Interpretasi Bencana oleh Ken Hewitt (IX)
INTERPRETASI BENCANA DARI PERSPEKTIF EKOLOGI MANUSIA (IX)
(Interpretation of Calamities from the Viewpoints of Human Ecology)
Ken Hewitt, 1983
Mitos Kehidupan Biasa (The myth of ordinary life)
- Yang kurang dari dominant view adalah apa yang dia defenisikan tentang bencana dan terlebih-lebih caranya memandang aktifitas manusia dan hubungannya dengan alam. Kehidupan manusia dan bencana dipandang sebagai dua hal yang saling berlawanan. Kehidupan manusia dianggap stabil, teratur dan dapat diprediksi, aman, normal, dan produktif sedangkan dianggap abnormal, tidak aman, dan merugikan. Hazard dianggap muncul sebagai intrusi terhadap kondisi normal ini yang tidak dapat dilihat dan murni independent proses alamiah yang ektrim dan jarang. Manifestasi hazard dianggap sebagai tindakan tidak sadar manusia yang memilih bermukim di daerah bencana. Dominant view melakukan analisisnya seolah-olah continuity dan discontinuity, stability dan instability dalam urusan manusia adalah suatu point yang ada pada saat kejadian bencana. (note ida: Aspek manusia tidak bisa dilihat pada satu titik saja, melainkan harus dilihat sebagai sebuah proses yang memiliki banyak variabel di dalamnya).
- Perlakuan statistik terhadap kondisi sosial dan lingkungan juga sangat berperan dalam menjadikan ide kehidupan sehari-hari (everyday life) menjadi mitos (myth). Ketika mendefenisikan everyday life, peneliti-peneliti sosial dan lingkungan banyak menggunakan data-data statistik yang sudah tersedia baik di level pemerintah, atau lembaga yang terpusat lainnya. Statistik terpaksa menjadikan semua fakta menjadi rata-rata, sehingga oleh hewitt tidak bisa mengungkapkan realitas. (note ida: Penelitian sosial masuk lebih dalam untuk mengetahui realitas, lebih daripada statistik yang malah menjadikan realitas menjadi angka-angka yang tidak jelas lagi apa maknanya karena tidak bisa mewakili realitas).
- Konsep kehidupan normal (normal life) di satu sisi dan statistical uncertainty dari bencana pada sisi yang lain, maka everyday life menjadi sangat kecil pengaruhnya pada bencana atau karena ketidaksengajaan.
- Prediksi yang dilakukan oleh dominant view pun menggunakan data-data tertentu yang pengambilan datanya juga tidak bebas nilai, karena sudah sangat terstruktur, terpusat, dan dilakukan oleh institusi tertentu (birokratik). (Note ida: Sehingga konsep uncertainty menjadi kembali tidak jelas karena mereka mengumpulkan data dari berbagai tempat yang berbeda. Dan juga karena mereka hanya memfokuskan pengambilan data di tempat-tempat tertentu, biasanya urban area, atau tempat yang lainnya, maka data uncertainty di banyak tempat tidak tercover oleh mereka). Sedangkan kejadian uncertainty di tempat yang tidak terpantau bisa jadi membawa pengaruh besar pada hal lainnya, seperti misalnya fluktuasi ekstrim ekonomi dan politik.
- Anggap saja pada awalnya kita setuju dengan ide Burton, 1978, bahwa munculnya hazard adalah akibat dari interaksi sistem sosial dan sistem lingkungan. Dan anggap juga bahwa kita setuju bahwa tidak akan ada bencana yang terjadi jika semua peristiwa geofisik dapat diprediksi. (note ida: kalo memang bencana tidak bisa diprediksi, yah sudah tingkatkan aja persiapan kita menghadapinya). Karena itu kita harus yakin dulu bahwa semua aspek lingkungan dapat di prediksi, kecuali yang ekstrim; tetapi kedua, kita harus yakin juga bahwa kehidupan manusia sendiri adalah sesuatu yang dapat di prediksi (predicable) atau (irrelevant). Hal ini sama dengan bahwa jika prediksi alam diperbaiki, maka manusia akan menyesuaikan diri untuk menghilangkan resiko hasil dari prediksi tersebut. Everyday life di anggap oleh dominant view tidak bermasalah, dan dinamikanya tidak penting karena dengan sendirinya akan mengikuti arah penelitian scientific, dan juga dapat dengan mudah dibuat mengikuti perkembangan yang dipikirkan oleh scientific. Cara pandang ini dianggap membungkus determinisme lingkungan. (Note ida: Memberi porsi yang lebih besar pada lingkungan).
- Memberikan gambaran benar atau salah (false or true image) bahwa bencana alam dapat dikontrol, padahal sebenarnya tidak karena uncertainty-nya membuatnya tidak dapat diprediksi, maka akan beresiko membuat masyarakat tidak waspada.
- (Note ida: Juga dengan retorika “predictability” yang dijalankan oleh teknokrat, diharapkan masyarakat akan mudah di kendalikan karena mereka akan sangat berharap dan percaya pada pemerintah, teknokrat, dan para ahli). Konsep predicting society adalah wishful thinking teknokrat, yang secara retorik beranggapan bahwa masyarakat akan mengikuti dengan mudah apapun konsep tentang bencana asalkan bencana dapat diprediksi oleh para ahlinya. (Note ida: Mereka melihat masyarakat sebagai obyek yang tidak memiliki entitas sendiri, dan tidak ada dinamika di dalamnya).
- Literature abad ke-20 yang juga berpandangan teknokrat menganggap aspek everyday life malah extraordinary dan mereka mengatakan bahwa inovasi teknologi, dan bantuan-bantuan luar harus dilibatkan. Dari sudut pandang ini, malah terlihat disaster-nya yang biasa (ordinary). Hidup manusia dianggap sebagai sesuatu yang kayak begitu-begitu aja dari dulu.
- Hewitt merasa mitos tadi jelas ada alasannya, yaitu berdasarkan konteks psikososial saat itu, tetapi itu menjadi mitos ketika cara berpikir seperti itu tidak lagi cocok digunakan karena sudah tidak relevan lagi pada saat ini dan tidak cocok dengan konteks yang didiskusikan. Karena itu pula dominant view hanya mitos juga bagi dia karena sudah tidak relevan.
- Mitologi bagus bagi hewitt karena biasanya berdasarkan pada kosmis dan penciptaan, tetapi myth di dalam dominant view adalah mitos-mitos yang hanya dikembangkan oleh segelintir orang atau kelas-kelas tertentu untuk melindungi kepentingannya, seperti halnya pangeran, pendeta, dll. Dominant view tidak mewakili mitologi yang baik, tetapi mereka membuatnya seolah-olah itu adalah mitologi kosmis, padahal tidak. Hewitt merasa itu tidak dapat diterima, setidaknya bagi ilmu sosial, bahwa seseorang percaya pada materialism kemudian membuat organisasi teknokratik untuk mengatur manusia lainnya.
- Untuk menghindari mitos itu, penting untuk kembali ke filosofis, dan tidak kepada sistematisasi yang dilakukan terhadap ilmu pengetahuan.
Ini adalah terjemahan bebas yang dilakukan oleh Ida Ansharyani (Ph.D Student Universite Paris 1 Pantheon-Sorbonne, France) sebagai bahan belajar untuk disertasi CBDRR Gunung Kelud. Untuk mengurangi kesalahan pemahaman, silakan mengontak idaansharyani@gmail.com untuk mendapatkan versi asli dari buku ini. Diterjemahkan (dibaca) di Paris 27-30 Oktober 2008.
A word vomit explosion!!! I’m glad to hear about that
Your blog really do not in general.