Monday, November 10, 2008

Interpretasi Bencana oleh Ken Hewitt (VI)

INTERPRETASI BENCANA DARI PERSPEKTIF EKOLOGI MANUSIA (VI)
(Interpretation of Calamities from the Viewpoints of Human Ecology)

Ken Hewitt, 1983

The convenience of accidents

- secara konseptual dan analitis, yang dilakukan oleh dominant view terkait kegiatan hazard adalah mendefenisikan permasalahan sebagai kecelakaan (“accident“).

- Defenisi hazard oleh Toblinn 1977, adalah kejadian peristiwa yang tidak biasa, yang tidak sempat diprediksi dengan baik pada waktu dan tempat tertentu, agar dapat dilakukan tindakan perlindungan bagi masyarakat yang terancam olehnya. Ahli geografi dari soviet, mengganggap hazard terbentuk dari proses dinamik yang kisarannya sangat besar, yang intinya adalah manifestasi hazards yang tidak terbatas (indefinite dan equivocale). White, 1977 sebenarnya sudah mempertanyakan apakah ada prediksi yang benar-benar sempurna dan akurat, tentang apa yang akan terjadi dengan begitu kompleksnya sistem biosfer, atmosfer, dan hidrosfer. Bagaimana seseorang akan mengatakan bahwa tidak akan ada bencana? (note ida: Bencana adalah element yang sangat dinamis, dan tidak bisa diprediksi, sehingga pendekatan dominant view tentang hazard akan menyempitkan range penelitian tentang hazard itu sendiri, karena hanya akan meneliti apa-apa yang mereka anggap bisa di prediksi).

- Dalam pandangan tersebut, aspek manusia merupakan aspek yang tergantung, atau ikutan. Meskipun lebih jauh ditemukan ada beberapa kondisi manusia yang mempengaruhi bencana, dominant view memasukkan ke dalam kategori yang mirip nilai “accident” yaitu “human error.” artinya menjadi sangat sepele atau tidak terlalu penting. Buku-buku literature banyak menggunakan istilah-istilah yang sama seperti accidents, misalnya: uninformed, unsound, unplanned, impaired, irrational, atau arational.

- Lagi-lagi, bencana alam hanya di anggap accident oleh dominant view jika dihadapkan pada implikasi sosialbudaya. Hal yang sebaliknya terjadi jika menyangkut pembahasan bencana oleh geofisik, atau teknologi. Ada kontras yang sangat besar pada sesuatu yang di anggap accident ini dengan kemungkinan ilmiah yang dilakukan terhadapnya. (note ida: Jadi hewitt merasa bahwa secara konsep di anggap tidak penting, tetapi anehnya banyak sekali investasi dana dan penelitian di bidang bencana? Kalo konsepnya tidak penting, berarti investasi besar itu tidak tepat sasaran dong. Begitu sebuah riset di luncurkan, maka semua orang ribut dengan model dan mekanisme penelitian itu. Penelitian bisa jadi dilakukan sangat detil dari segi statistik dan teknik geofisik, tapi kemudian mentoknya adalah pada rasionalisasi dari penelitian seperti itu. Hewitt merasa penelitian seperti itu tidak berguna karena kehilangan persentuhan dengan realitas yaitu aspek manusianya). Upaya-upaya untuk memasukkan aspek manusia dianggap sebagai subyektif dan tidak bagus bagi penelitian-penelitian tentang bencana. Upaya-upaya survival manusia di anggap sebagai membingungkan dan penuh teka-teki. Hal ini didokumentasikan dengan baik melalui pernyataan: meskipun manusia, tidak seperti makhluk hidup lainnya, dapat memproyeksikan dirinya terhadap masa depan dan bagaimana menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian, mereka lebih memilih diorientasikan pada masa saat ini dan di sini (here and now).

- Hewitt merasa aspek manusia di anggap remeh. Hewitt juga melihat dengan pendekatan dominant view maka orang-orang kulit putih mengambil beban di pundaknya. Dan semua yang mereka lakukan ditakutkan hanya bisa diaplikasikan di Amerika Utara dan daerah perkotaan saja.

- Sebenarnya mulai banyak peneliti yang mengimplikasikan “continuity” dalam penelitian bencana, dan juga memperhatikan kondisi awal dan peranan manusia di dalamnya. Tidak sekedar sesuatu yang terpisah dan aneh seperti penelitian geofisik. Kegiatan hazard di amerika utara kemudian mulai menggunakan istilah yang lebih netral “risk assessment atau probabilistic consequences,” dan mulai membuat riset dengan sistem yang lebih global dan menggunakan statistik yang lebih baik.

- Dominant view menempatkan bencana di luar asumsi dan melampui pengetahuan, atau bahkan di anggap metafisik. Sedangkan cara kerja teknokrat adalah dengan struktur asumsi. Dominant view menempatkan bencana diluar tanggungjawab sehari-hari masyarakat dan individu. Paling penting, dominant view membuat asumsi tentang kehidupan sehari-hari (stabil, normal, predictable) menjadi diperdebatkan. Sehingga kita selalu harus terus menerus berkutat dengan perdebatan itu.

- Apa yang harus kita tanyakan adalah bagaimana konsep accident ini berjalan sebagai solusi penjelasan masalah dalam konteks teknokratik. (note ida: Accident secara konsep, tapi kok penjabarannya sangat teknoratik, alias terlalu serius). Sebagai ilmuan, bagaimana kita mengatur (managed) untuk mengiformasikan hal yang terjadi ini dengan menghadirkan kebutuhan logis dan technical sophistication? (note ida: Logical necessity rendah tapi technical sangat dikembangkan).

Ini adalah terjemahan bebas yang dilakukan oleh Ida Ansharyani (Ph.D Student Universite Paris 1 Pantheon-Sorbonne, France) sebagai bahan belajar untuk disertasi CBDRR Gunung Kelud. Untuk mengurangi kesalahan pemahaman, silakan mengontak idaansharyani@gmail.com untuk mendapatkan versi asli dari buku ini. Diterjemahkan (dibaca) di Paris 27-30 Oktober 2008.

Posted by ET in 19:51:23
Comments

2 Responses

  1. particularly good at. Great news, nonetheless.

  2. xcxbvbdvb says:

    this blog looks great,i hope i can read your article very soon.

Leave a Reply