Monday, November 10, 2008

Interpretasi Bencana oleh Ken Hewitt (V)

INTERPRETASI BENCANA DARI PERSPEKTIF EKOLOGI MANUSIA (V)
(Interpretation of Calamities from the Viewpoints of Human Ecology)

Ken Hewitt, 1983

Kepulauan Bencana (The disaster archipelago)

- Secara penerapan, bencana diperlakukan terpisah dari hubungan manusia dan lingkungannya. Upaya dilakukan hanya untuk memanajemen resiko, tanpa memperhatikan upaya untuk menyesuaikan diri dengan itu (alternative adjustement). Upaya hanya dilakukan pada saat ada bencana atau setelah bencana. Respon yang dominan terhadap bencana adalah mengirimkan militer pejabat pemerintah untuk menutup daerah itu dan menetapkannya menjadi zona terlarang untuk melanjutkan hidup masyarakat yang semula sudah hidup di situ bertahun-tahun. Banyak contoh upaya-upaya keras pemerintah untuk memindahkan masyarakat dari zona bahaya atau untuk memasuki zona bahaya. Tercatat juga betapa banyak kejadian tentang susahnya untuk merelokasi manusia dari tempat tinggalnya jika itu berlawanan dengan kehendak mereka. Dan perkembangan di era industri, strategi pertahanan sipil untuk evakuasi yang sangat besar, adalah dengan menetapkan bahwa daerah bencana adalah daerah yang tidak boleh ada penghuninya, atau no-man’s land. Hal-hal tersebut di atas mungkin baik untuk kasus-kasus tertentu dan tergantung pada tipe masyarakatnya, tetapi hal ini tidak bisa di sama ratakan karena bencana dan komunitas itu sangat beragam. (note ida: Intinya Hewitt ingin mengatakan ide bahwa bencana harus dipandang sebagai bagian dari masyarakat dan tidak bisa top down penerapannya, tetapi harus hati-hati dengan memperhatikan dinamika sosial masyarakatnya. Juga bahwa konsep tentang bencana jangan dijadikan bagian yang terpisah dari masyarakat, dan jangan dibuat memiliki image yang buruk).

- Dengan mengisolasi bencana secara pemikiran, akan membuat penerapannya pun terisolasi. Kita kemudian akan berpikir bahwa bencana adalah sebuah gugusan kepulauan yang tidak beruntung yang ada dipeta tanpa kemudian hanya sebatas itu saja. Kita menganggapnya hanya sebatas kenyataan adanya suatu kondisi ekstrim yang random dan memetakannya. Lalu dengan sendirinya akan terisolasi pada pikiran kita.

- Hewitt merasa bahwa isolasi ini berimplikasi juga pada cara berpikir para teknokrat dalam memandang bencana. Artinya mereka berada di luar dari konteks bencana dan melihatnya seperti sesuatu yang terpisah.

- Banyak bidang ilmu yang kemudian ingin meneliti bencana, dan ingin mengambil bagian di dalam penelitian bencana dan membagi bencana ke dalam beberapa bagian yang di klaim sesuai dengan ilmu mereka. Tetapi upaya-upaya ini jarang sekali dilakukan dengan pikiran yang terbuka, filosofis, dan penuh rasa ingin tahu. Mereka hanya ingin memperjelas teritori mereka dalam penelitian bencana dan memperjelas aturan-aturan untuk membuat zona-zona bidang mereka di penelitian bencana. Mereka juga lebih fokus untuk memperjelas posisi bidang keilmuan mereka masing-masing. Penelitian mereka kadang tidak merefleksikan kondisi sebenarnya di lapangan tetapi hanya memperjelas posisi bidang mereka di antara bidang lainnya. (note ida: Hewitt beranggapan riset bencana dilakukan hanya mengikuti trend, dan secara akar riset dilupakan intinya untuk apa).

- Para ahli di bidang-bidang ilmu membuat diagram yang diharapkan mewakili broad spektrum bencana dan realitas bencana, tetapi akhirnya diagram itu menjadi diagram alir “organisasi” dari birokrasi yang besar. Diagram itu tidak berhubungan dengan kondisi sebenarnya, tidak juga melibatkan interaksi dan pengalaman manusia. Hewitt merasa semua itu dibuat hanya untuk mengejar reputasi. Peneliti-peneliti itu mencari-cari permasalahan riset dan mendemonstrasikannya dengan mencari tempatnya yang cocok dengan dominant view. Dan hal ini dianggap kegiatan yang bersifat intelektual (founding problems). Penelitian bencana tidak pernah dilihat secara utuh, dan umumnya dipandang sebagai “aplikasi” untuk melihat kebijakan publik atau performa agensi tertentu. Karena itu ahli-ahlinya beragam, dari ahli seismik, psikologi kognitif, atau teknik seperti remote sensing atau statistik. Riset benar-benar merupakan studi empiris yang pertanyaannya ditentukan oleh penanggung jawab agensi atau kritik yang akan berguna bagi manajemen di dalam kerangka institusi. (note ida: Jadi pertanyaan riset adalah pertanyaan yang tidak obyektif untuk perkembangan riset bencana itu sendiri.

- Begitu hazard box sudah ditetapkan, maka orang-orang menganggap sudah bicara utuh soal hazard. Padahal itu hanya sebuah monolog, artinya banyak hal yang terlupa sehingga penelitian bencana menjadi kering.

- Seperti analogi monolog foucault, bahwa psikiater hanya terobsesi pada orang gila tanpa berpikir tentang kegilaannya sendiri dengan obsesinya itu. Dalam penelitian hazard juga begitu, para ahli hanya berpikir untuk membuat permasalahan penelitian yang sesuai dengan yang dia inginkan. Penelitian-penelitian itu tidak merefleksikan sampai kepada apa yang dilakukan oleh institusi di lapangan, tidak merefleksikan juga masyarakat seperti apa yang membuat otoritas teknokratik menjadi mungkin dilakukan. Hal ini bisa jadi suatu masalah. Penelitian-penelitian hanya ingin terlihat menarik (sophisticated) secara ilmiah, dan mengikuti trend. Mereka memang mengumpulkan data tentang masyarakat yang beresiko terkena bencana, tetapi mereka tidak melakukan dialog dengan masyarakat. Kebanyakan laporan bencana dari negara ketiga ditulis atau dibuat oleh orang-orang yang bahkan tidak bisa berbicara bahasa lokal di mana bencana terjadi atau tidak memahami komposisi sosial-budaya masyarakat.(!!!)

- Hewitt merasa dominant view memenuhi cara pandang materialistik, bahwa orang-orang lebih percaya pada sesuatu yang terlihat real hasilnya, seperti laporan, alat, penemuan, dll, yang bisa dipakai untuk menjadi bukti dan keperluan meyakinkan orang lain. Kedalamannya hanya sekedar lip service, tanpa memecahkan persoalan real bencana. Hewitt merasa bahwa kita harus menemukan cara untuk menghindari cara berpikir teknokratik dalam penelitian tentang bencana dan mulai untuk kembali menemukan fakta-fakta yang sebenarnya tentang bencana. Karena ilmu pengetahuan merely based upon FACTS!hanya berdasarkan pada fakta.

Ini adalah terjemahan bebas yang dilakukan oleh Ida Ansharyani (Ph.D Student Universite Paris 1 Pantheon-Sorbonne, France) sebagai bahan belajar untuk disertasi CBDRR Gunung Kelud. Untuk mengurangi kesalahan pemahaman, silakan mengontak idaansharyani@gmail.com untuk mendapatkan versi asli dari buku ini. Diterjemahkan (dibaca) di Paris 27-30 Oktober 2008.

Posted by ET at 19:53:35
Comments

2 Responses to “Interpretasi Bencana oleh Ken Hewitt (V)”

  1. You did it! …How did you do it?

  2. dfhdfg says:

    Attractive blog! I find myself back in your blog.

Leave a Reply