Monday, November 10, 2008

Interpretasi Bencana oleh Ken Hewitt (X)

INTERPRETASI BENCANA DARI PERSPEKTIF EKOLOGI MANUSIA (X)
(Interpretation of Calamities from the Viewpoints of Human Ecology)

Ken Hewitt, 1983

Alternative viewpoints

(penting untuk dijadikan reference: hal 24-25, hati-hati dalam memahaminya, jika akan dipakai dibaca lagi secara hati-hati)

- Bab-bab di buku ini menjelaskan hal yang kontras dengan dominant viewpoints

- Tingkatan penting (the important degree) atau tidaknya bencana alam, tidak dijelaskan dan tidak tergantung pada proses geofisik yang memang memulai kerusakan.

- The important degree dari respon dan kewaspadaan manusia terkait bencana alam tidak tergantung pada kondisi geofisik, baik itu mekanisme, frekuensi dan pengalaman lampau terhadap bencana. Hazard terlihat lebih tergantung pada concerns, pressures, risks, goals, dan juga dinamika hubungan sosial-lingkungan pada suatu komunitas tertentu. Hazard sangat tergantung pada karakteristik sosial suatu komunitas. Mungkin sangat penting bahwa efektif atau tidak efektifnya upaya mengurangi atau menghindari bencana sangat tergantung pada nilai-nilai yang dimiliki komunitas saat ini dan organisasi komunitas yang sedang berjalan, dan institusinya.

- Perluasan penting (the important extent) dari bencana alam, yaitu sebabnya, feature internalnya, dan konsekuensinya tidak dijelaskan oleh kondisi atau perilaku aneh, terhadap peristiwa bencana, melainkan tergantung pada tatanan sosial yang berlaku, hubungan kesehariannya dengan habitat, sirkumstan historis yang lebih besar yang membentuk atau frustate this matter.

- Menurut Hewitt ahli sosial harus benar-benar memikirkan bagaimana mereka bisa terlepas dari dominant view. Dan Hewitt sendiri telah memikirkan hal-hal sebagai berikut dalam upaya itu:

- Hampir semua bencana alam, atau kerusakan yang disebabkannya, merupakan cerminan dari karakteristik sosial dan tempat kejadian itu terjadi. Jadi bukan suatu feature atau gambaran yang accidental.

- Risk, pressure, uncertainty yang terkandung di dalam awareness dan preparedness terhadap fluktuasi alam, mengalir dari kehidupan sehari-sehari, bukan dari skala dan kemunculan fluktuasi itu. (note ida: Jadi sudut pandangnya adalah masyarakat melihat kejadian dari kehidupan sehari-hari mereka, mereka akan memandang bencana dari bagaimana kehidupan sehari-hari mereka bersentuhan dengan suatu kondisi, bukan sesuatu yang tiba-tiba terpisah, yaitu melihat fenomena alamnya langsung. Jadi background masyarakat dalam bencana adalah daily life mereka).

- Kondisi alam yang ekstrim, sebenarnya di dalam sense ekologi manusia, lebih diharapkan dan lebih diketahui oleh masyarakat dibandingkan dengan perkembangan sosial lainnya yang akan mempengaruhi hidup mereka sehari-hari.

- Banyak bukti-bukti bahwa di tempat-tempat bencana recent terjadi, settingnya kemudian adalah mengalami penderitaan perubahan sosial dan dampak lingkungan yang menyertainya dan berlangsung terus (ongoing). Apakah perubahan ini, secara sirkumstansi sosial, lebih dapat di manajemen (manageable),diharapkan (expected), dan lebih pasti bagi korban bencana dibandingkan dengan natural extremes? Apa lagi yang diharapkan oleh penduduk yang tinggal di daerah bencana terhadap karakterstik geofisik bencana atau tempat mereka? Apakah mereka akan tertarik pada geofisik atau pada perubahan yang terjadi pada aspek hidup mereka karena itu, yaitu secara politik, sosial dan ekonomi? Apalagi yang lebih pasti terhadap sesar San Andreas, apakah peristiwa gempa yang kadang-kadang terjadi atau perkembangan kehidupan sehari-hari disekitarnya, sebutlah itu “post-industrial society.”

- Dalam sejarah seribu atau dua ribu tahun lalu di daerah-daerah yang terkena bencana, mereka sudah tahu bahwa proses geofisik yang terkait dengan bencana tidak terhindarkan. Mereka tahu bahwa bencana yang sudah terjadi dapat terjadi lagi. Di dalam semua segmen masyarakat bencana di anggap pasti terjadi, baik akan menimpa dirinya, atau anak cucunya ke depan. Karena itu keuntungannya yang paling real adalah manusia bisa meningkatkan persiapan menghadapinya, karena bencana jarang terjadi. Atau apakah mungkin suatu komunitas yang sehat akan mengabaikan sesuatu yang akan merusaknya hanya karena sesuatu yang merusak tidak jelas kapan akan terjadinya. Karena itulah filosof Brecht, 1965 mengatakan “karena manusia tahu sangat sedikit tentang diri mereka sendiri, karena itulah pengetahuan tentang alam sangat sedikit gunanya bagi mereka. Mereka dapat mengatasi gempa, tetapi teman-temannya (masyarakat) tidak dapat mengatasinya. Dalam penelitian-penelitian (setidaknya penelitian yang dilakukan oleh ilmuan sosial), tentang bencana setidaknya, bahkan untuk bencana gempa bumi sekalipun, adalah our fellow (masyarakat) bersamanya kita harus selamat lebih dulu, baru kemudian yang diurus adalah proses gempa buminya. (note ida: Artinya kita harus selamatkan orang dulu baru ngomong soal teknis gempa, dll). Lagi-lagi karena inilah, kita harus melawan fiksi yang dikembangkan teknokrat.

- Apakah orang-orang tidak waspada dan tidak siap karena bencana jarang terjadi dan tidak bisa diprediksi? (note ida: implikasinya, adalah orang-orang dibuat tidak waspada dan tidak siap oleh sistem teknokrasi). Apakah orang-orang tidak mengacuhkan kemungkinan banjir atau gempa karena mereka disibukkan dengan “present gratification” (kepuasaan saat ini)? (note ida: implikasinya, perhatian mereka dialihkan pada penemuan scientific yang dianggap bisa menyelesaikan masalah). Atau apakah karena kondisi pekerjaan sehari-hari, life support, keamanan sosial dan mental, atau lingkungan artificial yang menghabiskan semua energi mereka, sehingga harus mengabaikan resiko dan membuat mereka mengambil resiko? (sistem kehidupan yang dibuat oleh teknokrat memaksa mereka tidak bisa lagi memasukkan unsur resiko ke dalam hidup mereka). Apakah masyarakat terlihat tidak bisa beradaptasi dengan baik (poorly adapted), karena dunia sosial teknokrat dan spesialis academik yang sempit, telah membuat kita tidak mampu mengenali kenyataan yang harus dihadapi oleh pihak lainnya (masyarakat)? (note ida: Mereka berpikir tentang hidup orang lain dari cara pandangnya sendiri, tanpa mau susah-susah untuk benar-benar mengenal hidup orang lain).

- Tentu saja pada masyarakat modern, misalnya di perkotaan tempat dimana dominant view diterapkan, tidak ada waktu untuk berpikir tentang bencana, dan mempersiapkan diri mereka untuk itu. Mereka bahkan kesulitan untuk mengalokasikan waktu untuk khawatir dan mengurusi misalnya orangtuanya yang jompo, keluarganya yang sakit, yang cacat, dan yang mengalami gangguan mental atau semua istilah-istilah abnormal lainnya, dan khususnya elemen tidak produktif dari kondisi manusia. Orang kota lebih tercerabut dari konsep bencana, mereka tidak punya sense bencana, tetapi ironisnya orang kota lah yang membuat konsep bencana bagi orang lain yang mengalami bencana. Lebih jauh, salah satu dampak khas dari modernisasi adalah merusakkan tatanan tradisional, seperti bagaimana suku-suku, desa, hubungan timbal balik tuan-pekerjanya menghadapi bencana. Proses yang sama juga yang menyebabkan orang-orang marjinal, seperti orang miskin, pengemis, orang kelaparan, menjadi terlunta-lunta di jalan negara berkembang. Karena mereka lebih memakai kacamata orang berada, dan melupakan orang miskin. Seperti yang juga terjadi di amerika utara dan eropa, sampai kemudian dibentuklah suatu institusi untuk menyembunyikan mereka. Perkembangan sosial yang seperti berasal dari proses human ekologi dan geografi dari modernisasi yaitu membuat orang-orang terasing dari wilayahnya sendiri “alienation from land” merupakan bagian integral dari kerentanan masyarakat biasa terhadap bencana alam yang tidak bisa dihindari. Cara pandang bencana secara modern ini menyebabkan masyarakat biasa yang hidup tidak di kota menjadi dalam bahaya berhadapan dengan bencana. Ilmu pengetahuan yang mereka kembangkan menjadi tidak berguna hanya untuk sekedar bersenang-senang belaka. Tetapi pada akhirnya tetap saja institusi teknokrat yang sentralistis dan penelitian tentang hazard, yang berhak mengambil kebijakan atau dianggap memiliki tanggung jawab untuk itu

- Ada beberapa bencana dan kerusakan yang berada diluar kekuasan manusia untuk menghindarinya. Tetapi Hewitt melihat dan percaya bahwa ada bencana dan kerusakan yang seharusnya tidak terjadi atau kerusakan yang seharusnya tidak terjadi hanya kecuali sebagai akibat langsung dari karakteristik dan kerentanan human development. Karakteristik manusia dan kerentanannya yang menyebabkan bencana terjadi. Perkembangan ini merefleksikan adanya ketidaksinkronan antara requirements hubungan lokal regional yang diharapkan sensitif dan aman secara lingkungan, lebih tepatnya pada beberapa segmen masyarakat dan kegiatan pada level regional-lokal dengan permintaan untuk memperluas kekuatan dan ekonomi yang merupakan hal yang sangat didukung oleh teknorat. Karena untuk kekuatan dan ekonomilah teknorasi itu ada. Kebutuhan untuk lebih sensitif pada aspek masyarakat meningkat, tetapi teknokrat memiliki fokus untuk meningkatkan kekuatan dan sektor ekonomi.

- Pembahasan tentang bencana yang dilakukan di dalam bab-bab berikutnya mendukung ide hewitt, bahwa bagaimana dan mengapa terjadi bencana ditanyakan, dengan memperhatikan apa kondisi sosial saat itu dan juga memperhatikan hubungan manusia dan alam yang melatarbelakangi kejadian bencana. Hal ini menempatkan human ekologi menjadi penting tidak sekedar hanya menjadi pendukung ketika bencana mendatangkan korban. Jika masyarakat dalam perkembangan keseharian mereka menjadi bagian yang integral dari “risk from nature,” maka tatanan sosial menjadi penting dalam penelitian dan diskusi tentang bencana. Termasuk didalamnya menguji kekuatan politik dan ekonomi terhadap kerentanan dan manajemen, juga menguji redistibusi resiko yang dimaksudkan oleh institusi.

- Implikasi yang lebih serius terhadap krisis manajemen adalah bahwa selama ini dominant view menyalurkan banyak sumberdaya dan ahli-ahli pada projek yang tidak melibatkan kemalangan manusia. Mereka lebih tertarik pada geofisik yang merupakan masalah yang tidak terlalu berarti di bandingkan inti masalah dari bencana. Dominant view diwakili oleh tindakan pemerintah yang melakukan hal-hal yang bersifat fisik, yaitu misalnya membangun kembali infrastruktur ekonomi untuk memenuhi kebutuhan negara dan sistem internasional melebihi dari apa yang dibutuhkan korban bencana.

- Hal yang penting harus diperhatikan oleh geografer dan antropologis adalah bahwa dominan view tanpa malu tidak peduli pada sejarah dan keanekaragaman alam dan manusia. Juga bahwa mereka membuat konsep-konsepnya dengan latar belakang kota. Jadi kita harus hati-hati ketika meneliti hazard di negara berkembang yang cross-cultural-nya berbeda dengan western.(note ida: Hati-hati dengan pikiran-pikiran orang barat. Hehehe… karena mereka bisa menggunakannya kembali dan membuat struktur baru dari apa yang kita temukan).

- Hewitt akhirnya menandaskan bahwa dia merasa bahwa dominant view jika tetap seperti itu seperti orang yang ingin memerintah ombak… (note ida: artinya sok-sok mau ngatur tapi gak ada yang mau ikutin… dan pura-pura sibuk sendiri dengan penelitian-penelitian yang dia bual-bualkan berharga, padahal tidak berguna. yeee…hidup Ken Hewitt! Jarang-jarang baca referensi seperti ini!!!).

Ini adalah terjemahan bebas yang dilakukan oleh Ida Ansharyani (Ph.D Student Universite Paris 1 Pantheon-Sorbonne, France) sebagai bahan belajar untuk disertasi CBDRR Gunung Kelud. Untuk mengurangi kesalahan pemahaman, silakan mengontak idaansharyani@gmail.com untuk mendapatkan versi asli dari buku ini. Diterjemahkan (dibaca) di Paris 27-30 Oktober 2008.

Posted by ET at 19:42:53
Comments

3 Responses to “Interpretasi Bencana oleh Ken Hewitt (X)”

  1. tag drivers says:

    you rock my world!!!

  2. tag drivers says:

    particularly good at. Great news, nonetheless.

  3. trumpet says:

    Not too bad, but your view is so unique. I like it very much.

Leave a Reply