Monday, November 10, 2008

Interpretasi Bencana oleh Ken Hewitt (III)

INTERPRETASI BENCANA DARI PERSPEKTIF EKOLOGI MANUSIA (III)
(Interpretation of Calamities from the Viewpoints of Human Ecology)

Ken Hewitt, 1983

Garis Besar Dominan View (The dominant view in outlines)

- Natural hazard di anggap sebagai akibat ekstrim dari proses geofisik. Jadi, tingkat kerusakan dan kejadian bencana berpusat pada sifat alami (nature) dari bencana, misalnya badai, dll. (note ida: Dapat dikatakan memberi porsi yang sangat besar pada proses alamiah dari bencana). Dan tingkat kerusakannya serta aksi manusia yang menyertainya hanya di anggap sebagai respon terhadap komponen-komponen bencana seperti magnitude, kecepatan, frekuensi, dan aspek lain dari bencana alam. (note ida: Jadi cara pandang mereka adalah: jika ada gempa skala X, kerusakan apa yang akan terjadi. Manusia dianggap sebagai salah satu komponen diam terhadap aspek bencana, hanya untuk mengetahui apa yang terjadi pada bencana dengan karakteristik tertentu).

- Risk assessment berpikir sebagai causality dari kegiatan alam dan bagaimana dampaknya pada sosial. Jadi masih berfokus pada geofisik, sehingga penelitian terkait itu dan juga saran-saran ilmiah sangat banyak di lakukan untuk monitoring geofisik, perhitungan teknis langsung (direct engineering) atau rencana tata ruang dalam hubungannya dengan naturals agents.

- Peneliti-peneliti masih tidak mau mengakui bahwa faktor sosial-ekonomi atau kondisi habitat berpengaruh lebih besar terhadap resiko daripada kondisi alam yang ektrim. Sebenarnya konsep ini sudah mulai terlihat ketika ahli geofisik berdiskusi tentang gempa 1976, dan menemukan bahwa meskipun kekuatan gempanya tidak terlalu besar, korbannya lebih besar daripada gempa yang lebih besar, karena gempa terjadi “by chance” di daerah yang padat penduduknya. Jadi sudah terlihat bahwa bencana adalah terkait dengan peluang suatu fenomena alam dalam kaitannya dengan kondisi manusia.

- Geografi of risk lebih pada distribusi dan intensitas dari bencana secara geografis, tanpa memasukkan unsur manusianya, tidak peduli apakah distribusi bencana itu ada pada daerah padat penduduk atau tidak.

- Jadi dalam dominant view, bencana dilihat dari kacamata yang difokuskan pada alam. Ada kepercayaan yang kuat bahwa masyarakat dapat melakukan sesuatu terhadap bencana, tetapi lagi-lagi, kepercayaan ini kemudian menyimpulkan bahwa sesuatu yang dapat dilakukan masyarakat itu adalah persoalan kebijakan publik yang lagi-lagi harus didukung dengan penemuan geofisik, geotek, dan kapasitas manajerial yang paling baru. Jadi dominant view memandang masyarakat biasa hanya bisa berbuat sedikit terkait bencana. Permasalahan bencana dianggap semata-mata sebagai rasio seberapa besar tekanan alam dan bagaimana respon atau counterforce institusi dan teknologi yang paling mutakhir. (note ida: Memposisikan penemuan ilmiah teknis terkait bencana sebagai superhero, dan kita bergantung pada superman yang bernama dominant view untuk menyelamatkan bumi dari bencana).

- Dapat disimpulkan tiga area yang dikuasai oleh dominant view:

- Komitment untuk mendukung monitoring ilmiah, dan pemahaman proses geofisik, sebagai dasar untuk menghadapi dampaknya terhadap manusia. Tujuan utama terkait dengan bencana adalah prediksi.

- Kemudian dilakukan perencanaan-perencanaan dan kegiatan manajerial untuk menjalankan komitmen di atas. Seperti untuk membuat alat pengontrol longsor, banjir, membuat kode-kode, dan peta resiko, dll. Juga dibuat perencanaan-perencanaan fisik. (note ida: dan sebisa mungkin masyarakat harus menyesuaikan diri dengan hasil penelitian itu. Misalnya jika dari hasil penelitian suatu tempat berbahaya, satu-satunya cara, masyarakat harus pindah).

- Tindakan darurat (emergency measure) termasuk di dalamnya perencanaan bencana (disasters plans), organisasi untuk mengurangi penderitaan (relief) dan rehabilitasi. Semua ini di tentukan (set up) oleh penelitian-penelitian dan perencanaan geofisik. Pada tingkat aksi, penelitian menjadi di bawah aksi, karena yang melakukan aksi lapangan adalah militer, atau organisasi berbau militer lainnya. Dan karena kebanyakan tempat di muka bumi ini tidak memiliki akses terhadap penemuan terbaru geofisik dan manajemen teknologi, maka masyarakat akan berhadapan dengan dominant view melalui tahap emergency ini.

- Di bidang riset, sangat dominan penelitian di bidang ilmu alam dan keteknikan (engineering). Meskipun demikian, menurut Hewitt, ilmu sosial memegang peranan penting terutama dalam mempelajari perilaku saat krisis “crisis behaviour” dan tindakan emergency; atau dalam mempelajari secara terfokus satu kelompok tertentu berdasarkan pengalaman, harapan, dan jenis bencana alam yang ada di wilayah mereka.

- Sebenarnya sudah dari dulu ada beberapa analis sosial yang tidak setuju dengan dominant view. Untuk ke depannya, ilmuwan sosial harus mulai meningkatkan konsentrasinya pada hubungan langsung sosial-ekonomi dan tingkah laku (behaviour) pada ketiga wilayah dominant view tadi. Mereka menanyakan bagaimana masyarakat memandang resiko pada wilayah-wilayah yang diklasifikasikan ke dalam zona-zona bencana tertentu. Apakah mapping sosial (perception towards risk) bisa dilakukan seperti mapping geofisik, dan bagaimana hasilnya, apakah mapping persepsi sama dengan mapping fisik? Jika tidak apa faktor yang mempengaruhinya? Hasilnya dapat dibandingkan dengan pengetahuan geofisik tentang bencana tertentu (pekerjaan geofisik). Mereka bertanya tentang bagaimana masyarakat bereaksi perkiraan bencana, permintaan untuk mengkonservasi air dan peraturan zonasi bahaya. Mereka meneliti bagaimana masyarakat dan institusi mengatasi/pulih (cope) ketika gunung api meletus atau ketika gagal panen.

- Terkadang ide-ide ini sangat beralasan, tetapi terlihat tidak penting jika disandingkan dengan pengetahuan terbaru geofisik, dll. Tetapi jika tidak dilakukan, maka ilmu tentang bencana akan sangat sempit terfokus pada peristiwa alam, tetapi melupakan pengaruh sosial pada bencana. Hewitt yakin, upaya penelitian sosial tentang bencana akan mengurangi dominasi dari dominant view juga pada geofisik.

- Penelitian butuh dana (funding), karena itu penting juga ide penelitian sosial tentang hazard mulai didengung-dengungkan ke lembaga-lembaga funding juga ke universitas.

- Selama ini funding sangat mendukung penelitian tentang ilmu alam atau riset yang mendukung dominant view. (note ida: Semacam subjectivitas dari lembaga funding dalam mendukung jenis research).

- Dominant view menggunakan pendekatan technokratis, yang pemahaman dan kegiatannya menggunakan prosedur teknis. Hal ini hanya mendukung prestige birokrasi, karena akan terkenal namanya karena menjadi sangat ahli di suatu bidang. Misalnya akan terkenal karena menemukan ini atau itu yang sangat jelas penemuannya. Sedangkan ilmu sosial, pendekatan yang murni teknologi akan membuat kita tidak bisa menangkap fenomena secara utuh. Faktor sosial-ekonomi, politik, dapat juga didekati secara teknokratik, dan menurut argumentasi Pak Hewitt, “ilmu alam yang pendekatannya “technological-fix” terhadap bencana, secara esensial merupakan konstruksi sosial budaya yang merefleksikan pandangan yang berbeda “distinct“, mewakili institusi “institution centered”, dan etnosentris, tentang manusia dan alam. (note ida: So, yang dianggap teknologi fix juga tidak bebas nilai, ketika di anggap teknologi atau tidak itu kan dari nilai yang di anut juga”).

- Ken hewitt tidak ingin ilmu sosial hanya terbatas pada persepsi individu terkait dengan pengalamannya dan kepribadiannya. Tetapi bahwa “cara berpikir (thought) mempengaruhi reality”. Dan realitas tidak bisa dipandang sebagai data-data empiris universal juga asimilasinya dengan psikologi dalam membentuk persepsi dan kognisi manusia. Ide Hewitt adalah, semua data empiris tidak bisa dipandang universal. Tetapi Hewitt mau lebih memperhatikan kondisi yang membentuk proses ini, kondisi yang mempengaruhi data apa yang ingin kita cari dan terlihat penting, dan cara-cara yang dapat diterima untuk menginterpretasi fakta-fakta tersebut. Dan hal-hal tersebut sangat terkait dengan tatanan sosial.

- Hewitt memandang pola konstruksi sosial dari dominant view bersifat weberian. Dia melihat cara kerja institusi dalam menyalurkan dana dan sumberdaya manusianya, ke dalam beberapa pola kerja dan aplikasi, yaitu cenderung sentralistis, ofisial, dan birokratis. Dominant view dalam penelitian-penelitian bencana lebih mewakili “etos birokratis,” yang menyalurkan peneliti-peneliti untuk melakukan pendekatan yang berbeda terhadap fakta-fakta, dan memandang secara lain nature dari teori dan aplikasinya. Mereka memandang terpisah teori dan fakta serta aplikasinya. Penelitian-penelitian dilakukan lebih agar mewakili pihak atau organisasi yang mensponsori penelitian atau image yang dimiliki oleh peneliti tentang apa yang seharusnya dan dapat dilakukan oleh organisasi. (note ida: Research hazard dipandang hewitt tidak bebas nilai atau sudah cenderung sangat subjectif). Riset dan ilmu-nya sendiri meskipun sangat praktis dalam aplikasinya, biasanya tidak mendapat tempat, karena pertimbangan untuk meloloskan suatu riset sudah tidak lagi memperhatikan unsur itu. Riset lebih ditentukan oleh pengambil kebijakan yang tidak lagi memperhatikan nilai riset. Jadi dominant view sudah sangat terstruktur, dan sangat mapan dalam kerangka institusi.

- Untuk memperbaiki hal itu, Hewitt menyarankan untuk memikirkan, pertama, bahwa bencana alam merupakan permasalahan spesial bagi teknokrasi (anak emas para teknokrat). Kedua, bahwa kebanyakan peneliti berpaham teknokrat tersebut terlihat tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya tidak memperbaiki apa pun kecuali hanya ingin mencapai tujuan ilmiah, dan strategi riset. Yang ketiga, kita semua mengalami jalan buntu dengan bentuk-bentuk stategi teknoratik yang kaku, terutama dari sudut pandang sosial budaya dan geografi. Keempat, hewitt menyarankan agar di tingkat sistem internasional, dimana strategi itu di operasikan, dan debat-debat intelektual dan sosial berkembang sangat pesat, agar berani menantang kepada diri mereka sendiri seberapa efektif dan seberapa benar dominant view.

- Karena itu dapat di simpulkan bahwa kita membutuhkan pendekatan-pendekatan lain terhadap kebencanaan.

Ini adalah terjemahan bebas yang dilakukan oleh Ida Ansharyani (Ph.D Student Universite Paris 1 Pantheon-Sorbonne, France) sebagai bahan belajar untuk disertasi CBDRR Gunung Kelud. Untuk mengurangi kesalahan pemahaman, silakan mengontak idaansharyani@gmail.com untuk mendapatkan versi asli dari buku ini. Diterjemahkan (dibaca) di Paris 27-30 Oktober 2008.

Posted by ET at 19:56:56
Comments

One Response to “Interpretasi Bencana oleh Ken Hewitt (III)”

  1. quicksilver says:

    You are smart,only smart person can do such a smart job.

Leave a Reply