanjur mapan,khususnya jika digunakan sebagai lokasi pemukiman liar oleh pendatang yang tergolong miskin, pengaturan kepadatan bisa menjadi isu yang rawan dan peka , penduduk harus dimukimkan kembali di tempat lain yang lebih aman dengan mempertimbangkan dampak-dampak sosial dan ekonomis perpindahan itu. Sayangnya, banyak lokasi pemukiman padat penduduk terletak di jalur banjir. Bagaimanapun para perencana pengembangan daerah dan penataan ruang harus mengambil langkah-langkah bijak untuk memperbaiki pemukiman itu dan menekan kerentananya.  

 

Larangan penggunaan tanah untuk fungsi-fungsi tertentu. Jika suatu daerah menjadi ajang banjir sedikitnya rata-rata 1 kali tiap 10 tahun, tidak boleh ada pembangunan skala besar di daerah itu. Pabrik, perumahan dan sebagainya tidak diizinkan di bangun di sana demi kepentingan ekonomis, sosial dan keselamatan para penghuninya sendiri. Daerah itu bukan berarti sama sekali tak bisa dimanfaatkan; pemanfaatannya antara lain untuk kegiatan-kegiatan dengan potensi risiko lebih kecil misalnya arena olah raga atau taman. Prasarana yang bila sampai rusak akan membawa akibat buruk yang besar,misalnya rumah sakit,hanya boleh didirikan di tanah yang aman.   Pengaturan tata guna tanah akan menjamin bahwa daerah-daerah rawan banjir tidak akan menderita dua kali lipat akibat kebanjiran sekaligus pemakaian tanah yang memperparah dampak-dampak bencana itu dengan kerugian fisik, sosial, ekonomis dan korban jiwa yang lebih besar lagi.  

 

Pemindahan lokasi unsur-unsur yang menghalangi arus banjir. Bangunan-bnangunan yang menghadang di tengah jalur banjir selalu neresiko terhantam dan tenggelam atau hanyut  akibat arus banjir. Selain itu, ada bahaya pemerangkapan dan pemblokiran jalannya banjir yang lants berbelok menggenangi daerah-saerah yang semestinya bebas banjir.  Pengaturan tentang bahan-bahan bangunan yang boleh digunakan. Di zona-zona tertentu yang paling rawan, bangunan dari bahan kayu atau bahan-bahan lain yang ringan harus dilarang didirikan.Ada kalanya boleh dibangun rumah atau gedung dari tanah liat atau cetak, tetapi izin hanya diberikan bila telah diambil langkah-langkah perlindungan.  Penepatan jalur pengungsian yang aman. Tiap lingkungan pemukiman yang rawan banjir harus punya rute penyelamatan yang aman, serta penampungan sementara dilokasi yang letaknya lebih tinggi dari permukaan air banjir. Strategi-strategi pencegahan lainnya adalah : Badan-badan pemerintah mengambil alih lahan-lahan di jalur banjir. Penghuninya diberi lahan lain yang lebih aman. Diberikan perangsang berupa pnjaman lunak, subsidi atau penghapusan Pajak Bumi dan Bangunan bagi rakyat dan penanam modal yang bersedia mengalihkan rencana pembangunan lokasi rawan banjir ke tempat lain yang lebih tahan banjir. Dilaksanakan penganekaragaman produksi pertanian, misalnya menanam pangan yang ‘kedap – banjir’ atau menambahkan pepohonan di lahan atau menyesuaikan musim tanam dengan musim banjir. Juga dilaksanakan upaya membangun lumbung pangan cadangan dan penyimpanan yang aman untuk produk – produk pertanian. Penghijauan, pengelolaan ruang bududaya dan pengaturan areal merumput ternak untuk mencegah pengguguran dan penggundulan, agar tanah lebih mampu menyerap serta menahan air. Pembangunan gedung-gedung atau bukit-bukit buatan yang cukup tinggi yang akan dipakai sebagai tempat penampungan sementara para pengungsi seandainya penyelamatan ke lokasi lain tak mungkin dilaksanankan. Bagi negara-negara berkembang yang banyak menmanfaatkan tanah seputar jalur banjir, harus dilakukan kerjasama dengan rakyat setempat sekaligus penggunaan pengaruh politis yang cukup besar agar daerah – daerah rawan itu dikosongkan tanpa terjadi pergolakan   PENGENDALIAN BANJIR 

 

Sebagaimana telah disebutkan di muka, pengendalian pemakaian lahan akan dilakukan di daerah – daerah jalur banjir yang baur dalam tahap pengembangan maupun yang sudah terlanjur dibangun. Namun masih tetap harus dilaksanakan perubahan-perubahan untuk menekan kerentanan masyarakat terghadap dampak-dampak negatif bencana banjir. Di negara-negara berkembang, barangkali pengaruh politis yang cukup besar harus dikerahkan, sekaligus kerjasama dengan masyarakat yang bersangkutan. Pilihan –pilihan pengendalian banjir adalah :

Perbaikan saluran yang sudah ada. Dasar sungai yang sudah dangkal akibat pengendapan harus dikeruk, diperdalam sementara batas tebing sungai di kanan – kirinya harus pula diperlebar. Metode-metode ini meningkatkan kemampuan penampungan lebihan air dan menurunkan peluang ke sekitar sungai. Pengalihan arus dan pembangunan saluran pembantu. Bila dibandignkan dengan biaya memungkinkan kembali penduduk dan industri ke daerah yang lebih aman, mungkin biaya membangun saluran pembantu (membantu memecah aliran sungai) atau mengalihkan arus lebih murah. Ada bebarapa pilihan, diantaranya selokan-selokan besar dan dalam dengan kisi – kisi rerumputan atau padang terbuka atau saluran dengan dinding batu atau beton. Perancangan dan pembangunannya harus hati-hati karena kemungkinan ada dampak – dampak buruk pada lingkungan alamiah dan harus dipertimbangkan keamananya. 

 

Pembangunan bendungan dan tanggul. Bendungan dan tanggul mampu menyimpan cadangan air sekaligus melepasnya dengan tingkat yang masih bisa dikelola. Pembanguannya harus hati-hati, memakai patokan tingkat tertinggi permukaan air sewaktu banjir. Bila banjir ternyata lebih tinggi dan lebih kuat ketimbang bendungan, bahayanya justru lebih besar ketimbang kalau tak ada bendungan. Jadi bila bangunan semacam itu tak dirancang cermat, keamanannya takkan terjamin dan penduduk hanya akan memperoleh rasa aman yang menyesatkan karena dampak banjir justru akan makin parah sewaktu bendungan jebol.

 

Penguatan bangunan yang sudah ada. Para pemilik bangunan bisa mengusahakan menekan risiko kerusakan dengan cara memperkuat bangunannya untuk : Menahan hantaman atau terjangan air. Bangunan baru harus diberi pondasi yang tak mudah keropos atau longsor. Perlindungan dari pengikisan tanah. Ini merupakan unsur penting perlindungan menghadapi bencana banjir. Dasar sungai sebaiknya distabilkan dengan membangun ‘alas batu’ atau beton yang kuat, atau menanami bantaran dengan pepohonan, khususnya bila dekat jembatan. Perbaikan lokas. Lokasi rawan banjir atau sekitar sungai bisa diperbaiki dengan cara meninggikannya. Ini akan efektif untuk lokasi bangunan.   

LANGKAH – LANGKAH PERSIAPAN KHUSUS

 

Sistem – sistem peramalan dan peringatan bahaya banjir. Penelitian kasus di berbagai negara menunjukkan bahwa peramalan dan peringatan bahaya banjir bisa menurunkan potensi kerugian antara 6 hingga 40% (WMO). Sisitem – sistem pelacakan banjir yang menjadi dasar peramalan, peringatan dan persiapan penanggulangan nerentang dari yang paling sederhana dan tak memakan banyak biaya, yakni pembentukan jaringan relawan yang mengamati curah hujan dan tingkat arus, sehingga kepenerapan jaringan canggih dengan alat-alat pemantua mutahir dan model-model komputer. Suatu sistem yang dinamakan ALERT (Automated Local Evaluation in Real Time, Evaluasi Otomatis Setempat dalam Hitungan Waktu Nyata), telah memperagakan kemampuan yang menekan biaya operasi serta efektif melindungi kehidupan maupun benda-benda, dengan peran serta badan-badan di tingkat daerah.

Stasiun – stasiun lapangan yang di rancang sebagai modul-modul lengkap dikelola oleh daerah rawan itu sendiri. Apapun metode yang dipakai untuk memberi peringatan kepada penduduk, sistem-sistem komuikasi harus sudah direncanakan dengan baik sejak dini. Tata cara pengungsian harus siap dan dilakukan latihan secara teratur. Cara – cara penyebaran peringatan antara lain melalui radio, televisi, sirine peringatan, kentongan, corong pengeras suara di balai desa atau di rumah, ke rumah dengan sepeda motor atau berjalan kaki. Bila dipakai sistem-sistem peringatan nasional, kerapkali sistem – sistem ini gagal, sebab sulit disebarkan peringatan yang diberikan dalam cara yang jelas dan tegas dan dipercaya oleh penduduk, lebih – lebih di daerah – daerah terpencil dan seringkali peringatan datang terlambat. Sistem – sistem peringatan nasional lebih efektif bila dilaksanakan di perkotaan. Di daerah pedesaan kentongan dan peringatan lisan adat atau tokoh masyarakat yang dihormati. Mereka harus dilibatkan dalam persiapan peringatan agar petunjuk-petunjuk penyelamatan dan pelaksanaannya di lapangan bisa benar – benar lancar. 

 

Keikutsertaan masyarakat. Para penghuni kawasan rawan banjir biasanya sudah punya beberapa metode tradisional untuk menghadapi risiko banjir. Di Bangladesh misalnya, yang sangat rawan banjir, dana pemerintah sering tak cukup untuk membiayai upaya penuh penanggulangan paling sederhana sekalipun. Namun tak semua urusan penanggulangan dan persiapan harus dibebankan ke pundak pemerintah dan aparatnya. Sebagian aspek perencanaan dan penanggulangan banjir mungkin malah lebih baik jika dilakukan di tingkat desa dan bisa dikembangkan tanpa banyak memerlukan campur tangan dari luar. Antara lain : 1. Peringatan bahaya banjir disebarkan di tingkat desa / kalurahan. 2. Kerja bakti untuk memperbaiki dasar dan tebing sungai, membersihkan kotoran yang menyumbat saluran air, membangun tanggul dengan karung-karung pasir atau bebatuan, menanami bantaran sungai dan sebagainya. 3. Rencana pemulihan pertanian pasca-banjir, antar lain dengan menyimpan benih dan persediaan lain di tempat yang paling aman dan ini dijadikan tradisi. 4. Perencanaan pasokan air bersih dan pangan dengan cara serupa seandainya bencana memaksa pengungsian. 5. Mengenali cara-cara penggaulangan tradisional dan langkah-langkah persiapannya, sambil menilai kelayakannya.

Program-program untuk menggugah kesadaran masyarakat tentang bahaya banjir bisa mencakup :1. Penjelasan tentang fungsi-fungsi bantaran sungai dan jalur banjir, lokasinya serta pola-pola penampungan / penyerapan airnya. Identifikasi bahaya peringatan. 2. Mendorong perorangan untuk memperbaiki daya tahan bangunan dan harta mereka agar potensi kerusakan / kehancuran dapat ditekan dan mengembangkan rencana pengungsian perorangan. 3. Menggugah kesadaraan masyarakat tentang arti penting rencana – rencana dan latihan – latihan penanggulangan serta pengungsian bagi kepentingan mereka sendiri. 4. Mendorong tanggung jawab perorangan atas pencegahan dan penanggulangan banjir dalam kehidupan sehari – hari. 5. Misalnya praktik bertani harus memperhatikan dampak lingkungan jangan menggunduli hutan dan hulu sungai saluran air harus dipelihara dan sebagainya. 

 

Rencana utama . Rencana utama adalah pedoman dasar yang menberi aparat setempat serta para pengembang dan pemilik lahan berbagi informasi pokok menyangkut jalur banjir dan apa yang harus dilakukan demi mencegah dan menanggulangi dampak bencana banjir. Selain pengaturan tata guna tanah, rencana utama ini harus mencakup pula program informasi masyarakat. Untuk mengembang-kannya diambil langkah –langkah sebagai berikut : 1. Peta akurat daerah itu dipelajari. 2. Dikembangkan daur air (hidrologi) bagi beberapa kekerapan banjir yang sudah pernah terjadi sepanjang 100 tahun terakhir. 3. Penetapan jalur banjir berdasarkan kekerapan yang pernah terjadi dan meneliti kondisi saluran air yang sudah ada. 4. Perkiraan kerugian akibat banjir dengan berbagai kekerapan dan mengembangkan catatan kekerapan banjir dan kerusakan yang ditimbulkan dengan basis tahunan. 5. Menelaah semua kemungkinan peminimalan dampak banjir, misalnya membangun bendungan. 6. Persiapan rancangan awal dan perkiraan biaya bagi alternatif – alternatif lain. 7. Menentukan kerusakan akibat banjir untuk tiap alternatif. 8. Melengkapi analisis kelayakan bagi tiap alternatif. 9. Meninjau kembali tiap alternatip dengan mempertimbangkan berbagai faktor, misalnya politik,peluang dan lingkungan hayati. 10. Memilih alternatif yang terbaik atau perpaduan beberapa alternatif yang bisa diterima dan dinilai layak oleh warga daerah itu. 11. Menerbitkan laporan perencanaan dengan dokumentasi proses di atas.

 

Kebutuhan – kebutuhan Pasca Banjir. Langkah – langkah awal yang harus diambil oleh pihak – pihak berwenang pada saat banjir surut adalah : 1. Pencarian dan penyelamatan korban. 2. Pemberian bantuan medis. 3. Penilaian situasi. 4. Penyediaan pangan dan air bersih sementara. 5. Penyulingan air. 6. Pemantauan endemi. 7. Penyediaan tempat tinggal / penampungan sementara bagi para korban

 

Langkah – langkah sekunder.  1. Perbaikan dan pembangunan kembali prasarana yang rusak atau hancur. 2. Memulihkan atau menciptakan lapangan pekerjaan. 3. Membantu pemulihan pertanian melalui penjaman usaha tadi, pembagian benih dan alat pertanian dan bibit ternak. 4. Membantu usaha kecil dan para nelayan.

 

(Materi ini merupakan bagian dari “Introduction of Hazard” yang diterbitkan oleh UNDP / UNDRO, Disaster Management Program 1992. Dialih bahasakan dan disunting untuk kebutuhan pelatihan manajemen bencana KAPPALA Indonesia dan OXFAM GB, serta perkuliahan Manajemen Bencana Geologi di Lingkungan UPN Veteran Yogyakarta. Semoga bermanfaat)

Posted by ET at 12:55:08 | Permalink | Comments (1) »