Monday, November 10, 2008

Interpretasi Bencana oleh Ken Hewitt (IV)

INTERPRETASI BENCANA DARI PERSPEKTIF EKOLOGI MANUSIA (IV)(Interpretation of Calamities from the Viewpoints of Human Ecology)

Ken Hewitt, 1983

An enclosure system

- Analogi kebencanaan mirip dengan analogi kegilaan focault yang kemudian di beri tempat untuk di perhatikan dan di temukan oleh “age of reason“. Kegilaan (madness) dan kebencanaan (calamity) sangat mengganggu. Keduanya membuat kita bertanya tentang apa sih sebenarnya keteraturan atau order. Madness bisa dilihat sebagai hukuman dari disorder, dan bencana dapat dipandang sebagai ketidakbergunaan ilmu pengetahuan. Keduanya terjadi seperti tidak bisa dikontrol oleh masyarakat. Ada juga yang berpandangan bahwa kedua hal itu merupakan penilaian terhadap tingkah laku atau aktifitas manusia, seperti yang didengung-dengungkan pergerakan ekologis dalam menghadapi problem lingkungan.

- Pada kedua kasus, counteract di anggap perlu dengan melakukan langkah-langkah positif, dan memikirkan potensi untuk menghadapinya. Pada titik inilah pembagian hazard dengan pendekatan teknokratik ada untungnya. Sangat baik memperlakukan kebencanaan sebagai problem spesial riset di wilayah tertentu. Permasalahan dapat dimanajemen dengan membuat interpretasi yang terarah dan sempit, serta data-data yang meyakinkan. Hewitt merasa bahwa kebencanaan harus di tangani secara utuh, tidak parsial. Harus melingkupi filosofi, prosedur praktis, dan juga harus memikirkan permasalahan secara pragmatis, hati-hati dalam mengupasnya.

- Istilah yang dipakai dalam penelitian-penelitian bencana sebenarnya sudah menunjukkan asumsi dasar tentangnya. Istilah-nya selalu memakai kata “tidak” (un-ness), yang menunjukkan ketidakteraturan dan ketidakterhubungannya dengan manusia. Kejadian alam dipandang terpisah dari manusia. Istilah yang dipake unmanaged, unexpected, uncertain, unprecedented, unawareness, unreadiness, unscheduled events.

- Yang berkembang adalah bencana tidak dianggap sebagai bagian integral dari kehidupan manusia dan alam, atau dianggap tergantung satu sama lain. Pernah ditemukan pendahuluan dan kesimpulan yang menempatkan bencana sebagai latar belakang dari ekologi manusia dan kumpulan permasalahannya yang berbeda-beda. Tetapi bencana dan ekologi manusia dijelaskan sebagai permasalahan yang berbeda.

- Hazard atau tidaknya ditentukan oleh orang-orang geofisik dengan melihat suatu ukuran tertentu dari proses alam. Misalnya debit sungai, skala seismik, kecepatan angin, dll. Kerentanan manusia sangat terikat erat dengan kenyataan geofisik ini. (Note ida: Pertanyaan tentang konsep hazard, bagaimana sebenarnya menentukannya?)

- konsep tentang stabil tidak stabil juga dipertanyakan. Menurut Scheidegger, Jika status quo tetap dapat dipertahankan, maka itu bukan bencana. Karena itulah konsep bencana terkait erat dengan istilah “kondisi yang stabil.” meskipun scheidegger mengacu kepada kestabilan geofisik, nilai rasa (sense) bahwa rusaknya rangkaian kestabilan pada habitat ditemukan juga pada interpretasi sosial terhadap resiko ini. Bencana dianggap sebagai fenomena alam yang menyebabkan ketidakstabilan atau merusak kehidupan normal dan hubungan habitat. Riset sosial tentang bencana mengambil analogi yang sama dengan sistem mekanis. Riset sosial tentang bencana memandang bencana sebagai kegagalan pada sistem sosial, sedangkan sistem mekanis memandang bencana sebagai tekanan yang melebihi kekuatan material atau struktur tertentu.

- Jadi untuk tahu bencana, kita harus tahu dulu sistem sosialnya. Apa yang dimaksud dengan stabil, dan aktifitas yang berada dalam keteraturan, juga apa itu tidak teratur, tidak terduga, dan tidak direncanakan. (note ida: penting untuk mengetahui persepsi masyarakat tentang hal ini, karena yang real berhadapan dengan bencana adalah mereka, meskipun scientist memiliki defenisinya sendiri).

- Lebih jauh, kerusakan, impairement, dan apa yang harus dipulihkan oleh bantuan luar cenderung membentuk keseluruhan perhatian setiap individu terhadap bencana. Dan gambaran ini umumnya hanya terjadi pada aspek-aspek bencana yang sangat merusak dampaknya. Pola survival dan bukti-bukti kestabilan struktur – yang dapat dilihat di hampir semua tempat bencana yang melingkupi fraksi besar manusia dan properti yang terkena dampak bencana – mendapat perhatian yang sangat kecil.

Ini adalah terjemahan bebas yang dilakukan oleh Ida Ansharyani (Ph.D Student Universite Paris 1 Pantheon-Sorbonne, France) sebagai bahan belajar untuk disertasi CBDRR Gunung Kelud. Untuk mengurangi kesalahan pemahaman, silakan mengontak idaansharyani@gmail.com untuk mendapatkan versi asli dari buku ini. Diterjemahkan (dibaca) di Paris 27-30 Oktober 2008.

Posted by ET at 19:55:13
Comments

2 Responses to “Interpretasi Bencana oleh Ken Hewitt (IV)”

  1. I have learned a lot from your site. Thanks!!

  2. nigiscii says:

    Good blog! And I would like to share with my friends.

Leave a Reply