Friday, October 17, 2008

YUK MIMPI BERSAMA

Prolog

Bagaimana sih posisi dan kecenderungan gerakan ornop di tingkat makro dan mikro? Itu pertanyaan besar yang perlu dipaparkan. Semoga saja bisa terjawab. Setidaknya apa yang saya paparkan dapat memancing pendapat kawan-kawan sampai pada posisi tersebut.

Cerita Para Pemimpi

Gerakan, apapun bentuknya, jelas bukan merupakan hal baru. Di dunia ini telah muncul beraneka gerakan yang mempunyai asal-usul berbeda, dan mempunyai tolok ukur kebenaran yang berbeda pula, walaupun musuh bersamanya sama. Ya, musuh bersama. Dalam perjalanan sejarah nampaknya musuh bersama diperlukan dalam membangun gerakan. Nampaknya ada hubungan lurus yang penting untuk disadari, bahwa efektifitas suatu gerakan sangat dipengaruhi oleh ada tidaknya, atau jelas tidaknya musuh bersama itu. Dan antara satu gerakan dengan gerakan yang lain akan saling mempengaruhi dan mengilhami walaupun hubungan masing-masing tidak jelas. Gerakan-gerakan sosial, seperti buruh misalnya, apakah ada hubungannya dengan gerakan komunisme dan gerakan kontra kapitalisme? Demikian juga misalnya, gerakan perdamaian adakah hubungannya dengan gerakan kontra kekerasan perang dan militer? Atau gerakan konservasi, apakah selaras dengan gerakan kontra industrialisasi? Jawabnya bisa ya dan dan bisa pula tidak. Sangat dipengaruhi oleh ruang dan waktu.

Apakah ornop merupakan salah satu alat penting dalam membangun gerakan itu? Tidak terlalu pasti, walaupun sebagian besar orang percaya terhadap hal itu. Perjalanan panjang ornop, atau lembaga dalam arti luas, nampaknya dimulai dari peran-peran non formal yang dilandaskan atas kesukarelaan. Umumnya “berbau” religius, kental dengan sifat-sifat karitatif, menyumbang untuk orang miskin susah, termasuk ketika menempatkan posisinya ketika musim perang, dengan mengurusi korban-korban perang. Misalnya Catholic Relief Service, Christians Children’s Fund, Dompet Dhuafa Republika, Oxfam Great Britain. Berikutnya berkembang lembaga filantrofi, menyumbang berdasarkan belas kasih. Artinya, ada kenikmatan saat kita menyumbang. Menyumbang itu, dipercaya bikin panjang umur dan masuk sorga. Tema-tema filantrofi mulai berkembang, bukan sekedar urusan orang miskin, tetapi juga lingkungan, hak asasi, kebudayaan dan lain sebagainya. Silahkan sebut. Mereka adalah penyandang dana yang dalam perkembangannya bernama Mac Arthur Foundation, Ford Foundation, King Fath Foundation, dan lainnya. Dalam perkembangannya, rasa filantrofi tidak hanya pada pribadi-pribadi dan marga-marga, tetapi juga pada negara-negara. Negara yang merasa mampu, punya sejumlah dana yang dapat dihibahkan untuk negara lain, misalnya Amerika dengan Usaid-nya, Kanada dengan CIDA, Belanda dengan Novib-nya, Australia dengan Ausaid-nya. Belakangan, perusahaan-perusahaan besar di dunia semisal Sumitomo, Soros, Beyond Petroleum, Freeport, Amoseas, Newmont rame-rame bikin yayasan yang merupakan lembaga pendukung aktivitas ornop. Dan (barangkali ini bisa dipastikan) masing-masing lembaga-lembaga dana akan bekerja dengan agenda tersembunyinya. Setidaknya agenda yang tidak dimengerti oleh konstituennya. (Celakanya, konstituennya tidak mau mengerti juga)

Mewujudkan Mimpi Siapa?

Tidak semua orang yang ingin filantrofi harus punya uang. Sehingga dengan cara berfikir yang sama, maka yang punya uang yaa menyumbang uang, yang punya pikiran yaa menyumbang pikiran, yang punya tenaga yaa menyumbang tenaga. Karena umumnya para penyantun punya urusan sendiri-sendiri yang lebih penting, maka untuk mewujudkan mandat penyumbang itu diperlukanlah lembaga-lembaga dan pekerja-pekerja yang mengurus. Pada kondisi demikian maka muncul lembaga-lembaga pelaksana mandat penyantun (pribadi, marga, negara ataupun komunitas). Jelas mandat, impian dan harapan bukan semata-mata milik para penyandang dana. Mereka yang hanya punya pikiran dan tenaga punya hak yang sama. Maka, kerjasama antar komponen tersebut akan terjadi jika masing-masing mempunyai kesamaan impian. Ya, mari kita bekerjasama mewujudkan mimpi. Pertanyaannya, keberadaan kita ini untuk mewujudkan mimpi siapa sih?

Yang menjadi masalah adalah ketika mimpi itu sangat besar, sehingga membutuhkan sumberdaya yang besar pula untuk mewujudkannya. Masalahnya akan lebih berat jika ternyata dalam mewujudkan mimpi kita bertabrakan dengan kepentingan orang / kelompok / gerombolan lain. Mewujudkan mimpi membuat air dari mata air yang terbuang percuma di kampung sebelah dapat mengalir sampai kampung ini, barangkali lebih “sederhana” dibanding mewujudkan mimpi, jangan ada pupuk kimia dan racun pestisida yang menjerat leher itu di kampung ini. Masalah kedua itu, akan menyangkut kepentingan orang lain yang terganggu. Misalnya, akan ada yang kehilangan pendapatan dengan terwujudnya mimpi itu. Ada banyak masalah memang. Apakah mimpi kita kita yakini benar? Apakah kita mimpi sendirian? Mengapa orang lain enggak ber mimpi? Bagaimana agar orang lain bermimpi? Yang pada akhirnya, kita berharap semua warga kampung bermimpi demikian, dan kampung-kampung lainpun demikian. Artinya, ada gerakan mewujudkan mimpi.

Wewujudkan berbagai mimpi bukan hal yang sederhana. Karena begitu banyaknya lawan-lawan bersama yang menghadang, maka diperlukan diperlukan kerjasama para pihak yang mutualis. Maksudnya, pekerjaannya menjadi memulai memetakan kawan bersama dan memetakan musuh bersama. Sementara ini (jika kawan-kawan sepakat) musuh bersamanya adalah kapitalisme, kekerasan, kontra demokratisasi, dan degradasi lingkungan. Semua ini, jika “dipaksakan” dapat dikemas dalam isu pokok misalnya dalam kesinambungan penghidupan, atau memperkecil resiko berkehidupan.

Perkawanan : mewujudkan mimpi bersama?

Kembali kepada peran ornop, bagaimana membangun gerakan kesinambungan kehidupan yang lebih baik? Jika kita bekerja dan dimandati pada komunitas yang terisolir dan bersih dari pengaruh dunia luar, barangkali “sederhana”. Akan menjadi sulit jika kita bekerja pada ruang dan waktu yang sangat bisa dipengaruhi dan mempengaruhi. Misalnya, pagi ini, masyarakat di kampung ini memboikot penggunaan bibit transgenik, siang nanti informasi itu sudah sampai ke negeri seberang, ke telinga pemilik industri bibit itu. Sorenya kebijakan perlawanan dari perusahaan sudah dilakukan.Di sini nampak diperlukan berbagai lapis perkawanan dan kerjasama, baik atas dasar keterikatan isu maupun wilayah. Di tingkat wilayah maka diperlukan kerjasama antar ornop lokal, nasional, regional dan internasional. Diperlukan pula jaringan-jaringan dalam dan antar isu pada tingkat-tingkat tersebut.

Yang saya lihat, kerjasama antar ornop (lokal, nasional, regional, internasional) umumnya tidak dilembagakan dalam jaringan formal. Kerjasama tersebut dapat dalam bentuk menjalankan program bersama atau hanya sekedar bantuan finansial dan teknis. Sebagian besar ornop International mempunyai mitra kerja ornop lokal. Kerjasama umumnya dilakukan dalam bentuk menjalankan proyek atau program bersama dalam jangka waktu tertentu. Pada kondisi tersebut ornop nasional / regional / internasional sering berfungsi sebagai penyandang dana menengah dalam bentuk bantuan dana atau bantuan teknis (Yabul, Oxfam, Yayasan Kehati). Kerjasama yang dibangun, secara umum boleh dibilang berjalan efektif. Artinya, dalam melaksanakan program bersama yang direncanakan, masing-masing menjalankan perannya sesuai kesepakatan. Efektifitas kerjasama dipengaruhi oleh pola dan waktu bermitra. Ornop-ornop yang telah cukup lama bermitra, dan menjalankan hubungan setara menujukkan tingkat efektifitas yang lebih baik.

Kerjasama antar ornop tidak menjadi masalah jika masing-masing mempunyai isu pokok, perspektif maupun prinsip-prinsip kerja yang sama. Akan menjadi tidak efektif jika mereka bekerja pada isu pokok yang sama, tetapi mempunyai perpektif dan prinsip berbeda atau bahkan berseberangan. Hal ini sangat dimungkinkan karena tolok ukur keberhasilan atas program yang dilaksanakan tersebut berbeda satu dengan yang lain. Kerjasama antar ornop yang berbeda isu dalam mengatasi masalah bersama nampaknya akan lebih mudah dilakukan. Hal ini boleh jadi karena masing-masing akan mampu saling mengisi dan saling menghargai. Namun pada dasarnya, sebelum kerjasama dimulai perlu dilakukan upaya-upaya menyapakan persepsi, tujuan, dan tolok ukur keberhasilan. Dan, masing-masing melakukan aksinya sesuai kesepakatan yang ada. Jika tidak, maka perkawanan hanya nama. Atau, perkawanan sepanjang ada lembaga dana bersama.

Kecenderungannya, perkawanana antar ornop pada tingkat internasional, regional dan sub-regional bukan hanya perlu dilakukan, tetapi lebih menjadi suatu kebutuhan. Disadari bahwa ornop mempunyai banyak keterbatasan, sehingga tidak semua masalah bisa diselesaikan oleh ornop sendiri. Banyak pengalaman-pengalaman dan informasi yang sebenarnya perlu disampaikan sebagai proses pembelajaran. Misalnya, pola-pola bencana yang baru di suatu negara, barangkali suatu yang lazim bagi negara lain. Juga, kerjasama antar ornop pada tingkat internasional, regional maupun lokal diperlukan ketika intensitas permasalahannya besar, atau akar permasalahan bencana berasal dari permasalahan lintas negara. Kolaborasi dan pembentukan jaringan antar ornop dapat dilakukan apabila masing-masing ornop menyadari nilai penting jaringan tersebut.

Perkawanan memungkinkan kita bisa saling berbagi pengalaman dan informasi, bisa saling mendukung dan membangun kapasitas, lebih efektif sebagai kelompok penekan kebijakan. Kerugian yang mungkin terjadi perkawanan akan memperbesar ongkos manajemen dan operasional, memperpanjang rantai penyaluran dana dan bantuan teknis, menambah rantai birokrasi. Pembatas yang mungkin muncul sehingga jaringan ini tidak efektif : kebijakan negara dan pemerintah daerah, kemampuan sosial & ekonomi, pembatas budaya & bahasa.

Prinsip-prinsip perkawanan yang diusulkan adalah persatuan, keanekaragaman, pemberdayaan, setara, dan transparan. Persatuan dipercaya sebagai kekuatan utama untuk melakukan sesuatu secara bersama-sama dengan lebih baik. Keanekaragaman, dalam persatuan itu jaringan memberikan ruang untuk saling berbeda dan mendorong perbedaan. Pemberdayaan, bermakna bahwa aktifitas yang dilaksanakan akan menjadikan semua anggota dan konstituennya lebih berdaya. Setara, bermakna semua anggota mempunya hak tanggungjawab dan kedudukan yang sama dalam perkawanan. Transparan, bermakna jaringan merupakan milik bersama sehingga apa saja yang terjadi didalamnya dimiliki dan dipahami bersama. Kesetaraan ini bukan hanya pada “bahasa” program, tetapi diharapkan juga pada “bahasa” finansial (sesuatu yang sulit dimengerti?).

Penutup

Mengacu pada prinsip-prinsip tersebut, maka struktur jaringan dan pembagian tanggungjawab cenderung menggunakan manajemen datar dan terbuka, sebagai “bahasa bersama”. Mari kita mewujudkan mimpi, yang bisa diperlukan dan bermanfaat bagi semua. Bukan hanya untuk kita, para ornop dan, apalagi jaringan itu sendiri. Sebuah tantangan yang tidak sederhana kan?

Posted by ET Paripurno in 05:47:13
Comments

Leave a Reply