Wednesday, October 18, 2006

YUK MENGENAL PEREDAMAN RISIKO BENCANA

Beberapa pernyataan dan pertanyaan di bawah ini diharapkan dapat memancing keinginan kawan-kawan yang berminat (atau terpaksa) untuk mengenal peredaman risiko bencana. Paradiga penangulangan bencana, siklus penanggulanan bencana, relasi penanggulangan bencana dan pembangunan serta memaknai aset dalam hubungannya dengan ancaman, risiko dan kapasitas menjadi modal dasar untuk memahami peredaman risiko bencana. Yaaaa semoga saja ini bermanfaat…

 

PARADIGMA PENANGGULANGAN BENCANA

Istilah penanggulangan bencana nampaknya begitu kental dengan usaha-usaha penanganan darurat. Hal ini bisa dimaklumi karena kita selalu terhenyak apabila bencana terjadi. Kenyataan tersebut tentu tidak salah jika hal ini dipahami pada kenyataan bahwa pemahaman penanggulangan bencana di Indonesia masih sangat diniiii sekali… Apalagi memang pendekatan itu masuk dalam sejarah pendekatan dan paradigma penanggulangan bencana….

Duluuuuu penanggulangan bencana dimulai dengan pendekatan responsif. Orang berpendapat penanggulangan bencana yang paling penting adalah menangani korban. Begitu ada bencana, baru kita mulai bertindak. Karena itu semua persiapan dimaknai sebagai persiapan untuk “saat bencana”.. Dalam perkembangannya apabila kita lihat, perspektif penanggulangan bencana menjadi (1) usaha-usaha yang bersifat mitigasi, dan akhirnya pada (2) usaha-usaha peredaman risiko bencana… (selanjutnya, silahkan dipaparkan….)

Nah, di sisi lain ada pergeseran pendekatan. Dari yang bersifat karitatif, pendekatan ilmu sosial, pendekatan ilmu alam dan akhirnya pendekatan secara holistik…. Jauhkah bedanya? Jelas iya…. Pendekatan multi sektor mengajak kita bersama-sama saling menghargai kelebihan dan kekurangan kita dalam menangani bencana……. Ya.. Seoerti ilmu lingkungan, sebenarnya itu merupakan ilmu lintas batas…. Lantas bagaimana memaknainya?

 

SIKLUS PENANGGULANGAN BENCANA

Kita cenderung lupa bahwa kita dapat mencegahnya, setidaknya dapat meredam risikonya. Serangkaian upaya meredam risiko tersebut lazim kita kenal dengan “Siklus Penanggulangan Bencana”. Memahami risiko bencana dapat kita mulai dari sini…… Sudah selayaknya kita secara mudah dapat menjelaskan beberapa pertanyaan berikut…. Misalnya:

(a) apa saja sih komponen-komponen kegiatan yang termasuk dalam siklus penanggulangan bencana?

(2) apa sih difinisi masing-masing komponen kegiatan siklus penanggulangan bencana tersebut?.

(3) adakah contoh nyata (dari berita koran misalnya) yang dapat kita paparkan untuk masing-masing komponen siklus penanggulangan bencana tersebut?

(4) dapatkah kita menyusun sebuah skenario peredaman risiko bencana dari sebuah ancaman tertentu? misal skenario peredaman risiko ancaman banjir, longsor, letusan gunungapi?

PENANGGULANGAN BENCANA & PEMBANGUNAN

 

Matra pembangunan dan bencana adalah sekeping mata uang, yang masing-masing permukaannya bermakna adalah risiko dan manfaat. Antara pembangunan dan bencana dapat bermakna: (1) bencana dapat mengurangi dan bahkan merusak hasil pembangunan, (2) bencana berpotensi memperkuat nilai pembangunan, (3) pembangunan dapat meredam risiko bencana, (4) pembangunan perpotensi meningkatkan kerentanan dan risiko bencana.

Permasalahannya sekarang, empat pernyataan tersebut sebenarnya sebuah kenyataan atau sekedar wacana sih? Tentu tidak pantas kita hanya menjawab bahwa pernyataan-pernyataan tersebut wacana, dan atau kenyataan. Kita harus dapat mencari contoh dan menjelaskan dengan jelas sehingga pernyataan-pernyataan tersebut memang tegas-tegas sebuah wacana, dan atau kenyataa. Bolehlah kita mencari contoh disekitar kita untuk mempertegas pendapat kital.

Okay. Keputusan sudah diambil dan contoh-contoh penegas atas pendapat kita sudah selesai. Permasalahan berikutnya? apabila ada pembangunan yang jusru beresiko dan meningkatkan kerentanan, apa yang sebenarnya dapat / seharusnya kita lakukan?

 

ANCAMAN , KAPASITAS DAN KERENTANAN DOMINAN

Banyak pendapat yang menyatakan, Indonesia adalah republik bencana; setidaknya supermarket atawa warung bencana. Hampir dipastikan di seluruh kabupaten di Indonesia ada saja kebijakan pembangunan yang justru meningkatkan risiko dan meningkatkan kerentanan. Nampaknya akan lebih baik apabila bahasan kita justru kita fokuskan ke kabupaten daerah asal kita masing-masing…. Yah, setidaknya ini menghindari pendapat miring “ayam lupa kandang”… Karena itu mari kita analisis kabupaten asal kita… (1) apa saja ragam ancaman dan ancaman dominan yang ada di kabupaten kit, (2) apa keanekaragaman kapasitas dan kapasitas dominan, dan tentunya (3) apa keanekaragaman kerentanan dan kerentanan dominannya…

Dalam membahas ancaman, kapasitas dan kerentanan tersebut tentu kita tidak boleh melupakan aset penghidupan masyarakat di kabupaten yang kita analisis. Secara umum aset kehidupan terdiri dari aset (1) human, (2) natural, (3) social, (4) financial, (5) physic. Mari kita analisis dengan rinci masing-masing aset penghidupan tersebut, dalam hubungannya dengan kapasitas dan kerentanan yang ada di daerah kita…

 

 

Selamat belajar….

 

 

Posted by ET at 06:29:11 | Permalink | Comments (1) »

Monday, October 16, 2006

SIKLUS KEBUTUHAN KITA

PENGANTAR

 

Ini tentang paska gempa. Hujan mulai datang. Sementara rumah belum dibuat. Kok rumah, rumah sementara saja belum. Kok rumah sementara, tenda yang kemaren saja sudah mulai rusak. Ya, kita nampaknya suka melupakan bahwa ada sebuah siklus kebutuhan. Ketika penanganan darurat dilakukan, maka kita berebut membantu. Boleh jadi, di banyak tempat ketersediaan barang sudah melewati kebutuhan.. tapi itu dulu… Siklus kebutuhan terjadi. Dulu memang telah tercukupi. Namun seiring dengan ketersediaan barang yang habis digunakan, ataupun barang yang aus digunakan, maka akan ada kebutuhan baru. Siklus kebutuhan itu kita lupakan. Jadi, nampaknya kita perlu malakukan analisis kebutuhan dan analisis siklus kebutuhan… Untuk apa… agar kita bisa mengatur bagaimana bisa bersama mencukupinya.. Kita, bukan para pekerja bencana, tetapi juga masyarakat terkena bencana….

 

MEMBACA SIKLUS KEBUTUHAN

 

Membaca aset (alam, sosial, finansial, human, fisik) tentu jangan ketika bencana datang. Ketika aset sebagian besar hilang atau rusak sehingga masyarakat terkena bencana tidak mampu melakukan dinamika kehidupannya tanpa bantuan orang lain. Secara periodik tentu perlu dilakukan penilaian aset. Penilaian kembali dilakukan berdasarkan tingkat kebutuhan dalam jumlah dan waktu. Tiap-tiap jenis aset mempunyai tingkat dan kebutuhan yang berbeda. Kita sebut saja, ada siklus kebutuhan aset bagi masyarakat terkena bencana.

 

Kebutuhan pangan sebagai aset yang diperlukan untuk menjaga perlu dilakukan penilaian dalam waktu yang rapat. Kevaluasi ketercukupan aset itu nampaknya mudah kita fahami, karena sebelum kita lupa, kita sudah memerlukannya. Kita memerlukan selalu setiap hari….

 

Kebutuhan sandang, mungkin sedikit kita lupakan. Kita lupa bahwa kebutuhan sandang bukan untuk keingahan, tetapi sandang yang mampu menjaga kesehatan, kehormatan dan martabat. Bukan sandang untuk menutup kemaluan kan…. Karena masih menempel di badan, rasanya tidak terlalu segera diperlukan… Ada kebutuhan yang baru muncul setelah dalamsatu dua bulan….

 

Tempat berlindung kita, barangkali terlupakan karena dinamika keseharian yang sibuk. Tempat tinggal kita (tenda, tenda sementara) yang selama ini telah menjaga dari rasa malu, memberi keamanan dan mengurangi rasa sungkan, tanpa terasa sudah tidak mampu lagi menjalankan tugasnya. Tenda kain kita mulai bolong-bolong. Tenda plastik kita mulai rapuh. Kebutuhan telah mulai muncul tetapi penggantinya belum ada. Lantas bagaimana? Ya, bagaimana… Ternyata ada siklus kebutuhan yang lebih panjang……

 

LANTAS GIMANA?

 

Kebutuhan kita itu bagaimana mencukupinya? Sementara kawan-kawan kita telah pergi dari “menyelesaikan” tugasnya. Dan tentunya dengan juga membawa kekayaannya. (Jangan dikira semua kawan-kawan kita itu relawan lo ya…… Mereka juga pekerja lhoo. Yang barangkali, gajinya jauh lebih banyak dibanding kalau bekerja dalam kondisi normal…. Note: ini saya ngundomono)

 

Barangkali kita perlu mengundang kembali kawan-kawan kita itu, dan mengajaknya berunding… Gimana mencukupi kebutuhan ini.. Sekali lagi, ini bukan ajakan untuk mengemis, tetapi ajakan untuk meninjau kembali kebijakan “selesai” melaksanakan tugas itu. Ada kebutuhan di masyarakat terkena bencana.. terutama kelompok rentannya

 

Mungkin kalau bisa juga sekaligus menilai dan menimbang-nimbang, kesesuaian ongkos menolong dan barang yang ditolongkan untuk kedepannya itu… Bahasa gampangnya..ongkos manajemen dan operasionalnya… Nanti takutnya gek jumlahnya kebanyakan di operasionalnya, atau kebanyakan di manajemennya…. Mumpung masih bisa diitung-itung dan diungkret-ungkrret..

 

Gimana?

 

 

 

Posted by ET at 20:36:34 | Permalink | Comments (1) »