Friday, September 15, 2006

PENGENALAN TSUNAMI UNTUK PENANGGULANGAN BENCANA


 PROLOG
  

 

Tsunami  adalah sebuah kata yang diambil dari khasanah bahasa Jepang yang artinya kira-kira ‘gelombang di pantai’. Banyak orang menyebutnya tsunami  ‘gelombang pasang’, padahal sesungguhnya tsunami  tidak ada hubungannya dengan pasang surut gelombang air laut. Memang di permukaan laut sewaktu terjadi tsunami  akan muncul gelombang-gelombang besar yang seringkali sampai menyapu pantai-pantai yang jauh, tetapi gelombang-gelombang itu tidak sama dengan gelombang naik dan turun yang biasa datang dan pergi silih berganti. Asal gelombang-gelombang tsunami  adalah dari dasar laut atau sari daerah pantai yang memiliki kegiatan-kegiatan seismik, kelongsoran tanah dan letusan gunungapi. Apa pun penyebabnya yang jelas air laut terdorong sehingga meluap, pecah menyapu dataran dengan daya rusak luar biasa.   

FENOMENA PENYEBAB TSUNAMI   

 

Gerakan-gerakan geologis yang memicu timbulnya tsumani  berlangsung akibat tiga hal pokok : Gerakan dasar laut, Tanah longsor, Kegiatan gunung api. Yang paling sering menyebabkan tsunami  adalah gerakan-gerakan sesar / patahan di dasar laut, disertai peristiwa gempa bumi. Patahan / sesar, bila dipaparkan adalah zona planar lemah yang bergerak melaui kerak bumi. Sebenarnya jika dikatakan bahwa gempa bumi menjadi penyebab tsunami  tidaklah tepat. Yang benar tsunami  maupun gempa bumi sama-sama merupakan hasil gerakan-gerakan patahan / sesar.  Penyebab ketiga adalah kegiatan volkanis atau gunungapi. Kawah gunungapi, baik yang berada di bawah laut maupun yang ada di pantai, bisa mengalami pergeseran tempat, entah terangkat atau terbenam,akibat gerakan patahan / sesar. Akibatnya mirip dengan longsoran. Atau gunungapi itu meletus. Pada tahun 1833, gunungapi terkenal di Indonesia, yakni Krakatau meletus hebat sampai memunculkan tsunami  setinggi 39 meter, menyapu dataran Jawa dan Sumatera. Waktu itu terdapat sekitar 36.000 korban tewas. Meskipun tsunami  yang dipicu oleh tanah longsor atau gunungapi mungkin sangat menghancurkan kawasan disekitarnya,namun energi tsunami (gelombang pasang itu kecil, cepat surut ukurannya dan dalam jarak jauh hampir-hampir tak terasa atau nampak. Tsunami  raksasa yang bisa melintasi samudera hampir selalu disebabkan oleh aktifitas tektonik, gerakan-gerakan patahan bawah laut (submarine faulting) yang berhubungan dengan gempa bumi.   

 

CIRI-CIRI UMUM TSUMANI   

 

Telah disebutkan di muka bahwa tsunami  berbeda dengan gelombang-gelombang lautan dalam yang biasa kita saksikan. Kalaupun tampilannya hampir mirip, gelombang-gelombang laut yang terbesar pun disebabkan oleh terpaan angin yang menyapu permukaan air laut. Gelombang-gelombang air laut yang normal jarang bisa melampaui panjang 300 meter jika diukur dari puncak ke puncak. Sedangkan tsunami  bisa mencapai panjang 150 kilometer antar puncak. Lagi pula gelombang-gelombang tsunami (gelombang pasang ) bergerak dengan kecepatan yang jauh melebihi gelombang biasa.       

 

Laju gelombang laut yang normal sekitar 100 kilometer per jam, sementara di perairan dalam bisa bergerak dengan kecepatan menyaingi pesawat jet – 800 kilometr per jam ! uniknya, meski bergerak sangat kencang,tsunami  hanya menaikkan permukaan air laut sampai 30-45 sentimeter saja, dan tak jarang awak kapal ditengah laut tidak melihat tanda-tanda amukan tsunami  biarpun pada saat itu sedang terjadi bencana di kawasan pantai. Pada tahun 1946, seorang kapten kapal yang melepas jangkar di lepas pantai dekat Hilo mengatakan bahwa dirinya sama sekali tidak merasakan perubahan apapun dalam kondisi gelombang laut di bawah kapalnya, padahal dengan mata kepalanya sendiri dang kapten bisa menyaksikan bahwa gelombang-gelombang raksasa sedang memecah pantai.  Berlawanan dengan kepercayaan umum, sesungguhnya tsunami  bukan sebentuk gelombang raksasa tunggal. Sebuah tsunami  bisa terdiri atas 10 gelombang atau lebih, yang kemudian biasa disebut ‘rantai gelombang tsunami ’, gelombang-gelombang itu susul menyusul dengan jarak waktu antara 5 sampai 90 menit satu sama lain. Saat gelombang-gelombang tsunami  makin mendekati pantai, terjadi perubahan. Bentuk dasar laut diseputar pantai mempengaruhi bagaimana “perilaku” tsunami  itu nanti. Kalau dasar laut dekat pantai dalam, gelombang-gelombang yang akan memecahkan dipantai lebih kecil. Sebaliknya di wilayah-wilayah yang berpantai dangkal, memungkinkan terbentuknya gelombang-gelombang tsunami yang sangat tinggi. Di daerah teluk dan kuala / muara, air bisa bergolak maju mundur. Peristiwa ini dinamakan seiches, dan dapat mendongkrak ketinggian gelombang-gelombang tsunami  sampai memecahkan rekor.

 

Selagi gelombang-gelombang merapat ke pantai,jarak tempuh per jam mengecil, gerakannya melambat, sampai akhirnya   hanya  mencapai sekitar 48 kilometer per jam. Sinyal pertama kedatangan tsunami  di pantai tergantung pada bagian mana dari gelombang-gelombangnya yang lebih dulu sampai ke tepian. Jika palung (lembang antar gelombang) lebih dulu merapat, akan terjadi penurunan ketinggian permukaan air. Sebaliknya permukaan air akan meninggi bila yang lebih dulu sampai ke tepi adalah puncak gelombang. Tetapi tidak mudah mengamati kejadian sebenarnya. Pengamat dipantai mungkin tidak bisa memastikan bagian mana yang lenbih dulu tiba. Kecuali dalam kasus penurunan tingakt permukaan air, penyurutan air besar-besaran, yang memuntahkan ikan-ikan mengelepar diatas pasir.     

 

Barangkali Anda sudah beberapa kali melihat gambar tsunami , yang biasa menyertai berita tentang bencana ini atau kemungkinan terjadinya. Namun gambar-gambar itu bisa menyesatkan jika menyebabkan timbulnya anggapan bahwa tsunami  selalu tampil dalam bentuk dinding air vertikal (dalam istilah asing disebut bore). Jika Anda mengamati tsunami  yang sebenarnya, lebih sering tampak sapuan air bah yang dimuntahkan ke pantai, seolah ada bendungan jebol. Gelombang-gelombang dan riak-riak air laut yang normal mungkin akan “bertengger” di puncak gelombang tsunami , atau gelombang tsunami  itu sendiri dengan relatif tenang meluncur dan “mendarat” di seputar pantai. Banjir tsunami  berbeda-beda,bahkan antara dua pantai yang berdekatan pun terjadi banjir yang berlainan. Yang mempengaruhi perbedaan ini antara lain adalah : Topografi (tinggi – rendah) patahan muka laut, Bentuk pantai, Gelombang-gelombang pantulan, Modifikasi (penyesuaian) bentuk gelombang karena seiches dan pasang naik, Faktor-faktor yang mempengaruhi kerawanan terhadap tsunami   

 

PENGARUH TSUNAMI   Ada beberapa faktor yang paling berpengaruh terhadap kerawanan semua daerah yang dibayangi bencana tsunami  : (1) Pertambahan penduduk dunia yang kian pesat,makin memusatnya pemukiman di wilayah – wilayah perkotaan, dan makin besarnya penanaman modal infrastruktur, khususnya di daerah-daearah pesisir. Sebagain  daerah pemukiman dan letak harta tak bergerak yang bernilai ekonomis ini (hotel-hotel, fasilitas wisata bahari, dsb). Berada dalam jangkauan bahaya tsunami .  (2) Kurangnya perencanaan pendirian bangunan dan proyek yasa lahan yang sejak semula dirancang untuk tahan terhadap sapuan gelombang tsunami . (3) Kurangnya (atau bahkan tidak adanya) sistem peringatan bencana tsunami  bagi penduduk, atau kurangnya pendidikan umum untuk membangkitkan kesadaraan akan dampak-dampak buruk tsunami  dan kedahsyatannya yang hingga kini tidak bisa diramalkan sebelum benar-benar terjadi. Salah satu contoh kekurangan informasi yang memadai terjadi di Hilo, Hawai.Penduduk sekitar tempat itu sudah mengalami amukan tsunami (gelombang panang) pada tahun 1952 dan 1957. Kekuatan tsunami  yang menyambangi mereka kala itu termasuk menengah, namun penduduk sudah terburu-buru menyimpulkan bahwa tsunami  yang kan datang, seandainya ada ‘pasti’ takkan lebih dahsyat lagi. Mereka hanya bersiap-siap menghadapi tsunami  yang kira-kira sama dengan tsunami (gelombang pasang ) - tsunami   terdahulu. Maka, ketika akhirnya tsunami  menghampiri pantai Hilo pada tahun 1960, bisa dikatakan penduduk berkumpul memadati pantai, banyak yang justru ingin menonton datangnya gelombang-gelombang itu, padahal kali ini yang datang tsunami  berkekuatan raksasa.  

 

DAMPAK TSUNAMI   Dampak – dampak Tsunami  yang paling parah : Kerusakan fisik, Korban jiwa kesehatan masyarakat, Pasokan air bersih, Tanaman dan pasokan pangan, Banjir dan kerusakan fisik akibat tsunami . Tsunami bisa menyebabkan : (1) Panen musnah seluruhnya bila pada saat tsunami  datang para petani baru saja menanami sawah dan ladang (tanaman yang masih jemah itu tercabut seluruhnya dari tanah, dan terseret ombak ke lautan). (2) Tanah  garapan kehilangan kesuburan akibat genangan air laut. (3) Lumbung pangan akan tergenang atau bahkan terseret arus dan tenggelam, dan persediaan pangan akan rusak sebagian atau seluruhnya bila tidak sempat diselamatkan ke tempat lain yang lebih tinggi letaknya. (4) Binatang ternak yang tak diungsikan secepatnya akan mati tenggelam atau terseret arus. (5) Sistem budidaya tanaman pangan (termasuk teras-teras sawah yang rendah, petak-petak,pengairan, peralatan seperti traktor, bajak, dsb) hancur,hilang terbawa ombak, atau rusak akibat air garam. (6) Sistem perikanan hancur (kapal dan perlengkapan nelayan remuk atau hilang terseret ombak).

 

 

CATATAN: Materi ini merupakan bagian dari “ Introduction of Hazard” yang diterbitkan oleh UNDP / UNDRO, Disaster Management Program 1992. Dialih bahasakan dan disunting untuk kebutuhan pelatihan manajemen bencana yang diselenggarakan KAPPALA Indonesia, OXFAM GB dan Pusat Studi Manajemen Bencana UPN Veteran Yogyakarta. Semoga bermanfaat


 

Posted by ET at 09:29:14
Comments

One Response to “PENGENALAN TSUNAMI UNTUK PENANGGULANGAN BENCANA”

  1. Anonymous says:

    trims atas info tsunaminya,semoga gak terjadi tsunami lagi di indonesia ya!!!!!!!!!!!!!

Leave a Reply