Wednesday, December 14, 2011

PERAN ORNOP DALAM PEMULIHAN BENCANA MERAPI

Bencana cenderung terjadi pada komunitas yang rentan, dan akan membuat komunitas semakin rentan. Berkenaan dengan hal tersebut, Undang-undang Penanggulangan Bencana Nomor 24 Tahun 2007 memandatkan perlunya upaya pemulihan setelah terjadi bencana sampai pada kondisi masyarakat yang lebih baik. Pemulihan dimaknai sebagai serangkaian kegiatan yang sistematis untuk mengembalikan kondisi masyarakat dan lingkungan hidup yang terkena bencana dengan memfungsikan kembali kelembagaan, prasarana, dan sarana dengan melakukan upaya rehabilitasi dan rekontruksi. Rehabilitasi adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah pascabencana dengan sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat pada wilayah pascabencana. Rekonstruksi adalah pembangunan kembali semua prasarana dan sarana, kelembagaan pada wilayah pascabencana, baik pada tingkat pemerintahan maupun masyarakat dengan sasaran utama tumbuh dan berkembangnya kegiatan perekonomian, sosial dan budaya, tegaknya hukum dan ketertiban, dan bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat pada wilayah pascabencana.

Kondisi masyarakat” yang dimaksud dalam undang-undang tersebut adalah aset penghidupan yang melekat pada setiap individu, keluarga, kelompok atau unit sosial yang lebih tinggi. Menurut konsep penghidupan berkelanjutan ada enam aset penghidupan yang melekat di masyarakat di dalam upayanya mengembangkan kehidupannya yaitu: (1) aset manusia, (2) aset fisik / infrastruktur, (3) aset ekonomi / finansial, (4) aset sosial, (5) alam / lingkungan, dan (6) aset politik. Sumberdaya manusia merupakan kemampuan dasar yang dimiliki setiap manusia, seperti kesehatan, kepandaian, keterampilan. Aset sosial merupakan kekayaan sosial yang dimiliki komunitas, misalnya jaringan dan keterikatan hubungan berdasarkan ketertarikan, kebutuhan, kesenangan kepercayaan. Aset sumberdaya alam merupakan kemampuan alamiah dalam melayani / mencukupi kebutuhan kehidupan seperti seperti tanah, air, kualitas udara. Aset fisik merupakan sumberdaya produktif buatan yang dimiliki oleh individu, komunitas maupun pemerintah seperti peralatan, infrastruktur, lahan, seperti transportasi, bangunan tempat tinggal yang aman, sanitasi dan persediaan air yang memadai. Aset finansial, adalah sumber-sumber ekonomi yang digunakan oleh komunitas untuk mencapai tujuan-tujuan kehidupannya, seperti persediaan maupun tabungan uang dan barang.

Proses pemulihan bila dilihat dengan perpektif pengembangan aset dapat dilakukan dalam bentuk usaha-usaha mendorong proses pemulihan (1) penguasaan aset, (2) penganekaragaman aset, maupun (3) kemampuan transformasi nilai aset. Penguasaan aset merupakan kemampuan masyarakat dalam mengakses maupun mengontrol sumberdaya yang diperlukan untuk mengembangkan kehidupannya. Penganekaragaman aset merupakan kemampuan masyarakat dalam melipatgandakan / memperbanyak jenis aset yang dapat diakses dan dikontrol. Transformasi nilai aset merupakan kemampuan masyarakat dalam meningkatkan nilai aset melalui proses pertukaran aset yang berada dalam ruang akses dan kontrolnya.

Penguatan penguasaan dan penganekaragaman aset ekonomi masyarakat merupakan pilihan favorit Organisasi Masyarakat Sipil (OMS). Sebagian besar OMS melakukan pemulihan penguasaan aset ekonomi secara langsung dilakukan dengan memberikan bantuan berbagai bahan dan alat yang dapat digunakan untuk meningkatkan aset ekonomi, misalnya bantuan berbagai jenis alat produksi seperti bibit cepat panen, ternak, modal dagang, pupuk organik, mesin produksi makanan. Pilihan ini biasanya didukung dengan “sedikit” usaha-usaha pemulihan penguasaan dan penganekaragaman aset fisik / infrastruktur yang juga akan berdampak pada pulihnya aset lain, terutama ekonomi; misalnya perbaikan sarana pertanian, perbaikan sarana air bersih, perbaikan saluran irigasi.

Mendorong proses pemulihan melalui usaha meningkatkan kemampuan sumberdaya manusia merupakan pilihan OMS lainnya. Usaha ini merupakan penguatan transformasi yang akan mengarah pada penguatan penguasaan aset ekonomi. Hal ini dapat kita lihat pada pilihan pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan OMS berupa pelatihan pertanian jamur kuping, perikanan, produksi pakan konsentrat, membuat pakan ternak alternative, pembenihan dan pembuatan pupuk organik, pemasaran produk makanan, pembuatan pupuk organik. Kegiatan-kegiatan ini bukan barang baru bagi komunitas Merapi. Pilihan OMS dalam mendorong pemulihan penganekaragaman aset secara tidak langsung dilakukan melalui pelatihan-pelatihan pembuatan souvenir dari pasir, produksi makanan basah, produksi makanan ringan. Kegiatan-kegiatan ini merupakan hal baru bagi komunitas Merapi yang selama ini sebagai petani dan peternak.

Peran pada penguatan penguasaan, penganekaragaman, transformasi dan mobilisasi aset fisik / infrastruktur rupanya bukan pilihan menarik bagi OMS. Peran pada pemulihan aset fisik / infrastruktur nampaknya sudah dipasrahkan ke pemerintah dan lembaga bantuan dan hutang antar negara. Sedikit OMS yang melakukan upaya pemulihan penguasaan dan penganekaragaman aset sosial. OMS “berwarna” keagamaan mengisi ruang penguasaan aset sosial keagamaan; yang berwarna pendidikan. Sedikit OMS yang mengambil peran penguatan aset politik. Dinamika advokasi berkenaan dengan upaya pemulihan yang baik jarang kita dengar. Aset alam dan lingkungan nampaknya yang paling merana karena hanya sangat sedikit OMS yang mengawal proses ini. Sebagian hanya menyinggung lewat kegiatan-kegiatan pendek yang cenderung “setor lantas ngeloyor”. Misalnya, penanaman pohon. Belum melalui proses pemberdayaan yang sistematis. Pada ruang-ruang peran yang relatif kosong tersebut seharusnya kita mengisi. Kita perlu melakukan usaha-usaha penguatan penguasaan dan penganeka-ragaman aset, tetapi juga tidak melupakan upaya transformasi dan mobilisasi aset.

Pada akhirnya, rasanya kita perlu menegaskan ulang mandat kita semua untuk melakukan pemulihan yang lebih baik. Masalah sekaligus kerentanan besar kita di Indonesia saat ini adalah Korupsi. Karenanya kita semua perlu menjaga agar proses pemulihan yang sedang berjalan ini benar-benar sebagai sebuah Community Based Disaster Recovery (CBDR) yang sesungguhnya, bukan menjadi Corruption Based Disaster Recovery. Atau memang kita perlu menjadi “anjing pelacak” atas diri kita sendiri untuk memastikan pemulihan ini berjalan lebih baik?

Wedomartani – Sleman, 27 Oktober 2011

Posted by Paripurno in 19:59:43 | Permalink | Comments Off

Wednesday, February 2, 2011

PEMBELAJARAN PELEMBAGAAN DAN GERAKAN PRBBK

Narasumber: Eko Teguh Paripurno
Tanggal: 14 Januari 2011
Pewawancara: Sofyan dan Ina Nisrina

Pengantar wawancara dengan penjelaskan tentang agenda dan tujuan dari wawancara.

Sofyan (S) : Bagaimana dan apa yang melatarbelakangi ide symposium pertama tentang PRB BK, hingga kemudian bergulir menjadi agenda tahunan?

Eko Teguh Paripurno (ET) : Symposium pertama diadakan di Jogjakarta tahun 2004. Isu yang dibawa tentang Penanggulangan Bencana Berbasis Komunitas. Belum ada istilah risiko. Saat itu, MPBI bisa dikatakan, (dalam tanda petik), “belum punya komunitas”. Dari sekian banyak orang di MPBI harus ber-PRBBBK – harus berkomunitas di satu sisi.
Ide symposium ini juga untuk melihat, benar apa tidak yang namanya manajemen bencana berbasis komunitas itu ada atau tidak?, benarkah bisa mengelola bencana?, atau bagaimana bentuk pengelolaannya?. Jadi ya semacam tantangan. Sebelumnya juga ada diskusi-diskusi dan sering dilakukan di Jogjakarta. Kaitan dengan dinamika, model-model dan ide-ide penanggulangan bencana itu juga ada di Jogja. Yang paling pokok adalah, muncul kesadaran bahwa (penanggulangan bencana) ini harus di level komunitaskan. Maka saat itu diadakan di Jogja, plus juga sekaligus bermain ke komunitas. Maka diajaklah berbicara dengan komunitas. Bayangkan saja, ada puluhan orang ke komunitas (Merapi) datang untuk ngobrol dengan komunitas. (Komunitas Merapi – PASAG) tidak diundang khusus untuk kegiatan tersebut. Tapi seperti biasa, kegiatan di sesuaikan dengan pertemuan PASAG (Merapi) di sana.
Kegiatan ini juga sekaligus untuk menguji, apakah yang disebut berbasis komunitas itu ada dan efektif. Dan PRB BK yang dilakukan pada saat itu lebih pada community organizer. Pada saat itu pertanyaan yang mucul adalah apakah para pihak itu melakukan penanggulangan bencana dan komunitas itu dilibatkan, belum sampai pada harus seperti apa (pra syarat).

S; Kita belum bisa mendeteksi, dari mana support dalam pelaksanaan PRB BK pertama?

ET; Orang datang sendiri dan bayar sendiri. Ada dukungan, tapi tidak banyak, kalau tidak salah, hanya untuk ruang pembuatan Kaos. Dengan demikian, onkos transport antar kota dan wilayah (bahkan pulau) mereka bayar sendiri Tidak seperti yang sekarang yang ditanggung semuanya. Saya ingat persis, ketika ada peserta dari LSM dari Kupang yang meminta reimburse tapi memang tidak kita sediakan. Akhirnya kami “bantingan” untuk memulangkan anak tersebut. Tapi bagi yang lain, sudah paham dan bahkan pesertanya mencapai sekitar 60 orang. (angka pasti jumlah peserta akan di check di proceding Symposium PRB BK I)
Justru saya kagum, bisa begitu banyak yang datang. Padahal isu manajemen bencana masih belum populer saat itu. Selain perkawanan, pengikatnya juga karena semua orang mempresentasikan programnya. Jadi seperti mengabsen program-program berbasis komunitas. Saat itu masih bisa dikatakan gerakan. Setelah kejadian Aceh, isu tentang bencana menjadi populer serta dana begitu banyak untuk project bencana, orang tidak lagi berpikir itu sebagai sebuah gerakan.

S; PRBBK sudah bergulir menjadi agenda tahunan, namun, setelah PRBBK pertama tahun 2004, PRBBK kedua baru kemudian diadakan pada tahun 2006, apakah alasannya karena kesibukan dalam menangani Aceh, sehingga tidak bisa diselenggrakan tahun 2005?

ET; Seingat saya, tahun 2004 PRB BK belum diagendakan penting untuk diadakan setiap tahun. Kemudian juga karena sibuk, karena memang kita sangat MPBI; orang-orang seperti Pak Sugeng, Mas Puji, ingin tahu, bagaimana sebenarnya (pengelolaan) bencana di Indonesia, dan bagaimana penanggulangan berbasis komunitas itu. Dan juga ada tantangan harus membuat “Disaster management position paper” kaitannya dengan Penanggulangan bencana berbasis masyarakat. Sehingga memang pikirannya terganggu.
Memang, kita disibukkan dengan kasus Aceh – Nias. Apa lagi MPBI punya target Aceh bangkit kembali, sehingga itu (Symposium) menjadi tidak terpikir. Baru kemudian pasca Tsunami Aceh, banyak teman-teman Aceh yang juga berkumpul dan menginginkan itu, seperti PMI, IFRC dll. Maka kemudian diadakan lagi pada tahun 2006 itu di Jakarta.

S; Pada saat itu juga bertepatan dengan pembahasan RUU PB bukan?

ET; Iya, pada tahun 2006 itu memang sedang dibahas RUU PB tersebut. Selain itu juga, saat itu banyak lembaga-lembaga punya program-program PRB BK. Mungkin tahun 2006, peserta PRB BK paling banyak. Yang menjadi pembahasan saat itu juga terkait dengan lembaga-lembaga yang datang. Menjadi pertanyaan, apakah program dua bulan tentang penanggulangan bencana berbasis masyarakat itu dapat disebut dengan PRB BK?
Cita-cita dari penyelenggaraan symposium tahun 2006 itu adalah untuk membuat kejelasan mana yang disebut PRB BK dan mana yang bukan. Walaupun itu tidak pernah bisa.
Maka kembali ke diskusi lama lagi, bahwa yang ada unsure “Community-based” masih harus diperjelas lagi. Untuk siapa bekerja, dengan siapa, oleh siapa dan lain-lain. Saat itu memang, pikiran orang dalam (penanggulangan) bencana seperti itu.
Munculnya program-program “oleh masyarkat” dalam pengelolaan bencana atau pengurangan risiko bencana merupakan turunan dari konsep-konsep partisipasi, konsep-konsep kerja sama; jika ditarik ke belakang, itu merupakan turunan dari program-program pemberdayaan masyarakat yang telah berkembang sebelumnya. Untuk itu, barangkali perlu memutuskan; “harus oleh siapa dan dengan siapa, baru dianggap PRBBK itu tidak”.

S; Apakah rekomendasi Living Guide yang muncul di PRBBK VI di Bali sudah menjadi rekomendasi dari awal symposium?

ET; pemaknaan atas Living guide itu sebeanrnya juga berubah-ubah. Pada dasarnya (dalam buku living guide) ingin mencari kegiatan-kegiatan di masyarakat yang dilakukan oleh para pihak. Praktek-praktek yang ada tersebut (dirangkum dan didokumentasikan) menjadi living guide book. Tapi ternyata sulit. Tidak cukup banyak teman-teman yang menjalankan (PRB BK) secara konsisten dan utuh sebagai bagian dari hal yang diidam-idamkan. Ada juga yang salah; mengatakan ini sebagai PRB BK, tapi sebenarnya bukan.
Maka diputuskan, untuk selanjutnya tidak sebagi jati diri, tetapi sebagai proses yang akan dimasukan dalam living guide book. Hal yang menarik; perubahan tersebut targetnya harus ada. Maka kawan-kawan meneliti dan menuliskannya dari berbagai FGD dan diskusi. Hasil jadinya adalah seperti buku yang di (launching) Bali.
Mungkin itu bukan cita-cita ideal sebuah living guide book. Karena maunya bekembang dari waktu ke waktu (dokumen hidup). Dari diskusi awal, hasil ini akan di coba di praktekan di lapangan, selanjutnya dikaji kembali, di bawa ke ranah teoritik dan kembali di bawa atau dipraktekan di lapangan. Demikian seterusnya dan menjadi sebuah daur.

S; Orang sangat antusias di Makasar, karena dari sisi out put sangat kelihatan pencapainnya. Tapi banyak pendapat dari peserta yang mengikuti proses Konferensi Nasional secara serial merasa Konferensi Nasional di Jakarta seperti tidak ada sambungan dengan yang di Makasar. Apakah karena ini berkaitan dengan isu yang diangkat lebih tegas. Misalnya PRB BK di perkotaan.

ET; Menurut saya, sebenarnya itu telah dibicarakan dengan inten. Tapi mungkin karena dari (sebagian) peserta sendiri tidak melakukan praktek-praktek itu, begitu juga kita. Ketika diminta; mana praktek baiknya, juga tidak muncul. Pertanyaannya, apakah karena waktunya terlalu pendek, ataukah karena gerakan ini memang belum terbentuk? Ditambah lagi karena isunya menyimpang jauh.
Jujur, itu karena pelembagaan kegiatan PRB BK belum dilakukan. Sebenarnya, kalau mau kasar, (dalam menjalankan PRB BK) kita hanya menjalankan sebagai EO (even organizer) saja. Akan lebih indah, kalau kita tidak hanya sebagai EO. Tapi mengingatkan, mengajak pihak-pihak terkait untuk menindaklanjuti hasil-hasil yang lalu. Idealnya, cita-citanya itu dibicarakan, tidak hanya sebelum tapi juga sesudah. Tapi yang menarik kalau saya yang kebetulan ngajak, “Oh ayo itu dilakukan…” Namun sulit juga dilakukan karena beberapa hal;
Pertama, sulit dilakukan karena target itu sudah sudah dilakukan, jadi teman-teman aktivis tidak mungkin mengulang itu lagi.
Kedua, karena isunya berubah di tingkat komunitas, atau donornya berhenti. Jadi tidak mudah melakukan sesuatu yang tidak mengikat. Kecuali setelah itu ada donor lagi.
Bagi saya, kalau menarik pembelajarannya dari pengalaman yang ada; Mari tidak terlalu cepat. Tidak mengabaikan isu-isu yang ke belakang, tapi bagaimana bisa dibagi, paling tidak ada sepetiga maju ke depan, sepertiga isu baru, sepertiga isu ke belakang.

S; Bagaimana kita mengintegrasikan antara PRB BK, baik kaitannya sebagai gerakan atau pelembagaan. Ambil salah satu contoh adalah program Kampung Siaga Bencana Kemensos. Atau kementrian lain yang secara implicit atau explicit mempunyai program pengurangan risiko bencana. seperti kementrian kelautan dengan program mina bahari. Atau kementrian dalam negari atau lainnya.
Hal yang lain, bisa jadi PRB BK ke tujuh bekerjasama dengan pemerintah dan menggunakan anggaran Negara.

ET; Pada dasarnya saya sepakat saja. Tapi kalau Kampung Siaga Bencana dibawa ke ranah Konferensi, jangan sampai menjadi trade mark Kampung Siaga Bencana, ada label © (copy right). Tapi harus benar-benar menjadi Kampung yang benar-benar siaga, dimaknai sebagai status yang terbuka. TAGANA juga, jangan sampai TAGANA©. Kalau bisa, mereka harus melepaskan atribut-atribut itu. Prinsipnya, kalau memang mau, ya ayo. Oleh masyarakat disini harus benar-benar dilakukan oleh masyarakat.
Disini, siapapun bisa berperan, tapi tanpa ada © nya. Karena itu akan memudahkan untuk overlay. Kalau dibilang itu beda, ya gampang mencari bedanya. Demikian juga kalau dibilang sama, akan mudah mencari persamaanya. Jadi kalau diibaratkan, seperti obat generic. Merk bisa macam-macam, tapi isinya sama. Harapannya memang sebaiknya ada pelibatan pihak lain, sehingga itu bisa lebih bermakna.
Maka, saya sampaikan, kawan-kawan MPBI jika mengorganisasikan komponen-komponen PRB BK, masing-masing harus ada nilai umumnya, tapi juga melihat siapa yang membawa mandate itu. Dengan begitu, mungkin ada lembaga-lembaga yang melakukan hal itu juga, ya silahkan saja. Tapi hati-hati, jangan sampai PRB BK ini nanti menjadi bisnis PRB BK.
Membangun gerakan harus ada kesamaan cita-cita, kesamaan cara pandang. Sehingga mereka mau mengalokasikan internal resourcenya. Walaupun yang sering jadi maslaah juga, karena internal resources tidak paham, akhirnya eksternal resources yang mendorong itu melakukannya atas dasar kebutuhan actor eksternal tersebut.
Sistem gerakan harus bekerja kuat. Kalau masuknya PRB BK – keluarnya juga PRBBK. Bukan PRB BK yang sudah terkontaminasi. Kalau ada input 10, out put 2, risidu 8, maka itu artinya ada masalah. Perlu upaya lain untuk meminalisasi residu. Jika dalam bahasa fisika, ada katalis. Nah fungsi katalis adalah meruduksi keluaran berupa residu. Artinya, jika input 10, output 7, dan residu menjadi 3 atau bahkan residu 0 (semua menjadi output). Dan ketika itu adalah managemen sistem, ayo persyaratan sistem-sistem itu dijalankan.
Ketika BNPB keluar dengan pedomannya, maka aturan itu harus mendeskripsikan bagaimana hal-hal input dijalankan dengan baik, sehingga outputnya akan baik juga. Jangan sampai tidak match. Kalau beda antara konteks dan panduan, maka itu tidak bisa.

S; Kebijakan itu lebih banyak mengatur selain pemerintah. Misalnya untuk peran serta masyarakat, maka aturan itu lebih banyak untuk komunitas. Sangat sedikit mengatur tentang kewajiban pemerintah sendiri. Dan bisa jadi, justru kebijakan yang niatnya mengakomodir peran serta masyarakat justru mengekang perjalanan PRB BK itu sendiri?

ET; Yang saya tekankan, jangan sampai target untuk menghasilkan sesuatu yang baik justru terhambat. Prinsipnya, Jangan buru-buru.
Kaitannya dengan pelembagaan, kalau itu menjadi peraturan pemerintah (PP), peraturan tersebut harus memperkuat upaya-upaya atau mendukung PRB BK. Peraturan tidak saja akan mengikat pemerintah, tapi juga akan mengikat orang lain. hal yang menjadi catatan adalah dan penting; bagaimana peraturan tersebut mendukung PRB BK.

S; Jika menarik benang merahnya, ini sepertinya akan mengarahkan pada peraturan pemerintah tentang peran serta masyarakat, bagaimana menurut Mas?

ET; Maka itu butuh penjabaran. Poin pentingnya, harus ada alasan logis, kenapa PRB BK itu penting, dan keberadaan PP harus mendorong PRB BK menjadi lebih baik. Bahasa lainnya, perangkat-perangkat kebijakan akan membantu pencapaian dari tujuan PRB BK. Bukan sebaliknya, harus ada PP untuk menjadikan / agar PRB BK lebih baik. Karena jika itu yang terjadi, maka tujuan pelembagaan PRB BK tidak akan berhasil.

S E K I A N

Posted by Paripurno in 00:39:10 | Permalink | Comments Off

MENCUKUPI KEBUTUHAN REHABILITASI MELALUI REFORMASI KEBIJAKAN HAK ATAS PASIR

Oleh: Eko Teguh Paripurno

Erupsi G. Merapi kali ini telah mengakibatkan hilangnya nyawa dan harta benda bagi warga di kawasan rawan bencana. Sampai saat ini tercatat 265 orang meninggal dunia, 507 orang menderita luka-luka sehingga memerlukan rawat inap, dan 318.588 orang mengungsi. Para pengungsi tersebar di 772 titik pengungsian, di 13 kabupaten di sekitar G. Merapi. Saat ini penanganan darurat terhadap para pengungsi dan warga yang menderita luka sedang dilakukan.

Saat ini serangkaian pengkajian dan penilaian kerusakan dan kebutuhan dilakukan oleh banyak pihak. Masing-masing pihak cenderung mengusung metoda yang dianggap paling tepat. Ada Disaster Lost Assessment (DaLA), Post Disaster Need Assessment (PDNA), maupun Human Recovery Need Assessment (HRNA). Maksudnya jelas, menemukan angka pasti kerusakan dan kebutuhan akibat bencana. Tentu pertanyaan selalu masih ada. Seberapa jauh para pihak tersebut menempatkan komunitas sebagai subyek? Akan menjadi masalah baru bila ternyata penilaian kerusakan dan kebutuhan tersebut dipenuhi oleh “keinginan” para pihak eksternal, dibanding kebutuhan komunitas sendiri.

Pasca hiruk pikuk penanganan darurat akan dilakukan upaya pemulihan awal. Beberapa program konon telah diagendakan pemerintah dan para pemangku kepentingan lainya; antara lain pembangunan hunian sementara, pemenuhan hidup untuk masa transisi ke rehabilitasi dan rekontruksi, serta pengembalian kondisi sosial ekonomi masyarakat yang menjadi miskin akibat bencana. Hunian sementara diperuntukkan bagi 2350 kepala keluarga yang tidak memiliki tempat tinggal karena awan panas yang melanda KRB 3 dan KRB 2. Diharapkan hunian sementara ini dapat dibangun dengan dana 6,5 juta rupiah / rumah, dengan mekanisme cash for work dengan bentuk bangunan sesuai keinginan pemiliknya. Dipersiapkan pula dukungan (stimulus) untuk relokasi dan perbaikan pembangunan rumah sampai 15 juta rupiah / rumah. Pemenuhan jaminan hidup sesuai stadar Kemsos sebesar 5000 rupiah / orang / hari direncanakan untuk 2350 keluarga yang kehilangan rumah. Perbaikan ekonomi masyarakat diupayakan melalui penciptaan lapangan kerja bagi eks pengungsi melalui cash for work maupun pendanaan untuk usaha mandiri. Untuk yang terakhir ini pola-pola yang sudah ada seperti KUR, PNPM nampaknya akan digunakan.

Program tersebut diatas kertas setidaknya akan memerlukan 54,76 milyar rupiah yang terdiri dari 15,28 milyar rupiah untuk hunian sementara, 4,23 milyar untuk jaminan hidup, 35,25 milyar rupiah untuk perbaikan dan pembuatan rumah. Jumlah tersebut belum yang akan digunakan untuk memperbaiki infrastruktur yang rusak. Jumlah juga akan bertambah bila pemerintah beritikad baik memenuhi hak masyarakat petani dan peternak di kabupaten Magelang, Boyolali dan Klaten yang menjadi miskin dan tidak jelas bagaimana mereka memenuhi kebutuhannya selama 3 – 6 bulan ke depan.

Cara gampang yang biasanya dilakukan oleh pemerintah pusat adalah menggunakan dana on call yang tersedia di berbagai kementrian. Di pemerintah daerah selain dana on call juga dilakukan dengan mengumpulkan dan mengalihkan dana-dana yang diperkirakan tidak habis digunakan di asing-masing sektor. Bila tidak cukup, pilihan lain yang sangat buruk adalah menggunakan dana hutang. Para pemberi hutang nampaknya juga sudah bersiap-siap menyediakan ongkos. Bahkan sudah ngiming-imingi.

Sampai saat ini tentu kita masih berpendapat bahwa G. Merapi adalah berkah bagi kita semua. G. Merapi adalah tandon air dan “pabrik” pasir dan batu yang sangat berharga. Kita ketahui bersama material pasir dan batu hasil erupsi G. Merapi 2010 bukanlah barang tidak berharga. Bisnis pasir dan batu adalah bisnis sederhana dan mudah yang hasilnya luar biasa. Bisnis ini yang telah menjadikan para pelaku bisnis pasir yang mendapatkan hak kelola menjadi kaya raya. Dengan logika yang sama, bila hak kelola pasir ini sepenuhnya diberikan kepada masyarakat dan pelaku dan pemegang mandat rehabilitasi, maka bukan tidak mungkin kebutuhan ongkos rehabilitasi dapat dipenuhi tanpa harus hutang. Selanjutnya, jika hak kelola tersebut juga diberikan sepenuhnya ke masyarakat di kawasan rawan bencana, bukan tidak mungkin jumlah yang diterima dari mengelola pasir dan batu dapat digunakan sebagai pengganti jaminan hidup.

Berapa sih jumlah uang pasir itu dan batu? Dari informasi yang telah banyak dilansir, G. Merapi telah mendistribusikan 140 juta m3 batu dan pasir. Hitungan sederhana, bila 40 juta m3 dari volume tersebut dapat dikelola dengan baik untuk kepentingan rehabilitasi, maka akan terkumpul uang 100 milyar dari uang restribusi, dan 300 milyar dari keuntungan pengelolaan pasir batu. Kita ketahui bahwa setiap truk tanggung berisi 4 m3 lasir / batu, dengan besar restribusi rata-rata 10.000 rupiah / truk, dan rata-rata terendah ongkos isi pasir 100.000 rupiah / truk. Nilai ini akan lebih besar lagi untuk pengisian batu pecah yang mencapai 600.000 rupiah / truk. Agar kemandirian dan keswadayaan rehabilitasi ini dapat dilakukan, maka kita perlu melakukan reformasi kebijakan hak atas pasir. Tentunya keputusan ini akan mendapatkan penolakan dari pelaku bisnis pasir dan pejabat pengelola ristribusi yang selama ini telah diuntungkan. Dan, pilihan keputusan ada pada kita. Seharusnya, pasir memang untuk kesejahteaan rakyat.

(Dimuat di Suara merdeka, 27 Desember 2010)

Posted by Paripurno in 00:32:18 | Permalink | Comments Off

Monday, November 10, 2008

Interpretasi Bencana oleh Ken Hewitt (I)

INTERPRETASI BENCANA DARI PERSPEKTIF EKOLOGI MANUSIA (I)
(Interpretation of Calamities from the Viewpoints of Human Ecology)

Ken Hewitt, 1983

Pengantar oleh Ian Burton

Sejarah pertamakali hazard dipelajari atau menjadi subyek ilmiah:

- Di negara barat, masyarakat yang pada awalnya sangat percaya dengan institusi bernama industri, mulai khawatir dengan bencana, sehingga manajemen dan kebijakan industri merasa harus memperhatikan faktor bencana. Karena itulah, mulai di adakan penelitian tentang bencana, yang dipelajari sebagai suatu rangkaian dari fenomena yang saling berkaitan.

- Konsep ini mengganggu konsep awal tentang bencana, yang melihat bencana sebagai dua bagian, yaitu bencana alam dan bencana akibat ulah manusia. Tetapi kemudian (mengapa konsep awal tidak lagi diterima), manusia menjadi tidak terima jika hazard di anggap sebagai hal yang tidak bisa dihindari. Mereka mencari penjelasan atas setiap kejadian yang terjadi, dan bahkan selalu ada kecenderungan untuk mencari hal-hal atau orang-orang tertentu untuk disalahkan. Pertanyaan-pertanyaan bermunculan, dan untuk itu dibutuhkan penyelidikan-penyelidikan inteletual, sehingga dimulailah riset-riset tentang bencana dan juga bersamaan dengan itu, muncul pula tuntutan untuk membuat kebijakan-kebijakan baru yang lebih efektif.

-

Pada awalnya, sebelum tahun 1960-an, bencana alam di teliti sebab-akibatnya oleh bidang ilmu tertentu yang terisolasi dari ilmu lainnya. Dapat dikatakan sangat individualis alias kacamata kuda, tidak melihat ilmu lainnya, dan juga bidang ilmu yang mempelajari hazard ini kerap kali tidak bisa di akses publik. Jadi orang ilmiah hanya sibuk dengan dunianya sendiri, tanpa ada akses publik ke ilmu yang mereka pelajari.

- Mulai tahun 1960-an, pendekatan terhadap bencana mulai antar-bidang (interdisciplinary), hal ini dipengaruhi oleh ahli geografi, yang melakukan riset bahaya-bahaya alamiah (natural hazard research dan juga dipengaruhi oleh ahli sosial yang meneliti bencana (disaster research) Penelitian-penelitian mereka mengungkapkan bahwa bencana tidak bisa lagi dianggap turun dari langit “act of god” tetapi terungkap bahwa kebanyakan bencana terjadi karena kesalahan pemakaian teknologi. Kemudian disadari bahwa tidak hanya faktor kesalahan manusia saja yang mempengaruhi tetapi juga kondisi alamnya. Karena itu untuk memahami secara utuh permasalahan bahaya lingkungan (environmental hazard) kita harus tahu bagaimana hubungan antara manusia dengan alam, dan bagaimana sebenarnya sifat (nature) dari manusia itu sendiri (melihat manusia dalam individu dan kelompok, populasi manusia dan dinamikanya, kemudian hubungannya dengan alam),

- permasalahan sosial dan ilmiah yang berasosiasi dengan ancaman lingkungan saat ini harus ditangani secara antar-bidang dari berbagai level manajemen.

- Masih sangat diperlukan arahan kepada riset-riset baru juga kebijakan baru yang baik terkait bencana. Buku ini diharapkan akan membawa ke arah sana.

- Interaksi antara teori bencana, penelitian bencana dan prakteknya di lapangan sekarang menjadi bidang studi atau subjek pembelajaran di tingkat perguruan tinggi baik di ilmu alam maupun ilmu sosial, dan dipelajari secara interdisciplin.

Pendahuluan

- Buku ini memandang: resiko dari bencana alam yang spontan seperti banjir, badai, kekeringan, dan dingin yang berkepanjangan. Yang terjadi pada berbagai setting lingkungan dan sosial budaya, dengan skala geografi yang beragam, dari yang lokal sampai global. Dari isu-isu yang ada didapatkan kemudian kritikal untuk mengembangkan pemahaman tentang bencana alam dan pengaplikasian dari riset-riset tentangnya. Karena itulah material yang dipilih untuk menyusun buku ini tergantung dari bagaimana penelitian di kembangkan dan diupayakan yang lebih tepat dengan peristiwa bencananya. (Jadi pendekatan riset yang baik adalah spesifik terhadap jenis bahayanya)

- Terbukti bahwa bencana akan menjadi masalah yang akan terus ada bagi manusia. Laporan-laporan tentang kerusakan akibat kejadian geofisik ekstrim terus-menerus ada dan semakin bertambah. Bentuk kerusakan dan implikasinya bagi manusia bervariasi sangat besar. Tetapi ada yang melihat satu pola umum dari variasi ini.

- Banyak penulis menyadari bahwa intensitas kerusakan dan kejadian bencana meningkat secara substansial dalam beberapa dekade terakhir ini. Kenaikan terjadi meskipun komitmen untuk memahami kondisi alam dan memanipulasinya meningkat. Menurut penulis-penulis itu, upaya pemahaman itu terbatas hanya untuk memahami bencana alam saja, dan mereka tidak puas dengan itu. Mereka juga percaya bahwa efektifitas dari aplikasi yang diterapkan tidak lagi sejalan dengan cepatnya transformasi lingkungan dan manusia di semua tempat. Hasil penelitian mereka sangat bervariasi namun akhirnya, hasil penyelidikan mereka sama-sama menyimpulkan bahwa tanpa perubahan perspektif dan penerapannya (practice) yang mendasar, dampak bencana akan semakin buruk meskipun dana dan banyak keahlian sudah dikerahkan.

- Konteks dari penelitian-penelitian di buku ini adalah di komunitas pedesaan dan pertanian. Secara kerangka permasalahan, difokuskan pada pentingnya lintas-budaya dan perbandingan dari contoh-contoh yang didiskusikan dan posisinya di dalam sistem internasional. Untuk menjawab hal itu, kita mencari terlebih dahulu peranan kondisi sosial-budaya dalam membentuk jenis ancaman akibat proses alam dan tingkat kerusakannya.

- Untuk itu diperlukan pendekatan secara geografi dan antropologi. Secara geografi sangat didukung oleh penelitian geograper tentang bencana alam seperti White 1974, Burton and Hewitt 1974, Burton et all 1978. riset antropologi dan geografi selama ini lazim di daerah pedesaan karena secara stereotype menganggap “society on land.” Alasan penting lainnya kenapa studi jenis ini di pedesaan adalah karena di masyarakat pedesaan ditemukan masalah-masalah yang lebih sulit dalam menginterpretasi bencana. Karena itulah kemudian riset tentang bencana berkembang dengan melibatkan pertanyaan-pertanyaan mendasar psikososial, seperti persepsi lingkungan, pilihan untuk menyesuaikan diri dan isu kebijakan publik. Kebanyakan rata-rata setuju dengan upaya memasukkan sosial-budaya atau ekologi manusia ke dalam riset bencana.

- Buku ini terbagi ke dalam tiga bagian. Bagian pertama, interpretasi dari bencana-bencana yang utama dan besar. Bagian kedua, studi-studi kasus dari bentuk-bentuk resiko tertentu, seperti bencana iklim pada komunitas petani, pembangunan di bidang pertanian dan ketahanan pangan.

- Kesimpulan dari semua bab adalah bahwa fokus yang sempit terhadap bencana sebagai kejadian tidak menentu dari kondisi alamiah yang ekstrim, pendekatan yang sempit terhadap kerugian, krisis, pemulihan, dan rehabilitasi akibat bencana, akan membuat kita salah menempatkan manusia di dalam konteksnya terhadap alam. Kita begitu mudah untuk mengabaikan kisaran dari bukti-bukti nyata bahwa kita saling terkait sebagai habitat. Seringkali kita melihatnya sebagai kondisi yang diharapkan bisa kembali normal. Kita tidak melihatnya sebagai sumber dari kerentanan (vulnerability). Kita juga cenderung mengabaikan kendala-kendala penting dari response sosial yang efektif untuk mengambil resiko dari alam, yang sangat tergantung pada tatanan sosio-ekonomi yang normal. Salah satu cara yang paling jelas untuk menghindari hal ini adalah dengan menjadikan masyarakat dan semua hal yang sedang berjalan di dalam keseharian mereka sebagai fokus, dan bertanya di mana peristiwa alam yang merusak cocok terhadapnya.

Ini adalah terjemahan bebas yang dilakukan oleh Ida Ansharyani (Ph.D Student Universite Paris 1 Pantheon-Sorbonne, France) sebagai bahan belajar untuk disertasi CBDRR Gunung Kelud. Untuk mengurangi kesalahan pemahaman, silakan mengontak idaansharyani@gmail.com untuk mendapatkan versi asli dari buku ini. Diterjemahkan (dibaca) di Paris 27-30 Oktober 2008.

Posted by ET in 20:01:27 | Permalink | Comments (2)

Interpretasi Bencana oleh Ken Hewitt (II)

INTERPRETASI BENCANA DARI PERSPEKTIF EKOLOGI MANUSIA (II)
(Interpretation of Calamities from the Viewpoints of Human Ecology)

Ken Hewitt, 1983

Ide tentang bencana di era teknokrat (The Idea of calamity in the technocrate age)

- Hewit menganggap bahwa meskipun bencana sudah menjadi bagian dari hidup umat manusia, tetapi pemikiran ke arah situ masih baru. Sehingga perlu untuk sejenak melepaskan diri dari konsep yang lama yang terpisah-pisah, untuk menemukan pendekatan yang baru. Komunitas ilmiah harus mulai secara konsisten bergerak di bidang ini dan secara serius berpikir logis, daripada menjadikan masalah ini hanya sebagi mode.(Note ida: Hanya sekedar euforia karena semua orang tiba-tiba bicara bencana). Peneliti harus mencari data-data empiris sebanyak mungkin, selengkap mungkin untuk kemudian dipadukan dengan konsep-konsep yang umum.

- Hewit juga merasa ada kecenderungan bahwa data-data yang dihasilkan oleh penelitian-penelitian di bidang bencana masih diambil berdasarkan kerangka kebutuhan agar bisa pas dengan konsep yang sudah ada. Ini menghambat pemahaman yang lebih baik tentang bencana dan bagaimana kita akan mengatasinya. Hewit merasa, bahwa untuk penelitian hazard, kita harus terbuka pada semua data yang ada dan berpikir bahwa mungkin saja kita bisa menemukan konsep yang lebih baik tentang hazard. Bahkan penelitian tentang bencana selalu mungkin untuk mematahkan konsep yang lebih dulu ada.

- Dalam penelitian tentang hazard, kita harus punya pikiran awal, sejauh mana pandangan yang mendominasi (dominant view) mempengaruhi pikiran dan penelitian kita. Dominant view, bisa dari orang-orang yang terkait dengan penelitian kita (pembimbing atau tuntutan project juga kali yee…), literatur yang kita baca, istilah-istilah yang sudah sering digunakan, cara pandang perusahaan terhadap hazard, dll. Bahkan untuk membuat inovasi baru pun, banyak penelitian-penelitian ternama dari ahli geografi dan ahli sosial yang masih sangat tergantung pada dominant view.

- Dominant view ini kadang dipakai karena orang-orang sudah sering memakainya berkali-kali dan karena view ini di dukung oleh ahli-ahli ternama, melebihi dari kerangka logis dari view itu sendiri. Istilahnya : konstruksi sosial ilmu pengetahuan (social contruction of knowledge), paradigma, dan konsensus akademik (academic concensus).(catatan ida: Jadi semacam priyayi di dalam lingkungan ilmiah yang diikuti kata-katanya. Orang-orang hanya ikut-ikut aja tanpa lagi berpikir kritis, karena percaya-percaya saja, soalnya yang ngomong ahlinya, dan sudah terkenal. Pak Hewitt maunya kita agak memberontak sedikit, alias harus selalu berpikir anti kemapanan terhadap konsep riset bencana yang sudah ada).

- Hewitt sendiri merasa kesulitan untuk mencapai sesuatu yang baru karena pengaruh dominant view yang semakin resisten. Tetapi dia kemudian selalu berpikir dari detil empiris dan metodologi, dan selalu mempertanyakan pada dirinya sendiri, apa yang membuatnya berpikir demikian secara psikososial, mempertanyakan juga asumsi dan aplikasinya.

- Hewitt akan me-review penelitian bencana sebelumnya dari segi cara berargumentasi, penggunaan informasi dan asumsi manajerial yang selama ini tidak hanya memisahkan penelitian bencana dari penelitian-penelitian lainnya, tetapi juga menutup pintu untuk berbagai kemungkinan viewpoints dan perhatian tentang bencana.

Ini adalah terjemahan bebas yang dilakukan oleh Ida Ansharyani (Ph.D Student Universite Paris 1 Pantheon-Sorbonne, France) sebagai bahan belajar untuk disertasi CBDRR Gunung Kelud. Untuk mengurangi kesalahan pemahaman, silakan mengontak idaansharyani@gmail.com untuk mendapatkan versi asli dari buku ini. Diterjemahkan (dibaca) di Paris 27-30 Oktober 2008.

Posted by ET in 19:58:31 | Permalink | Comments (3)

Interpretasi Bencana oleh Ken Hewitt (III)

INTERPRETASI BENCANA DARI PERSPEKTIF EKOLOGI MANUSIA (III)
(Interpretation of Calamities from the Viewpoints of Human Ecology)

Ken Hewitt, 1983

Garis Besar Dominan View (The dominant view in outlines)

- Natural hazard di anggap sebagai akibat ekstrim dari proses geofisik. Jadi, tingkat kerusakan dan kejadian bencana berpusat pada sifat alami (nature) dari bencana, misalnya badai, dll. (note ida: Dapat dikatakan memberi porsi yang sangat besar pada proses alamiah dari bencana). Dan tingkat kerusakannya serta aksi manusia yang menyertainya hanya di anggap sebagai respon terhadap komponen-komponen bencana seperti magnitude, kecepatan, frekuensi, dan aspek lain dari bencana alam. (note ida: Jadi cara pandang mereka adalah: jika ada gempa skala X, kerusakan apa yang akan terjadi. Manusia dianggap sebagai salah satu komponen diam terhadap aspek bencana, hanya untuk mengetahui apa yang terjadi pada bencana dengan karakteristik tertentu).

- Risk assessment berpikir sebagai causality dari kegiatan alam dan bagaimana dampaknya pada sosial. Jadi masih berfokus pada geofisik, sehingga penelitian terkait itu dan juga saran-saran ilmiah sangat banyak di lakukan untuk monitoring geofisik, perhitungan teknis langsung (direct engineering) atau rencana tata ruang dalam hubungannya dengan naturals agents.

- Peneliti-peneliti masih tidak mau mengakui bahwa faktor sosial-ekonomi atau kondisi habitat berpengaruh lebih besar terhadap resiko daripada kondisi alam yang ektrim. Sebenarnya konsep ini sudah mulai terlihat ketika ahli geofisik berdiskusi tentang gempa 1976, dan menemukan bahwa meskipun kekuatan gempanya tidak terlalu besar, korbannya lebih besar daripada gempa yang lebih besar, karena gempa terjadi “by chance” di daerah yang padat penduduknya. Jadi sudah terlihat bahwa bencana adalah terkait dengan peluang suatu fenomena alam dalam kaitannya dengan kondisi manusia.

- Geografi of risk lebih pada distribusi dan intensitas dari bencana secara geografis, tanpa memasukkan unsur manusianya, tidak peduli apakah distribusi bencana itu ada pada daerah padat penduduk atau tidak.

- Jadi dalam dominant view, bencana dilihat dari kacamata yang difokuskan pada alam. Ada kepercayaan yang kuat bahwa masyarakat dapat melakukan sesuatu terhadap bencana, tetapi lagi-lagi, kepercayaan ini kemudian menyimpulkan bahwa sesuatu yang dapat dilakukan masyarakat itu adalah persoalan kebijakan publik yang lagi-lagi harus didukung dengan penemuan geofisik, geotek, dan kapasitas manajerial yang paling baru. Jadi dominant view memandang masyarakat biasa hanya bisa berbuat sedikit terkait bencana. Permasalahan bencana dianggap semata-mata sebagai rasio seberapa besar tekanan alam dan bagaimana respon atau counterforce institusi dan teknologi yang paling mutakhir. (note ida: Memposisikan penemuan ilmiah teknis terkait bencana sebagai superhero, dan kita bergantung pada superman yang bernama dominant view untuk menyelamatkan bumi dari bencana).

- Dapat disimpulkan tiga area yang dikuasai oleh dominant view:

- Komitment untuk mendukung monitoring ilmiah, dan pemahaman proses geofisik, sebagai dasar untuk menghadapi dampaknya terhadap manusia. Tujuan utama terkait dengan bencana adalah prediksi.

- Kemudian dilakukan perencanaan-perencanaan dan kegiatan manajerial untuk menjalankan komitmen di atas. Seperti untuk membuat alat pengontrol longsor, banjir, membuat kode-kode, dan peta resiko, dll. Juga dibuat perencanaan-perencanaan fisik. (note ida: dan sebisa mungkin masyarakat harus menyesuaikan diri dengan hasil penelitian itu. Misalnya jika dari hasil penelitian suatu tempat berbahaya, satu-satunya cara, masyarakat harus pindah).

- Tindakan darurat (emergency measure) termasuk di dalamnya perencanaan bencana (disasters plans), organisasi untuk mengurangi penderitaan (relief) dan rehabilitasi. Semua ini di tentukan (set up) oleh penelitian-penelitian dan perencanaan geofisik. Pada tingkat aksi, penelitian menjadi di bawah aksi, karena yang melakukan aksi lapangan adalah militer, atau organisasi berbau militer lainnya. Dan karena kebanyakan tempat di muka bumi ini tidak memiliki akses terhadap penemuan terbaru geofisik dan manajemen teknologi, maka masyarakat akan berhadapan dengan dominant view melalui tahap emergency ini.

- Di bidang riset, sangat dominan penelitian di bidang ilmu alam dan keteknikan (engineering). Meskipun demikian, menurut Hewitt, ilmu sosial memegang peranan penting terutama dalam mempelajari perilaku saat krisis “crisis behaviour” dan tindakan emergency; atau dalam mempelajari secara terfokus satu kelompok tertentu berdasarkan pengalaman, harapan, dan jenis bencana alam yang ada di wilayah mereka.

- Sebenarnya sudah dari dulu ada beberapa analis sosial yang tidak setuju dengan dominant view. Untuk ke depannya, ilmuwan sosial harus mulai meningkatkan konsentrasinya pada hubungan langsung sosial-ekonomi dan tingkah laku (behaviour) pada ketiga wilayah dominant view tadi. Mereka menanyakan bagaimana masyarakat memandang resiko pada wilayah-wilayah yang diklasifikasikan ke dalam zona-zona bencana tertentu. Apakah mapping sosial (perception towards risk) bisa dilakukan seperti mapping geofisik, dan bagaimana hasilnya, apakah mapping persepsi sama dengan mapping fisik? Jika tidak apa faktor yang mempengaruhinya? Hasilnya dapat dibandingkan dengan pengetahuan geofisik tentang bencana tertentu (pekerjaan geofisik). Mereka bertanya tentang bagaimana masyarakat bereaksi perkiraan bencana, permintaan untuk mengkonservasi air dan peraturan zonasi bahaya. Mereka meneliti bagaimana masyarakat dan institusi mengatasi/pulih (cope) ketika gunung api meletus atau ketika gagal panen.

- Terkadang ide-ide ini sangat beralasan, tetapi terlihat tidak penting jika disandingkan dengan pengetahuan terbaru geofisik, dll. Tetapi jika tidak dilakukan, maka ilmu tentang bencana akan sangat sempit terfokus pada peristiwa alam, tetapi melupakan pengaruh sosial pada bencana. Hewitt yakin, upaya penelitian sosial tentang bencana akan mengurangi dominasi dari dominant view juga pada geofisik.

- Penelitian butuh dana (funding), karena itu penting juga ide penelitian sosial tentang hazard mulai didengung-dengungkan ke lembaga-lembaga funding juga ke universitas.

- Selama ini funding sangat mendukung penelitian tentang ilmu alam atau riset yang mendukung dominant view. (note ida: Semacam subjectivitas dari lembaga funding dalam mendukung jenis research).

- Dominant view menggunakan pendekatan technokratis, yang pemahaman dan kegiatannya menggunakan prosedur teknis. Hal ini hanya mendukung prestige birokrasi, karena akan terkenal namanya karena menjadi sangat ahli di suatu bidang. Misalnya akan terkenal karena menemukan ini atau itu yang sangat jelas penemuannya. Sedangkan ilmu sosial, pendekatan yang murni teknologi akan membuat kita tidak bisa menangkap fenomena secara utuh. Faktor sosial-ekonomi, politik, dapat juga didekati secara teknokratik, dan menurut argumentasi Pak Hewitt, “ilmu alam yang pendekatannya “technological-fix” terhadap bencana, secara esensial merupakan konstruksi sosial budaya yang merefleksikan pandangan yang berbeda “distinct“, mewakili institusi “institution centered”, dan etnosentris, tentang manusia dan alam. (note ida: So, yang dianggap teknologi fix juga tidak bebas nilai, ketika di anggap teknologi atau tidak itu kan dari nilai yang di anut juga”).

- Ken hewitt tidak ingin ilmu sosial hanya terbatas pada persepsi individu terkait dengan pengalamannya dan kepribadiannya. Tetapi bahwa “cara berpikir (thought) mempengaruhi reality”. Dan realitas tidak bisa dipandang sebagai data-data empiris universal juga asimilasinya dengan psikologi dalam membentuk persepsi dan kognisi manusia. Ide Hewitt adalah, semua data empiris tidak bisa dipandang universal. Tetapi Hewitt mau lebih memperhatikan kondisi yang membentuk proses ini, kondisi yang mempengaruhi data apa yang ingin kita cari dan terlihat penting, dan cara-cara yang dapat diterima untuk menginterpretasi fakta-fakta tersebut. Dan hal-hal tersebut sangat terkait dengan tatanan sosial.

- Hewitt memandang pola konstruksi sosial dari dominant view bersifat weberian. Dia melihat cara kerja institusi dalam menyalurkan dana dan sumberdaya manusianya, ke dalam beberapa pola kerja dan aplikasi, yaitu cenderung sentralistis, ofisial, dan birokratis. Dominant view dalam penelitian-penelitian bencana lebih mewakili “etos birokratis,” yang menyalurkan peneliti-peneliti untuk melakukan pendekatan yang berbeda terhadap fakta-fakta, dan memandang secara lain nature dari teori dan aplikasinya. Mereka memandang terpisah teori dan fakta serta aplikasinya. Penelitian-penelitian dilakukan lebih agar mewakili pihak atau organisasi yang mensponsori penelitian atau image yang dimiliki oleh peneliti tentang apa yang seharusnya dan dapat dilakukan oleh organisasi. (note ida: Research hazard dipandang hewitt tidak bebas nilai atau sudah cenderung sangat subjectif). Riset dan ilmu-nya sendiri meskipun sangat praktis dalam aplikasinya, biasanya tidak mendapat tempat, karena pertimbangan untuk meloloskan suatu riset sudah tidak lagi memperhatikan unsur itu. Riset lebih ditentukan oleh pengambil kebijakan yang tidak lagi memperhatikan nilai riset. Jadi dominant view sudah sangat terstruktur, dan sangat mapan dalam kerangka institusi.

- Untuk memperbaiki hal itu, Hewitt menyarankan untuk memikirkan, pertama, bahwa bencana alam merupakan permasalahan spesial bagi teknokrasi (anak emas para teknokrat). Kedua, bahwa kebanyakan peneliti berpaham teknokrat tersebut terlihat tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya tidak memperbaiki apa pun kecuali hanya ingin mencapai tujuan ilmiah, dan strategi riset. Yang ketiga, kita semua mengalami jalan buntu dengan bentuk-bentuk stategi teknoratik yang kaku, terutama dari sudut pandang sosial budaya dan geografi. Keempat, hewitt menyarankan agar di tingkat sistem internasional, dimana strategi itu di operasikan, dan debat-debat intelektual dan sosial berkembang sangat pesat, agar berani menantang kepada diri mereka sendiri seberapa efektif dan seberapa benar dominant view.

- Karena itu dapat di simpulkan bahwa kita membutuhkan pendekatan-pendekatan lain terhadap kebencanaan.

Ini adalah terjemahan bebas yang dilakukan oleh Ida Ansharyani (Ph.D Student Universite Paris 1 Pantheon-Sorbonne, France) sebagai bahan belajar untuk disertasi CBDRR Gunung Kelud. Untuk mengurangi kesalahan pemahaman, silakan mengontak idaansharyani@gmail.com untuk mendapatkan versi asli dari buku ini. Diterjemahkan (dibaca) di Paris 27-30 Oktober 2008.

Posted by ET in 19:56:56 | Permalink | Comments (1) »

Interpretasi Bencana oleh Ken Hewitt (IV)

INTERPRETASI BENCANA DARI PERSPEKTIF EKOLOGI MANUSIA (IV)(Interpretation of Calamities from the Viewpoints of Human Ecology)

Ken Hewitt, 1983

An enclosure system

- Analogi kebencanaan mirip dengan analogi kegilaan focault yang kemudian di beri tempat untuk di perhatikan dan di temukan oleh “age of reason“. Kegilaan (madness) dan kebencanaan (calamity) sangat mengganggu. Keduanya membuat kita bertanya tentang apa sih sebenarnya keteraturan atau order. Madness bisa dilihat sebagai hukuman dari disorder, dan bencana dapat dipandang sebagai ketidakbergunaan ilmu pengetahuan. Keduanya terjadi seperti tidak bisa dikontrol oleh masyarakat. Ada juga yang berpandangan bahwa kedua hal itu merupakan penilaian terhadap tingkah laku atau aktifitas manusia, seperti yang didengung-dengungkan pergerakan ekologis dalam menghadapi problem lingkungan.

- Pada kedua kasus, counteract di anggap perlu dengan melakukan langkah-langkah positif, dan memikirkan potensi untuk menghadapinya. Pada titik inilah pembagian hazard dengan pendekatan teknokratik ada untungnya. Sangat baik memperlakukan kebencanaan sebagai problem spesial riset di wilayah tertentu. Permasalahan dapat dimanajemen dengan membuat interpretasi yang terarah dan sempit, serta data-data yang meyakinkan. Hewitt merasa bahwa kebencanaan harus di tangani secara utuh, tidak parsial. Harus melingkupi filosofi, prosedur praktis, dan juga harus memikirkan permasalahan secara pragmatis, hati-hati dalam mengupasnya.

- Istilah yang dipakai dalam penelitian-penelitian bencana sebenarnya sudah menunjukkan asumsi dasar tentangnya. Istilah-nya selalu memakai kata “tidak” (un-ness), yang menunjukkan ketidakteraturan dan ketidakterhubungannya dengan manusia. Kejadian alam dipandang terpisah dari manusia. Istilah yang dipake unmanaged, unexpected, uncertain, unprecedented, unawareness, unreadiness, unscheduled events.

- Yang berkembang adalah bencana tidak dianggap sebagai bagian integral dari kehidupan manusia dan alam, atau dianggap tergantung satu sama lain. Pernah ditemukan pendahuluan dan kesimpulan yang menempatkan bencana sebagai latar belakang dari ekologi manusia dan kumpulan permasalahannya yang berbeda-beda. Tetapi bencana dan ekologi manusia dijelaskan sebagai permasalahan yang berbeda.

- Hazard atau tidaknya ditentukan oleh orang-orang geofisik dengan melihat suatu ukuran tertentu dari proses alam. Misalnya debit sungai, skala seismik, kecepatan angin, dll. Kerentanan manusia sangat terikat erat dengan kenyataan geofisik ini. (Note ida: Pertanyaan tentang konsep hazard, bagaimana sebenarnya menentukannya?)

- konsep tentang stabil tidak stabil juga dipertanyakan. Menurut Scheidegger, Jika status quo tetap dapat dipertahankan, maka itu bukan bencana. Karena itulah konsep bencana terkait erat dengan istilah “kondisi yang stabil.” meskipun scheidegger mengacu kepada kestabilan geofisik, nilai rasa (sense) bahwa rusaknya rangkaian kestabilan pada habitat ditemukan juga pada interpretasi sosial terhadap resiko ini. Bencana dianggap sebagai fenomena alam yang menyebabkan ketidakstabilan atau merusak kehidupan normal dan hubungan habitat. Riset sosial tentang bencana mengambil analogi yang sama dengan sistem mekanis. Riset sosial tentang bencana memandang bencana sebagai kegagalan pada sistem sosial, sedangkan sistem mekanis memandang bencana sebagai tekanan yang melebihi kekuatan material atau struktur tertentu.

- Jadi untuk tahu bencana, kita harus tahu dulu sistem sosialnya. Apa yang dimaksud dengan stabil, dan aktifitas yang berada dalam keteraturan, juga apa itu tidak teratur, tidak terduga, dan tidak direncanakan. (note ida: penting untuk mengetahui persepsi masyarakat tentang hal ini, karena yang real berhadapan dengan bencana adalah mereka, meskipun scientist memiliki defenisinya sendiri).

- Lebih jauh, kerusakan, impairement, dan apa yang harus dipulihkan oleh bantuan luar cenderung membentuk keseluruhan perhatian setiap individu terhadap bencana. Dan gambaran ini umumnya hanya terjadi pada aspek-aspek bencana yang sangat merusak dampaknya. Pola survival dan bukti-bukti kestabilan struktur – yang dapat dilihat di hampir semua tempat bencana yang melingkupi fraksi besar manusia dan properti yang terkena dampak bencana – mendapat perhatian yang sangat kecil.

Ini adalah terjemahan bebas yang dilakukan oleh Ida Ansharyani (Ph.D Student Universite Paris 1 Pantheon-Sorbonne, France) sebagai bahan belajar untuk disertasi CBDRR Gunung Kelud. Untuk mengurangi kesalahan pemahaman, silakan mengontak idaansharyani@gmail.com untuk mendapatkan versi asli dari buku ini. Diterjemahkan (dibaca) di Paris 27-30 Oktober 2008.

Posted by ET in 19:55:13 | Permalink | Comments (2)

Interpretasi Bencana oleh Ken Hewitt (V)

INTERPRETASI BENCANA DARI PERSPEKTIF EKOLOGI MANUSIA (V)
(Interpretation of Calamities from the Viewpoints of Human Ecology)

Ken Hewitt, 1983

Kepulauan Bencana (The disaster archipelago)

- Secara penerapan, bencana diperlakukan terpisah dari hubungan manusia dan lingkungannya. Upaya dilakukan hanya untuk memanajemen resiko, tanpa memperhatikan upaya untuk menyesuaikan diri dengan itu (alternative adjustement). Upaya hanya dilakukan pada saat ada bencana atau setelah bencana. Respon yang dominan terhadap bencana adalah mengirimkan militer pejabat pemerintah untuk menutup daerah itu dan menetapkannya menjadi zona terlarang untuk melanjutkan hidup masyarakat yang semula sudah hidup di situ bertahun-tahun. Banyak contoh upaya-upaya keras pemerintah untuk memindahkan masyarakat dari zona bahaya atau untuk memasuki zona bahaya. Tercatat juga betapa banyak kejadian tentang susahnya untuk merelokasi manusia dari tempat tinggalnya jika itu berlawanan dengan kehendak mereka. Dan perkembangan di era industri, strategi pertahanan sipil untuk evakuasi yang sangat besar, adalah dengan menetapkan bahwa daerah bencana adalah daerah yang tidak boleh ada penghuninya, atau no-man’s land. Hal-hal tersebut di atas mungkin baik untuk kasus-kasus tertentu dan tergantung pada tipe masyarakatnya, tetapi hal ini tidak bisa di sama ratakan karena bencana dan komunitas itu sangat beragam. (note ida: Intinya Hewitt ingin mengatakan ide bahwa bencana harus dipandang sebagai bagian dari masyarakat dan tidak bisa top down penerapannya, tetapi harus hati-hati dengan memperhatikan dinamika sosial masyarakatnya. Juga bahwa konsep tentang bencana jangan dijadikan bagian yang terpisah dari masyarakat, dan jangan dibuat memiliki image yang buruk).

- Dengan mengisolasi bencana secara pemikiran, akan membuat penerapannya pun terisolasi. Kita kemudian akan berpikir bahwa bencana adalah sebuah gugusan kepulauan yang tidak beruntung yang ada dipeta tanpa kemudian hanya sebatas itu saja. Kita menganggapnya hanya sebatas kenyataan adanya suatu kondisi ekstrim yang random dan memetakannya. Lalu dengan sendirinya akan terisolasi pada pikiran kita.

- Hewitt merasa bahwa isolasi ini berimplikasi juga pada cara berpikir para teknokrat dalam memandang bencana. Artinya mereka berada di luar dari konteks bencana dan melihatnya seperti sesuatu yang terpisah.

- Banyak bidang ilmu yang kemudian ingin meneliti bencana, dan ingin mengambil bagian di dalam penelitian bencana dan membagi bencana ke dalam beberapa bagian yang di klaim sesuai dengan ilmu mereka. Tetapi upaya-upaya ini jarang sekali dilakukan dengan pikiran yang terbuka, filosofis, dan penuh rasa ingin tahu. Mereka hanya ingin memperjelas teritori mereka dalam penelitian bencana dan memperjelas aturan-aturan untuk membuat zona-zona bidang mereka di penelitian bencana. Mereka juga lebih fokus untuk memperjelas posisi bidang keilmuan mereka masing-masing. Penelitian mereka kadang tidak merefleksikan kondisi sebenarnya di lapangan tetapi hanya memperjelas posisi bidang mereka di antara bidang lainnya. (note ida: Hewitt beranggapan riset bencana dilakukan hanya mengikuti trend, dan secara akar riset dilupakan intinya untuk apa).

- Para ahli di bidang-bidang ilmu membuat diagram yang diharapkan mewakili broad spektrum bencana dan realitas bencana, tetapi akhirnya diagram itu menjadi diagram alir “organisasi” dari birokrasi yang besar. Diagram itu tidak berhubungan dengan kondisi sebenarnya, tidak juga melibatkan interaksi dan pengalaman manusia. Hewitt merasa semua itu dibuat hanya untuk mengejar reputasi. Peneliti-peneliti itu mencari-cari permasalahan riset dan mendemonstrasikannya dengan mencari tempatnya yang cocok dengan dominant view. Dan hal ini dianggap kegiatan yang bersifat intelektual (founding problems). Penelitian bencana tidak pernah dilihat secara utuh, dan umumnya dipandang sebagai “aplikasi” untuk melihat kebijakan publik atau performa agensi tertentu. Karena itu ahli-ahlinya beragam, dari ahli seismik, psikologi kognitif, atau teknik seperti remote sensing atau statistik. Riset benar-benar merupakan studi empiris yang pertanyaannya ditentukan oleh penanggung jawab agensi atau kritik yang akan berguna bagi manajemen di dalam kerangka institusi. (note ida: Jadi pertanyaan riset adalah pertanyaan yang tidak obyektif untuk perkembangan riset bencana itu sendiri.

- Begitu hazard box sudah ditetapkan, maka orang-orang menganggap sudah bicara utuh soal hazard. Padahal itu hanya sebuah monolog, artinya banyak hal yang terlupa sehingga penelitian bencana menjadi kering.

- Seperti analogi monolog foucault, bahwa psikiater hanya terobsesi pada orang gila tanpa berpikir tentang kegilaannya sendiri dengan obsesinya itu. Dalam penelitian hazard juga begitu, para ahli hanya berpikir untuk membuat permasalahan penelitian yang sesuai dengan yang dia inginkan. Penelitian-penelitian itu tidak merefleksikan sampai kepada apa yang dilakukan oleh institusi di lapangan, tidak merefleksikan juga masyarakat seperti apa yang membuat otoritas teknokratik menjadi mungkin dilakukan. Hal ini bisa jadi suatu masalah. Penelitian-penelitian hanya ingin terlihat menarik (sophisticated) secara ilmiah, dan mengikuti trend. Mereka memang mengumpulkan data tentang masyarakat yang beresiko terkena bencana, tetapi mereka tidak melakukan dialog dengan masyarakat. Kebanyakan laporan bencana dari negara ketiga ditulis atau dibuat oleh orang-orang yang bahkan tidak bisa berbicara bahasa lokal di mana bencana terjadi atau tidak memahami komposisi sosial-budaya masyarakat.(!!!)

- Hewitt merasa dominant view memenuhi cara pandang materialistik, bahwa orang-orang lebih percaya pada sesuatu yang terlihat real hasilnya, seperti laporan, alat, penemuan, dll, yang bisa dipakai untuk menjadi bukti dan keperluan meyakinkan orang lain. Kedalamannya hanya sekedar lip service, tanpa memecahkan persoalan real bencana. Hewitt merasa bahwa kita harus menemukan cara untuk menghindari cara berpikir teknokratik dalam penelitian tentang bencana dan mulai untuk kembali menemukan fakta-fakta yang sebenarnya tentang bencana. Karena ilmu pengetahuan merely based upon FACTS!hanya berdasarkan pada fakta.

Ini adalah terjemahan bebas yang dilakukan oleh Ida Ansharyani (Ph.D Student Universite Paris 1 Pantheon-Sorbonne, France) sebagai bahan belajar untuk disertasi CBDRR Gunung Kelud. Untuk mengurangi kesalahan pemahaman, silakan mengontak idaansharyani@gmail.com untuk mendapatkan versi asli dari buku ini. Diterjemahkan (dibaca) di Paris 27-30 Oktober 2008.

Posted by ET in 19:53:35 | Permalink | Comments (2)

Interpretasi Bencana oleh Ken Hewitt (VI)

INTERPRETASI BENCANA DARI PERSPEKTIF EKOLOGI MANUSIA (VI)
(Interpretation of Calamities from the Viewpoints of Human Ecology)

Ken Hewitt, 1983

The convenience of accidents

- secara konseptual dan analitis, yang dilakukan oleh dominant view terkait kegiatan hazard adalah mendefenisikan permasalahan sebagai kecelakaan (“accident“).

- Defenisi hazard oleh Toblinn 1977, adalah kejadian peristiwa yang tidak biasa, yang tidak sempat diprediksi dengan baik pada waktu dan tempat tertentu, agar dapat dilakukan tindakan perlindungan bagi masyarakat yang terancam olehnya. Ahli geografi dari soviet, mengganggap hazard terbentuk dari proses dinamik yang kisarannya sangat besar, yang intinya adalah manifestasi hazards yang tidak terbatas (indefinite dan equivocale). White, 1977 sebenarnya sudah mempertanyakan apakah ada prediksi yang benar-benar sempurna dan akurat, tentang apa yang akan terjadi dengan begitu kompleksnya sistem biosfer, atmosfer, dan hidrosfer. Bagaimana seseorang akan mengatakan bahwa tidak akan ada bencana? (note ida: Bencana adalah element yang sangat dinamis, dan tidak bisa diprediksi, sehingga pendekatan dominant view tentang hazard akan menyempitkan range penelitian tentang hazard itu sendiri, karena hanya akan meneliti apa-apa yang mereka anggap bisa di prediksi).

- Dalam pandangan tersebut, aspek manusia merupakan aspek yang tergantung, atau ikutan. Meskipun lebih jauh ditemukan ada beberapa kondisi manusia yang mempengaruhi bencana, dominant view memasukkan ke dalam kategori yang mirip nilai “accident” yaitu “human error.” artinya menjadi sangat sepele atau tidak terlalu penting. Buku-buku literature banyak menggunakan istilah-istilah yang sama seperti accidents, misalnya: uninformed, unsound, unplanned, impaired, irrational, atau arational.

- Lagi-lagi, bencana alam hanya di anggap accident oleh dominant view jika dihadapkan pada implikasi sosialbudaya. Hal yang sebaliknya terjadi jika menyangkut pembahasan bencana oleh geofisik, atau teknologi. Ada kontras yang sangat besar pada sesuatu yang di anggap accident ini dengan kemungkinan ilmiah yang dilakukan terhadapnya. (note ida: Jadi hewitt merasa bahwa secara konsep di anggap tidak penting, tetapi anehnya banyak sekali investasi dana dan penelitian di bidang bencana? Kalo konsepnya tidak penting, berarti investasi besar itu tidak tepat sasaran dong. Begitu sebuah riset di luncurkan, maka semua orang ribut dengan model dan mekanisme penelitian itu. Penelitian bisa jadi dilakukan sangat detil dari segi statistik dan teknik geofisik, tapi kemudian mentoknya adalah pada rasionalisasi dari penelitian seperti itu. Hewitt merasa penelitian seperti itu tidak berguna karena kehilangan persentuhan dengan realitas yaitu aspek manusianya). Upaya-upaya untuk memasukkan aspek manusia dianggap sebagai subyektif dan tidak bagus bagi penelitian-penelitian tentang bencana. Upaya-upaya survival manusia di anggap sebagai membingungkan dan penuh teka-teki. Hal ini didokumentasikan dengan baik melalui pernyataan: meskipun manusia, tidak seperti makhluk hidup lainnya, dapat memproyeksikan dirinya terhadap masa depan dan bagaimana menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian, mereka lebih memilih diorientasikan pada masa saat ini dan di sini (here and now).

- Hewitt merasa aspek manusia di anggap remeh. Hewitt juga melihat dengan pendekatan dominant view maka orang-orang kulit putih mengambil beban di pundaknya. Dan semua yang mereka lakukan ditakutkan hanya bisa diaplikasikan di Amerika Utara dan daerah perkotaan saja.

- Sebenarnya mulai banyak peneliti yang mengimplikasikan “continuity” dalam penelitian bencana, dan juga memperhatikan kondisi awal dan peranan manusia di dalamnya. Tidak sekedar sesuatu yang terpisah dan aneh seperti penelitian geofisik. Kegiatan hazard di amerika utara kemudian mulai menggunakan istilah yang lebih netral “risk assessment atau probabilistic consequences,” dan mulai membuat riset dengan sistem yang lebih global dan menggunakan statistik yang lebih baik.

- Dominant view menempatkan bencana di luar asumsi dan melampui pengetahuan, atau bahkan di anggap metafisik. Sedangkan cara kerja teknokrat adalah dengan struktur asumsi. Dominant view menempatkan bencana diluar tanggungjawab sehari-hari masyarakat dan individu. Paling penting, dominant view membuat asumsi tentang kehidupan sehari-hari (stabil, normal, predictable) menjadi diperdebatkan. Sehingga kita selalu harus terus menerus berkutat dengan perdebatan itu.

- Apa yang harus kita tanyakan adalah bagaimana konsep accident ini berjalan sebagai solusi penjelasan masalah dalam konteks teknokratik. (note ida: Accident secara konsep, tapi kok penjabarannya sangat teknoratik, alias terlalu serius). Sebagai ilmuan, bagaimana kita mengatur (managed) untuk mengiformasikan hal yang terjadi ini dengan menghadirkan kebutuhan logis dan technical sophistication? (note ida: Logical necessity rendah tapi technical sangat dikembangkan).

Ini adalah terjemahan bebas yang dilakukan oleh Ida Ansharyani (Ph.D Student Universite Paris 1 Pantheon-Sorbonne, France) sebagai bahan belajar untuk disertasi CBDRR Gunung Kelud. Untuk mengurangi kesalahan pemahaman, silakan mengontak idaansharyani@gmail.com untuk mendapatkan versi asli dari buku ini. Diterjemahkan (dibaca) di Paris 27-30 Oktober 2008.

Posted by ET in 19:51:23 | Permalink | Comments (2)

Interpretasi Bencana oleh Ken Hewitt (VII)

INTERPRETASI BENCANA DARI PERSPEKTIF EKOLOGI MANUSIA (VII)
(Interpretation of Calamities from the Viewpoints of Human Ecology)

Ken Hewitt, 1983

Masalah-masalah Penjelasan (Problems of explanation)

- Karena tidak melibatkan masyarakat luas yang terkena dampaknya, dan hanya bersifat monolog, maka dominant view di anggap aneh. Akar keanehannya sebenarnya terletak pada bentuk teknokratik dari paham materialismenya. Materialime tidak bisa menjelaskan apakah bencana adalah act of god atau act of man.

- Konsep act of god, jelas tidak dapat diterima secara ilmiah. Konsep act of man lebih problematik. Jelas-jelas konsep ini melibatkan manusia, dan kerentanan manusia dijadikan perhatian utama. Tetapi pertanyaan, apa sebenarnya human action yang dimaksud, menjadi sangat sulit karena aksi tidak hanya proses. Telah didefenisikan dengan baik bahwa action mengacu pada upaya yang terorganisasi dan pembebasan untuk membuat perubahan atau untuk memelihara suatu kondisi tertentu. Bukan hanya sekedar perubahan yang spontan dan tidak direncanakan seperti yang dilihat oleh ilmu fisik pada atmosfer atau litosfer. Jadi human action itu ada banyak rentetannya, sedangkan ilmu alam faktor lainnya tidak sebanyak untuk melihat human action. Action terdiri dari (unsur utamanya) perencanaan dan pengorganisasian. Karena itulah action tidak dibicarakan dalam membahas eksploitasi sumberdaya alam atau di dalam respon pemerintah terhadap bencana alam. (note ida: Human action ditinggalkan karena mereka tahu, itu artinya akan membuat masyarakat sadar dan menjadi pintar lalu akan menuntut hal apa yang baik untuk dirinya terkait bencana). Asumsi utilitarian dari dominant view tidak juga dapat menjelaskan bahwa dengan memasukkan unsur “human action” akan membawa kepada kerusakan, atau pada kejatuhan institusi dan ketidakteraturan perekonomian. Pandangan materialism melihat bahwa human action berasal dari kepentingan pribadi yang pada dasarnya untuk kebutuhan survival atau setidaknya untuk adaptasi. Karena itu, kegiatan manusia yang bisa menyebabkan bencana di anggap tidak mungkin terjadi, kecuali sebagai suatu accident. Jadi kalo berusaha menciptakan kerusakan, oleh materialism dianggap sebagai kriminal atau gila. Lebih jauh, karena itulah dianggap tidak mungkin untuk berdebat tentang kemungkinan bahwa pemerintah, ilmuan, bisnis, dan organisasi lainnya menciptakan bencana. Itu hanya mungkin dari sudut pandang “conspiracy theories,” yang kemudian akan dianggap hanya dilakukan oleh kriminal dan itu hanya pikiran orang yang paranoid. Hewitt berpendapat, bahwa ide “act of man” bukanlah yang bertanggungjawab pada kejadian bencana yang terjadi saat ini, meskipun ada beberapa penulis yang membahas tentang pentingnya membicarakan tentang konspirasi.

- Bencana oleh dominant view di dukung dengan label religius, kosmologi, magis dan fatalistik. Mereka tidak ingin berpanjang lebar tentang sebab-sebab bencana selain bahwa itu kehendak tuhan. Tuhan dilibatkan tetapi jarang sekali sebagai aktor perantara (arbitrary) untuk manusia. Meskipun pada masa lampau manusia menganggap kerusakan sebagai kemarahan tuhan, mereka akhirnya kembali merasa bahwa ini adalah tanggung jawab manusia. Dominant view sangat didukung Secara agama dan magis yaitu bencana di anggap sebagai bentuk balasan tuhan atas kelakuan manusia. Karena itu, unsur manusia dianggap sebagai sesuatu yang sah untuk tertimpa bencana, sehingga riset hazard mengabaikan unsur manusia ini.

- Dominant view juga menekankan bahwa masyarakat tempat studi bencana berpikir primitif dan tidak percaya science, jadi percuma untuk melibatkan mereka ke dalam penelitian hazard. Intinya, dominant view menganggap masyarakat bodoh sehingga penelitian yang mereka lakukan harus sudah dianggap mewakili mereka, meskipun mereka tidak melakukan dialog apapun dan belajar dengan masyarakat.

- Dominant view menginterpretasikan fenomena dan mekanisme material. Cara interpretasinya normatif, evolusioner dan uniform. Manusia dan kehidupannya dipandang bergerak secara progressif. Sehingga mereka kesulitan ketika berhadapan dengan bencana karena bencana menunjukkan trend yang berbeda. Bencana tidak evolutioner tetapi revolusioner perubahannya, kemudian bencana juga membawa pergerakan manusia ke arah kemunduran, daripada kemajuan. Bahkan sudah mulai terlihat fenomena devolution akibat kerusakan berat habitat, misalnya dengan punahnya spesies.

- Dominant view dianggap lebih memilih ingin memanipulasi alam daripada ingin memahaminya. Jadi yang dicari bukan lagi filosofis tentang kebenaran tetapi ilmu pengetahuan ingin dijadikan suatu kekuatan dari institusi tertentu.

- Dulunya bentang lahan/permukaan bumi (landscape) benar-benar hasil pekerjaan alam dan tangan manusia, tetapi sekarang landscape alami dirubah oleh kekuatan teknologi yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan. Etos teknokratik adalah mengontrol sesuatu. Karena itulah jika ilmu pengetahuan digunakan untuk keperluan tertentu dan hasilnya mendatangkan penderitaan bagi manusia, maka akan berakibat buruk pada citra ilmu pengetahuan itu sendiri. (note ida: contohnya banyak: pupuk kimia, nuklir, perkotaan, dll).

- Jadi dengan menjadikan bencana sebagai fenomena alam dan merupakan accident bagi manusia, ini adalah formula yang tepat untuk menyelamatkan muka dari dominant view.

- Cara memandang mereka tentang bencana juga dalam skala ruang dan waktu yang sangat panjang, misalnya dalam skala geologi atau melihat dari sejarah bumi. Hal ini menjadikan bencana menjadi sesuatu yang biasa. Tetapi dari sudut pandang manusia yang skala waktunya berbeda, bencana bukanlah hal yang biasa sehingga penanganannya tidak bisa berdasarkan kerangka ilmiah semata.

- Hewitt beranggapan bahwa penelitian geofisik akan berguna jika menggunakan sudut pandang manusia yang beresiko bencana, misalnya apa kesulitan yang akan dihadapi masyarakat jika disaster berkekuatan x terjadi. Perhatian harus dimulai dari aspek manusia untuk meneliti hal yang fisik sekalipun. Karena meskipun skala manusia lebih pendek, tetapi stress, kerugian, korban, dan perubahan yang diakibatkan bencana pada manusia sangat nyata. Aspek bencana pada hidup mereka tidak bisa diabaikan begitu saja. (note ida: Dominant view menjadi sangat tidak bermoral jika tidak memperhatikan manusia).

- Dampak bencana alam pada manusia dianggap sesuatu yang normal dan tidak ada jalan keluarnya secara scientific, dan tidak ada sesuatu yang baru di situ, sehingga bisa diabaikan. Lalu aspek bencana hanya difokuskan ke hal-hal teknis, agar sesuatu dengan standar ilmiah yang kaku yang sudah ada dan mengikuti hierarki yang sudah ada dan melakukan apa yang sudah dipahami oleh teknokrat. Lalu begitu ada bencana, maka pergi meneliti aspek fisiknya, jelaskan pada pemerintah dan publik, lalu buat aturan-aturan, tetapkan daerah menjadi terlarang, buat daerah installasi baru. Selalu semuanya diarahkan oleh yang paling berkuasa. Dan tidak ada tempat bagi masukan dari masyarakat akar rumput (grass root) yang benar-benar berhadapan dengan bencana.

Ini adalah terjemahan bebas yang dilakukan oleh Ida Ansharyani (Ph.D Student Universite Paris 1 Pantheon-Sorbonne, France) sebagai bahan belajar untuk disertasi CBDRR Gunung Kelud. Untuk mengurangi kesalahan pemahaman, silakan mengontak idaansharyani@gmail.com untuk mendapatkan versi asli dari buku ini. Diterjemahkan (dibaca) di Paris 27-30 Oktober 2008.

Posted by ET in 19:49:23 | Permalink | Comments (2)