Monday, November 10, 2008

Interpretasi Bencana oleh Ken Hewitt (VII)

INTERPRETASI BENCANA DARI PERSPEKTIF EKOLOGI MANUSIA (VII)
(Interpretation of Calamities from the Viewpoints of Human Ecology)

Ken Hewitt, 1983

Masalah-masalah Penjelasan (Problems of explanation)

- Karena tidak melibatkan masyarakat luas yang terkena dampaknya, dan hanya bersifat monolog, maka dominant view di anggap aneh. Akar keanehannya sebenarnya terletak pada bentuk teknokratik dari paham materialismenya. Materialime tidak bisa menjelaskan apakah bencana adalah act of god atau act of man.

- Konsep act of god, jelas tidak dapat diterima secara ilmiah. Konsep act of man lebih problematik. Jelas-jelas konsep ini melibatkan manusia, dan kerentanan manusia dijadikan perhatian utama. Tetapi pertanyaan, apa sebenarnya human action yang dimaksud, menjadi sangat sulit karena aksi tidak hanya proses. Telah didefenisikan dengan baik bahwa action mengacu pada upaya yang terorganisasi dan pembebasan untuk membuat perubahan atau untuk memelihara suatu kondisi tertentu. Bukan hanya sekedar perubahan yang spontan dan tidak direncanakan seperti yang dilihat oleh ilmu fisik pada atmosfer atau litosfer. Jadi human action itu ada banyak rentetannya, sedangkan ilmu alam faktor lainnya tidak sebanyak untuk melihat human action. Action terdiri dari (unsur utamanya) perencanaan dan pengorganisasian. Karena itulah action tidak dibicarakan dalam membahas eksploitasi sumberdaya alam atau di dalam respon pemerintah terhadap bencana alam. (note ida: Human action ditinggalkan karena mereka tahu, itu artinya akan membuat masyarakat sadar dan menjadi pintar lalu akan menuntut hal apa yang baik untuk dirinya terkait bencana). Asumsi utilitarian dari dominant view tidak juga dapat menjelaskan bahwa dengan memasukkan unsur “human action” akan membawa kepada kerusakan, atau pada kejatuhan institusi dan ketidakteraturan perekonomian. Pandangan materialism melihat bahwa human action berasal dari kepentingan pribadi yang pada dasarnya untuk kebutuhan survival atau setidaknya untuk adaptasi. Karena itu, kegiatan manusia yang bisa menyebabkan bencana di anggap tidak mungkin terjadi, kecuali sebagai suatu accident. Jadi kalo berusaha menciptakan kerusakan, oleh materialism dianggap sebagai kriminal atau gila. Lebih jauh, karena itulah dianggap tidak mungkin untuk berdebat tentang kemungkinan bahwa pemerintah, ilmuan, bisnis, dan organisasi lainnya menciptakan bencana. Itu hanya mungkin dari sudut pandang “conspiracy theories,” yang kemudian akan dianggap hanya dilakukan oleh kriminal dan itu hanya pikiran orang yang paranoid. Hewitt berpendapat, bahwa ide “act of man” bukanlah yang bertanggungjawab pada kejadian bencana yang terjadi saat ini, meskipun ada beberapa penulis yang membahas tentang pentingnya membicarakan tentang konspirasi.

- Bencana oleh dominant view di dukung dengan label religius, kosmologi, magis dan fatalistik. Mereka tidak ingin berpanjang lebar tentang sebab-sebab bencana selain bahwa itu kehendak tuhan. Tuhan dilibatkan tetapi jarang sekali sebagai aktor perantara (arbitrary) untuk manusia. Meskipun pada masa lampau manusia menganggap kerusakan sebagai kemarahan tuhan, mereka akhirnya kembali merasa bahwa ini adalah tanggung jawab manusia. Dominant view sangat didukung Secara agama dan magis yaitu bencana di anggap sebagai bentuk balasan tuhan atas kelakuan manusia. Karena itu, unsur manusia dianggap sebagai sesuatu yang sah untuk tertimpa bencana, sehingga riset hazard mengabaikan unsur manusia ini.

- Dominant view juga menekankan bahwa masyarakat tempat studi bencana berpikir primitif dan tidak percaya science, jadi percuma untuk melibatkan mereka ke dalam penelitian hazard. Intinya, dominant view menganggap masyarakat bodoh sehingga penelitian yang mereka lakukan harus sudah dianggap mewakili mereka, meskipun mereka tidak melakukan dialog apapun dan belajar dengan masyarakat.

- Dominant view menginterpretasikan fenomena dan mekanisme material. Cara interpretasinya normatif, evolusioner dan uniform. Manusia dan kehidupannya dipandang bergerak secara progressif. Sehingga mereka kesulitan ketika berhadapan dengan bencana karena bencana menunjukkan trend yang berbeda. Bencana tidak evolutioner tetapi revolusioner perubahannya, kemudian bencana juga membawa pergerakan manusia ke arah kemunduran, daripada kemajuan. Bahkan sudah mulai terlihat fenomena devolution akibat kerusakan berat habitat, misalnya dengan punahnya spesies.

- Dominant view dianggap lebih memilih ingin memanipulasi alam daripada ingin memahaminya. Jadi yang dicari bukan lagi filosofis tentang kebenaran tetapi ilmu pengetahuan ingin dijadikan suatu kekuatan dari institusi tertentu.

- Dulunya bentang lahan/permukaan bumi (landscape) benar-benar hasil pekerjaan alam dan tangan manusia, tetapi sekarang landscape alami dirubah oleh kekuatan teknologi yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan. Etos teknokratik adalah mengontrol sesuatu. Karena itulah jika ilmu pengetahuan digunakan untuk keperluan tertentu dan hasilnya mendatangkan penderitaan bagi manusia, maka akan berakibat buruk pada citra ilmu pengetahuan itu sendiri. (note ida: contohnya banyak: pupuk kimia, nuklir, perkotaan, dll).

- Jadi dengan menjadikan bencana sebagai fenomena alam dan merupakan accident bagi manusia, ini adalah formula yang tepat untuk menyelamatkan muka dari dominant view.

- Cara memandang mereka tentang bencana juga dalam skala ruang dan waktu yang sangat panjang, misalnya dalam skala geologi atau melihat dari sejarah bumi. Hal ini menjadikan bencana menjadi sesuatu yang biasa. Tetapi dari sudut pandang manusia yang skala waktunya berbeda, bencana bukanlah hal yang biasa sehingga penanganannya tidak bisa berdasarkan kerangka ilmiah semata.

- Hewitt beranggapan bahwa penelitian geofisik akan berguna jika menggunakan sudut pandang manusia yang beresiko bencana, misalnya apa kesulitan yang akan dihadapi masyarakat jika disaster berkekuatan x terjadi. Perhatian harus dimulai dari aspek manusia untuk meneliti hal yang fisik sekalipun. Karena meskipun skala manusia lebih pendek, tetapi stress, kerugian, korban, dan perubahan yang diakibatkan bencana pada manusia sangat nyata. Aspek bencana pada hidup mereka tidak bisa diabaikan begitu saja. (note ida: Dominant view menjadi sangat tidak bermoral jika tidak memperhatikan manusia).

- Dampak bencana alam pada manusia dianggap sesuatu yang normal dan tidak ada jalan keluarnya secara scientific, dan tidak ada sesuatu yang baru di situ, sehingga bisa diabaikan. Lalu aspek bencana hanya difokuskan ke hal-hal teknis, agar sesuatu dengan standar ilmiah yang kaku yang sudah ada dan mengikuti hierarki yang sudah ada dan melakukan apa yang sudah dipahami oleh teknokrat. Lalu begitu ada bencana, maka pergi meneliti aspek fisiknya, jelaskan pada pemerintah dan publik, lalu buat aturan-aturan, tetapkan daerah menjadi terlarang, buat daerah installasi baru. Selalu semuanya diarahkan oleh yang paling berkuasa. Dan tidak ada tempat bagi masukan dari masyarakat akar rumput (grass root) yang benar-benar berhadapan dengan bencana.

Ini adalah terjemahan bebas yang dilakukan oleh Ida Ansharyani (Ph.D Student Universite Paris 1 Pantheon-Sorbonne, France) sebagai bahan belajar untuk disertasi CBDRR Gunung Kelud. Untuk mengurangi kesalahan pemahaman, silakan mengontak idaansharyani@gmail.com untuk mendapatkan versi asli dari buku ini. Diterjemahkan (dibaca) di Paris 27-30 Oktober 2008.

Posted by ET at 19:49:23
Comments

2 Responses to “Interpretasi Bencana oleh Ken Hewitt (VII)”

  1. There is no such thing as failing at blogging.

  2. daisykey says:

    Such as the Handan Bitan, leisurely scent, reading to the heart of God Jing-ping

Leave a Reply