PEMENUHAN KEBUTUHAN DASAR
PIAGAM KEMANUSIAAN
Latar Belakang dan Prinsip Piagam Kemanusiaan ini disusun dengan dilatarbelakangi tujuan untuk (1) Mencegah atau mengurangi penderitaan yang timbul akibat konflik atau bencana, dan kenyataan bahwa (2) Bahwa warga sipil yang tertimpa, mempunyai hak atas perlindungan dan bantuan Piagam Kemanusiaan ini dilandasi oleh prinsip-prinsip bahwa (1) penduduk terkena bencana mempunyai untuk kehidupan yang bermartabat, (2) Perbedaan antara pemanggul senjata dan bukan, (3) Prinsip tidak mengusir paksa Peran dan Tanggung Jawab Piagam kemanusiaan adalah “kesepakatan yang mengikat” bagi semua pihak yang menginkan usaha-usaha peredaman risiko bencana, khususnya penanganan darurat dapat berjalan dengan baik.
Oleh karena itu masing-masing aktor yang bekerja untuk itu baik masyarakat korban, negara, lembaga kemanusiaan, maupun pihak yang bertikai mempunyai peran dan tanggungjawab sebagai berikut:
Masyarakat korban. Bahwa dari mereka sendirilah pemenuhan kebutuhan pada awalnya dapat dipenuhi (sebagai pengakuan atas kemampuan untuk mencukupi kebutuhan sendiri). Apabila warga tidak mampu menanggulangi, peran dan tanggung jawab utama dari pemenuhan ini ditangan negara.
Negara. Hukum Internasional mengakui bahwa para korban bencana berhak mendapatkan perlindungan dan bantuan. Hukum ini menetapkan kewajiban resmi negara atau semua pihak yang bertikai untuk memberikan bantuan atau memberikan ijin terhadap pemberian bantuan semacam itu, serta mencegah dan menahan diri dari perilaku yang melanggar hak azasi manusia.
Lembaga kemanusiaan. Peran lembaga kemanusiaan dalam pemberian kemanusiaan, mencerminkan kenyataan bahwa pihak-pihak yang paling bertanggung jawab tidak selalu mampu atau bersedia melaksanakan peran tersebut.
Pihak yang bertikai. Gagalnya pihak yang bertikai untuk menghormati tujuan kemanusiaan dari bantuan manajemen menunjukkan bahwa upaya untuk memberikan bantuan dalam situasi konflik justru memungkinkan warga sipil semakin rentan terhadap serangan, atau terkadang tanpa disadari menguntungkan salah satu pihak yang bertikai. Bahwa pihak yang bertikai harus menghormati prinsip kemanusiaan dari adanya bantuan kemanusiaan.
STANDAR MINIMUM DALAM RESPON BENCANA
Standar ini terdiri dari (1) Standar Minimum Semua Sektor, (2) Pasokan Air Bersih, Sanitasi dan Penyuluhan Kebersihan, (3) Ketahanan Pangan, Gizi dan Bantuan Pangan, (4) Hunian, Penampungan dan Bantuan Non Pangan dan (5) Pelayanan Kesehatan.
Standar Minimum Semua Sektor Standar minimum semua sektor merupakan prasarat awal untuk memastikan bahwa standar-standar sektor dapat dilaksanakan dengan baik. Prasarat tersebut terdiri dari partisipasi, pengkajian awal, respon, penentuan sasaran, pemantauan, evaluasi, kompetensi dan tanggungjawab pekerja kemanusiaan, serta supervisi, manajemen dan dukungan terhadap personnel, dengan rincian sebagai berikut :
Partisipasi.
Penduduk yang terkena dampak bencana secara aktif berpartisipasi dalam pengkajian, perancangan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi program bantuan Pengkajian Awal. Pengkajian awal memberikan suatu pemahaman tentang situasi bencana dan suatu analisis yang jelas tentang ancaman terhadap hidup, martabat, kesehatan dan penghidupan. Setelah melalui konsultasi dengan pihak berwenang yang terkait, situasi dan analisis tersebut digunakan untuk menentukan apakah dibutuhkan respon dari luar, dan jika demikian respon seperti apa yang dibutuhkan.
Respons.
Respon diperlukan dalam situasi ketika pihak berwenang yang terkait tidak mampu dan/atau tidak bersedia untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang berada dalam wilayah kekuasaannya akan perlindungan dan bantuan, dan ketika pengkajian dan analisa menunjukkan bahwa kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak terpenuhi.
Penentuan Sasaran.
Bantuan atau pelayanan kemanusiaan disediakan secara berkeadilan dan tanpa pilih kasih, berdasarkan pada kerentanan dan kebutuhan orang-perorangan atau kelompok-kelompok yang terkena dampak bencana.
Pemantauan.
Efektivitas program dalam menangani masalah teridentifikasi dan masalah-masalah dalam konteks yang lebih luas secara terus menerus dipantau, dengan tujuan untuk meningkatkan program atau mengakhirinya sesuai kebutuhan Valuasi. Ada suatu kajian yang sistematis dan imparsial terhadap tindakan kemanusiaan, untk menarik pelajaran demi memperbaiki praktek dan kebijakan serta meningkatkan akuntabilitas.
Kompetensi dan Tanggung Jawab Pekerja Kemanusiaan.
Pekerja kemanusiaan mempunyai kualifikasi, sikap dan pengalaman yang tepat untuk merencanakan dan secara efektif melaksanakan program yang tepat. Supervisi, Manajemen dan Dukungan Terhadap Personnel. Pekerja kemanusiaan menerima supervisi dan dukungan untuk memastikan pelaksanaan program bantuan kemanusiaan secara efektif.
PASOKAN AIR BERSIH, SANITASI DAN PENYULUHAN KEBERSIHAN
Penyuluhan Kebersihan Suatu gabungan antara pengetahuan, praktek dan sumber daya penduduk dengan pengetahuan dan sumber daya lembaga-lembaga, yang bersama-sama memungkinkan dihindarinya perilaku tidak higienis yang beresiko. Tiga faktor kunci disini adalah (1) saling berbagi informasi dan pengetahuan, (2) penggerakan masyarakat dan (3) penyediaan bahan dan sarana yang mendasar. Semua sarana dan sumber daya yang disediakan mencerminkan kerentanan, kebutuhan dan pilihan penduduk yang terkena dampak bencana.
Sejauh memungkinkan para pengguna dilibatkan dalam pengelolaan dan pemeliharaan sarana-sarana kebersihan. Pasokan Air Bersih Dalam situasi yang ekstrem, mungkin tidak cukup tersedia air untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar, dan dalam kasus seperti itu sangatlah penting untuk memasok air minum yang aman dalam jumlah yang mencukupi untuk menjaga kelangsungan hidup. Indikator umum untuk pasokan air bersih sebagai berikut:
Akses dan Jumlah Air.
Semua orang mempunyai akses yang aman dan berkeadilan terhadap air dalam jumlah yang memadai untuk minum, memasak, dan kebersihan pribadi serta rumah tangga. Titik-titik air umum terletak cukup dekat dengan rumah tangga sehingga memungkinkan penggunaan air untuk keperluan minimum.
Kualitas Air.
Rasa air dapat diterima, dan kualitasnya memadai untuk diminum dan digunakan untuk kebersihan pribadi dan rumah tangga tanpa menyebabkan risiko yang berarti terhadap kesehatan.
Sarana dan Piranti Penggunaan Air.
Orang-orang mempunyai sarana dan piranti yang mencukupi untuk mengumpulkan, menyimpan, dan menggunakan air dalam jumlah yang cukup untuk keperluan minum, memasak, dan kebersihan pribadi, dan untuk memastikan bahwa air minum tetap aman sampai waktunya untuk dikonsumsi.
Pembuangan Tinja
Pembuangan tinja yang aman merupakan suatu prioritas yang utama dan dalam kebanyakan situasi bencana harus ditangani sesegera mungkin. Penyediaan sarana-sarana yang tepat untuk membuang air besar adalah salah satu dari beberapa respon darurat yang paling penting utnuk menjamin martabat, keamanan, kesehatan dan kesejahteraan penduduk.
Indikator umum untuk pembuangan tinja sebagai berikut:
Jumlah dan akses ke jamban.
Orang-orang mempunyai jumlah jamban yang memadai yang cukup dekat dengan tempat tinggal mereka, untuk memungkinkan akses yang cepat, aman dan pantas baik siang maupun malam.
Rancangan, pembangunan dan penggunaan jamban.
Jamban ditempatkan, dirancang, dibangun, dan dipelihara sedemikian rupa sehingga nyaman, higienis, dan aman dipakai.
Pengendalian Vektor
Penyakit-penyakit yang ditularkan melalui vektor (agen pembawa penyakit) merupakan satu penyebab utama kesakitan dan kematian dalam banyak situasi bencana. Indikator umum untuk pengendalian vektor sebagai berikut:
Perlindungan perorangan dan keluarga.
Semua orang yang terkena dampak bencana mempunyai pengetahuan dan cara untuk melindungi diri sendiri dari penyakit dan gangguan vektor yang kemungkinan menjadi suatu risiko yang berarti terhadap kesehatan dan kesejahteraan.
Perlindungan fisik, lingkungan dan kimiawi.
Jumlah vektor penyakit yang membawa risiko gangguan kesehatan dan kenyamanan dikendalikan pada taraf yang dapat diterima.
Keamanan pengendalian kimiawi.
Cara pengendalian vektor dilaksanakan sedemikian rupa sehingga memastikan bahwa staff, para penduduk yang terkena dampak bencana dan lingkungan setempat secara memadai terlindungi dan menghindari kekebalan terhadap bahan yang digunakan. Manajemen Limbah Padat Limbah padat yang tidak diambil dan menumpuk serta puing-puing yang tertinggal setelah bencana bisa menimbulkan lingkungan yang buruk, sehingga menghambat upaya untuk memperbaiki aspek-aspek kesehatan lingkungan lainnya.
Indikator umum untuk pengendalian limbah padat sebagai berikut:
Pengumpulan dan pembuangan.
Penduduk terkena bencana mempunyai suatu lingkungan yang tidak tercemar oleh limbat padat, termasuk limbah medis, dan mempunyai sarana-sarana untuk membuang limbah rumah tangga mereka dengan mudah dan efektif Drainase (Saluran Air) Suatu rancangan drainase yang tepat untuk mengatasi air hujan melalui perencanaan lokasi dan pembuangan air limbah dengan menggunakan drainase berskala kecl di tempat, harus dilakukan untuk mengurangi potensi risiko kesehatan terhadap penduduk. Indikator umum untuk pekerjaan drainase sebagai berikut: Pekerjaan drainase. Penduduk terkena bencana mempunyai lingkungan dimana risiko-risiko kesehatan dan risiko lainnya yang diakibatkan oleh erosi air, dan genangan, termasuk air hujan, banjir, air limbah rumah tangga dan sarana kesehatan diminimalisir.
KETAHANAN PANGAN, GIZI DAN BANTUAN PANGAN Ketahanan pangan Jika orang-orang menghadapi risiko kerawanan pangan, keputusan program didasarkan pada pemahaman tentang bagaimana orang-orang tersebut biasanya mengakses pangan, dampak bencana terhadap ketahanan pangan saat ini dan dimasa mendatang, dan respon yang paling tepat. Indikator umum untuk ketahanan pangan sebagai berikut: Ketahanan pangan umum. Orang-orang mempunyai akses yang memadai dan semestinya terhadap bahan pangan dan non pangan dengan cara yang menjamin keberlangsungan hidup mereka, mencegah berkurangnya harta benda serta menjaga martabat mereka. Produksi primer. Mekanisme produksi primer didukung dan dilindungi Pendapatan dan lapangan pekerjaan. Orang-orang dapat mengakses kesempatan untuk mendapatkan penghasilan yang sesuai, yang akan menghasilkan pengupahan yang adil dan berperan dalam ketahanan pangan tanpa membahayakan sumber daya yang menjadi dasar penghidupan. Akses pasar. Orang-orang mendapatkan akses yang aman terhadap barang-barang dan pelayanan pasar karena produsen, konsumen dan pedagang dilindungi da digalakkan. Gizi Jika orang-orang menghadapi risiko kekurangan gizi, keputusan program harus didasarkan pada pemahaman yang kuat mengenai penyebab, jenis, tingkat dancakupan kekurangan gizi, dan respon yang paling tepat. Indikator umum untuk gizi sebagai berikut: Bantuan Gizi Umum. Kesediaan sumber daya dan pelayanan gizi yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat secara umum maupun kelompok-kelompok tertentu yang mungkin menghadapi risiko gizi yang meningkat. Koreksi Kekurangan Gizi. Jika ditemukan angka kekurangan gizi yang tinggi, perlu untuk memastikan adanya akses terhadap pelayanan untuk mengkoreksi serta mencegah kekurangan gizi. Kekurangan gizi sedang dan gizi parah tertangani, serta kekurangan vitamin dan mineral tertangani Bantuan Pangan Jika analisis menunjukkan bahwa bantuan pangan merupakan respon yang tepat, ini harus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek tapi juga sedapat mungkin berperan dalam memulihkan ketahanan pangan jangka panjang. Indikator umum untuk bantuan pangan sebagai berikut: Perencanaan Bantuan Pangan. Pengkajian dan analisis awal mengenai sebuah keadaan darurat harus mengidentifikasi sumber-sumber pangan dan pendapatan yang dimiliki oleh masyarakat, serta segala ancaman terhadap sumber-sumber tersebut. Pengkajian dan analisis juga harus menentukan apakah diperlukan bantuan pangan, dan jika memang diperlukan bantuan pangan harus ditentukan jenis dan jumlah yang diperlukan untuk memastikan orang-orang mampu mempertahankan status gizi yang memadai. Perencanaan jatah. Jatah untuk distribusi pangan umum dirancang untuk menjembatani kesenjangan antara kebutuhan penduduk yang terkena dampak bencana dengan sumber-sumber pangan mereka sendiri. Ketepatan dan penerimaan. Produk makanan yang diberikan sesuai dan diterima oleh penerima dan dapat digunakan secara efisien pada tingkat rumah tangga. Kualitas dan keamanan pangan. Makanan/pangan yang dibagikan mempunyai kualitas yang tepat dan baik untuk dikonsumsi manusia. Pengelolaan Bantuan Pangan. Kesetaraan dalam proses distribusi merupakan hal yang utama dan keterlibatan orang-orang yang terkena dampak bencana dalam pengambilan keputusan dan pelaksanaan sangat menentukan. Mereka harus diberitahu mengenai jumlah dan jenis jatah makanan yang akan dibagikan dan mereka harus merasa yakin bahwa proses distribusi dilakukan secara adil dan mereka menerima apa yang sudah dijanjikan. Penanganan makanan. Makanan disimpan, dimasak/disiapkan dan dikonsumsi dengan cara yang aman dan tepat pada tingkat rumah tangga maupun komunitas. Pengelolaan rantai pasokan. Sumber daya bantuan pangan (komoditas dan dana bantuan) dikelola dengan baik dengan sistem yang transparan dan responsif. Distribusi. Metode distribusi makanan/pangan bersifat responsif, transparan, setara dan sesuai dengan kondisi setempat. HUNIAN, PENAMPUNGAN DAN BANTUAN NON PANGAN Hunian dan Penampungan Bantuan tempat hunian disediakan kepada tiap-tiap rumah tangga untuk memperbaiki atau membangun tempat tinggal atau penampungan rumah tangga-rumah tangga pengungsi yang bisa ditinggali atau komunitas yang sudah ada. Penyelesaian masalah tempat hunian rumah tangga perorangan dapat berupa jangka pendek atau jangka panjang tergantung pada tingkat bantuan yang disediakan, hak guna atau kepemilikan lahan, ketersediaan pelayanan-pelayanan dasar dan prasarana sosial, serta kesempatan untuk meningkatkan dan memperluas tempat tinggal. Indikator umum untuk bantuan hunian dan penampungan sebagai berikut: Perencanaan strategis. Solusi-solusi tempat hunian dan penampungan yang sudah ada diberikan prioritas melalui pemulangan atau penampungan rumah tangga yang terkena dampak bencana, dan keamanan, kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan dijamin. Perencanaan fisik. Praktek-praktek perencanaan fisik setempat sedapat mungkin digunakan untuk memungkinkan akses dan penggunaan yang aman dan terjamin terhadap tempat hunian dan pelayanan-pelayanan serta sarana-sarana dasar, dan untuk memastikan privasi yang semestinya dan pembatasan antara tempat hunian satu rumah tangga dari lainnya. Ruang tinggal yang tertutup Orang-orang mempunyai naungan tertutup yang memadai untuk dijadikan tempat tinggal yang bermartabat. Kegiatan dasar rumah tangga dapat dilaksanakan secara memuaskan, dan kegiatan pendukung penghidupan/mata pencaharian dapat dilakukan secara semestinya. Indikator umum untuk ruang tinggal tertutup sebagai berikut: Rancang bangun. Rancang bangun tempat hunian dapat diterima oleh penduduk yang terkena dampak bencana dan memberikan kenyamanan suhu yang memadai, udara segar dan perlindungan dari cuaca untuk memastikan martabat, kesehatan, keamanan dan kesejahteraan penghuninya. Pembangunan. Pendekatan pembangunan sesuai dengan praktek-praktek pendirian bangunan setempat yang aman dan meminimalkan peluang-peluang penghidupan setempat. Dampak lingkungan. Dampak negatif terhadap lingkungan ditekan melalui pengaturan rumah tangga pengungsi, pengadaan bahan, dan penggunaan teknik pembangunan secara seksama. Bantuan Non Pangan Pakaian, selimut dan perlengkapan tidur memenuhi kebutuhan manusia yang paling pribadi untuk melindungi diri dari iklim, dan untuk menjaga kesehatan, privasi dan martabat. Indikator umum untuk bantuan non pangan sebagai berikut: Pakaian dan perlengkapan tidur. Orang-orang yang terkena dampak bencana mempunyai pakaian, selimut dan perlengkapan tidur yang memadai untuk memastikan martabat, keselamatan dan kesejahteraan mereka. Kebersihan pribadi. Setiap rumah tangga yang terkena dampak bencana mempunyai akses yang memadai terhadap sabun dan barang-barang lainnya untuk memastikan kebersihan, kesehatan, martabat dan kesejahteraan pribadi. Piranti memasak dan makan. Setiap rumah tangga yang terkena dampak bencana mempunyai akses terhadap piranti untuk memasak dan makan. Kompor, bahan bakar dan penerangan. Setiap rumah tangga yang terkena dampak bencana mempunyai akses terhadap sarana-sarana memasak bersama atau satu kompor dan akses terhadap pasokan bahan bakar untuk keperluan memasak dan menjaga kehangatan. Piranti dan peralatan. Masing-masing rumah tangga yang terkena dampak bencana yang bertanggung jawab untuk pembangunan atau pemeliharaan dan penggunaan tempat hunian mereka secara aman mempunyai akses terhadap piranti dan peralatan yang diperlukan. PELAYANAN KESEHATAN Sistem dan Infrastruktur Kesehatan Dalam suatu respon keadaan darurat, bila tingkat kematian seringkali meningkat atau dapat segera meningkat, prioritas intervensi kemanusiaan harus dipusatkan pada kebutuhan mendesak untuk bertahan hidup, termasuk pelayanan medis dasar. Jika kebutuhan bertahan hidup telah terpenuhi, dan tingkat kematian telah menurun mendekati tingkat semula, harus dikembangkan suatu rangkaian pelayanan kesehatan yang lebih menyeluruh. Indikator umum untuk system dan infrastruktur kesehatan sebagai berikut: Memprioritaskan pelayanan kesehatan. Semua orang mempunyai akses terhadap pelayanan kesehatan yang diprioritaskan untuk menangani penyebab-penyebab utama kematian dan kesakitan yang berlebihan. Mendukung sistem kesehatan nasional dan setempat. Pelayanan kesehatan dirancang untuk mendukung sistem, struktur dan penyedia pelayanan kesehatan yang sudah ada. Koordinasi. Orang mempunyai akses terhadap pelayanan kesehatan yang terkoordinir antar semua lembaga dan sektor untuk mencapai dampak maksimal. Pelayanan kesehatan dasar. Pelayanan kesehatan didasarkan pada prinsip-prinsip perawatan kesehatan dasar yang relevan. Pelayanan klinis. Penduduk mempunyai akses terhadap pelayanan klinis yang dibakukan dan mengikuti protokol dan pedoman yang diakui. Sistem informasi kesehatan. Rancangan dan pengembangan pelayanan kesehatan dipandu oleh data kesehatan umum yang relevan yang selalu ada serta dikumpulkan, dianalisis, dan digunakan secara terkoordinir. Pengendalian Penyakit Menular Meningkatnya angka kematian dan kesakitan karena penyakit menulat lebih sering terjadi dalam kaitannya dengan keadaan darurat kompleks dibandingkan dalam bencana-bencana lain. Indikator umum untuk penyakit menular sebagai berikut: Pencegahan. Orang mempunyai akses terhadap informasi dan pelayanan yang dirancang untuk mencegah penyakit menular yang sangat berperan dalam mengakibatkan kematian dan kesakitan berlebihan. Pencegahan campak. Semua anak-anak usia 6 bulan sampai 15 tahun mendapat imunisasi untuk mencegah campak Diagnosis dan pengelolaan campak. Orang mempunyai akses terhadap diagnosis dan pengobatan yang efektif untuk penyakit menular yang akan sangat berperan dalam mencegah kematian dan kesakitan yang berlebihan. Kesiapsiagaan terhadap Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit. Diambil tindakan-tindakan untuk mempersiapkan dan merespon terhadap kejadian luar biasa (KLB) penyakit menular. Deteksi, investigasi dan penanganan Kejadian Luar Biasa. Kejadian Luar Biasa penyakit menular dideteksi, diinvestigasi dan dikendalikan degan cara yang tepat waktu dan efektif. HIV/AIDS. Orang mempunyai akses terhadap paket pelayanan minimal untuk mencegah penularan HIV/AIDS. Pengendalian Penyakit Tidak Menular Meningkatnya kesakitan dan kematian karena penyakit tidak menular merupakan ciri umum banyak bencana. Indikator umum untuk pengendalian penyakit tidak menular sebagai berikut: Cedera. Orang mempunyai akses pelayanan yang tepat untuk penanganan cedera Kesehatan reproduksi. Orang mempunyai akses terhadap paket pelayanan awal minimal untuk memenuhi kebutuhan kesehatan reproduksi. Aspek kesehatan jiwa dan social. Setiap orang mempunyai akses terhadap pelayanan kesehatan sosial dan mental untuk mengurangi kesakitan dan kecacatan yang berkaitan dengan kesehatan mental serta masalah-masalah sosial. Penyakit kronis. Dalam populasi dimana sebagian besar kematian disebabkan oleh penyakit kronis, penduduk mempunyai akses terhadap terapi-terapi yang esensial untuk mencegah kematian.