SEKALI LAGI TENTANG LUMPUR LAPINDO
Bisa dijelaskan fenomena alam yang menyebabkan terjadinya luapan lumpur tersebut?
Bencana merupakan fenomena yang terjadi karena komponen-komponen pemicu, ancaman, dan kerentanan bekerja bersama secara sistematis. Ada beberapa pemahaman yang perlu dipertegas sebelum melihat kasus luapan lumpur tersebut dari sisi manajemen bencna, yaitu relasi antara bencana (disaster), pemicu (trigger), ancaman (hazard), kerentanan (vulnerability) dan risiko (risk). Tentu sebaiknya tidak dipisah-piyahkan keberadaannya, sehingga bencana itu terjadi dan upaya-upaya peredaman risiko itu dilakukan. Bencana terjadi apabila masyarakat dan sistem sosial yang lebih tinggi yang bekerja padanya tidak mempunyai kapasitas untuk mengelola ancaman yang terjadi padanya. Ancaman, pemicu dan kerentanan, masing-masing tidak hanya bersifat tunggal, tetapi dapat hadir secara jamak, baik seri maupun paralel, sehingga disebut kompleks.
Pada kasus bencana luapan lumpur panas tersebut terdapat serangkaian pemicu. Proses pemboran eksplorasi Banjar Panji 1 merupakan pemicu orde pertama terjadinya underground blow-out. Beberapa catatan kronologi pemboran menunjukkan bahwa telah terjadi kick, loss, well killing, tigh-hole dan lainnya yang kurang ditangani secara sempurna. Ketidakstabilan tekanan bawah permukaan tersebut merupakan pemicu orde kedua sehingga terjadi pelepasan lumpur diapir dari kedalaman 6000-9000 ft melalui retakan-retakan di sekitar zona patahan Porong berumur kwarter yang ada di sekitarnya. Selanjutnya gunung lumpur (mud volcano) telah “tiwikrama” dari ancaman menjadi bencana.
Bagaimana struktur lapisan bumi pada posisi tersebut?
Struktur batuan di bawah permukaan di daerah tersebut, sama dengan dengan daerah sekitarnya di bagian utara pantai utara Jawa, terdiri dari formasi batugamping dan lempung.
Apa kandungannya, dan gimana bedanya dengan lava gunungapi?
Aktivitas ini dikenal segabai pembentukan gunungapi lumpur (mud vulcano), tetapi pembentuknanya sangat berbeda dengan pembentukan gunungapi (volcano). Mud volcano merupkan proses pelepasan lumpur ke permukaan, sedang volcano merupakan proses pelepasan magma ke permukaan. Lumpur ini merupakan batuan endapan (sedimentary rock) dari lingkungan pantai dan danau purba yang terpendam di bawah permukaan dan tertekan keluar. Lumpur ini banyak mengandung material organik yang berukuran lempung, dan pada saat ini bersampur dengan air formasi. Berbeda dengan lava yang berupakan hasil endapan aktivitas primer gunungapi sebagai batuan bekuan (igneous rock) Dugaan awal saat ini panas lumpur berasal dari sistem patahan murni. Namun tentunya tidak menutup kemungkinan sistem patahan tersebut menerus ke sistem gunungapi terdekat. Apakah semburan lumpur panas ini berhubungan dengan aktifitas geotermal atau tidak, dapat dilihat dari sisi kandungan mineral, temperaturnya, dan tentu letaknya. Data pengukuran yang beredar di milis Ikatan Ahli Geologi Indonesia pada akhir bulan lalu antara 60-80 derajat C. Memang suhu ini lebih tinggi diari mata air panas di Parangwedang yang hanya sekitar 35-40 derajat C, tetapi jauh lebih rendah dibanding mata air panas yang benar-benar karena geotermal seperti yang terjadi di Cisukarame gunung Halimun jawa barat yang mencapai 90 derajat C. Kandungan H2S dalam dapat berasal dari hasil geothermal atau pemisahan karbonat. Namun bila unsurnya tinggi tentu perlu dicurigai. Dari sisi tempat posisi sumur Banjarpanji sekarang sekitar 25 km dari G. Welirang, yang masih dalam ”batas toleransi” kehadiran mata air panas di berbagai tempat gunungapi lain yang berada pada jarak 15 sd 20 km dr gunungapi.
Apakah di Indonesia ada fenomena seperti ini?
Contoh fenomenal mud volcano yang sedang aktif ada di di purwodadi, yang dikenal dengan “bledug kuwi”. Sementara yang tidak aktif, yang dapat dilihat dari sebaran material lumpur yang keberadaaannya tidak selaras dengan batuan-batuan yang ada disekitarnya bisa kita temui di Sangiran, Tuban, Mojokerta, bangkalan dan Gununganyar Sidoarjo. Proses “erupsi” lumpur tentu akan terus berlangsung ssampai material lumpur dan atau energi (gas) yang terkandung di dalamnya habis. Oleh karena itu sangat mungkin lumpur banjar panji ini menjadi mud volcano aktif sebagaimana bledug kuwi.
Apa sebab luapan lumpur hingga tidak terkendali hingga kini?
Tindakan mengendalikan ancaman dilakukan untuk mengurangi (dan bila memungkinkan menghilangkan) intensitas dan besaran ancaman. Memahami ancaman diperlukan sebagai dasar untuk memutuskan tindakan-tindakan pengendalian sumber ancaman. Semakin kita mengenal ancaman dengan baik, maka tindakan yang kita lakukan atas ancaman akan semakin berhasilguna; sebaliknya pemahaman yang terbatas atas ancaman menjadikan tindakan yang kita lakukan tidak berhasilguna. Tindakan penutupan sumur dan pemasangan snubbing unit yang tidak memberikan hasil menunjukkan kita belum mampu memahami sumber ancaman tersebut dengan baik. Beberapa masalah yang belum dapat dirincikan dari luapan lumpur ini adalah volume maksimum lumpur yang berpotensi dikeluarkan. Volume maksimum ini berubungan dengan besar volume “kantung” lapisan geologi pembawa lumpur tersebut, serta hubunganya dengan lapisan lain maupun interkoneksi asupan lumpur dari “kantung-kantung” yang lain.
Apakah ada kemungkinan salah hypotesa dalam menanggulangi luapan lumpur tersebut?
Keterbatasan kita atas ancaman ini tentu berimplikasi pada kesalahan hipotesis dan kesalahan tindakan. Beberapa bulan lalu para pihak berwenang tentu sudah melakukan upaya pengkajian rinci untuk lebih memahami ancaman itu. Untuk mengurangi kesalahan hipotesis itu tentu banyak hal penting yang seharusnya telah dilakukan, antara lain pengkajian kronologi pemboran di sumur Banjarpanji 1 dan bahkan di sumur-sumur lain di sekitarnya, pencarian informasi geologi dan geofisika detil, perhitungan volume dan tekanan, serta kemungkinan over-pressure.
Bagaimana upaya penganggulangan yang sudah dilakukan terhadap luapan lumpur tersebut? Apakah sudah optimal?
Seperti kita ketahui bersama, serangkaian tindakan penanggulangan bencana telah dilakukan. Perkembangan terakhir peanggulangan luapan lumpur versi Media Center (29/08/06) misalnya, telah dilakukan pembuatan kolam-kolam dengan tanggul-tanggul penampung lumpur, penanganan pengungsi, pemberian santunan biaya hidup dan sewa rumah, gantirugi bagi pekerja, serta penanganan masalah lalulintas. Segala bentuk penanggulangan ini masih merupakan tindakan penanganan darurat. Modal-modal kehidupan masyarakat yang terkena luapan lumpur ini jelas tidak dapat digunakan dengan segera, persis seperti sebelum luapan terjadi. Oleh karena itu kita perlu menambah skenario baru untuk proses pengembalian modal kehidupan masyarakat, baik modal alam-lingkungan, human, sosial, fisik, dan finansial. Kita perlu memulai melakukan tindakan yang berorientasi jangka panjang, terutama untuk mengembalikan modal-modal penghidupan masyarakat yang secara langsung atau tidak langsung telah hilang atau rusak oleh luapan lumpur itu. Skenario pengembalian modal kehidupan ini tentu jangan dipahami dengan ”mengganti sama persis”, tetapi bolehjadi dapat dilakukan dengan membangun modal-modal baru dan membangun pola adaptasi. Hasil akhir yang diharapkan dari skenario ini adalah terjaminnya keberlanjutan kehidupan masyarakat dengan modal ”baru” yang dimiliki. Skenario penguatan modal kehidupan bagi masyarakat tersebut terutama dilakukan dengan mengarusutamakan usaha penguatan kapasitas, mengurangi kerentanan dan ketergantungan. Upaya-upaya ini secara konseptual dapat dilakukan dengan mengurangi kondisi tidak aman (unsave condition), meredam penekan dinamis (dynamic pressure) untuk kondisi rentan, dan pada akhirnya menyelesakan akar masalahnya (root causes).
Ada pendapat yang menyebutkan bahwa kemungkinan kecil luapan lumpur panas tersebut bisa ditutup, sehingga harus ada skenario game over?
Banyak sumber mengatakan bahwa kita belum memiliki kemampuan untuk itu, kenyataannya memang sampai sampai saat ini kita belum mampu menangani sumber ancaman lumpur itu. Relief well sedang akan dilaksanakan dan diharapkan dapat meredam underground blow-out. Namun jika upaya itu gagal, tentu permainan belum selesai. Kita boleh gagal saja menangani sumber ancaman, tetapi ”permainan” yang harus terus dilakukan adalah berupaya melakukan peredaman resiko bencana yang sekarang telah terjadi, dan akan terus bertambah karena kegagalan itu.
Apakah ada kemungkinan permukaan tanah secara perlahan-lahan akan menurun? Berapa besar kecepatannya per bulan?
Luapan lumpur ini adalah proses pemindahan massa lumpur dari bawah permukaan ke permukaan akibat tekanan beban massa tubuh batuan yang berada di atasnya. Penurunan maksimum ketinggian permukaan tanah akan sesuai dengan ketebalan massa lempung yang berada di bawah permukaan, serta bentuk struktur patahan yang ada di lokasi tersebut.. Bila disebandingkan dengan kedalaman pada sumur Porong 1 di sebelahnya, maka penurunan maksimum akan mencapai 200 meter. Kecepatan penurunan tergantung luasan blok masa batuan yang membebani dan besar debit pelepasan. Semakin besar blok, maka semakin besar tekanannya sehingga debit luapan semakin besar. Semakin besar debit peluapan lumpur maka penurunan permukaan akan semakin cepat. Pada akhirnya secara alamiah akan terjadi penyeimbangan. Penurunan permukaan tanah yang lama akan diisi oleh permukaan massa lumpur yang baru. Bila diasumsikan luas massa beban 14 km2 maka dengan debit rata-rata 7.000 m3 per hari, maka penurunan yang terjadi sekitar 0,5 mm per hari.
Agar luapan lumpur tidak menggenangi wilayah lebih luas lagi, ada rencana mengalirkan lumpur tersebut ke lokasi pembuangan yang salah satunya adalah ke laut. Lumpur tersebut harus di-treatment seperti apa sebelum dibuang ke laut?
Setiap pilihan yang dilakukan untuk menangani luapan lumpur tersebut pasti mengandung resiko. Pilihan membuang lumpur ke laut adalah salah satu pilihan dari beberapa pilihan yang lain. Membuang lumpur langsung ke laut akan berdampak pada terganggunya ekosistem laut, yang berimplikasi pada penurunan nilai modal kehidupan masyarkat pesisir. Ini dimungkinkan bila jumlah suspensi lumpur dalam laut terjaga pada titik biota laut dapat beradaptasi pada kondisi tersebut. Treatment yang harus dilakukan pada dasarnya untuk mengurangi jumlah suspensi dan unsur-unsur gas yang terkandung dalam lumpur. Cara sederhana yang bisa dilakukan adalah dengan membuat kolam-kolam pengendapan sekaligus kolam-kolam aerasi.
Bagaimana Anda melihat tanggung jawab Lapindo Brantas atas bencana tersebut? Apakah sudah optimum dalam menangani masalah pengungsi dan tunjangan kepada para korban?
Serangkaian penanganan yang dilakukan oleh PT Lapindo Brantas masih berorientasi pada penanganan kondisi darurat. Penanganan ini dalam jangka panjang akan memunculkan masalah baru berupa ketergantungan baru dan bahkan hilangnya modal kehidupan masyarakat.. Berkenaan dengan hal itu maka sudah waktunya melakukan perubahan orientasi penanganan korban dari tindakan-tindakan penanganan darurat ke upaya mengembalikan modal untuk keberlanjutan kehidupan masyarakat. PT Lapindo Brantas dan Pemerintah (Pusat dan Daerah) perlu memahami posisi dan mandat masing-masing dalam tanggung-gugat ini. PT Lapindo Brantas adalah tertanggung-gugat sebagai pemicu limpahan lumpur, serta pemerinta sebagai pemegang mandat konstitusi negara untuk melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia.
* Jawaban saya terhadap bertanyaan kawan-kawan wartawan seputar kasus semburan lumpur. Semoga bermanfaat