Friday, October 17, 2008

HUJAN SEBENTAR KEBANJIRAN, TAK HUJAN SEBENTAR KEKERINGAN

Bambang Prastistho

Dalam dasawarsa terakhir ini kita dapat mengetahui bahwa di bumi ini dapat terjadi kebanjiran dan kekeringan dalam saat yang relatif bersamaan. Hujan yang disertai badai di Amerika Serikat bersamaan dengan kekurangan air di Afrika atau kebakaran hutan di Australia. Padahal secara kuantitatif jumlah air di dunia ini relatif tetap. Sekitar 97,5% berujud air di laut dan bersifat asin. Air tawar hanya 2,5% saja. Itupun 74% diantaranya berbentuk es di kutub-kutub, tudung es, maupun gletser. Jadi hanya 26% dari 2,5% air yang cair dan dapat diminum. Namun yang terakhir ini 98%-nya telah diatur (oleh Yang Maha Pencipta) disimpan sebagai air tanah. Sehingga hanya bersisa sedikit saja yang berada di danau, sungai, di kelembaban tanah, atmosfer dan biosfer.

Hitung-hitungan di atas sangat menarik untuk diambil pelajaran. Setidak-tidaknya empat hal yang dapat digaris bawahi. Pertama, kehidupan (yang sangat bergantung kepada air) namun telah mewarnai dunia, ternyata sudah dicukupi dengan sedikit sekali air. Kedua, siklus hidrologi yang begitu canggih mengubah air asin (dan kadang-kadang juga kotor) menjadi tawar dan bersih, ternyata hanya diikuti oleh sejumlah air yang tidak terlalu banyak. Ketiga, agar jerih payah proses destilasi tersebut tidak terbuang percuma maka perlu disimpan dalam tanah, yang akan dikeluarkan sedikit demi sedikit melalui mataair atau sumur dan kemudian mengalir ke sungai. Keempat, ternyata air laut dan es berperan besar sebagai regulator dari sirkulasi air tersebut termasuk iklim.

Lalu mengapa belakangan ini iklim sepertinya tidak terlalu bersahabat? Penyebabnya diduga akibat pemanasan global. Bumi diibaratkan sebagai bejana tertutup yang terisi air seperdelapannya. Kalau pada salah satu sudut dipanaskan, maka pada sisi sudut tersebut air akan menguap ke atas dan mengalir ke seberang sudut lain mengembun dan turunlah titik-titik air. Demikianlah air bersirkulasi dalam bejana. Apabila kemudian apinyanya diperbesar maka sirkulasi akan berjalan lebih cepat. Seperti itulah kurang lebih simulasi atmosfer bumi kita.

Mengenai terjadinya pemanasan diperkirakan berasal dari peningkatan efek rumah kaca. Efek ini diperkuat oleh meningkatnya oleh gas buang pada pembakaran baik oleh wahana transportasi maupun proses industri. Tentu saja hujah tersebut ditentang mentah-mentah oleh beberapa negara industri. Konon, sejak zaman baheulabumi kita kadang-kadang memanas tetapi kemudian mendingin lagi. Sakingdinginnya hingga pernah terjadi beberapa kali zaman es. Jadi boleh jadi pemanasan yang sekarang adalah bawaan dari sononya. Fenomena El Niño di Samudera Pasifik justru terjadi oleh arus panas di lautan, bukan akibat langsung radiasi matahari.

Baiklah, perubahan iklim memang tidak sederhana, karena melibatkan banyak sub sistem. Penyebab perubahan ini dapat dikelompokkan menjadi dua: oleh pengaruh alam dan oleh pengaruh manusia.. Kalau pengaruh alam memang kita tidak dapat berbuat apa-apa. Namun data menunjukkan bahwa sejak revolusi industri karbon dioksida (salah satu gas rumah kaca) telah meningkat. Temperatur bumi selama 100 tahun ini telah meningkat 0,5–0,60C. Padahal peningkatan suhu bumi akan mencairkan es, dan pada gilirannya meningkatkan muka air laut. Jadilah siklus hidrologi yang dipercepat, yang berdampak pada timbulnya keadaan ekstrim kekuyuban di satu tempat dan kekeringan di tempat lain.

Yang memprihatinkan para pengamat lingkungan adalah karbon dioksida (yang meningkat tersebut) sebagian ternyata diserap oleh air laut. Hal ini tentu meningkatkan keasaman air, yang akan dapat membahayakan biota air laut. Nah kalau sudah begini apakah masih perlu berbagai perdebatan itu? Atau sebaiknya seluruh penduduk dunia bersatu padu menyelamatkan bumi dan kehidupan kita beserta anak cucu.

Bagaimana dengan tanah air kita? Kalau kita membolak-balik koran yang lalu, pada sekitar bulan Maret masalah-masalah banjir dan longsor menjadi topik utama tanah air. Namun empat bulan kemudian topik koran beralih ke kekeringan yang mewarnai sawah, waduk, dan kesukaran penduduk memperoleh air, ditambah masalah kebakaran hutan. Kejadian-kejadian banjir/longsor dan kekeringan tersebut tidak saja berlangsung di satu tempat, melainkan di beberapa tempat. Anehnya ditengah-tengah musim kemarau, terbetik berita ada banjir dan longsor. Sebenarnya, lebih aneh lagi adalah sikap kita yang sangat mudah melupakan tanda-tanda alam itu.

Penyebabnya juga sudah kita pahami bersama yaitu rusaknya sistem tabungan air di daratan. Air yang mestinya meresap dan menginap dulu di dalam tanah tetapi sebagian besar dipaksa untuk langsung jalan terus ke sungai atau laut. Hal itu terjadi terutama oleh penggundulan hutan dan oleh berbagai macam konstruksi bangunan yang menutup jalur-jalur peresapan. Disamping itu pada danau dan sungai telah pula di”bangun” sedemikian rupa sehingga fungsi alaminya menjadi berubah. Jadi tidak salah kiranya kalau alam kemudian “berunjuk rasa” kepada kita dalam bentuk happening disasters.

Disamping masalah kuantitas, masalah kualitas air baku kelihatannya juga tidak menggembirakan. Penyebabnya adalah pembuangan limbah yang serampangan pada tubuh air baik yang di permukaan maupun bawah permukaan. Padahal sudah kita ketahui bahwa dampaknya akan akumulatif pada organ tubuh. Contohnya kasus Minamata. Apakah kita akan pasrahdengan bencana-bencana itu? Wong wis pesthiné lara lan mati.

Kembali kita bertanya masih perlukah perdebatan itu? Sumangga.

(Bambang Prastistho, Jurusan Teknik Geologi UPN Veteran Yogyakarta)

Posted by ET Paripurno in 03:49:56
Comments

Leave a Reply